
Melangkah jauh dalam setiap kenangan
Terbenan dalam lautan kesedihan
Kasih yang pergi takkan mungkin kembali
Hilang terbawa angin, hampa, tak bertepi
Derita semakin terasa
Keluhan jiwa terus membara
Tersiksa oleh luka perasaan
Diatas penghianatan cinta didepan mata
Pergi menjauh, terluka oleh cinta
Bingung tentukan arah dan tujuan
Hanya kesendirian yang setia menemani
Terbang dalam lamunan
Anganku terbang melayang
Mengenang sebuah penghianatan
Diatas janji-janji manis kelembutan
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
PT. TRI TUNGGAL
Di toilet perusahaan milik keluarga Widiyo, tepatnya di lantai bawah, di salah satu bilik kamar mandi.
Terdapat seorang wanita, duduk di atas closet menangis dengan isakan tertahannya.
Bukan tempatnya untuk menangis meraung, juga bukan gayanya menangis seperti itu.
Meskipun hatinya sakit, tapi ia tidak boleh bersikap berlebihan, terlebih ia masih belum mempunyai status, hanya sebatas dekat dan sudah saling menerima.
Bukan hanya berita pertunangan yang membuatnya sakit hati, tapi lebih ketidak jujuran Arlan selama ini.
Kenapa dia selalu bilang jika dia mencintainya, tapi ternyata telah memiliki tunangan.
Bahkan waktu bertunangan dengan waktu mereka dekat sama, apakah selama ini ia hanyalah pelampiasan, disaat sang Presdir tidak bisa mencari korban dengan statusnya.
Bukan hanya sakit hati yang dirasakannya sekarang, tapi juga kecewa dan sesak di saat bersamaan.
Ibunya bahkan sudah mengenal dan menyetujui, jika suatu saat nanti ia jadi dengan sang Presdir.
Hiks!
Ia merasa berdosa, saat ia tahu kenyataan, jika laki-laki yang dekat dengannya, ternyata sudah dimiliki wanita lain.
Bagaimana perasaan Nyonya Tania, sesama wanita seharusnya saling mengerti, tapi ia malah dengan santainya menerima begitu saja, segala kelembutan dan perhatian yang Arlan diberikan untuknya.
Cukup lama Evelyn duduk dan bersedih di bilik sempit sendirian, ia pun menghapus lelehan kristal bening, yang entah sudah berapa volume keluar dari kedua bola matanya.
Setelah cukup dirasanya, ia pun keluar dan berjalan ke arah washtafel, mencuci tangan dan membasuh wajah sembabnya.
Ia menatap sayu pantulan wajahnya di cermin, lalu tersenyum sedih.
"Lupakan, Lyn."
"Anggap dia tidak pernah ada di kehidupanmu, kembali menjadi kamu yang dulu."
"Yah ... Seperti itu."
Untuk terakhir kalinya ia menepuk kedua pipinya, lalu membenahi sedikit kemeja yang di pakainya dan melangkah keluar dengan langkah dibuat senormal mungkin.
Ia tidak bisa begitu saja pergi, meninggalkan kantor hanya karena masalah pribadi.
Seharusnya seperti itu.
Ting!
Di dalam lift yang akan mengantarnya ke lantai sembilan belas, ia berdoa kepada Tuhan, semoga saja sang Presdir tidak ada di luar, agar ia bisa melanjutkan pekerjaannya dengan segera.
Ting!
Ia pun keluar dan menoleh ke arah mejanya, lalu koridor dan terakhir adalah pintu ruangan sang Presdir.
"Huft!"
Helaan nafas lega terdengar darinya, setidaknya ia tidak perlu melihat wajah dari dia, yang saat ini ingin di hindarinya.
Ia juga tahu selamanya ia tidak akan bisa menghindar, tapi setidaknya hari ini saja, sampai jam kerjanya habis dan ia bisa menenangkan diri sejenak.
Dengan gerakan buru-buru, ia duduk di kursinya dan membuka file pekerjaannya, kemudian fokus memulai pekerjaan, meski sesekali matanya akan melirik ke arah pintu di depannya.
Ceklek!
Ia berjengggit kaget, saat pintu ruangan terbuka dan Arlan berdiri di sana.
