Bukan Salahku

Bukan Salahku
Benar-benar Marah


__ADS_3

Padahal baru kemarin rasanya aku melihatmu tersenyum ke arahku.


Padahal baru kemarin aku bisa melihat canda tawamu.


Padahal baru kemarin kita bisa duduk bersama tanpa sekat pembatas.


Lalu ...


Apa ini.


Kenapa seperti ini lagi?


Kenapa harus begini.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost Evelyn


Sore harinya Evelyn pulang sendiri, saat sahabatnya bilang, jika dia ada pekerjaan yang tidak bisa di tunda.


Evelyn cukup lega, saat ia tidak perlu memberikan alasan, tentang pipinya yang sedikit membiru jika sahabatnya bertanya.


Ia berdiri di depan gerbang kost-annya, yang tertutup dengan menyisakan sedikit cela untuk membuka.


Sebelum memasuki halaman kost-annya, ia menghela napas terlebih dahulu, kemudian tersenyum kecil.


"Senyum Lyn, jangan sampai bikin Ibu cemas," gumamnya menyemangati diri sendiri.


Pipinya yang biru sudah ia poles dengan bedak sedikit tebal, ia hanya berharap ibunya tidak memperhatikannya.


Ia juga harus bertingkah sewajarnya, sehingga sang ibu tidak semakin curiga dengannya.


Grek!


Ia melangkahkan kakinya sedikit lambat, sambil merapalkan doa pelindung kepada Tuhan.


Ia juga berharap jika besok harinya akan biasa saja.


"Besok harus bagaimana," gumamnya sambil menaiki tangga.


Ceklek!


"Assalamualaikum, Bu!" seru Evelyn dengan senyum seperti biasa.


"Waalaikum salam, selamat datang, Lyn!"


Evelyn hanya mencium pipi ibunya sekilas, sebelum ia bergegas menghindar, masuk kedalam kamar mandi dengan alasan yang sudah di susunnya.


"Aku mandi dulu Bu, malam ini aku langsung istirahat. Aku lelah sekali," ujar Evelyn menuai anggukan kepala mengerti dari sang ibu.


Kelakuan sang anak yang sedikit mencurigakan, membuat Mirna menatap Evelyn penasaran.


Biasanya, mau selelah apapun sang anak saat pulang bekerja, mereka akan tetap makan malam dan mengobrol menghabiskan malam bersama.


Tapi ... Ada apa ini, kenapa sang anak seakan menghindarinya?


"Evelyn, sebenarnya apa yang terjadi," gumam Mirna khawatir.


Skip


Keesokan harinya


Pagi ini Mirna menyiapkan sarapan untuk Evelyn, berupa susu dan setangkup roti isi selai srikaya.


"Lyn, sarapannya sudah siap!" seru Mirna memanggil sang anak, yang saat ini sedang memakai blazernya.


"Iya, Bu!"


Evelyn pun duduk di hadapan sang ibu, meminum susunya dan mengambil roti miliknya dengan tangan kanannya.


Evelyn memakan rotinya dengan lahap, sambil bertukar cerita dengan sang ibu, ia merasa bersalah semalam meninggalkan ibunya makan malam sendiri.


Di tengah-tengah obrolan mereka, Mirna yang khawatir dengan keadaan sang anak, bertanya dengan nada ragu.


"Lyn."

__ADS_1


"Heum?" gumam Evelyn menyahuti panggilan sang ibu, saat mulutnya penuh dengan roti.


"Apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya Mirna menatap serius Evelyn, yang tiba-tiba menghentikan kunyahannya.


Deg!


Seketika jantung Evelyn berdetak kencang, seakan habis berlari, dengan tubuh menegang.


"Ap-apa maksudnya, Bu?" balas Evelyn gugup.


"Maksud ibu, apakah ada yang terjadi denganmu? Apa kamu baik-baik saja?" ujar Mirna menjelaskan pertanyaannya.


Huft ... Ibunya pasti cepat atau lambat akan menyadari perbedaannya.


Ia tahu ini akan terjadi, tapi jika ia memberitahukan masalahnya, itu artinya ia juga harus menceritakan tentang pertemuannya dengan pria durjana itu.


"Apa yang harus aku lakukan," batin Evelyn bimbang.


"Tidak, belum saatnya ibu tahu keadaannya. Ibu belum benar-benar sehat," lanjutnya masih dalam batin.


Sang ibu yang melihat anaknya terdiam khawatir, ia menyentuh punggung tangan anaknya pelan, membuat sang anak tersentak kaget dan menatapnya dengan ekspresi bingung.


"Lyn, kamu kenapa? Kok melamun seperti itu?" tanya Mirna khawatir.


Evelyn mengedip-ngedipkan matanya, mengembalikan kesadarannya dan memasang senyum terbaik, agar sang ibu tidak khawatir terhadapnya.


"Tidak Bu, semua baik-baik saja. Bukan hanya aku, pekerjaanku pun baik-baik saja," balas Evelyn lembut, menatap ibunya dengan sorot mata meyakinkan.


Mirna yang mendengar penjelasan anaknya, mau tidak mau mempercayainya.


Ia yakin jika Evelyn pasti memiliki alasan di balik kebohongannya.


"Apa aku bertanya dengan Riki," batin Mirna gantian tersentak kaget, saat anaknya menyentuh punggung tangannya.


