Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kesenangan Sebelum Kenyataan


__ADS_3

Kenangan datang bersama lamunan


Terbang jauh kedalam masa lalu


Cinta sudah lepas tak berbekas


Hanya sisakan kenangan di masa itu


Kenangan abadi diatas cinta yang suci


Murni dan tulus tanpa modus


Kenangan dirimu selalu abadi selamanya


Terukir indah di hati kekal tak terganti


Takdir menjadi hal yang paling menyakitkan


Tapi tidak bisa dipersalahkan


Bagian dari ketetapan alam


Yang harus dijalankan tidak dengan keluhan


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kondominium Arlan


Hari ini akhir pekan yang di tunggu oleh Arlan, sebab ia sudah memiliki janji dengan Sang asisten, yang saat ini sudah semakin membuka diri di hadapannya.


Minggu kemarin ia di datangi sepupunya, Riki.


Riki mengucapkan selamat untuknya, Ucapan yang juga membuatnya senang dan miris di saat bersamaan.


Ia saat ini sedang berjalan di lobby, menuju tempat di mana mobilnya terparkir.


Pekan ini ia ada janji dengan Asistennya, dengan Asisten kesayangannya, untuk menghabiskan waktu menonton bersama di bioskop.


Evelyn bilang ingin nonton film kesukaannya, gendre kesukaan Asistennya horor, tentu saja sudah jelas saat Asistennya menatap ia dengan mata berbinar-binar.


"Wanita suka horor," gumam Arlan heran.


Sebenarnya Arlan sendiri tidak terlalu suka menonton film.


Ia lebih suka menonton pertandingan olahraga, di lapangan langsung bukan melalui layar televisi.


Saat ini ia sudah berada di dalam mobilnya dengan rangkaian bunga di sampingnya.


Bunga untuk ibu Mirna, ibu Evelyn, ibu yang sudah melahirkan wanita cantik seperti Asistennya.


Tidak lama ia sampai di daerah kost milik Asistennya, ia pun menunggu dengan sabar saat Evelyn membukakan pintu untuknya.


Grekk!


Senyum lebar pun tidak bisa di cegah saat gerbang terbuka, menampilkan Sang Asisten dalam balutan baju sederhana, namun terlihat cantik di matanya.


"Mau seperti apapun, dia tetep cantik," batin Arlan terpesona.


"Hai!" sapa Evelyn ramah, dengan senyum senang sehingga ia pun tersenyum sama senangnya.


"Hai! Aku bawa bunga untuk Ibu!" balas Arlan menunjukan bunga di tangannya kehadapan Asistennya.


"Woow ... Mawar, Ibu pasti suka!" seru Evelyn dengan mata berbinar senang, membuatnya tersenyum dengan kepala menggeleng pelan.


"Dasar," batin Arlan geli.


"Masuk yuk!" ajak Evelyn dan Arlan hanya mengangguk sebagai jawaban.


Arlan pun mengikuti Evelyn dari belakang dan menutup pintu gerbang, dengan Evelyn yang terkekeh di depan Arlan.


"Kenapa?" tanya Arlan penasaran.


"Tidak apa-apa, aku sedang senang," balas Evelyn.


kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan, menaiki satu per satu anak tangga dan berjalan lagi menuju pintu kamar milik Sang Asisten.


Tidak lama setelah berpamitan dengan Sang ibu, mereka berdua pun keluar bersama, menaiki mobil dan melakukan sesuatu, yang di sebut orang kencan untuk berenang-senang.


Di perjalanan tidak henti Evelyn tersenyum cerah, senyum yang membuat Arlan senang dengan jantung berdetak kencang.


"Kenapa kamu suka horor?" tanya Arlan penasaran.


"Agar tidak ada air mata, aku tidak suka saat pemeran utama mengeluarkan air mata. Apalagi karena penghianatan, he-he!"


Deg!


Jika tadi jantung Arlan berdetak karena senang, saat ini berkebalikan, jantungnya berdetak kencang karena ucapan santai Evelyn. Namun entah mengapa, seperti sedang memberi tahu jika asistennya tidak suka dengan penghianatan.


