
Senyum sejuta makna, terpatri dibibir saat diri ingin tampil sempurna.
Wajah dengan topeng berhiaskan ceria yang semu, terpatri saat diri ingin menyembunyikan gundah.
Dan air mata tolong simpan dulu luka, hingga kita hanya berdua.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kost-an Evelyn
Ini adalah hari pertama Evelyn kembali masuk bekerja, ia bangun dengan semangat baru setelah mengucapkan salam untuk mendiang sang ibu, melalui udara yang sejuk di pagi hari ini.
Kakaknya atau juga Riki, sudah mengirimnya pesan untuk menunggu seperti biasa, di jam yang sama seperti biasa ia bekerja pula.
Hari ini Evelyn hanya berharap, mendapatkan ketenangan saat bekerja dan juga kelancaran, hingga saat pulang nanti juga.
Ia mematut lagi penampilannya didepan cermin, merapihkan rambutnya yang terurai dan mengikatnya sebagian.
Kemaja soft yellow dengan luaran biru tua, menjadi pilihan untuknya bekerja hari ini.
"Oke, Evelyn. Semangat bekerja, jangan biarkan kesedihan larut membawamu terlalu dalam. Ibu, tidak akan suka jika kamu seperti beberapa hari yang lalu."
Evelyn meyakinkan dirinya untuk terus melangkah maju, apapun kedepannya akan ia hadapi.
Mendiang ibunya berkata untuk tidak menyerah, apapun rintangan yang menghadangnya didepan, ia harus selalu berjiwa besar, menerima namun bukan berarti pasrah.
Ia juga mengingat pesan terakhir ibunya, saat ia terakhir bermanja dengan sang ibu.
"Jangan pernah mudah menyerah akan suatu keadaan, menyerah bukan berarti kalah. Jangan pernah tunjukkan kelemahan, lemah juga bukan berarti tidak bisa melawan. Yang terbaik, akan datang untuk orang yang baik."
Ya ... Ia yakin, jika ia tidak menyerah dengan takdirnya, maka takdirnya akan berubah juga.
Bukankah pepatah mengatakan :
Takdir memang dituliskan sejak lahir, tetapi orang yang mau berusaha niscaya akan merubah takdirnya sendiri.
Ring! Ring! Ring!
Dering dari handphonenya membuat Evelyn sedikit tersentak, ia melirik layar handphone yang ia letakkan di meja depannya saat ini, dan melihat nama Riki sebagai pemanggil.
Senyum kecil terpatri dibibirnya, senyum yang muncul setelah kedatangan teman sekantornya dan juga janjinya kepada kakaknya.
Ia dengan segera menggeser tombol hijau, kemudian meletakkan handphone di telinga sebelah kanannya.
Klik!
"Halo!" sapa Evelyn ceria.
"Aku dibawah, kamu sudah siap?"
"Iya, tunggu sebentar ya. Aku siapin barang keperluan aku," ujar Evelyn dengan tangan sibuk memasukkan buku agendanya.
"Baiklah, aku tutup sambungannya."
"Oke!"
Klik!
Tidak ingin membuat sang kakak terlalu lama menunggu, Evelyn pun bergegas berjalan menuju pintu, menutup dan berjalan lagi menuruni tangga dengan hati-hati.
Didepan gerbang sudah ada Riki, yang menunggu didalam mobil, dengan seorang lagi yang duduk di kursi penumpang belakang.
"Riki, Evelyn tahu kan kita berangkat bersama?" tanya penumpang tersebut cemas.
Ia takut keberadaannya mengganggu Riki dan Evelyn nanti.
"Tidak, tapi kamu santai saja. Jangan khawatir," balas Riki tanpa menoleh, namun ia melihat melalui kaca mobilnya.
"Semoga seperti itu," gumamnya berharap dengan kepala mengangguk kecil.
Tidak lama mereka berdua melihat gerbang terbuka, dengan Evelyn yang berjalan dengan langkah semangat.
Ceklek!
__ADS_1
"Hai! Selamat pagi!" sapa Evelyn ceria, kepada kakaknya tanpa melihat ke arah belakang.
"Selamat pagi juga, Lyn," balas Riki dengan senyum kecil.
