
Aku sudah membawa kenangan-kenangan darimu, aku harap aku akan bahagia di lain tempat.
Jika kita di takdirkan untuk bersama, aku yakin kita akan tetap bersama di akhir kisah kita.
Ich liebe dich uber alles, Arlan.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Satu minggu berlalu, dari hari Evelyn menemui seseorang yang sudah di anggapnya kakak.
Di sana ia menceritakan tentang keinginannya, tentang semua yang terjadi dan semua yang sedang dihadapi olehnya.
Saat itu yang ia pikirkan adalah dia, sang kakak yang pasti akan menolongnya. Tapi sayang, yang ia dapat justru penolakan dengan alasan kebaikan untuk ia dan sepupunya.
Untunglah saat itu ada orang lainnya, yang mendengar dan mengerti dirinya, sehingga ia dan seseorang itu bisa meyakinkan sang kakak, untuk melakukan rencana awalnya.
Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan, untuk ia pergi sesuai perjanjiannya dengan seseorang itu.
Flasback on
Evelyn pov on
Setelah kepergian Arlan, aku pun ikut pergi dengan menggunakan taksi dan berhenti di depan pintu lobby.
Aku turun dan segera memasuki lobby, berjalan ke arah ruangan yang sudah dihafalku di luar kepala.
Aku berjalan dan tersenyum, saat aku disapa oleh petugas informasi, yang kebetulan mengenalku sebagai sahabat dari pemilik kantor.
Sekarang di depanku ada pintu dengan cat berwarna coklat, aku pun mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Sedikit tersentak kaget, saat melihat siapa yang membukakan pintu untukku. Tapi aku tersenyum, saat seseorang itu menyapaku dengan ramah dan senyum hangat.
"Evelyn, ada apa?"
"Riyanti, kamu di sini?" ujarku balik bertanya, tapi untunglah Riyanti tidak marah dan membalas pertanyaanku dengan ramah.
"Aku sedang ada urusan dengan Riki, Evelyn."
"Oh."
"Riyanti, siapa itu?"
Kami berdua pun menoleh ke arah suara, yang bertanya tentang siapa tamu yang datang.
"Riki."
"Evelyn!"
Riki tentu saja kaget, saat melihatku yang biasanya jam segini ada di kantor milik sepupunya, berdiri dengan pakaian santai di depan ruangannya.
"Evelyn, kamu tidak bekerja?" lanjut Riki bertanya, dengan ekspresi wajah penasaran yang kentara.
"Aku, aku libur. Maka itu aku datang kemari," jawabku dengan senyum kecil.
"Libur, tumben sekali. Sepertinya Arlan berubah lembek sekarang," timpal Riki menggodaku seperti biasa, tapi aku hanya tersenyum kecil menyembunyikan kesedihanku.
"Masuk dulu, Lyn."
Aku pun mengangguk dan berjalan ke dalam, dengan Riyanti yang menutup pintu dan ikut duduk di sebelahku.
"Mau minum apa, Evelyn?"
Aku menoleh ke arah samping, saat Riyanti bertanya kepadaku, menggantikan Riki yang saat ini sedang sibuk dengan kertas, baru kemudian berjalan menghampiriku.
"Apa saja, Riyanti. Terima kasih," balasku.
Kemudian Riyanti pun keluar ruangan, setelah mengangguk mengerti ke arahku.
"Jadi ... Ada apa, Lyn? Tumben sekali datang tidak bilang-bilang. Tidak seperti biasanya," tanyanya dan menatapku dengan penasaran.
__ADS_1
Aku pun menghela napas, sebelum melihat ke arah pintu baru kemudian melihat ke arah kakakku lagi.
"Riki."
"Iya?"
"Riki, aku ingin pergi dari sini."
"Apa!"
Riki tentu saja menatapku dengan syok, saat mendengar permintaan tidak masuk akalku, yang tiba-tiba bilang ingin pergi dari sini. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus menjelaskan dengan jelas apa maksud dan tujuanku.
"Iya Riki, aku ingin pergi dari kota ini. Aku ingin sendiri saat ini," jelasku, tapi sayang Riki hanya menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Kemudian suasana jadi hening, saat dia hanya diam sedangkan aku sendiri sedang merangkai kata, agar kakakku mau membantuku pergi dari kota ini.
"Kenapa? Apa alasannya, Lyn?" tanyanya dengan nada lirih, menundukkan kepala dan itu membuatku sedih.
