Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kejadian Tersembunyi


__ADS_3

Disaat aku merasa, jika lebih baik aku menyerah akan dunia.


Disaat aku merasa, jika lebih baik aku menghilang dari dunia.


Dan disaat aku merasa, jika tidak ada manusia di dunia yang memiliki hati nurani.


Disaat itu juga aku salah.


Kebenaran dibalik sebuah fakta membuatku kembali berjuang, saat ternyata masih ada manusia berhati baik, dengan bentuk sebuah pertemanan.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Evelyn bekerja dengan banyak tugas, dihari pertama hingga seminggu ia masuk bekerja.


Membuatnya sejenak melupakan rasa tidak nyamannya, saat mendapat tatapan takut, ketika masing-masing devisi, mengantar dokumen kepadanya.


Hari ini juga Evelyn hanya bertemu beberapa kali, dengan Presdirnya yang mendadak diam dan hanya akan melihatnya sesekali.


Meskipun sedikit aneh, nyatanya ia bersyukur, saat salah satu doanya terkabulkan.


Ia melirik lagi pintu ruangan Presdirnya, yang tertutup rapat tanpa ada suara pun didalamnya.


"Apa maumu Lyn, bukannya ini yg kamu harapkan."


Ia bingung sendiri, saat dirinya merasa aneh dengan hati bingung, ketika tidak mendapati sang Presdir, yang biasanya menatapnya aneh hanya akan menegurnya saat ada pekerjaan saja.


Tidak ingin memikirkan lebih perasaan anehnya, ia pun mengangkat bahu tak acuh dan kembali mengerjakan tugasnya.


Sedangkan disaat bersamaan.


Di dalam ruangannya, Arlan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sesekali mendesah lelah, saat dirinya ternyata bisa melaksanakan janjinya untuk tidak mengganggu asistennya.


Meskipun di luar ia tampak biasa saja, nyatanya dalam hati ia sudah gelisah tidak terkira.


Mulutnya gatal untuk sekedar mengganggu dan menyapa asistennya seperti biasa, tapi karena ia tidak ingin membuat asistennya tidak nyaman saat bekerja, ia pun sebisa mungkin untuk menjaga lisan dan hati agar ia tidak khilaf saat ini juga.


"Aku harap, kamu bisa bertahan sampai kita bisa bersama, aku akan mencari cara agar dia yang membatalkan, aku mencintaimu tapi aku juga mencintai Mamaku."


Arlan tidak bisa untuk memilih, bukan keinginanya menikah dengan wanita yang tidak ia cintai.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pada pintu ruangannya, membuat Arlan tersentak kaget, ia tidak sadar melamun, sehingga ketukan pintu pelan pun membuatnya seperti itu.


"Masuk!" seru Arlan sedikit keras.


Kriet!


Pintu terbuka memperlihatkan sosok sang asisten, yang membawa tumpukan map dipelukannya.


Tap! Tap! Tap!


Arlan melihat dalam diam, saat sang asisten melangkahkan kakinya pelan, dengan pandangan lurus kedepan, ke arahnya dengan tatapan biasa.


Atau mencoba biasa.


"Permisi Pak, saya mengantarkan dokumen dari perusahaan Wijaya, untuk kerja sama yang kemarin sudah anda bahas," ucap Evelyn, menjelaskan map yang ia bawa kepada Presdirnya, yang balik menatapnya datar.


Lebih tepatnya pura-pura datar dan tidak perduli.


"Hn."


Arlan pun menjawab singkat, dengan gumaman menyembunyikan nada suara senangnya, ia menerima map yang diulurkan asistennya dan segera membukanya untuk diperiksanya.


Keheningan tercipta, saat keduanya hanya diam dan fokus pada pekerjaan.

__ADS_1


Arlan yang membaca sesekali mengintip dari balik bulu matanya, sedangkan Evelyn yang hanya menatap Presdirnya lurus dan fokus.


"Bisa kamu buatan aku kopi," gumam Arlan tanpa mengalihkan matanya, tapi ia bisa melihat jika Evelyn mengangguk lalu segera mengerjakan perintahnya.


"Baik."


Dengan segera Evelyn berjalan menuju coffee maker, menekan tombol dan meletakkan cangkir kosong ditempatnya.


