
Cinta datang kepada orang yang masih mempunyai harapan, walaupun mereka telah dikecewakan.
Kepada mereka yang masih percaya, walaupun mereka telah dikhianati.
Kepada mereka yang masih ingin mencintai, walaupun mereka telah disakiti sebelumnya
Dan
Kepada mereka yang mempunyai keberanian dan keyakinan untuk membangunkan kembali kepercayaan.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Gandhi
Riki pov on
Saat ini aku sedang duduk di kursi, di meja biasa aku menggambar desain pesanan klienku.
Di depanku ada sebuah handphone, tergeletak begitu saja, saat aku menunggu pesan atau pun telepon balasan dari sahabatku.
Sial ...
Aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
Ini lah yang aku takutkan, jika sampai dia tahu rasa yang aku simpan rapat, apalagi kalau bukan aku yang di jauhinya.
Tadi ... Tepatnya beberapa jam yang lalu, aku baru saja menyatakan perasaan terpendamku kepada sahabatku.
Dan kalian tahu apa yang aku dapatkan, tatapan tidak percaya dan kecawa darinya.
Ini salahku yang selalu berkata, jika aku menyayanginya sebagai adik dan selalu akan seperti itu.
Terlebih aku sudah berjanji dengannya, akan selalu menemaninya, mendukung serta selalu ada di sampingnya.
Aku meremas rambutku, berharap bisa meredakan sakit kepala, saat mengingat kejadian tadi.
"Sial, kenapa seperti ini."
Ya, benar ... Seharusnya aku tahan, lalu menunggu waktu yang tepat.
Bukannya dengan tiba-tiba menyatakan perasaan, saat dia sedang dalam masa kalut akibat hal buruk yang menimpanya.
Flasback on.
"Riki, Ayahku tidak mencintai aku. Apa aku juga tidak akan memiliki lagi cinta di hidup ini?"
Aku mendengarnya dengan tangan setia memeluk tubuhnya, hatiku sakit saat mendengarnya.
"Kamu salah, Lyn. Kamu salah!"
Aku membalasnya, saat aku merasa jika dia salah, berkata jika tidak ada seseorang yang mencintainya lagi.
Aku juga bisa melihat tatapan tidak mengertinya, saat aku menatap matanya, setelah melepas dan memegang bahunya erat.
Kali ini entah keberanian dari mana, yang jelas aku sudah tidak bisa mundur lagi.
"Evelyn, lihat aku. Ada aku, aku yang mencintaimu."
"Riki?"
"Aku Lyn, aku yang akan selalu mencintaimu. Aku yang dari dulu mencintaimu dalam diam, bagiku kamu adalah segalanya, hingga aku lebih memilih merahasiakannya, dibandingkan aku kehilanganmu."
Evelyn menatapku dengan mata bergetar dan itu membuatku sadar, akan apa yang barusan aku katakan.
Tidak aku sudah terlanjur mengatakan, aku akan melanjutkan apa yang sudah aku ucapkan.
"Lyn, dari dulu aku menyukaimu tidak, maksudku mencintaimu. Aku selalu memendam perasaan ini, karena aku tidak ingin kamu menjauhiku."
Aku menjeda kalimatku, saat aku sama sekali tidak mendapat balasan darinya, yang ada hanya tatapan tidak percaya, yang membuatku frustrasi seketika.
Sial ...
"Lyn-
"Cukup Riki!"
Apa ini ....
Seketika aku melepas pegangan tanganku pada bahunya, mundur selangkah saat dia menyela kalimatku dengan gumaman lirih.
__ADS_1
Gumaman yang membuat perasaanku tidak enak, akan apa yang terjadi selanjutnya.
Dan benar saja, dia menggeleng menatapku kecewa, setelahnya dia yang berbalik pergi meninggalkanku.
"Jangan ikuti aku, biarkan aku sendiri, Riki."
Itu adalah kata-kata terakhir darinya.
Aku berbalik, terpaku saat aku melihat sepupuku yang hendak memegang tangannya.
Tapi sepertinya Evelyn sudah tidak ingin mendengarnya lagi.