"Tidak ada alasan, Riki. Aku hanya ingin meninggalkan kota ini," jawabku tentu saja berbohong.
"Tidak masuk akal, Lyn. Tidak mungkin tiba-tiba kamu ingin pergi, coba jelaskan kepadaku apa yang terjadi. Atau ini ada hubungannya dengan Arlan dan pernikahannya? Tapi, bukankah kamu dan dia sekarang sedang menjalin kasih. Kamu juga bilang yakin jika Arlan hanya mencintaimu?"
Aku merasa tertohok dengan ucapan kakakku yang benar adanya. Aku tahu apa yang diucapkan Riki benar adanya, benar jika Arlan hanya mencintaiku. Tapi, ada yang lebih besar ketimbang rasa cinta itu sendiri.
"Aku tahu, aku juga mencintainya. Tapi, aku tidak bisa menghancurkannya, hanya untuk memenuhi rasa egois akan cintaku, Riki."
Riki semakin melihatku dengan ekspresi bingung, membuatku lagi-lagi menghela napas saat aku sadar, jika tidak akan cukup hanya dengan alasan seperti ini yang aku gunakan, untuk membuat kakakku membantuku pergi dari sini.
"Riki ... Aku ingin memberitahukan satu hal padamu. Tentang alasan kenapa aku mendekati Arlan lagi," gumamku, dengan dia yang menjawabku cepat, bahkan terlampau cepat saat aku melihat ekspresi tidak sabarnya.
"Apa, apa maksudnya, Lyn."
Aku pun menceritakan tentang kebenaran dan kebohonganku, tentang kematian ibuku yang membuatnya bangun berdiri dan mengumpat marah membelakangiku.
"Jadi maksud kamu, kamu awalnya mendekati Arlan untuk balas dendam, karena Tania sudah membuat ibu meninggal, begitu?" tanyanya dengan aku yang hanya mengangguk.
"Dan kamu berhasil, kemudian kamu memberitahukan kebenaran tanpa memberi tahu alasan kebenaran lainnya, begitu?" tanyanya lagi dan sekali lagi aku hanya mengangguk.
"Evelyn, kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu tidak melaporkan ini kepada pihak berwajib, agar mereka mengusut tuntas masalah ini?"
"Tidak bisa Riki, kamu harus tahu, jika pun aku melapor siapa yang melakukan itu kepada pihak yang berwajib, apa pihak yang berwajib akan mengusutnya tuntas setelah mengetahui siapa orang yang aku tuduh? Terlebih aku hanya mempunyai saksi seorang anak kecil, yang tidak di akui kevalidannya. Bagaimana kalau nanti mereka menuntut balik aku, dengan tuduhan pencemaran nama baik."
Aku melihat Riki yang mengumpat kesal lagi, kali ini sambil mencengkram rambutnya dan kemudian menghampiriku dengan tergesa, membawaku masuk ke dalam pelukannya, yang tentu saja aku sambut dengan balas sama eratnya.
"Bodoh, kenapa tidak memberitahu lebih awal. Sehingga aku bisa membantumu mencari cara untuk menghadapi Tania."
Riki memarahiku, berbisik dengan lirih di telingaku, dengan aku yang hanya bisa mengucapkan kata maaf.
Usapan darinya di bahuku, membuat aku merasa nyaman. Aku semakin masuk ke dalam pelukannya, sesekali terisak saat ingat ibuku.
"Lanjutkan, Lyn. Aku rasa kamu belum tuntas menceritakan kebenarannya kepadaku."
Aku mengurai pelukannya, dengan ia yang menghapus air mata di sudut mataku menggunakan kedua jempolnya.
"Ak-aku ..."
"Pelan-pelan," pintanya, sehingga aku pun mengangguk dan mulai bercerita.
Aku memulainya dari awal hingga aku di hadapkan dengan pilihan yang sangat sulit menurutku.
Sepanjang aku bercerita, Riki hanya diam dan menatapku dengan ekspresi sedih.
"Tapi Lyn. Sebaiknya kamu jujur dengan Arlan. Aku tahu bagaimana Arlan. Dia juga pasti tahu cara mengatasinya."
Aku lagi-lagi menggelengkan kepalaku, menolak ide darinya untuk bercerita kepada Arlan. Tidak bisa, aku tidak bisa menghancurkannya hanya untuk sebuah hubungan denganku.
