Bukan Salahku

Bukan Salahku
Pembalasan Terakhir


__ADS_3

Aku tidak bisa mendapatkan kebahagiaan, maka kamu juga.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Satu bulan kemudian ...


Kehidupan Evelyn berubah dengan kehadiran sang ayah di tengah-tengahnya lagi, ditambah dengan kehadiran Kenzo membuat Evelyn semakin merasakan bahagia.


Meskipun Kenzo adalah anak hasil ayah dan Nyonya besar Brata, Evelyn tidak mempermasalahkannya, karena baginya Kenzo tetaplah adik kecilnya.


Saat ini Evelyn sedang bermain di taman dekat rumah lama Evelyn, yang dibeli kembali oleh Arlan sebagai hadiah kelahiran Kenzo.


Evelyn juga tinggal dengan sang ayah, yang saat ini sedang membelikannya makanan, sedangkan dirinya bermain dengan Kenzo yang mulai bisa merangkang.


Evelyn tertawa riang saat melihat sang adik, yang memerkan cengiran lengkap dengan gigi susu yang tumbuh satu.


Ma-ma-ma


"No, sweetheart. No Mama, Kakak, ok?"


Hi-hi


"Isk ... Malah tertawa, dasar gembul," dumel Evelyn menahan tawa, saat melihat bagaimana lucu sang adik yang saat ini ada di pangkuannya, setelah puas merangkak kesana-kemari.


Evelyn tetap bermain bersama Kenzo, tanpa melihat sekitar dan tetap melanjutkan kegiatannya menjahili Kenzo.


Sedangkan dari arah pintu taman, tidak jauh dari tempat Evelyn dan Kenzo berada, ada sebuah mobil dengan dua orang di dalamnya.


Orang itu adalah ...


"Nia, sudah lah kamu lupakan saja," ujar seorang pria, kepada seseorang lainnya yang dipanggil olehnya Nia, lebih tepatnya Tania.


"Axel, aku hanya ingin memberi wanita itu pelajaran," sahut Tania menatap pria di sampingnya__Axel dengan mata tajam.


Bukan hanya ia yang masuk bui, tapi juga perusahaan Brata yang jatuh ke tangan Arlan, setelah Arlan mengakusisi perusahaannya karena ia kecolongan.


Ia tidak tahu, jika diam-diam Mamahnya menjual saham dalam jumlah kecil secara berkala.


Dan bodohnya ia saat itu adalah mempercayai sang Mama, yang merayunya dengan iming-iming Arlan akan menjadi miliknya.


Belum lagi dokumen yang entah dari mana Arlan dapat, tentang hak kepemilikan dengan ia yang sudah tanda tangani.


Ia tahu ia yang salah karena membuat surat kuasa itu dengan terburu-buru, saat ia dan Arlan keesokan harinya akan melaksanakan pernikahan. Tapi malah berujung dengan dirinya yang di tangkap polisi.


"Lupakan Tania dan hiduplah denganku. Aku mohon, aku mencintaimu Tania," cegah Axel dan dengan tiba-tiba menyatakan pernyataan cintanya.


Ya ... Axel adalah sahabat Tania, yang waktu itu bertemu dengan Arlan. Ia juga lah yang menjamin dan membebaskan Tania dengan pencara yang menangguhkan kebebasannya.


"Tapi Axel, aku hanya mencintai Arlan."


Axel sakit mendengarnya, tapi ia tidak marah.


"Kalau gitu, belajar mencintaiku mulai dari sekarang," tandas Axel keras kepala.


"Axel! Aku akan membalas dendamku, jika kamu-


"Tidak ... Lebih baik aku menurungmu dan membuat kamu sadar, jika apa yang kamu lakukan nanti hanya akan menghancurkan dirimu sendiri."


Tania diam memandang Axel tidak percaya, apalagi saat melihat Axel kembali menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan area taman.


"Axel apa yang kamu lakukan, berhenti! Aku akan mendatangi wanita itu dan membunuhnya!"


"Tidak. Diam dan hapus semua keinginan konyolmu itu. Aku akan membuatmu menjadi istri baik dan menjadi Nyonya Fernandes seorang," tandas Axel tegas, menatap Tania yang menatap Axel dengan pupil mata melebar kaget. Kaget saat melihat perubahan Axel yang berani membentaknya, karena selama ini Axel adalah sahabat yang baik.


