Bukan Salahku

Bukan Salahku
Pertemuan


__ADS_3

Bab 34


Di sebuah restoran mewah yang terletak di pusat Ibu kota, sekelompok gadis-gadis kini tengah duduk dengan anggun melingkari meja berbentuk bundar di hadapannya. Keempat gadis tersebut tengah berbincang seru, sesekali mereka tertawa, sesekali berbicara apa saja yang mereka anggap seru. Obrolan mereka tidak jauh dari kegiatan mereka sehari-hari, tentang brand baju atau tas yang sedang viral, tentang oppa-oppa tampan yang lagi hits, atau tentang pacar-pacar mereka yang tampak bucin, semua tidak luput dari bahasan para gadis tersebut. 


“Eh gila ya, si Anggun tuh yang lagi mujur banget, dia dapat cincin berlian dari pacar barunya, heran Gue entah dia pake pelet apaan, tapi baru jadian dua hari udah di kasih cincin aja, berlian pula” Chelsea terkekeh sembari melirik Anggun yang kini tengah tersenyum sumringah sembari memamerkan jarinya yang sudah disemati cincin cantik bertahtakan berlian. 


“Uwwaaawww ...” Chelsea, Jesica, dan Laudia segera berebut tangan Anggun dengan heboh, kecuali Naina yang memutar bola matanya malas, selama menikah Abi belum membelikannya barang berharga seperti berlian, tas branded atau apapun yang kini tengah dipamerkan teman-temannya, padahal uang Abi banyak, tapi laki-laki itu sungguh pelit, Naina mengerang kesal pada Abi secara tiba-tiba. 


“Na, Lo udah dapet apa aja dari laki Lo” kini Jesica melirik pada Naina yang sedari tadi terlihat bete sekali. 


“Jangan bilang Lo udah dihamilin begini tapi Lo belum dapat apa-apa? Ah payah Lo Na” Jesica terkekeh diikuti teman yang lainnya. Naina tambah malas saja, moodnya seketika makin anjlok. 


“Gue bisa kok beli apa aja yang Gue suka, Abi udah ngasih banyak duit buat Gue” Naina segera beraksi untuk menyelamatkan harga dirinya. 


“Ah masa sih? Kok Gue lihat di badan Lo selain perut Lo yang makin buncit gak ada barang apapun yang terlihat berharga” Chelsea menatap Naina dengan pandangan menilai. 


“Na, Lo Jangan bodoh dong, punya suami kaya itu harus dimanfaatin” terdengar gelak tawa dari ketiga temannya, membuat Naina mengepalkan tangannya erat. 


“Jangan sampe Lo ketiban sial berkali lipat loh, udah punya suami cacat ditambah kere pula, hidup tuh harus ada yang mendingnya gitu loh” kini gadis bernama Anggun menimpali dengan tawa yang belum mereda. 


Mendengar hinaan sedemikian rupa, membuat Naina seketika naik pitam, gadis itu terlihat begitu marah. 


“Gue dikasih duit kok, nih buktinya kalau kalian gak percaya!” Naina memamerkan kartu yang tadi di berikan Abi padanya, seketika ketiga teman Naina terbelalak kaget melihat kartu berwarna hitam yang ada di tangan Naina, membuat Naina tersenyum sinis segera. 


“Waaahhh, Gue yakin kartu itu pasti banyak banget isinya,” Anggun mengubah mimik wajahnya, kini gadis itu tersenyum lembut pada Naina, begitupun dengan temannya yang lain. 


“Kayaknya kita bisa shopping pake kartu itu Na” Jesica menaik turunkan alisnya. 


“Lo gak mungkin pelit sama kita kan Na, kita kan teman, susah senang harus sama-sama” kini Chelsea menimpali,  ketiga sahabat Naina kini merongrong Naina kala tahu jika Naina memiliki black card milik Abi. 


Naina tersenyum sinis, geli sekali melihat tingkah teman-temannya, tadi mereka mengolok Naina, kini mereka meminta Naina untuk dibayari belanjaannya, Naina tidak habis pikir, kenapa dia bisa berteman dengan manusia berkepala ular seperti mereka. 

__ADS_1


“Sorry, Gue mau nikmatin duit ini sendirian! Lumayan kan bisa beli apa aja yang Gue mau dengan kartu ini” Naina kembali mengamangkan kartu tersebut, segera berdiri lalu berniat pergi, namun sebelumnya ...