Jangan kan dia, aku pun tidak tahu apa masih di anggapnya ada atau tidak.
Apa nasib percintaanku, akan berakhirnya seperti ini?
Flasback end
"Apa yang harus aku lakukan, Lyn?" gumamku melihat fotonya yang selalu menjadi wallpaper handphoneku.
Riki pov end
Di tempat lainnya
Normal pov on
Evelyn pulang menggunakan taksi, sebelum pulang ia memutuskan pergi ke sebuah taman terlebih dahulu, untuk menghilangkan sembab pada mata serta kesedihan, pada raut wajah akibat kejadian yang baru saja menimpahnya.
Ia tidak menyangka, jika malam ini ia akan mendapatkan kejutan, bukan hanya satu kejutan tapi dua sekaligus.
Rasa sakit yang ayahnya berikan sudah dalam, lalu di tambah rasa sakit dari sahabat yang sudah ia anggap sebagai kakak.
Bagaimana Riki bisa memiliki perasaan seperti itu untuknya, padahal selama ini dia selalu bilang jika dia menyayanginya layaknya seorang kakak.
Tidakkah cukup Arlan saja yang berbohong kepadanya, sekarang di tambah dengan pernyataan rasa yang sudah lama.
Lalu, apa kasih sayang yang di berikan Riki selama ini hanya bohong belaka, hanya untuk membuatnya luluh dan menerimanya.
Ya Tuhan ...
Ia sungguh tidak menyangka, kenapa ada drama seperti ini di hidupnya.
"Apa yang akan aku lakukan, jika Riki menemuiku besok. Apa sikap yang harus aku tunjukkan?" tanya Evelyn saat lagi-lagi handphonenya berdering, dengan nama pemanggil Riki.
Hatinya masih bimbang dan kecewa, saat mendapat kenyataan pahit sekaligus.
Cukup lama Evelyn duduk di taman sendiri, dengan ditemani hawa dingin malam hari, ia meminta kepada Tuhan, untuk memberikan ia kekuatan menghadapi dua laki-laki tersebut.
"Amin."
Setelah di rasa keadaannya membaik, ia pun memutuskan untuk pulang, berjalan kaki sambil menenangkan diri dan merangkai kata jika sewaktu-waktu sang ibu, bertanya alasan dan tahu mengenai keadaan suasana hatinya.
Ibunya terkadang terlalu sensitif, saat melihat sedikit gelagat aneh darinya.
Akhirnya setelah berjalan kaki sepuluh menit, Evelyn pun sampai di depan pintu kamarnya.
Ia membuka pintu perlahan, berharap sang ibu sudah lelap dalam tidurnya.
Lampu kamarnya yang masih terang benderang, membuatnya bisa melihat sekitar keadaan kamarnya dan ia pun mendapati, sang ibu berbaring dengan mata terpejam di sertai dengkuran halus, yang keluar dari celah bibirnya.
Huft!
Ia pun bernafas lega, setidaknya ia tidak perlu membahas kejadian malam ini dengan sang ibu.
"Terima kasih, Tuhan," gumamnya dengan tangan mengusap dada lega.
Ia segera memasuki kamar mandi, setelah mengambil baju tidur untuk mengganti gaun yang di pakainya.
Ia juga memutuskan untuk mandi, berharap dengan mandi kesedihannya akan ikut luruh, di setiap basuhan air yang mengalir di tubuhnya.
Tidak lama, ia keluar dalam keadaan segar.
Evelyn berjalan menghampiri sang ibu, berjongkok untuk melihat rupa cantik sang ibu, wanita yang paling di sayanginya melebihi apapun.
Untuknya apapun akan ia lakukan, karena bahagia ibunya adalah kebahagiaannya juga.
"Selamat malam, Bu. Mimpi indah, aku sangat menyayangimu, Ibu," gumam Evelyn kemudian mencium kening sang ibu sayang, sebelum ia sendiri naik ke atas ranjang sempitnya, tidur di samping dan memeluk sang ibu dari belakang.
"Semoga besok, aku bisa menerima semuanya," batin Evelyn kemudian yang terdengar setelahnya adalah dengkuran halus, saat si empunya terbuai jatuh ke alam mimpi.