"Axel ..."


Mobil pun melaju kencang, dengan Evelyn yang tiba-tiba melihat ke arah luar taman penasaran.


Ada apa dengan mobil itu?


Evelyn pun mengangkat bahu acuh, kemudian kembali melihat Kenzo dan tidak lama kemudian, Ayahnya pun datang dengan sekantung plastik makanan ringan.


Pasangan Ayah-anak ini pun menghabiskan waktu bersama, berharap bisa menggantikan waktu yang sudah mereka lalui, saat dulu masih dalam keadaan salah paham.


Keesokan harinya ...


Mansion Fernandes


Di sebuah Mansion milik keluarga Fernandes, ada Tania yang saat ini sedang duduk, dengan Axel yang duduk di hadapannya.


"Nia, aku harus ke kantor. Kamu di rumah dan tunggu aku pulang, karena aku akan membawamu keluar negeri, setelah aku kembali dari kantor nanti, apa kamu paham?" tanya Axel membuat Tania yang mendengarnya menatap Axel tidak percaya.


"Apa! Luar negeri?"


"Iya, aku ingin memulai hidup baru denganmu, tanpa ada masa lalu," jawab Axel tegas, menatap Tania dengan sungguh-sungguh.


"Tapi aku tidak mau, Axel. Aku mas-

__ADS_1


"Cukup Tania. Aku tidak ingin mendengarnya, aku pergi dulu," sela Axel tidak terbantahkan, membuat Tania terdiam, tidak menyangka bahwa hidupnya bisa seperti ini.


Axel pun meninggalkan Tania sendiri, meninggalkan Tania yang diam-diam menangisi keadaannya.


Lama berpikir, akhirnya setelah menguatkan hati Tania pun bangkit dan berjalan menuju kamarnya(Kamar Axel), mengambil kunci mobil lainnya untuk melakukan sesuatu, yang pastinya adalah niat dengan segala perhitungannya.


Aku akan membunuhmu, Evelyn.


Kemudian pergi dengan segera, mengabaikan panggilan dari asisten rumah tangga di belakangnya.


Brummm!


Meninggalkan mansion Fernandes dengan mengendarai mobil milik Axel, karena mobil dan segala harta bendanya sudah di sita.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Rumah Evelyn


Evelyn saat ini sedang berada di dalam kamarnya, lebih tepatnya sedang duduk di depan cermin dengan senyum mengembang.


Hari ini rencananya ia akan pergi ke kantor kekasihnya, hendak memberitahukan berita membahagiakan ini.


Evelyn pun kemudian bersiap memakai tasnya dan berjalan keluar kamar.


Keluar dari kamarnya, Evelyn melihat sang ayah yang saat ini sedang bermain dengan adiknya__Kenzo.


"Ayah! Lyn ingin menemui Arlan di kantor, ayah tidak apa-apa, Lyn tinggal di rumah?" tanya Evelyn dengan nada tidak enak.


"Tentu saja, temui lah Arlan. Nanti pulang jam berapa?" tanya Farid setelah mengizinkan.


"Hanya sebentar, Lyn hanya memberikan sesuatu untuk Arlan."


"Baiklah, ayo ayah antar ke depan," sahut Farid kemudian keduanya pun jalan bersama, setelah menitipkan Kenzo kepada pengasuh baru yang disewa Evelyn, untuk membantu sang ayah mengurus adiknya karena ia pun harus masuk bekerja.


Keduanya pun jalan bersama, menuju jalan raya di depan rumah sederhana mereka. Jalan dengan sesekali bercanda, tanpa tahu jika seseorang melihat keduanya dengan benci.


"Aku akan membunuhmu, Evelyn," gumamnya, sebelum menghidupkan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi, hendak menabrak Evelyn dan Farid, yang tentu saja tidak menyadari kehadirannya dan niat buruknya.


"Mati!" seru Tania kemudian membelokkan mobil dan akhirnya menabrak Evelyn dan Farid.


Braaak!!