__ADS_1
Ini salahnya, yang memberi harapan sehingga ia sendiri termakan harapan.
"Lyn!" seru Arlan sambil melangkah mendekati meja, dimana ada asistennya diam tanpa melihat ke arahnya.
"Lyn, dengarkan aku!" Lanjutnya tidak menyerah.
"Lyn, aku mo-
"Ada yang bisa di bantu, Pak Presdir?" sela Evelyn cepat, dengan nada biasa dan mata tetap fokus pada layar laptopnya.
"Lyn, kita butuh bicara," ujar Arlan tidak menyerah, meskipun di perlakukan dingin, tapi ia bersyukur masih di tanggapi.
"Katakan, pekerjaan apa, yang harus saya kerjakan," balas Evelyn masih tanpa melihat ke arah sang Presdir.
"Lyn, lihat aku. Aku sedang berbicara dengan kamu!" seru Arlan memaksa.
Seketika Evelyn melihat ke arah Arlan, dengan mata berair tanpa di sadari dirinya sendiri.
Deg!
Astaga ... Ia tahu ini akan terjadi, tapi ia tidak menyangka bisa membuat asisten kesayanganya, mengeluarkan kristal bening, yang sangat tidak ingin ia lihat.
Tangannya hendak menyentuh pipi sang asisten, namun sayang, asistennya lebih dulu menghindar.
Nyut!
Bagaikan di tusuk belati, saat ini hatinya sakit dan nyeri melebihi waktu itu, waktu ia di tinggal oleh sang kekasih menghadap Sang Ilahi.
"Lyn," panggil Arlan dengan mata bergetar nanar.
Evelyn menghindarinya, sudah pasti dia sangat kecewa dengannya.
"Kenapa kamu suka horor?"
"Agar tidak ada air mata, aku tidak suka saat pemeran utama mengeluarkan air mata. Apalagi karena penghianatan, he-he!"
Sekilas obrolan mereka terngiang di telinganya, ia menarik tangan sang asisten untuk di bawanya kedalam ruangan, meninggalkan debaman kuat saat asistennya mencoba memberontak.
Brak!
"Arlan lepas!"
Arlan menulikan pendengarannya, ia tetap mencekal tangannya dan mencoba memeluk paksa Evelyn, namun Evelyn tetap melawan.
"Arlan! Lepaskan aku!"
Erat ... Semakin Evelyn mencoba dan meminta Arlan untuk melepasnya, maka kekuatan Arlan saat memeluknya semakin kuat.
"Arl-
"Tidak!"
"Aku mohon dengarkan aku, Lyn," ujar Arlan melembutkan suaranya.
"Tidak ada yang harus di dengar, Arlan."
Evelyn masih mencoba melepaskan pelukan sepihak dari sang Presdir, namun sayang, kekuatannya tidak sebanding dengan Sang Presdir.
Ia tetap ada di dalam rengkuhan posesif sang Presdir, yang tubuhnya saat ini bergetar seperti menahan tangis.
Ia lagi-lagi tersentak dan diam, saat telinganya mendengar bisikan lirih, dari sang Presdir yang frustrasi.
"Dengar aku, Lyn. Aku mohon,"
Mau tidak mau Evelyn pun diam, mencoba mendengarkan, meskipun hatinya berteriak untuk segera pergi.
Di saat Arlan merasa jika wanita di pelukannya tidak memberontak lagi, ia pun lebih mengeratkan pelukannya, menghirup aroma dari asistennya yang mungkin saja, tidak bisa ia hirup saat ia menceritakan masalahnya.
Arlan pov on
Aku tahu aku sudah menyakiti hatinya, tapi aku tidak bisa menyerah sebelum menjelaskan.
Saat ini aku sedang memeluk paksa dia, yang terus saja melawan di dalam kukunganku.
Aku tidak perduli lagi dengan tunangan sialan itu, ini salahku, saat aku tidak bisa menolak dengan tegas janji mati tersebut.
Kemudian setelah beberapa saat dia melawan, akhirnya dia berhenti dan mau mendengarku.
Mendengar penjelasanku, serta alasanku melakukan ini dengannya.
