
Di mulai, karena kamu sudah memulai.
Aku bisa apa, yang aku bisa hanya mengikuti jalanmu untuk menggapai kesuksesanmu.
Schatz .... Apapun itu, jika kamu akan aku berikan.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
PT. BRATA
Seorang pria dengan setelan jas lengkap, berjalan dengan langkah tagapnya. Dengan aura dominant, tatapan datar dan wajah tanpa senyum, ia sukses menjadi obyek yang sangat mubazir untuk disia-siakan.
Tap!
Langkahnya berhenti, di depan meja informasi dengan seorang reseptionist, yang memandangnya tanpa kedip.
Jika saja ia adalah ia yang dulu, mungkin ia akan mengirim kedipan maut, dengan ujungnya satu ronde permainan.
Tapi tidak kini ia sama sekali tidak seperti itu, bahkan saat petugas di depannya mengeluarkan sinyal, ia sama sekali tidak merespon. Ia hanya bertanya singkat, dengan nada datar andalannya.
"Nona Brata, ada?"
"Maaf, apakah sudah membuat janji?"
Arlan diam-diam menghela napas, saat merasa jika apa yang sedang di lakukannya adalah sebuah kebodohan.
Tapi, saat mengingat tujuannya adalah untuk menantang, secara terbuka tunangan keras kepalanya. Ia pun dengan sabar menjawab pertanyaan, dengan nada dibuat-buat dari si petugas tadi dengan nada datar tanpa minatnya.
"Sudah."
"Dengan bapak siapa?" tanya si petugas lagi.
"Widiyo, Arlan Widiyo."
Ekspresi kaget adalah yang dilihat seorang Arlan, saat ia menyebutkan nama dirinya. Alisnya mengernyit saat reseptionist di depannya, menampilkan ekspresi seperti itu.
Apa dirinya sudah di kenal di perusahaan tunangan bulshitnya?
"Terserah," batin Arlan tidak perduli.
"Ah! Maafkan saya Tuan Widiyo, maaf atas ketidaktahuan saya. Seharusnya saya bisa mengenal Tuan dengan cepat."
Permintaan maaf berlebihan, dari petugas reseptionist di depannya membuatnya semakin menebak, jika Tania dengan bangga sudah memperkenalkannya, kepada seluruh karyawan di perusahaan dia.
Astaga!
Bahkan dirinya saja menutupi dari karyawan di perusahaannya, itulah kenapa banyak karyawan yang bekerja di tempatnya tidak tahu, jika ia sudah memiliki tunangan.
"Hn."
"Maafkan saya sekali lagi, Tuan. Nona Brata ada di ruangannya, saya akan menghubungi Nona untu-
"Beritahu saja, di mana letak ruangannya. Saya akan langsung ke sana, jangan beritahu kedatanganku, anggap saja aku ingin memberikannya kejutan."
Arlan menyela dengan cepat, saat mendengar ucapan petugas di depannya. Ia sangat ingin cepat menyelesaikan urusannya, agar bisa menggoda kekasihnya, yang hari ini ia biarkan makan siang bersama utusannya, seorang karyawan yang kemarin membantunya juga.
"Baiklah, Tuan. Silakan di lantai delapan belas, tepat di depan lift," jelas si petugas.
Arlan mengangguk sebagai ganti ucapan terima kasih, kemudian ia berjalan ke arah lift, menekan tombol delapan belas, mengingat lagi kata-kata yang sudah disusunnya.
"Huft ... Bukan salahku, jika aku melakukan ini. Tania," batin Arlan kemudian melangkahkan kakinya, keluar dari dalam lift saat pintu di depannya terbuka.
__ADS_1
Ting!
Seperti yang di katakan si petugas di bawah sana, di hadapannya kini ada pintu ganda, terbuat dari kayu kualitas terbaik, berwarna coklat tua.
Ia pun mengetuk pintu, menunggu beberapa saat saat ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.