Ia menolehkan wajahnya ke arah belakang, ingin melihat korban yang ditabraknya. Namun sayang, Tania tidak menyadari jika kecepatannya terlampau cepat, sehingga saat ia mengalihkan kembali pandangannya ke depan, sebuah tiang listrik di hadapannya dan akhirnya mobilnya pun menabrak tiang listrik tersebut.


Braaak!!!


Kecelakaan pun tidak bisa di hindari, Tania tewas di tempat dengan luka di kepala yang parah.


Evelyn dan Farid yang sedang bercanda, tiba-tiba kaget dengan bunyi suara mobil datang dari arah belakang mereka. Seketika keduanya pun menoleh, membelalakan mata saat bagian depan mobil, hanya berada beberapa jengkal kaki lagi di hadapan mereka.


Farid yang melihatnya pun tersadar dan dengan cepat membawa tubuh sang anak masuk kepelukannya, menjadi tameng dan akhirnya mobil itu pun menabraknya, dengan ia yang berguling melindungi anaknya.


Braaakk!!


Evelyn yang syok memejamkan mata, menerima pelukan erat sang ayah, yang ada di atasnya saat ini, setelah sempat berguling beberapa kali.


Masih memejamkan matanya, Evelyn tiba-tiba membuka mata saat merasakan tetesan di wajahnya. Seketika pupil matanya melebar, saat melihat kepala sang ayah yang berdarah.


"Ayah!"


"Evely-


Farid pun tidak melanjutkan ucapannya, saat kegelapan menelan dan membuatnya pingsan seketika.


"Ayah!"


Bunyi tabrakan beruntun dan teriakan Evelyn membuat warga berkumpul dengan cepat, banyak warga yang melakukan evakuasi korban di dalam mobil.


Mobil yang di kendarai Tania rusak hanya dibagian depan, dengan kap mobil penyok, namun sayang Tania tidak bisa di selamatkan saat kehilangan banyak darah, terlebih luka di kepala yang serius.


Sedangkan Evelyn di bantu warga, mengevakuasi sang ayah yang dibawa ke rumah sakit menggunakan ambulans.


"Ayah! Bangun!


Beberapa saat kemudian ....


Suara langkah sepatu yang beradu dengan lantai terdengar sepanjang lorong rumah sakit.


Arlan, yang mendapat kabar mengejutkan dari sang kekasih segera meninggalkan meeting dan mengendarai mobilnya cepat ke rumah sakit.


Ia sungguh kaget dengan kabar tentang kecelakaan, yang disengaja oleh mantan tunangannya, terhadap kekasih juga ayah kekasihnya.


Dari sini Arlan melihat kekasihnya, sedang duduk dengan Riyanti dan Riki yang berjalan mondar-mandir.


"Evelyn!" seru Arlan memanggil Evelyn yang segera berdiri dan menyambut pelukannya.


Grep!

__ADS_1


Hiks!


"Arlan, Ayahku, hiks .... Ayah," racau Evelyn disela-sela tangisanya, sehingga Arlan pun dengan segera mengeratkan pelukannya, menenangkan sang kekasih yang saat ini sedang bersedih.


"Ssstt .... Tenang, ada aku. Ayah juga pasti tidak apa-apa, please ... Don't cry, honey," bisik Arlan menenangkan Evelyn, yang akhirnya mengangguk.


Kemudian pintu ruang operasi terbuka, dengan seorang dokter yang keluar dari dalam.


Arlan dan yang lainnya pun menghampiri sang Dokter, menanyakan keadaan ayah Farid.


"Bagaimana Dokter, bagaimana keadaan ayah kami?" tanya Arlan sebagai perwakilan kekasihnya.


Sang Dokter menampilkan wajah menyesal, kemudian menggelengkan kepala pelan, membuatnya Evelyn yang melihatnya semakin menangis histeris.


"Maaf, kami sudah melakukan upaya terbaik. Namun sayang, pasien terlalu banyak kehilangan darah."


Evelyn semakin merasa dunianya hancur, kehilangan lagi untuk kedua kalinya orang yang sangat di sayanginya.


Beberapa waktu lalu ibunya, kini ayahnya pin menyusul sang ibu yang sudah di atas sana.


"Tidak! Bohong kan dokter!"


"Maaf," gumam sang Dokter sebelum meninggalkan tempat mereka berdiri saat ini. Pergi menuju ruangan lainnya, untuk membersihkan diri.