"Lyn, aku memang bertunangan dengannya, tapi aku tidak menginginkannya," Ujarku, bergumam di telinganya.
Dia belum menjawab, tapi setidaknya dia tidak melawan lagi dan itu cukup untuk aku menjelaskan hingga selesai.
"Dengarkan aku, please," Lanjutku dan dia pun mengangguk.
"Lepaskan aku," Ujarnya namun aku menggeleng, aku menolak dan lebih memeluknya erat.
"Arlan, lep-
"Tidak Lyn, aku tidak akan melepaskannya, sampai aku selesai berbicara," Selaku cepat.
Dia diam lagi dan aku bisa mendengar helaan nafas darinya.
"Baik, jelaskan Arlan."
__ADS_1
Aku bisa sedikit lega, saat dia mau mendengar penjelasanku.
Aku menarik nafas dan menghembuskan pelan.
Masih dengan memeluknya, aku bercerita tantang kedatangan ibu dari Tania, pertemuan Keluarga, serta kesepakatan antara ia dan Tania.
"Aku tidak bisa melanggar janji itu, Lyn. Apa yang harus aku lakukan? Jika saja aku tidak bertemu kamu, mungkin aku akan menerimanya begitu saja," Ujarku setelah menceritakan, tanpa ada yang di tutupi.
Diam ... Lagi-lagi dia hanya diam, tapi kali ini dia menangis dan aku adalah penyebabnya.
"Sialan," Batinku mengumpat.
Hiks! Hiks!
"Lyn, aku moh-
"Tinggalkan aku, Ar."
"Apa?"
Aku melepasnya dengan cepat dan memandang dia tidak percaya, apa maksudnya ini.
Aku sudah menjelaskan, tapi kenapa dia masih tidak mengerti juga.
"Tapi aku tidak ingin ini, Lyn. Ak-
"Tidak!"
Lagi-lagi perkataanku di selanya, membuatku semakin takut dengan apa kenyataan yang akan aku dengar selanjutnya.
"kenapa, Lyn? Kenapa?" Tanyaku kalut.
"Aku mencintaimu, Lyn!" Lanjutku frustrasi.
"Tapi ibumu telah memilih Arlan, ibumu sudah menginginkan kamu dengan yang lain Arlan."
Aku semakin tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Apa maksud perkataannya.
"Tidak, aku akan tetap membatalkan pertunangan ini!" Seruku tidak perduli.
"Aku, hanya, mencintaimu," Lanjutku menekan di setiap kataku.
"Tidak Arlan, tidak!" Bantahnya keras kepala.
"Kenapa Evelyn, apa kamu tidak mencintaiku?"
Aku bisa melihatnya melihatku kaget, saat aku menanyakan perasaannya.
"Apa selama ini hanya aku, yang mencintaimu, Evelyn? Apa hanya aku yang tergila-gila denganmu, Evelyn?" Tanyaku beruntun dengan nada tinggi.
Dia menatapku dengan air mata semakin mengalir, membuatku menyesal bertanya dengan nada tinggi seperti itu.
"Sial, aku kelepasan," Batinku memaki.
Aku melihatnya menggelengkan kepala, setelah lama dia hanya menatapku dengan air mata mengalir deras.
"Aku akan mem-
"Jangan!"
Aku menatapnya kaget, saat dia bilang jangan dengan lantang.
Apa-apa'an ini.
"Jangan batalkan, Arlan."
"Apa maksud kamu, Lyn?" Tanyaku tidak percaya.
Aku tidak salah dengar kan, apa maksudnya berbicara seperti itu.
Apa dia ingi-
"Kamu harus terus ....
"Berjanji lah, Arlan,"
"Apa!"
Itu adalah ucapan terakhirnya, sebelum dia meninggalkan aku sendiri, di sini, menatap pintu yang di tutupnya dengan pandangan nanar.
"Tidak, tidak mungkin," Gumamku dengan tangan menjambak rambutku frustrasi.
Kata-kata terakhirnya masih terngiang di telingaku dan setelahnya adalah aku yang melempar vas bunga, lalu bunyi pecahan memenuhi ruangan tempatku kehilangan cintaku.
Prang!
"Akh!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Sampai babai.