Evelyn pun duduk dengan nyaman, masih belum sadar akan kehadiran seseorang di belakangnya. Namun, saat ia melihat melalui kaca spion untuk melihat penampilannya lagi. Ia dikagetkan dengan penampakan seseorang, sehingga ia pun langsung menoleh cepat ke arah belakang.
"Astaga! Riyanti!"
Evelyn terkejut sekaligus tidak enak, saat Riyanti tersenyum canggung ke arahnya.
Ya Tuhan .... Sepertinya, karena ia terlalu sering pergi berdua dengan kakaknya saat bekerja, membuat ia tidak melirik lagi kanan dan kiri disekitarnya.
"Selamat pagi, Evelyn!" sapa Riyanti dengan senyum ramah.
Ia sama sekali tidak marah, karena kehadirannya tidak disadari oleh Evelyn, yang saat ini tersenyum canggung juga ke arahnya.
"Selamat pagi Riy, maaf aku terbiasa hanya berdua. Aku tidak memperhatikan sekitar," sesal Evelyn tulus.
"Tidak, tidak apa-apa," balas Riyanti dengan kepala menggeleng pelan.
Evelyn pun menoleh ke arah Riki yang terkekeh geli, sambil melirik ke arahnya dan Riyanti melalui kaca spion.
Dengan sengaja Evelyn memeluk berulang, lengan dan mencubit pinggang sang kakak, membuat Riki yang mendapatkan cubitan dan pukulan mengaduh kesakitan, namun hanya pura-pura.
Plak! Gyuut!
"Akh! Ampun Lyn!"
"Rasakan, suruh siapa kamu tidak kasih tahu aku, kalau ada Riyanti ikut berangkat bersama!" seru Evelyn tanpa memperdulikan sang kakak yang meminta ampun.
"Iya! Iya! Maaf!"
"Huumb."
Evelyn mendengkus sebal, lalu menghentikan siksaannya saat sang kakak meminta maaf kepadanya.
Di belakang mereka ada Riyanti yang terkikik anggun, saat melihat laki-laki yang spesial di hatinya, bercanda dengan sahabat yang sudah di anggap adik juga olehnya.
Tidak ada lagi cemburu, dan ia sudah mengatakannya kemarin.
Umurnya dan Riki sama, meskipun Riki baru lulus dengan tahun ajaran yang sama dengan Evelyn, nyatanya Riki lebih tua dari Evelyn.
Riki sengaja mengambil dua jurusan sekaligus, sehingga ia membutuhkan waktu banyak untuk menyelesaikan kedua jurusan tersebut.
"Sebaiknya kita berangkat, Riki. Kamu mau Evelyn telat, di hari pertama dia kembali masuk bekerja?" usul Riyanti mengingatkan, membuat Riki tersentak kaget saat ia sendiri menikmati waktu seperti ini dengan sang adik.
Adiknya sudah seperti dulu, kembali ceria. Bagaimana ia tidak bahagia, ia juga berharap di kantor pun akan demikian.
"Kita berangkat!"
"Siap!"
Riki pun kembali mengendarai mobil miliknya dengan kecepatan sedang, sesekali ia akan menimpali obrolan antara Evelyn dan Riyanti, untuk kemudian tertawa bersama, saat ada sesuatu yang seru disela-sela obrolan mereka.
Mobil yang dikendarai Riki akhirnya sampai di halaman parkir, komplek gedung perkantoran milik keluarga Widiyo.
Evelyn turun dengan Riki yang seperti biasa ikut keluar, untuk mengantar sang adik memulai aktivitas kantornya.
"Semangat bekerja, jangan lupa hubungi aku saat istirahat. Oke?" ujar Riki perhatian seperti biasa.
"Oke,Bos!"
Tepukan hangat di kepalanya membuat Evelyn terkekeh kecil, saat ia merasa jika Riki masih dan tidak pernah berubah.
"Oh iya Riki," ucap Evelyn menjeda kalimatnya, menuai gumaman dari Riki serta alis terangkat sebelah bertanya.
"Humm?"
"Bagaimana dengan hubungan kamu dengan si itu?" tanya Evelyn sedikit berbisik, membuat Riki yang ditanya seperti itu, tentu saja tersentak kaget dan juga bergerak salah tingkah.