Di hadapannya saat ini ada seorang laki-laki, sepertinya seorang dengan jabatan, karena ia merasa jika laki-laki di depannya punya aura yang hampir sama dengannya.
"Mencari siapa?" tanya si pria, kepada Arlan dengan nada acuh.
"Tan-
"Arlan!"
Ucapan Arlan berhenti, saat suara seorang wanita menginterupsi. Sehingga baik ia ataupun laki-laki di depannya, menoleh ke arah seseorang itu dengan dua macam ekspresi berbeda.
"Arlan, kamu kesini!"
Seseorang itu tentu saja adalah si pemilik ruangan, Tania Brata.
Ia dengan mata berbinar senang menatap tunangannya, membuat laki-laki asing di penglihatan Arlan mengangkat alis penasaran.
"Hn."
Gumaman dari Arlan, bukannya membuat Tania kesal, malahan tersenyum sumringah. Ia merasa lebih baik mendapat gumaman, dari pada delikan mata seperti yang sudah-sudah.
"Kamu kenal dia, Nia?" tanya seseorang yang merasa aneh, dengan ekspresi dari Tania, wanita yang sudah ia sukai dari zaman kuliah.
Nia atau juga Tania, sapaan khusus dari laki-laki asing ini, membuat Tania menolehkan kepalanya, menatap si penanya dengan anggukan semangat.
"Tentu saja, dia tunangan aku!" seru Tania semangat, mengenalkan Arlan dengan bangga tanpa tahu, jika Arlan harus menahan lidahnya agar tidak menyela dengan tajam, ucapan percaya diri dari Nona muda Brata.
"Ah! Kalian belum berkenaan, nah Arlan dia ini adalah teman sekaligus partner bisnis aku. Namanya, Axel Fernandes. Dia pimpinan di Fernandes Corp."
Axel, si laki-laki asing ini menatap dengan datar, yang di balas juga dengan datar oleh Arlan. Membuat Tania merasa aneh, namun langsung tersenyum saat ia merasa, jika tatapan Arlan adalah tatapan cemburu versi dirinya.
"Arlan Widiyo," ujar Arlan memperkenalkan diri dengan amat sangat singkat, membuat Axel berdecih meski dalam hati.
"Axel Fernandes."
Mereka pun berkenalan dengan jabat tangan singkat, saling menatap dengan pandangan datar, dengan aura permusuhan yang lagi-lagi disalah artikan oleh satu-satunya wanita di ruangan tersebut.
"Apa Arlan tidak suka, aku dekat dengan laki-laki lain," batin Tania salah paham.
Ia tersentak senang, lalu berganti dengan ekspresi biasa, saat keduanya menatapnya dengan ekspresi berbeda.
"Wow, ada apa ini," lanjutnya masih dalam batin.
Di tatap oleh dua orang pria tampan di depannya, tentu saja membuat Tania merasa bangga akan kecantikannya.
Axel, yang merasa jika kedatangan laki-laki, yang di ketahuinya sekarang sebagai tunangan dari wanita yang di incarnya, adalah untuk membahas hal yang penting pun undur diri.
Ia dengan segera menyingkir sebelum diusir oleh Tania, yang saat ini tidak melepaskan pandangannya, terhadap laki-laki di sampingnya. Dan itu membuatnya sedikit merasa kesal, saat dirinya merasa kalah saing.
"Sebaiknya aku undur diri, nanti aku kabari kamu lagi, Nia," ucap Axel, dengan nada tidak ikhlas yang disadari oleh Arlan.
"Sepertinya laki-laki ini suka dengan Tania," batin Arlan menerka.
"Oke Ax, aku tunggu," sahut Tania mengangguk mengerti.
Axel pun pergi, meninggalkan ruangan milik Direktur dari Pt. Brata, menyisakan Arlan dengan Tania yang segera bergelayut manja di lengannya.
__ADS_1
"Arlan! Aku senang sekali kamu ke sini," pekik Tania senang luar biasa.
