
Bab 29
Suara gelak tawa dari dua orang perempuan di hadapannya terdengar, suara-suara indah itu yang akhirnya memancing Abi untuk ikut tersenyum juga, rasanya begitu damai dan menyenangkan kala melihat senyuman tulus itu dihadapannya.
Seumur hidupnya, Abi hanya melihat senyuman tulus dari Mama, Papa dan Viona, juga Ratih. Dunia Abi hanya terdiri dari empat orang tersebut, tanpa tahu seperti apa hiruk pikuk dunia luar lainnya. Karena bagi Abi, dunia luar itu kejam dan jahat seperti yang sering Ia jumpai, dari sepuluh orang, maka sepuluh orang itu pula selalu mengejek dan menghina setiap kekurangan Abi, ada yang dengan cara blak-blakan atau dengan cara halus. Abi sampai kebal dibuatnya.
Namun kini, ada satu lagi manusia yang tidak malu ketika jalan bersama seorang Habibi, gadis itu adalah Salsabila, gadis cantik dengan perangai lembutnya itu tidak malu kala ada banyak pasang mata yang melihat aneh pada telinga Abi yang terpasang alat bantu dengar. Bila dengan cuek tetap berjalan disamping Abi, gadis itu sesekali tersenyum lembut lalu bertanya dengan sopan pada Abi, benar-benar menghargainya sekali.
“Haha, iya waktu itu Kakak gak tahu kalau Abi yang belain Kakak” terdengar suara Ratih yang menyebutkan namanya berulang kali, Abi sepertinya tengah terjebak diantara gosipan para gadis.
Abi tersenyum senang kala melihat Ratih dan Bila terlihat begitu akrab, mereka saling menyapa dan bercerita meski baru sekali ini bersua. Berbeda sekali dengan Naina, gadis itu cenderung pemarah, selalu kasar dan tidak peduli dimanapun dia berada selalu memaki Abi, dan sebagai seorang lelaki seringkali Abi terluka karena tingkahnya.
Abi menghela napas berat kala mengingat istrinya, teringat jika istrinya tengah hamil anaknya, maka Abi berniat akan menambah kembali stock kesabarannya, hanya agar anaknya selamat sampai lahir nanti, tidak ingin anaknya kekurangan satu apapun, Abi akan mengorbankan apapun untuknya.
“Mas Abi, nanti sepulang dari sini kita mampir di pasar buah, kita cari sama-sama pesanan Kak Naina” Bila menyadarkan Abi dari lamunannya.
“Loh? Naina mau buah apa?” Ratih menyahuti setelah gadis itu selesai meminum minumannya.
“Kak Naina minta salak dengan bentuk bulat semua Kak, kan lumayan susah nyarinya, jadi mau aku bantu” Bila menjelaskan dengan raut lugunya.
“Ah, begitu ya? Ibu hamil keinginannya memang kadang sering aneh” Ratih tersenyum geli,
__ADS_1
“Aku ikut bantu cari ya?” Ratih menawarkan diri,
“Kamu sibuk Ra, bukankah setelah ini ada jadwal praktek lagi?” Abi mengingatkan, tidak ingin lebih banyak lagi merepotkan banyak orang hanya karena keinginan Naina yang ajaib.
“Gak kok, aku masih punya waktu, yuk” Ratih sempat melirik jam tangan yang digunakannya, lalu menimbang waktu yang akan dikorbankan untuk Abi, Ratih yakin dirinya akan tepat waktu.
Abi tersenyum menatap sahabatnya ini, Ratih sejak bertemu tadi terlihat kusut dan murung, wajahnya terlihat kuyu dan seperti banyak masalah, selama mereka berteman sebanyak apapun masalah Ratih, Abi tahu bahwa gadis itu akan tetap tersenyum dengan lembut dan sabar, namun kini Abi melihat hal lain dari ratih, gadis itu seperti tengah patah hati. Abi ingin bertanya mengenai dugaannya, namun sayang Bila yang berada diantara mereka membuat Abi enggan bertanya, lebih baik bertanya nanti saja fikir Abi.