"Bu, kenapa melamun? Ada yang sakit?" tanya Evelyn khawatir.


Mirna menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan khawatir sang anak.


"Tidak, ibu baik-baik saja," balas Mirna gantian tersenyum menenangkan.


Evelyn mengangguk dan melanjutkan sarapannya, hingga tidak terasa susu dan rotinya tandas berpindah tempat.


Skip


Evelyn saat ini sudah duduk menghadap laptopnya, mengerjakan laporannya dan menyiapkan keperluan sang Presdir seperti biasa.


Tapi hari ini suasana berbeda lagi, saat Evelyn yang kembali menjadi acuh tak acuh kepada Arlan, yang menatap Evelyn menyesal.


Di ruangannya, Arlan duduk dengan tangan mencengkram rambutnya gemas.


"Sial, kenapa seperti ini lagi. Kemarin aku kira kami sudah mulai dekat lagi," gumam Arlan kesal.


"Ini semua karena wanita sialan itu, dasar wanita sialan," lanjutnya masih kesal.


Tok! Tok! Tok!


Arlan tersentak kaget, saat tiba-tiba pintu ruangannya di ketuk dari luar.


Ia menegakkan tubuhnya dan menyahuti dengan seruan keras.


"Masuk!"


Ceklek!


Pintu ruangannya terbuka, dengan Evelyn yang masuk membawa setumpuk map di pelukannya.


Arlan menatap Evelyn dengan binar bahagia, padahal hanya menatap wajah dari sang asisten, tapi entah kenapa ia sangat bahagia.


"Siang Pak, ini laporan yang anda minta. Saya sudah memasukkan data, sesuai dengan perintah," ujar Evelyn menatap Arlan dengan biasa saja.


"Hn, letakkan saja," balas Arlan masih menatap wajah sang asisten.


Evelyn pun menuruti apa perintah Arlan, meletakkan laporan di hadapan sang Presdir dan bersiap untuk tugas selanjutnya.


"Ada lagi, Pak?"

__ADS_1


"Lyn."


"Ya, Pak?"


"Kenapa kamu berubah lagi?" tanya Arlan menatap Evelyn sedih.


"Berubah? Berubah seperti apa, Pak?" tanya Evelyn pura-pura tidak tahu.


"Lyn, kamu marah denganku lagi? Apa ini karena kejadian kemarin?" tanya Arlan beruntun.


"...."


Diam, Evelyn tidak menjawab langsung pertanyaan dari sang Presdir, ia menatap Arlan dengan ekspresi keras, apalagi saat mengingat perkataan Arlan kemarin.


" Lyn."


"Arlan kamu berbohong," sela Evelyn cepat, membuat Arlan berdiri dari duduknya dan hendak menghampiri sang asisten tapi Evelyn lebih dulu mengangkat tangannya.


"Jangan dekati aku!"


Arlan mengurungkan niatnya, ia tetap berdiri di belakang meja dan menunggu kalimat lanjutan dari sang asisten.


"Arlan kamu berbohong, kamu bilang akan mengggap aku sahabat, kenapa kamu masih menyebut aku wanita kamu. Apa maksud kamu, Arlan?"


Deg!


Seketika ingatannya melayang, pada saat ia marah dan mengeluarkan kata-kata sesuai isi hatinya.


Astaga ia lupa akan satu hal, jika Evelyn sensitif dengan pembohong.


Bagaimana bisa ia ceroboh dengan kata-katanya sendiri.


"Ah! Sialan," batin Arlan kesal sendiri.


"Jadi sudah ingat kan, apa yang aku maksud?" tanya Evelyn menatap Arlan dengan kecewa.


Ia sendiri tahu sulit untuk mengubah kenyataan akan rasa, tapi tidak seperti ini caranya.


Berbicara dengan gamblang di depan tunangan dia, menganggap dirinya wanitanya, bukan kah itu semua sudah kelewatan.


Arlan sama saja memperkeruh keadaan.


Bagaimana kalau Tania semakin salah paham kepadanya?


Bagaimana kalau ia semakin di tuduh yang tidak-tidak?


Bagaimana kalau semua orang menjudge dirinya sebagai perebut tunangan orang?


Apa kata ibunya nanti.


"Evelyn ak-


"Aku rasa ini sudah berakhir Arlan, tidak ada lagi persahabatan, tidak ada lagi panggilan Lyn untuk kamu. Berhenti, jangan lihat aku lagi. Saya permisi."


Evelyn pun segera meninggalkan ruangan sang Presdir, menulikan telinganya.


Kali ini ia sudah benar-benar kecewa dengan laki-laki yang masih di cintainya.


Benar kata Riki, seharusnya ia tidak menerima begitu saja, seorang laki-laki bernama Arlan yang ingin bersahabat dengannya.


Baginya di dunia ini hanya Riki, sahabat sekaligus kakak terbaik di hidupnya.


"Aku benci diriku sendiri," gumam Evelyn duduk dengan hari kesal di meja kerjanya.


Sedangkan Arlan yang di tinggal begitu saja oleh asistennya, terduduk dengan perasaan menyesal.


Lagi-lagi marah seperti ini.


Dan ia rasa kali ini Evelyn benar-benar membencinya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Jangan lupa vote dukunganya, tap like dan komentar.


Sampai babai.


__ADS_2