"Hn," gumam Arlan menanggapi kesenangan dari seorang Tania, namun sekali lagi diabaikan oleh Tania, tidak perduli jika itu gumaman singkat sekalipun.
"Duduk yuk!" ajak Tania, menyeret Arlan untuk mengikuti langkahnya dan mendudukkan Arlan di sofa ruangannya.
Tania pun ikut dengan menempelkan tubuhnya, tidak menyisakan sedikit spasi barang sejari pun. Ia merasa jika kesempatan ini jarang terjadi, Arlan yang datang ke perusahaannya adalah sebuah anugerah untuknya.
"Oh iya, Ar. Ada apa kamu kemari?" tanya Tania saat mereka sudah duduk berendengan.
Arlan melirik tangan Tania, yang melingkar di lengannya dengan risih, namun tidak cukup untuk Tania yang kebal akan tatapannya.
"Lepaskan dulu tangan kamu," perintah Arlan dengan nada dingin, membuat Tania pun mendengkus baru kemudian melepas secara tidak ikhlas.
"Baiklah Arlan, aku lepas," timpal Tania dengan nada tidak senang.
"Jadi, ada apa?" tanya Tania sekali lagi, saat Arlan belum memberi tahu alasan kedatangannya.
Arlan tidak menjawabnya, melainkan mengeluarkan berkas yang kemarin di terimanya dari Tania dan sudah di susun ulang oleh Notarisnya.
"Ini berkas dari aku?" tanya Tania menatap Arlan senang, saat berkas penggabungan perusahaan, yang kemarin ia kirim di tanggapi dengan segera. Padahal ia mengira jika tunangannya tidak akan setuju, tapi ternyata ia salah seorang pebisnis tetap saja memilih bisnis jika diberi umpan.
"Hn, aku sudah pelajari dan sudah mengganti sedikit isinya. Kamu hanya tinggal tanda tangan," balas Arlan menekan kata sedikit, membuat Tania menatap bingung dan segera membaca ulang, lembaran kertas yang sudah diubah oleh tunangannya.
"Apa itu artinya, kamu setuju untuk segera menikah dengan aku. Karena kamu sudah setuju juga dengan penggabungan ini?" tanya Tania menatap Arlan senang, saat Arlan mengangguk kepala kecil.
"Hn."
"Dan juga kursi kepemimpinan ada padamu?" tanya Tania masih belum puas.
"Hn."
"Tapi, Bagaimana jika kamu menghianati aku? Bagaimana jika kamu ternyata masih bermain dengan wanita lain, terlebih wanita sialan itu," lanjut Tania dengan beruntun, bahkan menyebut nama anak dari Papa sambungnya dengan sebutan, yang membuat Arlan menahan diri untuk tidak menampar wajah Tania saat ini juga.
"Sepertinya, aku lupakan memberitahukan beberapa catat, sebagai syarat untuk kamu," ujar Arlan cepat, menjawab akan pertanyaan khawatir dari seorang Tania.
"Maksud kamu?"
"Aku bersedia menikah denganmu, jika kamu menerima syarat dariku, syaratnya adalah ...."
Tania melotot kesal dengan hati marah, saat Arlan dengan santai menyebutkan syarat, yang membuatnya merasa disudutkan.
"Coba pikirkan lagi," lanjut Arlan, kemudian bangun dari duduknya, menatap Tania yang masih menatapnya tidak percaya.
"Masih ada kesempatan untuk mundur, aku permisi. Terima kasih atas waktunya."
Dengan begitu Arlan pun meninggalkan ruangan Tania, yang hanya mampu mengepalkan tangannya emosi saat ingat perkataan dari tunangannya.
"Kita lihat, sampai berapa lama, kalian bisa bersama," gumam Tania dengan rasa amarah yang di tahannya.
Aku akan menikahimu, dengan syarat jika tidak ada hubungan asmara diantara pernikahan kita, dan aku juga akan tetap menikahi Evelyn secara terbuka.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima atas dukunganya.
Sampai babai.
__ADS_1