
Kebahagiaan kami adalah hadirnya buah hati di tengah-tengah kehidupan kami.
Gerarld Carya Widiyo
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Usia kandungan 9 bulan
Di sebuah mall besar kota B, terlihat calon ibu muda dengan tengah setia memegang perut besarnya. Ia berjalan dengan seseorang lainnya, yang setia menemaninya saat sang suami sedang sibuk dengan urusannya.
Mereka berdua jalan bersama dan bercanda bersama, membicarakan tentang kehamilan si calon ibu muda, saat si penanya antusias berpikir jika ia juga suatu saat akan mengalaminya.
"Tapi serius deh, Lyn. Aku yang ngeri sendiri liat perut kamu besar begitu," ucap si penanya dengan mimik wajah horor, apalagi saat melihat seseorang yang dipanggil Lyn jalan biasa tanpa kesusahan.
Lyn atau Evelyn ini terkekeh kecil, saat si penanya__Riyanti calon istri sang kakak bertanya tentang keadaannya.
"Nanti kamu juga akan merasakannya," sahut Evelyn santai, membuat Riyanti yang mendengarnya merasakan senang namun takut juga disaat bersamaan.
"Aku agak sedikit takut sih, tapi aku juga ingin sekali, he-he," gumam Riyanti dengan kekehanya.
Keduanya memasuki toko baby shop, membeli barang keperluan yang sebenarnya sudah semuanya dipersiapkan oleh suami Evelyn__Arlan. Tapi namanya juga calon Mama, gatal ingin membeli ini-itu untuk begini-begitu. Jadilah dua wanita ini pergi belanja, tanpa kehadiran suami ataupun calon suami dari masing-masing.
Melihat dari rak satu ke satunya, Evelyn memanjakan matanya dengan berbagai pernak-pernik kebutuhan si calon baby boy.
"Lihat ini, lucu sekali!" pekik Riyanti saat melihat topi bayi yang terlihat lucu.
"Sudah punya," jawab Evelyn santai, dengan tangan mengambil barang lainnya.
"Hah! Sudah punya bagaimana?" tanya Riyanti bingung, mengembalikan lagi topi di rak dan memandang Evelyn penasaran.
"Sebenarnya Arlan sudah membeli hampir separuh keperluan bayi di toko ini. Dan meminta khusus untuk memberinya barang baru datang, pokoknya semuanya yang berhubungan dengan bayi laki-laki."
"Apa?"
Riyanti memandang Evelyn dengan wajah semakin kaget, mendengar apa yang dijelaskan oleh Evelyn tentang seorang Arlan yang sungguh tidak ia duga.
"Serius kamu? Kalau Arlan sudah beli semua, kenapa kamu masih mau beli?" tanya Riyanti beruntun masih tidak percaya.
Untuk apa beli, jika sudah semua di beli, kan?
"Aku bosan di rumah, Riy. Aku pikir siapa tahu saja ada barang yang baru lagi," sahut Evelyn santai dan lagi-lagi membuat Riyanti tidak habis pikir.
Evelyn tidak mengidam seperti ibu hamil pada umumnya, tapi ada yang berubah dengan kebiasaan Evelyn.
Apa itu.
Membeli dan mengumpulkan barang.
Seperti saat ini, sudah tahu perlengkapan bayi sudah dibeli bahkan belum tentu terpakai, tapi si Evelyn dengan santai bilang siapa tahu ada barang baru.
__ADS_1
"Astaga, terserah kamu deh."
Setelahnya, mereka pun melanjutkan sesi cari barang baru. Hingga tidak terasa hari semakin siang dan Arlan yang tidak ingin istrinya kenapa-napa dijalan menjemput tanpa perantara.
🌱🌱🌱🌱🌱
Malam harinya, pasangan Widiyo ini sedang bersiap untuk istirahat.
Keduanya sudah ada di atas ranjang mereka, dengan Arlan yang meletakkan telinganya di atas perut buncit sang istri.
Arlan selalu melakukan ini, selalu mendengarkan detak kehidupan calon anaknya, juga merasakan tendang dari baby yang selalu aktif saat ia meletakkan tangan dan telinganya seperti ini.
"Uwooo ... Lihat, ada jejaknya," ujar Arlan antusias, melihat ke arah istrinya dan perut tersingkap sang istri bergantian. Binar matanya terlihat berbeda, saat sedang bersama istri dan calon anaknya.
"Iya, Baby aktif banget kalau ada Papanya. Sepertinya sudah tidak sabar untuk bertemu," sahut Evelyn dengan senyum bahagia.
"Minggu depan, kan. HPTL-nya?"
"Iya ... Mudah-mudahan nggak meleset yah," jawab Evelyn berharap.