Ia pun dengan susah payah, menelan salivanya untuk menghilangkan rasa khawatirnya.


Hari ini adalah hari kencannya dengan Sang asisten, ia tidak boleh menghancurkan suasana bahagia, yang terlihat jelas di kedua mata asisten kesayanganya.


"Seperti itu," gumam Arlan pelan.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai Arlan sampi di tempat, sebuah Mall yang ingin mereka datangi.


Bioskop kota B Adalah plang besar yang di lihat keduanya.


"Sudah sampai," ujar Arlan dengan senyum kecil.


"Tidak sabar, ingin segera menonton filmnya!" seru Evelyn semangat.


Arlan turun terlebih dahulu, berjalan cepat memutari mobilnya untuk membukakan pintu penumpang.


Ceklek!


Ia membuka dan mengulurkan tangannya, membantu Evelyn turun yang di sambut segera oleh Sang asisten tanpa ragu.


Mereka berdua jalan bersama dengan tangan saling menggenggam erat, di selingi candaan di sepanjang perjalanan, tanpa tahu jika dari awal kepergian Arlan menuju kost milik Evelyn, ada seseorang yang mengikuti mereka dalam diam.


"Wanita murahan," Desisnya menakutkan.


"Oke, lihat saja besok," Lanjutnya sebelum meninggalkan area parkir mall, tempat Bioskop Arlan dan Evelyn menghabiskan pekan bersama.




Keesokan harinya



Hari ini Evelyn kerja dengan Arlan yang menjemputnya, kebetulan mereka juga ada rapat di luar kantor, tepatnya di kota sebelah dengan jarak yang lumayan, jadi ia dan Presdirnya tidak ada di kantor dari pagi hingga sore nanti.



Perusahaan besar yang akan mereka datangi adalah perusahaan Sutomo, perusahaan atas rekomendasi dari perusahaan sahabatnya, perusahaan Wijaya tepatnya.



"Jadi, hari ini kita di luar seharian, Ar?" tanya Evelyn saat mereka berhenti di area parkir perusahaan, dengan tulisan Sutomo terpampang besar di depannya.

__ADS_1



"Yep! Sehabis meeting ini kita bisa pulang, lagian sepertinya akan banyak makan waktu lama. Mengingat bukan hanya kita saja, yang akan melakukan join dengan Sutomo," balas Arlan menjelaskan.



"Iya sih! Aku juga baca, ada beberapa perusahan ikut meeting. Semoga saja lancar!" seru Evelyn semangat.



"Lancar, tentu saja. Tapi ingat!" seru Arlan dengan nada berbeda.



"Apa?"



"Jangan tebar pesona," balas Arlan menatap Asistennya dengan mata memicing.



Evelyn terkekeh geli, saat mendengar nada posesif dari Presdirnya.



"Kamu, siapa aku?" goda Evelyn dengan senyum miring, senyum yang ia pelajari dari Presdirnya.



"Kamu? Kamu adalah calon Nyonya Widiyo, apa kurang paham?" balas Arlan menatap Asistennya serius.



"Sembarangan!" sembur Evelyn dengan pipi berhiaskan rona merah.



"Emang iya!"



"Isk!"



"Ha\-ha\-ha!!"



Arlan tergelak saat mendengar nada sewot dari sampingnya, dari Evelyn yang juga diam\-diam tersenyum malu.



Tawa yang andai saja mereka tahu, jika tawa hari ini adalah tawa terakhir bagi Keduanya.



**Skip**



Hari berganti dengan cepat, ini hari kesekian yang di lalui oleh keduanya.



Tidak ada hari yang di lewati tanpa senyum oleh keduanya. Bahkan gosip dengan berita tidak sedap pun mulai di biarkan begitu saja, padahal dulu Evelyn akan merasa takut, saat ada bisik\-bisik ketika ia memasuki gedung perusahaan.




Seperti biasa, Evelyn akan duduk di meja kerjanya, menanti pekerja yang akan di berikan Sang Presdir kepadanya.



Saat sedang mengerjakan pekerjaannya dengan serius, ia merasakan seperti ada seseorang yang berdiri di hadapannya.



