
Bab 36
Abi menatap nanar pada sekeliling, suasana hiruk pikuk yang terjadi di sekelilingnya membuatnya mengedarkan pandangan sekali lagi, menatap satu persatu orang yang berlalu lalang dengan kesibukan yang mendera. Abi menghela napas berat, sesaat lagi Ia akan mengalami kehilangan yang sangat mendalam.
Hari ini adalah hari keberangkatan Ratih ke luar negri, sedari tadi Abi sudah memasang raut pilu, Ratih sudah seperti bagian dari dirinya, jika Ratih pergi menjauh, maka Abi akan kehilangan sebagian dari dirinya, mungkin nanti tidak akan ada lagi orang yang mau peduli dan cerewet mengingatkan banyak hal seperti Ratih.
Namun, kendati demikian, Abi tetap akan mendukung mimpi Ratih, gadis itu bilang ingin mengambil spesialis di luar negeri sana, dia ingin menjadi dokter yang hebat dan menyembuhkan banyak orang, Abi tahu mimpi Ratih begitu mulia, oleh karenanya Abi tidak akan sampai hati menghalangi Ratih mewujudkan mimpinya.
“Bi!”
Dari jauh Abi melihat seorang gadis tengah berlari kecil menghampirinya, dengan tas koper berukuran cukup besar, gadis itu terengah kala sudah tiba di hadapan Abi, Ratih menatap Abi dalam, matanya terlihat sembab, pasti gadis itu habis menangis semalaman, Abi tahu jika kedua orangtua Ratih tidak menyetujui keputusan putrinya, oleh karenanya Ratih kini seperti anak buangan yang diabaikan, tidak ada seorangpun keluarga yang menemaninya. Abi tersenyum, Ia tahu jika Ratih adalah sosok yang sangat kuat.
“Makasih udah datang buat anterin kepergian aku” Ratih berusaha tersenyum, sementara matanya berkaca-kaca, Abi hanya terkekeh, Abi juga sangat sedih namun pria itu menyembunyikan kesedihannya sedemikian rupa.
“Kamu itu sahabatku, aku pasti datang saat kamu akan pergi, tanganku juga akan terbuka jika kamu pulang nanti” Abi kembali terkekeh.
“Bi” tubuh Ratih menghambur memeluk tubuh Abi, tangannya melingkar erat dengan hidung menghela pekat, seolah Ia ingin menghirup seluruh aroma Abi yang nanti akan dia rindukan.
“Jaga diri baik-baik, jangan lupa check up, jangan lupa minum obatnya, mulai minggu besok aku tidak akan lagi menyiapkan obat kamu, kamu harus mandiri Bi”
Ah, selama ini Ratih yang selalu rutin menebuskan obat Abi, dokter yang memeriksa Abi adalah kenalan Ratih, jadi Ratih bilang selalu ingin sekalian mengecek kondisi kesehatan Abi, juga menebuskan resepnya, ratih juga yang selalu paling tahu kapan jadwal Abi minum obatnya.
“Aku pasti bakal kangen banget sama kamu” Ratih menambahkan, sementara Abi hanya terdiam, terbayang dalam benaknya, bagaimana kisah mereka dalam melewati masa kecil, beranjak remaja hingga kini mereka dewasa.
“Jangan lupa buat terus kabarin aku ya Ra, kamu jangan lupa makan, jangan terlalu banyak belajar, ah ya jika musim panas tiba, jangan menggunakan pakaian yang terlalu seksi, jangan juga kamu kegenitan sama cowok bule, nanti kamu diculik” Abi tertawa diujung kalimat, membuat Ratih memberengut.
__ADS_1
“Makasih ya selama ini sudah selalu ada buat aku” Ratih terisak, air matanya mengalir deras, membuat kedua jempol Abi kini mengusap air matanya.
“Ra, aku yang harusnya bilang gitu, setelah kamu pergi aku tidak tahu akan seperti apa hari-hariku nanti, sahabat yang paling aku sayangi kini harus terpisah denganku” Abi menghela napas, lalu segera tersenyum lembut kembali.
“Aku doain, semoga lahiran anak kamu lancar nanti, maaf kayaknya aku gak bakalan lihat dia lahir nanti” Ratih menunduk, sementara Abi kini jadi teringat akan Naina, gadis itu sudah membuatnya menjadi pria tidak berguna.
