Bukan Salahku

Bukan Salahku
Episode 5 (Kadang Merasa Jenuh)


__ADS_3

Hari ini Karlina telah kembali ke Mansion Pranata, Semua yang ada di Mansion sangat senang dengan kepulangan Karlina.


Karlina yang masih dalam masa pemulihan diperlakukan sangat istimewa oleh orang tuanya, sehingga Ia menjadi sangat manja bahkan sering kali Karlina menyuruh Anggika untuk memenuhi segala kebutuhannya dan Karlina tidak segan-segan memarahi Anggika .


Anggika yang masih berusia 5 tahun selalu mendapat amukan dari orang tuanya jika Ia tidak mau menuruti segala kemauan kakaknya.


Orang tua Anggika selalu menjadikan musibah yang menimpa Karlina sebagai alat untuk mengatai Anggika karena mereka menganggap semua salah Anggika.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari berganti hari, bulan berganti bulan hingga tahun berganti tahun Anggika tidak pernah lagi merasakan kesih sayang orang tuanya, kecuali sang kakek yang terus berada bersamanya.


Tetapi Anggika tetap bersyukur karena masih bisa terus bersama-sama dengan keluarganya. Kerena walau bagaimanapun Anggika yang merupakan anggota keluarga konglomerat masih bisa merasakan hidup mewah.


Anggika tumbuh menjadi Anak yang Cerdas, Rajin dan Ceria. Dengan sifat cerianya Ia memiliki banyak teman, namun semua berubah saat Anggika berusia 12 Tahun.


Ya, saat itu Anggika sedang menyelesaikan tugas sekolah dikamarnya namun terdengar suara teriakan dari lantai bawah.


“Tuan, Nyonya, Nona, Tolong….” Teriak Ibu Susi


“Ada Apa bi, Kenapa teriak-teriak?” Tanya Anggika


“Itu non, kakek non sakit”.


“Apa? Sakit ap? Bukannya kakek tadi baik-baik saja? Ada apa bi? Terus dimana kakek sekarang? Tanya Anggika


“Dikamarnya Nona” jawab Ibu Susi


Anggika yang begitu khawatir bergegas ke kamar kakeknya yang di ikuti oleh ibu Susi, dan benar saja saat Ia sampai di kamar kakeknya, Ia melihat sang kakek yang sudah kesulitah bernafas.


“Kek, Kakek kenapa?


“An..gi..ka.., Ka..kek saya..ng ka..mu nak, Ka..mu ja..ga di..ri baik-baik.. ya.. naak” Ucap Kakek surya dengan terbata-bata

__ADS_1


“Kakek ngomong apa sih, Kakek akan baik-baik saja, kakek udah janji akan menemani Anggika selamanya. Hiks….hiks.....” Ucap Anggika sambil menangis


“Maa..aafkan… Kakek… ya nak.. Ka…mu har…us ku..at, Ka…kek har…us.. Pergi..” Ucap sang kakek dan tidak lagi bernafas.


“Ka….kek…hiikks…..hiks….” Teriak Anggika histeris


“ Nona yang sabar ya, Kakek Surya sayang sama nona, tapi Allah lebih sayang sama kakek nona jadi jangan menangis lagi ya, kita doakan saja kakek agar mendapat tempat yang layak disisi Allah yan Non…” Ucap Sang bibi sambil memekluk Anggika


Beberapa saat kemudian, berita kematian tuan Surya tersebar, banyak kolega bisnis yang datang mengantarkan tuan Surya tempat pengistirahatan terakhir, namun ada yang mengganjal karena Tuan Arya, Nyonya Diana dan Karlina tidak terlihat ditempat pemakaman.


Ya… sehari sebelum kematian Tuan Surya, Tuan Arya, Nyonya Diana dan Karlina pergi keluar Negeri dengan alasan mengurus pekerjaan bisnis keluarga Pranata.


Dengan alasan pekerjaan Bisnis yang belum selesai tuan Arya dan Nyonya Diana tidak bisa hadir ke pemakaman Tuan Surya sedangkan Karlina tidak ingin pulang jika hanya seorang diri.


Pemakamanpun berakhir dengan hikmat, Anggika yang merasa terpukul akibat kematian sang kakek yang mendadak dan harus menghadapi seorang diri membuatnya sangat terpukul.


Siang dan malam Anggika hanya menangis maratapi kepergian sang kakek.