“Terimakasih” Abi menggumamkan kata terimakasih sebanyak-banyaknya pada dua gadis yang tengah sibuk memilih buah salak, mereka berlomba mencari buah salak yang terlihat bulat, lalu mengumpulkannya menjadi satu, ini adalah pekerjaan yang cukup sulit, ditambah kulit buah salak yang berduri, ternyata mampu melukai tangan kedua gadis tersebut, namun keduanya dengan rela malah tertawa bersama dan kembali mengumpulkan buah salak tersebut.
Abi tersenyum kala ditangannya kini sudah ada satu kresek salak yang berbentuk bulat, benar-benar bulat sesuai keinginan Naina, Abi bersyukur memiliki sahabat dan adik seperti Ratih dan Bila, mereka kompak mendukung Abi demi keinginan Naina.
“Bi, dimana Naina?” Abi menyapa Bibi yang tengah memasak di dapur, waktu menunjukkan sudah pukul lima sore, dan Abi baru pulang dari berburu salaknya.
Abi menghela napasnya berat, lalu menghembuskannya kasar, Naina selalu berulah, Abi tidak suka jika Naina terus mengurung dirinya sendiri di kamar, menurut Abi itu tidak baik untuk perkembangan anaknya, Abi lebih suka jika Naina berjalan-jalan di rumahnya, banyak bicara dengan orang lain, hal tersebut akan membuat Naina tidak terbelenggu dengan sepi dan mengurangi rasa frustasinya.
Abi melangkahkan kakinya menuju lantai dua dimana kamarnya berada, lantas pria tampan itu segera membuka pintu, bersiap menyerukan jika apa yang Naina idamkan sudah Abi dapatkan. Namun, alangkah terkejutnya Abi kala melihat penampakan kamarnya sendiri, Abi tercengang hingga rahangnya hampir jatuh.
“Naina! Turun!”
Abi segera berlari menghampiri Naina yang kini tengah berusaha memanjat kursi dengan tangan menggapai ujung lemari, entah apa yang wanita itu inginkan, namun yang berada di pikiran Abi saat ini adalah Naina ingin mencelakai dirinya sendiri agar anaknya juga ikut terluka, mengingat bagaimana Naina sebelumnya yang bersikap sedikit gila.
__ADS_1
Karena kaget akan kedatangan Abi yang tiba-tiba, Naina hampir saja terjatuh dari atas kursi yang menyangganya, dengan kecepatan super Abi segera berlari dan menangkap tubuh Naina dengan segera, hingga gadis itu kini berada dalam dekapan hangat Abi.
“Kamu gila?!!”
Abi membentak tanpa sadar saat napasnya kini masih memburu, rasa kaget yang dia rasakan membuatnya tidak menyadari jika ucapannya membuat Naina kembali kaget.
“Kamu mau membunuh anakku lagi?” mata Abi masih nyalang menatap Naina dengan sangat tajam.
Naina segera sadar dan menghempaskan tubuh Abi yang melindunginya, dengan sinis Naina berkata.
“Lo pikir?” ini adalah jawaban ambigu, hingga membuat Abi begitu kesal. Abi menjadi semakin yakin dengan prasangkanya sendiri.
“Kamu keterlaluan Na!” Abi mendesis pelan, dadanya masih berdegup kencang menahan emosi karena kaget juga karena amarah.
“Harusnya kamu gak segila ini Naina! Kamu hanya perlu menunggu hingga tujuh bulan ke depan dan setelahnya kamu bebas melakukan apapun!” Abi dengan kesal melempar buah salak yang sedari tadi tidak lepas dari cengkramannya.
“Kamu selalu membuat hidupku tidak tenang” Abi menambahkan dengan suara tertahan, hidup Abi yang damai dan hening tiba-tiba saja harus mengalami rasa khawatir dan rasa takut hanya karena membayangkan jika Naina bisa membunuh anaknya kapan saja.
“Lo gak sadar? Lo juga udah bikin hidup Gue menderita! Gara-gara Lo dan anak sialan ini Gue jadi diputusin sama Alex pacar Gue! Puas Lo!”
Abi membelalakan matanya sempurna, rupanya Naina masih ada main di belakangnya, oke Abi akan memaklumi lagi tingkah Naina yang satu itu, namun, haruskah Naina berusaha membunuh darah dagingnya sendiri hanya untuk demi kembali pada pacarnya? Abi menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
__ADS_1
Di dunia ini, kenapa ada manusia seperti kamu Na?