"Ah! Apa maksudnya, kamu jangan sembarangan, Lyn," elak Riki namun Evelyn yang tahu bagaimana ia, tentu saja curiga dengan senyum ganjilnya.
"Mengelak berarti iya, ah! Akhirnya ... Datang juga wanita ciptaan Tuhan, seperti dewi yang hadir di kehidupan kakak aku," desah Evelyn dengan gaya berlebihannya.
Tak!
__ADS_1
Ouch!
Riki yang gemas dengan godaan sang adik, dengan sengaja memukul kening Evelyn dengan dua jari panjangnya. Sehingga Evelyn pun mengaduh kesakitan, balas melihat Riki dengan mata menyipit lucu alih-alih seram.
"Sakit Riki, jahat sekali," rengek Evelyn manja.
"Maka itu, jangan mengada-ada. Paham!" seru Riki tegas, namun tangannya mengusap sayang kening Evelyn sebagai permintaan maaf.
"Bhuu! Tinggal iya aja, susah sekali," dumel Evelyn keras kepala.
"Masih mau dipukul?" ancam Riki main-main, menuai gelengan kepala dari Evelyn, yang segera menutupi keningnya dengan telapak tangan.
"Iya da (Tidak mau), sakit," tolak Evelyn cepat.
"Ya sudah, kamu masuk ke dalam. Sudah waktunya aku berangkat, kami harus ke luar kota, ada pekerjaan penting."
Evelyn mengangguk saat sang kakak memberi tahu, kegiatan apa yang akan ia jalani dengan Riyanti hari ini.
"Siap, selamat berjuang. Semoga berhasil!" seru Evelyn ceria.
"Pasti," gumam Riki dengan senyum kecil.
"Oke, aku pergi. Sampai jumpa nanti," lanjut Riki kemudian memasuki mobilnya, setelah Evelyn membalasnya semangat.
"Sampai jumpa!"
Evelyn menunggu sampai mobil yang dikendarai sang kakak pergi menjauh.
Setelah mobil yang dikendarai Riki benar-benar tidak terlihat lagi, perlahan senyumnya memudar digantikan dengan tatapan dan wajah sama datarnya.
Tidak ada lagi senyum ceria, seakan tadi adalah hanya fatamorgana, ilusi dan hanya semu semata.
Ia berjalan dengan langkah dan pandangan lurus, tidak perduli saat beberapa pasang mata melihatnya takut.
"Ada apa?" batinnya bertanya bingung.
Tapi ia tidak perduli, ia berjalan mendekati meja informasi dan kembali tersenyum, saat ada Raina yang tersenyum pula untuknya.
"Selamat pagi, Lyn. Semangat bekerja!" seru Raina ceria setelah Evelyn sampai di depannya.
"Semangat bekerja juga, Raina. Makan siang bersama, kalau aku tidak ada kegiatan di luar. Oke?" ajak Evelyn dengan senyum seperti tadi.
"Tentu saja! Aku berharap seperti itu," balas Raina masih ceria.
"Kalau gitu aku ke atas, sampai nanti," pamit Evelyn, saat ia merasa tatapan aneh datang lagi untuknya.
"Oke, sampai nanti lagi, Lyn!"
Evelyn pun membalikkan tubuhnya, melanjutkan perjalanannya, menuju lantai dimana ia bekerja.
Sesekali ia akan merasa aneh, saat ia merasa tatapan karyawan kali ini berbeda, dari tatapan terakhir kali ia bertemu mereka.
Ia pun mengangkat bahu tak acuh, masa bodo, pikirnya.
Yang jelas saat ini, ia datang hanya untuk bekerja bukan untuk mencari musuh atau apalah yang sejenisnya.
Ting!
Lift sampai di lantai ia bekerja, lantai sembilan belas.
Dan itu saatnya, ia bersiap untuk menjalani aktivitas bagai nerakanya.
Jangan katakan ia terlalu berlebihan.
Tapi sekali lagi ia berdoa dan ia minta, sebutan neraka darinya tadi, tidak akan benar-benar menjadi neraka sungguhan untuknya nanti.
"Huft ... Semangat," bisiknya untuk diri sendiri.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1