
Bu ... Kamu tahu, kamu adalah satu-satunya orang yang aku sayang melebihi diriku sendiri.
Jika kamu tidak ada di sampingku, aku merasa hampa dan tidak bernyawa.
Bu ... Jika aku bisa memilih, aku ingin memilih hidup berdua saja dengan ibu.
Di dunia ini tidak ada hal lain yang aku inginkan, selain senyum bahagia dari bibirmu ibu.
Bu ...
Dirimu lah pelita dalam hidupku, tanpamu aku sama saja melihat dunia tanpa cahaya.
Karena kamu adalah cahaya, dikehidupan gelap gulitaku.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
PT. TRI TUNGGAL
Ini tepat satu minggu dari pertemuannya dengan tunangan sang Presdir.
Nyonya muda dari keluarga Brata, siapa lagi.
Sampai saat ini Evelyn masih menunggu surat PHK dari perusahaannya, tapi sudah seminggu surat itu belum juga muncul.
Tadinya jika ia berhasil keluar dari perusahaan ini, ia akan mengadakan syukuran tertunda bersama ibu dan kakaknya.
Eh ... Ngomong-ngomong soal syukuran, ia hampir saja lupa akan janjinya dulu.
Janji untuk mentraktir ibu dan kakaknya makan di luar.
"Sebaiknya aku susun rencana, aku ingin berkumpul dengan ibu dan Riki. Tapi Riki sudah tidak bisa sembarangan pergi, pekerjaannya sekarang sudah berbeda," gumam Evelyn sedih, namun senang juga disaat bersamaan.
Sedih saat waktu berkumpulnya dengan sahabatnya berkurang, tapi juga senang saat sang sahabat sukses dengan usaha yang dirintisnya.
Ia pun menggelengkan kepala, ia tidak boleh memikirkan rasa egoisnya saat sang sahabat sedang berjuang untuk karirnya.
"Oke, aku akan kirim pesan janji, jadi dia bisa atur jadwal."
Dengan segera Evelyn mengirim pesan untuk sahabatnya, lalu menunggu balasan pesan sambil mengerjakan laporannya.
Ping!
Beberapa saat kemudian ia mendengar nada dering notif pesan, ia pun melirik sekilas membaca dalam hati nama si pengirim pesan.
Senyum cantik terukir indah dibibir Evelyn, saat membaca persetujuan dari Riki, yang mengiyakan ajakan makan bersamanya besok malam.
"Bagus! Aku akan kasih tahu ibu, pulang kerja nanti."
Akhirnya, Evelyn pun menjalani sisa hari ini dengan semangat, saat dirinya membayangkan jika esok adalah hari terindahnya.
"Aku tidak sabar," gumamnya senang.
Tidak terasa waktu kerja Evelyn pun habis, seharian ini ia dan sang Presdir tidak ada kegiatan di luar kantor, hanya ada pembahasan serius di ruangan sang Presdir dengan Barly ikut serta.
Syukurlah ... Setidaknya ia tidak berdua'an dengan sang Presdir di ruangan tertutup, yang nantinya akan menimbulkan masalah baru untuknya(lagi).
🍀🍀🍀🍀
Hari ini Riki datang menjemputnya, sahabatnya bilang kebetulan dia habis mengadakan pertemuan di dekat kantornya.
Dari tempatnya berdiri saat ini, ia bisa melihat Riki yang berdiri, dengan tubuh menyandar santai di badan mobilnya.
Pose andalan sang kakak, saat sedang menunggunya seperti ini.
"Hai! Sudah lama?" tanya Evelyn dengan senyum lebar.
Ia berdiri di depan sahabatnya, yang menepuk kepalanya pelan dengan senyum hangat seperti biasa.
"Lama sekali, sampai jamuran nih!" seru Riki menggoda Evelyn, yang balas menjulurkan lidahnya meledek.
"Syukurin, biar saja jamurnya aku masak," balas Evelyn balik menggoda sahabatnya.
"Sudah bisa jawab yah, dasar kamu ini," ujar Riki dengan kepala menggeleng.
Evelyn hanya tersenyum, saat Riki menggeleng kepala untuknya.
"Yuk! Aku antar pulang, tapi aku langsung pergi yah, aku harus kembali ke kantor. Tidak apa-apa, kan?" lanjut Riki menjelaskan.
Evelyn menggeleng kepalanya cepat, dengan senyum tidak enak.
"Tidak, aku yang seharusnya bilang berterima kasih, kamu tidak perlu khawatir," balas Evelyn cepat.
__ADS_1
"Baiklah, yuk!" ajak Riki menyudahi acara tidak enak diantara mereka.
Tidak akan ada habisnya, jika mereka saling meminta maaf dan berterima kasih, hanya karena masalah sepele seperti ini.
"Yuk!"
Riki pun membukakan pintu untuk Evelyn, yang segera masuk dan duduk nyaman di kursi samping pengemudi.
Mereka pun pergi meninggalkan kantor milik keluarga Widiyo, tanpa tahu jika sedari tadi ada yang memperhatikan mereka dalam diam.
Seseorang itu melihatnya dengan tatapan mata marah, kesal, sedih dan menyesal disaat bersamaan.
Seharusnya ia masih bisa menikmati senyum itu, jika saja kejadian beberapa minggu lalu tidak terjadi.
Ia kembali kesal saat mengingatnya.
Tangannya mengepal menahan emosi, dengan perasaan marah dihati, ia menginjak pedal gas dalam dan meluncur meninggalkan area parkiran perusahaannya segera.