“Kek, kenapa kakek pergi ninggalin Anggika, Kakek janji mau ngajarin Anggika Bisnis, katanya kakek mau lihat Anggika sukses seperti kakek, Tapi kenapa kakek sudah pergi” Batin Anggika disela tangisannya.


Bagaimana Anggika tidak merasa ada kejanggalan, Kakeknya yang baik-baik saja tiba-tiba meninggal.


Ayah, Ibu dan Kakaknya lebih memilih mementingkan pekerjaan dari pada mengantarkan kakek ketempat pengistirahatan terakhir padahal Anggika tau betul selama ini yang selalu mengurus berbagai pekerjaan di perusahaan hanya orang-orang kepercayaan keluarga pranata dan akhir-akhir ini perusahaan tidak terdapat masalah apapun bahkan semakin jaya.


Dan yang membuat Anggika makin merasa ganjal, Pak Dim menghilang bagai ditelan bumi setelah kematian tuan Surya, Anggika sudah mencoba menghubunginya namun tidak terhubung sampai Anggika pergi ke rumah pak Dim sudah tidak ada penghuninya, semua keluarga pak Dim telah pindah tanpa meninggalkan jejak


1 Minggu setelah kepergian tuan Surya, Tuan Arya, Nyonya Diana dan Karlina terlihat pulang ke Mansion dengan rasa gembira.


Entah mengapa mereka tidak merasa bersedih padahal kematian Tuan Surya belum begitu lama dan terlebih mereka tidak ada ditempat saat kematian Tuan Surya.


Bahkan mereka semakin se enaknya kepada Anggika, tanpa ada rasa kasihan mereka terus memperlakukan Anggika dengan begitu buruk.


Saat ini, Anggika merasa tidak memiliki siapa-siapa lagi, keluarga yang dia sayangi tidak lagi mengharapkannya.

__ADS_1


Semua keluarga Pranata hanya menjadikan Anggika bagai seorang pelayan, karena memang semenjak kematian Tuan Surya semua pelayan dipecat.


Hingga akhirnya Anggika kecil yang diperintahkan untuk mengurus semua pekerjaan di Mansion agar Ia bisa mendapat Fasilitas yang sama dengan sang Kakak.


Anggika tidak lagi merasakan kebahagiaan, keluarganya sudah seperti orang lain baginya. Ia hanya bisa sabar karena harus hidup sendiri tanpa ada yang membelanya.


3 bulan setelah kepergian sang kakek Anggika sudah terlihat kuat dan tidak pernah meratapi kepergian sang kakek.


Anggika telah melupakan sesaat mengenai kejanggalan atas kematian sang kakek, yang Anggika fikirkan adalah janjinya kepada sang kakek.


“Kek, Anggika rindu kakek, Anggika tidak akan lupa kepergian kakek yang secara tiba-tiba, Suatu saat Anggika akan menyelidikinya Kek. Kakek yang tenang ya, Anggika janji akan jadi seperti yang kakek mau, Maafkan Anggika yang baru bisa mengiklaskan kakek, Anggika pasti kuat kek, Anggika sayang kakek” Batin Anggika.


Setelah Anggika berusaha tegar Ia menjadi anak yang dingin, harinya-harinya hanya belajar dan memgurus Mansion.


Karlina yang mengetahui kecerdasan Anggika selalu memanfaatkan kecerdasan Anggika untuk menyelesaikan tugas-tugasnya walaupun Karlina tau kelas mereka berbeda, namun kecerdasan Anggika yang di atas rata-rata bisa dengan mudah mengerjkan tugas sang kakak.


Anggika yang kadang merasa jenuh dengan sikap kakaknya sering mengerjai kakaknya dengan menjawab asal-asal tugas yang kakaknya berikan sehingga sang kakak mendapat hukuman yang membuatnya sangat malu.


Dengan perlakuan yang Anggika terima menjadikan dia anak yang tidak perduli dengan keadaan sekitar, bahkan ia tidak lagi memperdulikan ucapan orang tuanya.


Ia hanya melakukan apa yang mereka perintahkan tanpa mengeluarkan satu katapun. Hingga keluarganya begitu membencinya.


.


.


.


.


Readers, Trima Kasih telah membaca novel ini, maaf jika banyak TYPO karena ini adalah novel Perdana saya😘


Mohon dukungan yaaaa😍😍 melalui Vote, Like, serta tambahkan menjadi favorite agar Author makin semangat🙏😊

__ADS_1


Dan Berikan komentar dan kritikan kalian, agar novel ini bisa lebih baik.😘


Author: Hilma Maara👩‍💻


__ADS_2