"Amin, ya sudah kamu istirahat, aku harus mengerjakan beberapa dokumen," ucap Arlan, kemudian membantu sang istri merebahkan tubuhnya, kemudian tidur miring menghadap meja tempat biasa suaminya mengerjakan pekerjaannya semenjak kehamilannya.
"Nice sleep," bisik Arlan mengecup pelipis Evelyn sayang.
Evelyn pun memejamkan matanya, sedangkan Arlan berjalan dan mulai mengerjakan sisa pekerjaannya.
Arlan merenggangkan ototnya yang kaku, kemudian menyudahi pekerjaannya. Ia pun berdiri dari duduknya, hendak berjalan menuju kamar mandi. Tapi, baru saja kakinya melangkah ia dibuat mengernyit saat mendengar suara lirihan, serta suara napas tidak beraturan yang mencurigakan.
Uuukhh hah-hah-ha
Arl-Arlan
Deg!
Seketika Arlan menolehkan wajahnya, dengan ekspresi wajah panik ia mendekati sang istri yang melihatnya dengan wajah bercucuran peluh.
Ukh, Arlan.
"Evelyn!!" seru Arlan panik, berlari tergopoh dan segera menghubungi Riki untuk membantunya membawa Evelyn ke rumah sakit.
Beberapa saat kemudian
Suara brangkar yang di dorong oleh petugas terdengar di sepanjang koridor rumah sakit.
Di atas brangkar ada Evelyn dengan napas tidak beraturan, juga keringat bercucuran. Di sampingnya ada Arlan yang setia mengusap juga membisikan kata semangat, sedangkan Riki dan keluarga Gandhi serta Riyanti di belakangnya, berjalan dengan tergesa juga hati berdoa.
Tiba di ruang bersalin, Arlan dan keluarga di larang masuk dan akhirnya hanya bisa pasrah menunggu dengan sabar, jalannya proses kelahiran anak pertama mereka.
Arlan yang menunggu di luar pun tidak tenang, berjalan mondar-mandir dan sesekali akan berhenti untuk melihat pintu dengan helaan napas gusar.
__ADS_1
Ya Tuhan, hamba mohon untuk kelancaran proses persalinan istri hamba.
Arlan berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta kepada Sang Pencipta, agar istri dan anaknya selamat tanpa kekurangan satu pun.
Dua jam berlalu, belum juga ada tanda-tanda akan suara bayi dari dalam dan itu membuat Arlan semakin gusar.
Ia menoleh ke arah keluarganya yang hadir, kemudian menoleh lagi ke arah pintu yang akhirnya terdengar juga suara tangisan anak bayi.
Arlan beserta keluarga mendesah lega dan mengucapkan syukur dengan rasa haru.
Pintu terbuka, seorang perawat memanggil suami dari pasien untuk masuk ke dalam saat proses lahiran sudah selesai.
Dengan segera menggangguk, berjalan dan memasuki ruangan untuk berganti baju steril sebelum menemui istri dan anaknya.
Ruangan dengan bau dan perlengkapan khas pun terlihat di netra Arlan, tapi bukan itu yang menjadi fokusnya melainkan sang istri yang setengah tiduran dengan bayi merah dipelukannya.
"Evelyn!" panggil Arlan sebelum berjalan dengan semangat ke arah Evelyn yang tersenyum bahagia menyambutnya.
Tap!
Arlan menatap takjub bayi berlumur darah di pelukan Evelyn, yang wajahnya menoleh ke arahnya, seakan tahu jika ia adalah Papa yang menanti kelahirannya.
"Arlan, lihat dia tampan sekali," ujar Evelyn dengan suara lemah.
Tanpa di sadari oleh Arlan, air matanya jatuh saat melihat betapa mungilnya mahluk hidup di pelukan istrinya.
Ya Tuhan, aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa memiliki keluarga kecil milikku sendiri, aku berjanji akan menjaga mereka dengan seluruh kemampuan aku.
Arlan pun memegang jemari mungil di bayi, mengecupinya tanpa jijik buku-buku mungil berlumur darah sang anak, kemudian meneteskan air matanya semakin deras.
"Akhirnya, akhirnya kamu lahir sayang. Papa sangat menantimu, selamat datang di dunia ini, Gerarld Carya Widiyo. Kebanggaan Papa dan Mama," bisik Arlan mengecup sayang kening sang putra, yang tersenyum kecil dengan mata hitam menatapnya.
Menengadakan wajahnya ke arah istrinya, Arlan pun bergantian mengecup kening Evelyn dengan kecupan lama, kemudian mengadu dahinya dengan dahi Evelyn dan tersenyum.
Dug!
"Terima kasih, terima kasih Evelyn. Kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatku berubah, membuat aku melupakan keinginan untuk tidak menikah. Dan wanita yang menyempurnakan kehidupan tidak sempurnaku, terima kasih."
"Aku mencintai kalian berdua.".
"Aku juga mencintai kalian berdua."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya.
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1