“Aamiin, makasih ya Ra”
Ratih mengangguk, mereka masih dalam suasana haru saat pengumuman keberangkatan Ratih di kumandangkan, Ratih melepaskan tangan Abi yang sedari tadi tertaut dengan jemarinya, Ratih berjalan mundur, pandangannya masih tertahan pada Abi, sementara Abi melambaikan tangannya menatap kepergian Ratih dengan batin berkecamuk.
Perlahan, tubuh Ratih menghilang juga, Abi menatap lantai dengan sendu, kini satu lagi orang penting dalam hidupnya menghilang!.
Sementara itu, di atas awan sana mata Ratih mengedar, pandangannya tertuju pada awan yang menggumpal, rasa nyeri itu masih ada, dadanya bertalu kuat, sesungguhnya Ratih tidak pernah siap akan perpisahannya dengan Abi, namun tekad Ratih sudah bulat sekarang.
“Aku akan kembali lagi Bi, aku akan kembali dengan kesembuhan kamu, aku akan menemukan pengobatan yang bisa menyembuhkan penyakit kamu, aku janji. Suaraku adalah suara pertama yang akan kamu dengar tanpa alat bantu.” Tekad Ratih begitu kuat. Gadis itu rela meninggalkan segalanya demi cinta yang Ia pendam sedari lama.
Naina berdiri terpaku di atas balkon kamarnya, sudah beberapa hari semenjak kejadian Ia yang mabuk-mabukan, Naina tidak pernah disapa langsung oleh Abi, pria itu seolah abai akan kehadirannya, Abi akan berangkat kerja sebelum Naina bangun, dan akan pulang setelah Naina tertidur.
Naina tidak sampai hati untuk menghubungi Abi via telpon ataupun chat, gadis itu terlalu gengsi untuk menyapa Abi terlebih dahulu.
Namun, entah mengapa, seiring dengan berubahnya sikap Abi, Naina merasa jika dirinya telah kehilangan sesuatu yang entah apa.
“Non, makan siangnya sudah siap” Bibi datang setelah mengetuk pintu kamar Naina, gadis itu menoleh lalu melirik dengan kesal pada Bibi.
“Abi berangkat kerja Bi?” tanya Naina dengan ketus.
__ADS_1
“Iya Non” Bibi menganggukkan kepalanya begitu saja.
“Bilangin sama Bapaknya anak ini” Naina menunjuk perutnya dengan sangat kesal.
“Aku ngidam! Aku mau sate kelinci!” ucap Naina dengan judes, Bibi mengerutkan keningnya, lalu mengangguk saja biar cepat, begitu pikirnya.
“Nanti Bibi sampaikan” Bibi setuju saja.
“Tapi, kelincinya harus warna hitam! Terus aku mau daging paha sebelah kiri, pedagangnya harus yang rambutnya panjang, gondrong, dan dikepang! Bilangin juga bumbunya jangan pakai bumbu kacang, harus pakai bumbu rujak level iblis, ah terus ngipasinnya jangan pakai kipas angin atau kipas bambu gitu, tapi aku maunya Abi yang tiupin satenya sampe mateng! Jangan lupa bilangin ya Bi! Kalau dia masih ingat anaknya harus diturutin, atau anaknya ini bakalan ileran!” Naina mengucapkannya dengan satu tarikan napas, membuat Bibi menganga bingung sendiri.
“Hah? Tadi apa saja ya Non? Bibi tidak bisa mengingat semuanya” Bibi menggaruk kepalanya bingung.
“Masa gitu aja gak inget sih Bi? Harus aku ulang lagi?” Naina melotot galak, membuat Bibi memundurkan langkahnya.
“Iya Non, nanti Bibi sampaikan” Bibi menyanggupi dengan ragu, jujur saja permintaan Naina membuat kepala Bibi jadi puyeng, bagaimana nanti Abi mewujudkannya?.
“Ngerti gak?” sekali lagi Naina bertanya melihat raut Bibi yang malah planga plongo.
“Iya Non, Bibi mengerti, nanti Bibi sampaikan begitu Den Abi pulang” Bibi kembali mengangguk.
“Jangan lupa, belinya harus tepat jam dua belas malam, tepat saat pergantian hari.” Naina menambahkan, membuat Bibi tambah sawan mendengarnya. Bibi juga pernah hamil, bahkan anak Bibi ada tiga orang, tapi tidak sekalipun Bibi ngidam diluar nalar, Bibi menggelengkan kepalanya untuk menghalau pening.
“Iya Non” Bibi mengangguk lagi dengan pasrah.
“Jangan lupa, belinya harus seribu tusuk”
__ADS_1
Allahu akbar!