Cairan dengan wangi khas tercium memenuhi ruangan, disusul suara dentingan sendok beradu dengan cangkir saat Evelyn mengaduk cairan khas tersebut.


Terlihat sekali, jika ruangan Presdir PT. Tri Tunggal sepi dan sunyi.


Tak!


"Silakan, Pak," gumam Evelyn sambil meletakkan cangkir di atas meja kerja sang Presdir.


"Hn."


Jika biasanya Evelyn akan marah dengan jawaban yang diterima dari Presdirnya. Kali ini Evelyn hanya diam saja, berusaha untuk tidak ikut campur lagi, dengan kelakuan sang Presdir yang seenaknya.


"Apa hari ini, kita ada jadwal di luar?" tanya Arlan kali ini menatap Evelyn, dengan tatapan mata lurus masih dengan menyembunyikan emosinya.


"Tidak ada," balas Evelyn dengan nada biasa.


"Baiklah, setelah ini kamu copy file yang saya transfer lewat E-mail. Lalu kamu berikan kepada Barly, paham," perintah Arlan, yang diangguki kepala oleh Evelyn segera.


"Paham, Pak!"


"Kamu boleh keluar."


"Baik."


Evelyn pun membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu dan keluar ruangan tanpa menoleh, sehingga ia tidak tahu jika di belakangnya, Arlan melihatnya dengan tatapan sedih dan rindu disaat bersamaan.


Skip


Riki sudah mengirimnya pesan, jika dia tidak bisa menjemput karena kesibukannya, dengan segala macam permintaan desain dari banyak perusahaan.


Evelyn menunggu dengan sabar, bis yang akan mengantarnya pulang ke huniannya.


Duduk dengan membalas pesan sang kakak, Evelyn tersenyum kecil saat Riki mengirimnya pesan gambar, berisi meja berantakan lengkap dengan alat tulis berserakan, tidak ketinggalan gumpalan kertas hasil kerja sang kakak.


"Dasar," gumam Evelyn dengan kepala menggeleng pelan.


Tidak lama, bis pun tiba. Evelyn segera berdiri dan menaiki bis tersebut, duduk dibagian belakang dan segera menyandar pada jendela bis, melihat jalanan ibu kota yang ramai dengan segala aktivitasnya.


Meninggalkan seseorang yang melihatnya dari jauh, bagaikan stalker namun sekali lagi tidak di pedulikannya.


"Hanya dengan senyummu, aku sudah cukup, Lyn," gumamnya dengan senyum terpatri dibibirnya.


Ia pun ikut meninggalkan halte bis, mengendarai mobilnya pelan, dengan musik instrumen piano dan violin, berjudul love story untuk menemani perjalanannya.


Alunan lembut mengiringi kesepiannya, kesendiriannya, serta kesedihan akan cintanya.


"Apakah keajaiban itu ada?" gumamnya bertanya namun entah dengan siapa.


🌸🌸🌸🌸🌸


Evelyn sampai di depan gang rumahnya, lalu berjalan beberapa menit dengan langkah santai.


Di sepanjang perjalanan ia menuju kost-an miliknya, ia bertemu dengan banyak orang yang sesekali disapanya.


Sepanjang jalan yang ia lewati, ramai dengan anak-anak berlarian, bermain dengan canda tawa polos, yang mengingatkan akan dirinya sewaktu kecil, saat ia masih belum mengerti arti kejamnya kehidupan dunia.


Menggelengkan kepala pelan, Evelyn meneruskan perjalanannya, ketika ia tidak sadar berhenti berjalan saat ia memperhatikan taman bermain, yang saat ini penuh dengan anak-anak.


Di depannya sudah terlihat gerbang menjulang tinggi, yang menyembunyikan bangunan kost-an tempatnya tinggal.

__ADS_1


Baru saja ia memegang pegangan, untuk membuka gerbang kost-nya, ia di kagetkan dengan tepukan bahu dari arah belakangnya.


Puk!


Evelyn tersentak kaget, lalu segera berbalik dan menemukan tetangga yang tinggal di bawahnya, berdiri dengan senyum canggung saat ia mengusap dadanya.


"Astaga! Ibu, kirain siapa," gumam Evelyn setelah mengetahui siapa yang menepuknya.