Ia pun mengangkat wajahnya dengan ekspresi kaget, saat melihat tamu yang adalah *dia*, seseorang yang pernah ia temui di pesta bisnis beberapa waktu lalu.



"*Mau apa dia kemari*?" batin Evelyn bertanya bingung.



Tidak ingin di anggap kurang ajar, ia pun segera memasang wajah profesionalnya, dengan senyum yang selalu berhasil membuat lawan jenisnya terpesona.



"Ada yang bisa di bantu, Nona?" tanya Evelyn dengan senyum ramh.



"Arlan, ada?" Tanya tamu berjenis kelamin wanita tersebut.



"Pak Presdir? Apa sudah ada janji?" tanya Evelyn , masih dengan ramah.



Si Tamu pun tersenyum, membuat Evelyn berfikir jika dulu ia salah lihat, saat awal pertemuan mereka dulu.



"*Aku kira galak*," batin Evelyn polos.



"Ini penting, Papanya yang memerintahkan, apa perlu aku menghubungi Tuan Keanu?" balas Si tamu ramah.



Aku pun berfikir sejanak, sepertinya nama Keanu pernah ia dengar.



"*Ah ... Kenapa bisa lupa, Keanu kan ayahnya Arlan*," batin Evelyn setelah berfikir sejenak.



Ia pun mengangguk dan mengizinkan Si Tamu masuk.



"Baiklah, silakan masuk," balas Evelyn masih dengan senyum.


__ADS_1


"Terima kasih!" seru Si Tamu dengan nada senang.



"Ah! Aku lupa!" lanjutnya berseru tiba\-tiba.



"Iya?" tanya Evelyn.



"Bisakah aku minta tolong antarkan minuman ke dalam, tapi aku mau kamu yang antar. Aku tidak suka jika itu orang lain, bisa kan?" ujar Si tamu meminta dengan nada memohon, membuatnya mau tidak mau mengangguk menyetujui.



"Baiklah," balas Evelyn dengan kepala mengangguk.



"Bagus!"



"Sepertinya senang sekali," gumam Evelyn tanpa rasa curiga.



*Evelyn pov on*



Seperti yang di minta oleh Si tamu, aku pun turun ke bawah untuk mengambilkan minuman.



Aku berjalan ke arah *Pantry*, mengambil gelas dan menuang air panas dan mencelupkan kantung teh, dengan tambahan gula secukupnya.



Saat aku sedang mengaduk teh buatanku, aku tidak sengaja mendengar gosip, tentang Arlan yang kedatangan seorang tamu perempuan.



Aku menggeleng kepala, ini kebiasaan dia jadi lebel *cassanova* tidak akan pernah hilang darinya.



Aku pun mengangkat bahu tidak perduli, lalu membawa cangkir teh dengan nampan kecil, yang di sediakan untuk menyuguhkan tamu minuman.



"*Tapi tahu nggak sih, Pak Arlan ternyata sudah punya tunangan, cantik dan dari keluarga kaya*."



*Deg*!



"*Apa*!"



Seketika jantungku berdetak kencang, memikirkan perkataan yang di ucapkan salah satu rekan kantorku.



"*Iya, aku kemarin bertemu dengannya*."



Aku menulikan pendengaranku dan melangkah dengan cepat, meninggalkan tempat dimana aku mendengar sendiri, gosip tentang Arlan yang sudah memiliki seorang tunangan.



"Tidak mungkin," Gumamku dengan kepala menggeleng.



Aku pun menekan tombol lift dengan tangan bergetar, benarkah seperti ini, benarkah apa yang di dengarku saat ini.



*Ting*!



Aku pun segera keluar dari lift, berjalan cepat menuju ruangan milik Arlan.



Pintu ruangan Arlan terbuka sedikit sehingga aku bisa mendengar dan melihat apa yang terjadi.



Aku melihat tamu tadi dan Arlan sedang terlibat percekcokan, dengan pembahasan yang membuatku menatap kejadian di hadapanku nanar.



"Sudah dengar semua?" tanya wanita tersebut.



"Maaf, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian,"



"Evelyn."



"Ah, Asisten kamu memang harus tahu!"



"Kamu!"



Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Ikuti kisah selanjutnya ....



Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2