Saat ini yang dibutuhkannya adalah hiburan, dan Bar Galaxy adalah pilihannya.
"Wanita sialan," umpatnya emosi.
Skip
Evelyn saat ini sedang mengeringkan rambutnya yang basah, dengan handuk kecil lalu memijatnya perlahan.
Di kursi satu-satunya didalam kamarnya, ada sang ibu, sedang mengayunkan tangan memanggilnya untuk mendekat, yang segera di turuti olehnya.
"Biar ibu yang bantu keringkan," ujar Mirna membuat Evelyn tersenyum lebar, dan mengangguk mengiyakan.
Ia pun duduk lesehan di lantai, dengan sang ibu yang memijat rambutnya pelan.
Ia meresapi bagaimana lembutnya pijatan ibunya dengan mata terpejam.
Hangat dengan kasih sayang berlimpah untuknya.
Di dunia ini hanya sang ibu, yang menjadikannya kuat serta lemah disaat bersamaan.
Baginya hidup tanpa sang ibu, sama saja hidup bagai tubuh tanpa nyawa.
Ah!
Apa ini, apa yang dipikirkannya.
"Lyn, ada apa?" tanya sang ibu penasaran.
Evelyn tersentak kaget, kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak, tidak ada apa-apa, Bu," balas Evelyn bergumam pelan.
"Oh."
"Bu!"
"Iya?"
Evelyn pun membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah sang ibu dan memandang ibunya dengan senyum lebar.
"Bu, aku sudah bilang dengan Riki. Aku ajak dia untuk makan malam dengan kita di luar, dan dia bilang iya."
Evelyn memandang ibunya dengan binar bahagia, membuat sang ibu ikut tersenyum senang.
"Benarkah?" balas Mirna antusias, menuai anggukan kepala dari Evelyn, yang tersenyum semakin lebar.
"Iya Bu, benar!" seru Evelyn semangat.
"Syukurlah, kita bisa makan bersama lagi."
Evelyn mengangguk kemudian membalikkan tubuhnya lagi, saat sang ibu lanjut mengeringkan dan memijat kepalanya pelan.
"Ibu tidak sabar," bisik Mirna yang dibalas anggukan kepala pelan dari sang anak.
"Aku juga!"
"Jadi, kita makan di tempat kalian biasa makan?" tanya Mirna semangat.
"Tentu!"
"Bagus, ibu ingin makan banyak!"
Evelyn tertawa renyah saat ibunya berkelakar, ia menghadap ibunya lagi dan memandang ibunya sayang.
__ADS_1
"Apapun jika itu ibu yang meminta, maka akan aku berikan Bu," ujar Evelyn mantap.
"Benarkah?" tanya Mirna dengan nada menggoda.
"Tentu saja!"
"Ha-ha-ha!"
Evelyn merasa aneh dengan tawa ibunya yang ceria, entah kenapa ia merasa jika tawa ibunya adalah tawa terakhir yang akan didengarnya.
"Apa yang aku pikirkan," batin Evelyn mengenyahkan pikiran buruknya.
"Lyn."
"Iya, Bu?"
"Boleh ibu minta satu hal."
"Apa Bu?"
"....."
"Bisakan, Evelynku sayang?"
Evelyn hanya memandang ibunya tidak mengerti, namun ia tetap mengangguk membuat senyum dibibir sang ibu bertambah mekar.
"Ada apa dengan ibu," batin Evelyn bingung.
🍀🍀🍀🍀🍀
Keesokan harinya
Evelyn menjalani harinya di kantor dengan semangat, tanpa memperdulikan karyawan lainnya yang masih salah paham dengannya.
Ia tidak perduli, karena saat pulang nanti ia bisa bersenang-senang bersama ibu dan sahabatnya.
Di ujung pintu ada Arlan, yang melihat asistennya dengan tatapan rindu, tanpa diketahui oleh asistennya sendiri pastinya.
Ia bisa melihat itu, binar bahagia di kedua bola mata asistennya.
Meskipun bukan ia yang membuat mata itu berbinar senang, setidaknya ia bisa menikmati dan merekam senyum itu di memori otaknya.
"Tuhan, kapan ini berakhir," batin Arlan berharap.
Di saat bersamaan disisi Evelyn, yang saat ini duduk dengan laptop menyala.
Evelyn yang sedang mengerjakan tugasnya berhenti, saat telinganya mendengar dering panggil dari nomor pemilik kost-annya.
Pak Budi calling
"Ada apa?" batin Evelyn bingung.
Pak Budi jarang menghubunginya, jika bukan masalah serius seperti bayaran dan juga sesuatu yang berhubungan dengan kamar sewaannya.
Tidak ingin penasaran, ia pun menerima panggilan tersebut dengan jantung, yang entah kenapa tiba-tiba berdetak kencang.
Bukan hanya jantungnya, tapi juga hatinya yang tiba-tiba sakit seperti diremas oleh tangan 'tak kasat mata.
Ada apa ini?
Klik!
"Sore Pak, ada apa ya Pak?"
"Dek Evelyn ..."
"Apa!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya
Sampai babai.
Haloo pembaca semua, terima kasih untuk vote dukunganya, tap like dan komentarnya.
Kita saling follow yuk!
Dan juga saling kenal dan sapa di grup chat, berbagi cerita dengan yang lainnya juga.
__ADS_1
Di tunggu kehadirannya semua.
Sampai babai beneran.