Ibu tersebut terkekeh canggung, saat perempuan muda cantik, yang tinggal di atasnya kaget karena ulahnya.


"He-he, maaf. Ibu mengagetkanmu, yah?" tanya ibu tersebut menyesal, setelah terkekeh karena ekspresi kaget Evelyn yang lucu dipenglihatanya.


"Sedikit Bu, oh iya ... Ada apa ya Bu?" ujar Evelyn bertanya, kepada ibu di depannya yang memasang wajah ramah.


"Tidak apa-apa, bagaimana kabarmu?" tanya si ibu dengan senyum hangat.


"Baik, Bu. Maksudku, sudah lebih baik dari kemarin," jelas Evelyn kepada si ibu yang mengangguk mengerti.


"Kamu harus kuat ya, Evelyn. Jangan pantang menyerah," nasihat si ibu dengan tulus, kepada Evelyn yang menatap si ibu dengan senyum sedih.


"Tentu Bu, aku sudah mengikhlaskannya. Aku sudah meyakinkan diri, jika suatu saat nanti aku akan berkumpul lagi dengan ibu," balas Evelyn jujur, menahan sedihnya dengan mencengkram erat tali tas kerjanya.


"Jangan lupa untuk selalu mendoakan mendiang ibu, agar dilapangkan kuburnya dan dosa diampuni-Nya," ucap si ibu tulus.


Evelyn sekali lagi mengangguk mengiyakan tanpa banyak protes, karena ia tahu apa yang dikatakan si ibu adalah suatu kebenaran.


Air mata bukan solusi untuk hidupnya, jadi sebisa mungkin ia akan melawan takdir, agar takdirnya bisa berubah dan berpihak kembali padanya.


"Selalu Bu, aku selalu mendoakan ibu disela-sela malamku," gumam Evelyn lirih, membalas nasihat dari si ibu, yang tinggal di bawah dan kebetulan kenal dengannya.


"Bagus! Itu baru Evelyn yang ibu kenal, em ... Itu, Evelyn ada yang ingin ibu katakan. Tapi sebelumnya ibu minta maaf, karena ibu tidak memberitahukan ini segera kepadamu."


Ucapan si ibu yang seperti orang bersalah, membuat Evelyn menatap si ibu dengan kening mengernyit.


"Apa Bu? Sepertinya penting dan serius sekali," tanya Evelyn masih menatap si ibu bingung.


Si ibu yang masih ragu, menceritakan dengan detail sesuai apa yang diketahuinya, itu sebabnya dia meminta maaf, karena apa yang disampaikannya saat ini, berhubung dengan penglihatan anaknya.


Ia pun baru mengetahuinya, saat sang anak memberitahukannya dengan nada takut.


Bahkan saat ia bertanya kepada anaknya, sang anak malah bersembunyi seharian di rumah dan baru tadi bermain ke luar rumahnya.


Penjelasan dari ibu di depannya, membuat Evelyn terdiam menatap si ibu tidak percaya, namun juga marah disaat bersamaan.


"Maafin ibu, Evelyn. Ibu juga baru tahu ini, ibu hanya merasa kamu perlu mengetahuinya. Ibu juga tidak ingin membuatmu sedih lagi," gumam si ibu menyesal saat melihat wajah syok Evelyn, yang hanya mampu terdiam tanpa sepatah katapun.


Si ibu melihat semakin khawatir, saat Evelyn menatap dengan pandangan kosong. Ia pun menyentuh lengan Evelyn, membuatnya Evelyn tersentak kaget dengan linangan air matanya.


"Evelyn, maafkan ibu!"


Lama Evelyn terdiam, dengan air mata terjun bebas tanpa dirasanya, lalu berubah menjadi marah saat ia mencerna setiap kata si ibu tetangga.


"Benarkah, Bu. Seperti itu?" tanya Evelyn tanpa ekspresi.


"Ibu hanya menyampaikan apa yang anak ibu lihat," balas si ibu pelan, membuat Evelyn menggepalkan tangannya, menahan emosi yang tiba-tiba naik tanpa bisa di cegahnya.


"Bisa ibu sebutkan, bagaimana ciri-cirinnya?" pinta Evelyn bertanya dengan nada menahan marah.


"Dia ...."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2