__ADS_1
Skip
Keesokan harinya
Evelyn pov on
Untunglah pagi ini ibu tidak bertanya apa-apa denganku, dan aku juga tidak ingin membahas ini dulu.
Ibu juga hanya tersenyum dan memberiku semangat seperti biasa dan itu membuatku ikut tersenyum, serta siap menjalani hari seperti biasa pula.
Tentu ... Ada ibu di sampingku.
Aku berangkat seperti biasa pula ke kantor, meski hari ini berbeda, tanpa Arlan atau pun Riki yang mengantarku kerja.
Tiba di lantai tempatku bekerja, aku juga melakukan pekerjaanku seperti biasa.
Membereskan keperluan untuk Presdir dan menyiapkan perlengkapan di mesin coffee maker, agar aku tidak perlu berlama-lama ada di ruangannya, saat dia datang dan meminta di buatkan kopi.
Ceklek!
"Ah sial, sepertinya Tuhan sedang ingin membuatku menangis lagi," batinku setelah tadi tersentak kaget.
Aku pun merubah gestur tubuhku menjadi biasa, aku tidak ingin membuatnya tahu, jika aku sedang menata hati dan sikapku saat ada dia di hadapanku.
"Pagi, Pak Presdir," sapaku tanpa melihatnya.
Aku meliriknya, yang saat ini sedang meletakkan tas kerjanya sebelum berjalan dan berdiri di belakangku.
Deg!
Lagi-lagi tubuhku menegang dan kaku, saat dia dengan aromanya mengganggu kewarasan fikiranku.
Ini yang aku takutkan dulu, yah ... Sebenarnya semua orang akan seperti ini, jika punya rasa dengan orang yang tidak bisa di gapai.
"Lyn."
Dia memanggilku dan aku bingung harus seperti apa.
"Kopinya sudah selesai Pak, saya masih banyak pekerjaan, lalu bersikap biasa, sesuai dengan percakapan terakhir kita."
Aku sekali lagi mengingatkannya, akan kenyataan sesungguhnya. Lalu meninggalkannya, keluar kembali ke meja kerjaku dan sebisa mungkin menghindari kontak dengannya.
Aku tahu dia ingin menanyakan tentang kejadian semalam, karena aku menyentak tangannya kasar, saat dia hendak bertanya denganku dengan tanganku di genggamannya.
Syukurlah hari ini banyak pekerjaan, sehingga dia tidak keluar ruangan dan aku bisa tenang mengerjakan pekerjaanku.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore hari, aku bersyukur Tuhan mengabulkan permohonanku.
Sepertinya kata-kata dariku pagi tadi, cukup membuatnya tidak menemui aku lagi.
Yah ... Ini lebih baik dari pada aku harus melihatnya, terus menerus dalam keadaan hatiku yang kacau.
Jam kantorku selesai, aku segera membereskan kekacauan di meja kerjaku, akibat banyaknya dokumen yang harus aku input.
Tidak apa-apa, aku senang saat fikiranku teralihkan oleh banyaknya pekerjaanku.
Aku dengan terburu meninggalkan tempat ini, setelah aku menyimpan semua data dan mejaku rapih seperti sediakala.
Aku turun menggunakan lift, bersikap biasa saat ada karyawan lain, yang menatapku berbeda.
Ini pasti karena gosip kemarin.
Aku berusaha menulikan telinga dan membutakan mataku, saat mendapat lirikan serta bisikan orang-orang di belakangku.
Ting!
Aku bergegas keluar dari dalam lift dan berjalan sedikit cepat ke arah pintu keluar.
Berjalan tanpa melihat sekitar dan lagi-lagi aku harus di kagetkan saat dia, yaitu Riki berdiri dengan mata menatapku sedih, di samping mobilnya terparkir.
"Padahal aku belum siap bertemu dengannya," gumamku saat aku melihatnya berjalan, menghampiriku yang hanya mampu terpaku.
"Lyn!"
Sepertinya, tidak semua do'a dariku di dengar oleh Tuhan.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
Sampai babai.