"Tidak Riki, aku takut jika Tania akan benar-benar menghancurkan Arlan. Aku mohon Riki, bantu aku pergi dari sini, agar aku bisa mencegah kehancuran ini, aku mohon."
Aku melihatnya menggelengkan kepala, menolak permintaan aku yang sudah aku pikirkan baik-baik. Karena hanya dengan ini, Arlan akan terhindar dari kehancuran.
"Tidak-tidak, tidak Evelyn."
"Riki," panggilku dengan nada frustrasi. Aku tidak tahu lagi, siapa orang yang bisa membantuku saat ini. Aku hanya percaya kepada Riki, kakakku dan kerabatku satu-satunya.
__ADS_1
"Evelyn, pikirkan lagi semuanya, aku yakin ada jalan keluar lainnya."
"Tidak ada, Riki. Tidak ada!"
Aku tidak percaya, jika aku sampai sefrustasi ini, hingga aku tidak sadar telah memekik dengan jeritan putus asa.
"Kamu tidak melihat bagaimana dia meletakkan pisau di lehernya, bagaimana bisa aku membiarkannya mati di hadapanku, di depan kedua mataku sendiri. Bagaimana bisa, Riki!"
"Lyn-
Tok! Tok! Tok
Kami terdiam, saat mendengar suara ketukan dari luar ruangan, aku yakin jika itu pasti Riyanti.
"Sebentar, biar aku yang buka," kata Riki dengan aku yang hanya bisa mengangguk.
Riki pun berjalan, menghampiri pintu sedangkan aku segera menghapus air mataku, aku tidak ingin ketahuan Riyanti jika aku baru saja menangis.
Dari sini aku bisa melihat Riki yang berbicara dengan seseorang, mencegahnya masuk tapi percuma, saat dia masuk dan tiba-tiba memelukku erat.
"Riyanti," cicitku kaget, namun dia tidak menyahutiku, hanya memalukku semakin erat.
"Evelyn. Maaf, aku sudah mendengarnya. Maaf, aku tidak bermaksud, tapi aku terlalu penasaran."
Ada rasa kaget dan kesal dalam hatiku, tapi sudahlah marah pun parcum, jadi akupun membalas pelukannya, dengan dia yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Tidak apa-apa, Riyanti."
Kemudian Riyanti pun mengurai pelukannya, melihat ke arah Riki, lalu melihat ke arahku lagi.
"Aku akan membantumu, aku yang akan menyembunyikan kamu dari dunia. Kamu mau neri-
"Riyanti! Jangan gila kamu!"
Aku bisa melihat Riki yang wajahnya merah padam, sepertinya marah dengan keputusan sepihak Riyanti yang ingin membantuku.
"Gila apa, Riki! Kamu laki-laki mana mengerti pemikiran perempuan. Aku yakin, jika Evelyn juga tertekan dengan keadaan ini. Tapi lihat, Evelyn berani mengambil keputusan ini. Itu artinya Evelyn tahu apa yang di lakukannya."
"Tapi tidak bisa begini, Riyanti. Itu sama saja dengan Evelyn yang kalah!"
"Jadi harus seperti apa, Riki!"
Aku hanya bisa melihat mereka dalam diam, saat mereka bertengkar dengan aku sebagai pemicu.
"Riyanti aku tida-
"Stop! Riki, aku akan mengikuti Riyanti. Aku akan menerima bantuan Riyanti, Riki."
"Evelyn! Kamu tahu tidak apa yang baru saja kamu katakan apa. Kamu menyerah begitu saja? Evelyn yang aku kenal tidak seperti ini."
Deg!
Jantungku berhenti sesaat, saat aku mendengar bagaimana Riki mengatakan, jika aku yng sekarang bukanlah Evelyn yang dulu.
Aku tahu, aku saat ini berlaku layaknya seorang pengecut, tapi aku bisa apa.
"Riki, aku mohon," pintaku dan akhirnya Riki pun mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, terserah kamu Lyn. Jika ini menurutmu benar, aku akan mendukungmu."
Flasback end
Maka di sini lah aku saat ini, di dalam perjalanan menuju tempat, yang hanya aku, Riki dan Riyanti yang tahu sebagai orang yang mengusulkan tempat.
"Maafkan aku, Arlan."
Evelyn pov end
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya.
__ADS_1
Terima kasih dan sampai babai.