“Nih, buat bayarin makanan Gue” Naina menyimpan beberapa lembar uang diatas meja. 


Seketika raut panik dari wajah ketiga temannya terlihat jelas, dengan sigap Anggun segera berdiri disusul oleh Jesica dan Chelsea. 


“Eh, jangan gitu dong Nai, kita tadi kan cuman bercanda, kita ikut Lo ya” 


Melihat wajah memohon sahabatnya, Naina menyeringai culas, dia tahu bahwa semua temannya akan kembali bertekuk lutut di hadapannya, asalkan diimingi uang. Selama ini pertemanan mereka tidak jauh dari uang.


Naina hanya tersenyum kecil, beranjak meninggalkan tempat makan kemudian berjalan menuju salah satu mall besar yang tidak jauh dari tempat mereka makan, dengan sigap ketiga temannya tersenyum mengikuti langkah Naina.


*** 


“Oh ya, bagaimana dengan Salsabila Bi? Dia anak yang baik bukan?”


Setelah beberapa saat mereka mencari alat bantu dengar milik Abi, akhirnya Bima, Satriya dan Abi kini tengah duduk di sofa yang berada di ruangan Satriya, mereka duduk dengan tenang dengan secangkir teh yang berada di hadapan masing-masing. 


“Ya, Om tahu itu, Salsabilla anak baik-baik, Awan membesarkannya pastilah dengan cara yang baik, kamu sudah mengenal dia sedari kecil bukan?” Bima menatap Abi yang kini tengah tersenyum tenang. 


“Ya, tentu saja Om” Abi mengangguk setuju. 


Ting


Ting


Ting


Suara notifikasi dari ponsel Abi terus berbunyi, Abi sempat meliriknya, menarik napas sejenak lalu mengabaikannya kemudian, Satriya dan Bima sempat ikut melirik Abi yang wajahnya terlihat keruh, namun mereka segera berusaha untuk tidak ikut campur dengan urusan Abi kali ini. 


“Oh ya, bagaimana istri dan calon anakmu?” kini Papa Satriya yang bertanya. 

__ADS_1


“Baik Pa, semuanya baik” Abi kembali tersenyum tenang.


Ting 


Ting


Ting


Suara notifikasi dari ponsel Abi kembali terdengar, dan hal tersebut mengganggu konsentrasi tiga pria yang kini tengah membahas pekerjaan penting. 


“Abi, sedari tadi ponselmu terus berbunyi, lihat dulu, mungkin itu penting” Papa Satriya melirik Abi yang terlihat tetap tenang. 


“Ah, ya Papa” 


Abi mengangguk setuju, lantas Abi segera membuka ponselnya, mata Abi seketika terbelalak tidak percaya, melihat notifikasi ponselnya, semua pesannya berisi tentang seberapa banyak belanjaan Naina hari ini, tas, sepatu, pakaian, aksesoris dan lain sebagainya, mata Abi sampai pusing melihatnya. 


Abi memegangi keningnya yang terasa pening, uang senilai ratusan juta, Naina habiskan hanya dalam waktu beberapa jam saja. Tidakkah Naina keterlaluan?


Abi menghela napas berat, jika hal tersebut mampu membuat Naina mempertahankan dan menjaga anaknya dengan baik, maka Abi akan membiarkannya saja, toh uang masih bisa dicari, tapi kebahagiaan calon anaknya adalah hal yang mungkin sedikit sulit untuk Abi raih, kendati sang Ibu dari calon anaknya adalah Naina, si gadis keras kepala. 


“Ada apa Nak? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”


Abi mendongak, ternyata Bima dan Satriya sedari tadi menatapnya dengan raut khawatir, Abi kembali tersenyum lembut lantas menggeleng pelan “tidak ada apa-apa kok” 


Ting


Ponsel Abi kembali berbunyi, Abi segera membuka chatnya, penasaran sekali dengan apa yang Naina beli kali ini. 


Ya tuhan!


Naina mengeluarkan uang senilai tujuh ratus juta rupiah, kira-kira kali ini apa yang Naina beli? Abi menggaruk keningnya merasa frustasi. 

__ADS_1


__ADS_2