"Tidak! Tidak Arlan, ini bohong, Ayahku ... Hiks."


"Evelyn, tolong jangan seperti ini," ujar Riki melihat sedih ke arah adiknya yang memeluk sepupunya, menenggelamkan wajahnya di dada sepupunya.


"...."


Tidak ada balasan, membuat Arlan melihat ke arah Riki dengan gelengan kepala dan memberi isyarat untuk mengurus jenazah ayah Farid, sedangkan ia menenangkan kekasihnya.


Riki mengangguk mengerti, kemudian meninggalkan Arlan dan Evelyn dengan Riyanti yang setia di sampingnya.


"Arlan, kenapa Tuhan kejam denganku, kenapa Ayahku pun di ambil oleh-Nya," racau Evelyn dengan kesedihan tak terkira.


Baru saja ia dan ayahnya bersama, harus berpisah lagi dan berpisahnya untuk selama-lamanya.


"Aku mohon sabar Lyn, masih ada aku, Riki dan juga Kenzo yang akan menemanimu," gumam Arlan menenangkan Evelyn, yang mengangkat wajahnya menatap Arlan dengan linangan air mata.


"Kenzo, hiks ..."


"Hn ... Kamu jangan khawatir, aku akan menjaga kalian berdua, kamu harus kuat dan biarkan ayah dan ibu bersatu di sana, oke," ujar Arlan lembut, memberi pengertian agar kekasihnya tidak terlalu larut dengan kesedihan.


Evelyn pun menghapus air matanya, mengangguk kecil dan kemudian menyusul Riki yang sedang mengurus jenazah ayahnya.


Skip


Pemakaman ayah Evelyn pun di laksanakan, di makamkan tepat di samping sang ibu yang lebih dulu berpulang.


Evelyn menatap dua gundukan tanah dengan kosong, sedangkan di sampingnya ada Arlan yang setia mengusap dan merangkul bahunya.


Ketika semua orang yang membantu dan hadir di pemakaman pergi, Evelyn meminta Arlan juga untuk meninggalkannya sejenak.


"Aku tunggu di mobil, ok?" jawab Arlan dengan Evelyn yang hanya mengangguk.


Arlan pun akhirnya meninggalkan Evelyn sendiri, berjalan dengan Riki dan Riyanti di sampingnya. Ia juga sesekali melihat ke belakang, ke arah Evelyn yang saat ini sedang duduk bersimpuh di makam kedua orang tuanya.


Evelyn ... Setelah ini kamu akan bahagia, aku janji.


Setelah kepergian Arlan, Riki dan Riyanti juga keluarga dari Riki, Evelyn mengusap kedua makam di hadapannya dengan sesekali meremas tanah coklat itu.


Air matanya mengalir tanpa suara, tapi ia juga tidak bisa mengelak, karena sejatinya manusia akan berpulang saat tugasnya sudah selesai di dunia yang sementara ini.


Ia berdoa untuk kedua orang tuanya, untuk di tempatkan disisi terdekat dengan Tuhan dan juga berdoa untuk suatu hari nanti mereka berkumpul kembali.


Ayah, ibu, tenang di sana ya. Aku akan hidup lebih baik dan akan bahagia disini, jadi ayah dan ibu jangan khawatir lagi.


Lalu, aku juga akan menjaga Kenzo dan mengajarkannya hidup baik, menceritakan tentang kalian disaat dia bertanya.


Aku akan selalu mengunjungi kalian, bersama cucu kalian yang sebentar lagi akan lahir.


Setelannya, Evelyn pun mengusap perutnya, yang sebenarnya sudah tumbuh janin.


Dan ini adalah alasannya, hendak pergi ke kantor Arlan untuk memberitahukan kabar ini, namun malah berujung dengan ia kehilangan ayahnya.


Ah! Maafkan ibu, Nak. Ibu tidak menyalahkanmu, ibu tidak akan sedih lagi.


Setelahnya, Evelyn pun meninggalkan makam, menghampiri Arlan yang menunggunya dengan senyum dan uluran tangan menyambutnya.


"Kita pulang," ajak Arlan.


"Um."


Bersambung.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Terima kasih dan sampai babai.


__ADS_2