Bukan Salahku

Bukan Salahku
Jangan Sebut Namanya


__ADS_3

*Jangan sebut namanya, aku tidak sudi mendengarnya.


Jangan pernah membahasnya jika kita sedang berdua, karena aku tidak ingin


mengingatnya*.


Jangan dan jangan ada dia di antara kita.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Di meja kerjanya, Evelyn dengan serius mengerjakan bagian pekerjaannya.


Sesekali ia akan mengecek lagi hasil pekerjaannya, sebelum mengerjakan yang lainnya. Tangannya dengan terampil menekan setiap tombol, sedangkan satu tangan lainnya terkadang menggerakkan mouse di sebelahnya.


Getaran dari handphone yang ia letakkan di mejanya, membuatnya tersentak kaget, saat ia terlalu fokus dengan pekerjaannya.


Tadinya ia hanya melirik layar handphonenya, tapi saat matanya melihat nama sang kakak, ia pun tersenyum tipis dan mengangkat dengan semangat panggilan tersebut.


🔊 Riki calling


Tangannya segera menekan tombol hijau, kemudian menempelkannya di telinga bagian kanannya.


"Halo! Riki! Sedang tidak sibuk kah?" seru Evelyn, bertanya dengan nada suara senang yang kentara.


"Sedang istirahat, Lyn. Kamu sedang apa?"


Jika saja yang memanggil namanya bukan sang kakak, ia yakin ia akan membiarkan pertanyaan tanpa jawabannya.


"Aku sedang mengerjakan pekerjaanku, Riki. Apa lagi?" sahut Evelyn balik bertanya, menuai kekehan dari sang kakak di seberang sana.


"Aku tahu, pasti kamu sibuk sekali. Maka dari itu, aku ganggu kamu di waktu seperti ini."


Evelyn menggembungkan pipinya sebal, saat ia mendengar jawaban reseh dari kakaknya, yang kini masih terkekeh dengan santainya.


"Jahat, pukul online nih. Mau, heum?" tawar Evelyn dengan nada sebal, namun sang kakak yang tahu tabiat dari seorang Evelyn, hanya membalasnya lagi-lagi dengan kekehan.


"Ha-ha-ha!"


"Yah! Riki, aku matiin nih sambungannya," ancam Evelyn main-main, hingga akhirnya sang kakak berdehem untuk menghilangkan kekehannya.


"Oke-oke, jangan ngambek gitu. Nanti tiba-tiba Arlan datang dan memarahiku."


Kelakaran kakaknya yang membawa nama sang kekasih, membuat Evelyn malu dengan rona merah di kedua pipinya. Tapi untunglah sang kakak tidak di depannya, sehingga ia tidak perlu benar-benar merasa malu saat wajahnya berubah merah seperti ini.


"Ih kok bawa-bawa Arlan, sih. Dasar," dengkus Evelyn salah tingkah.


Mereka pun terus berbincang, dengan Evelyn yang sesekali terkekeh, karena candaan sahabat yang sekarang menjadi kakaknya.


"Baik lah, aku harus hentikan obrolan ini. Kalau tidak aku tidak akan pernah berhenti."


"Loh! Kenapa?" tanya Evelyn dengan nada muram, saat kakaknya hendak menyudahi acara berbincang mereka.


"Kamu harus bekerja, jangan makan gaji buta."


"Ih! Aku bekerja kok!" seru Evelyn tidak terima, lagi-lagi membuat Riki tergelak di seberang sana.


"Oke-oke, kamu bekerja."


"Huem," dengkus Evelyn pura-pura sebal.


"Ah! Aku hampir saja melupakan sesuatu."


Evelyn segera mengubah ekspresi wajahnya, saat mendengar nada serius dari kakaknya.


"Apa?" tanya Evelyn segera.


"Lusa perusahaan kecilku akan mengadakan pesta, untuk merayakan satu tahun berdirinya Gandhi Desain Interior dan juga memberitahukan tentang kerja sama, antara Gandhi dan perusahaan Riyanti."


"Benarkah!?" pekik Evelyn bertanya dengan rasa senang tulus dari hati.


"Iya, maka itu aku ingin kamu datang dengan Arlan. Meskipun Arlan juga aku undang sebagai kolega, tapi aku mau kamu datang sebagai orang spesialku."


Ada rasa haru yang membuat Evelyn tiba-tiba ingin menangis, saat sang kakak selalu menomor satukannya. Itu sebabnya ia merasa bersalah, saat dirinya sampai saat ini tidak memberi tahu, masalah yang sedang ia hadapi padahal sang kakak selalu mewanti dan bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Tentu, aku akan datang sebagai seseorang yang mendukungmu. Sebagai seorang adik, yang selalu ada di belakangmu," balas Evelyn menjaga nada suaranya, agar tidak terdengar bergetar.


"Baiklah, kalau begitu aku tutup panggilannya. Semangat bekerja, Lyn."


"Semangat bekerja, Riki."


Tut!


Panggilan pun berakhir, dengan Evelyn yang menghela napas saat merasa sesak.


Ia selalu berharap bisa jujur dengan dua pria yang sangat di sayanginya, tapi ada bagian darinya yang belum mengizinkan.


"Oke, sebaiknya aku melanjutkan pekerjaanku," gumam Evelyn kemudian meletakkan handphonenya, kembali ke tempat semula yaitu di samping telepon kantor.


Tidak lama setelah ia meletakkan handphonenya, telepon di meja gantian berdering, membuatnya menghela napas saat ia harus menunda kembali pekerjaannya, yang sebenarnya tinggal sedikit lagi.


"Aish," dengkusnya namun tetap menerima panggilan, setelah ia merubah ekspresi wajahnya dengan senyum profesional.


Kring! Kring!


Klik!


"Dengan Evelyn Carla, ada ya-


"Schatz, bisa masuk sebentar."


Evelyn mengernyitkan dahi penasaran, mendengar permintaan bukan paksaan dari kekasihnya. Biasanya, si Presdir yang merangkap sebagai kekasihnya ini, akan menyela ucapan salamnya, dengan perintah mutlak tanpa ganggu gugat.


"Oke," balas Evelyn, kemudian memutuskan panggilan dari sang Presdir, berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Presdirnya.


Tok! Tok!


Ceklek!


Tanpa menunggu sahutan akan akan ketukannya, Evelyn dengan segera membuka pintu ruangan Presdirnya, yang saat ini sedang duduk di kursi kebesarannya, dengan mata fokus melihat ke arah layar laptopnya.


Bunyi pintu yang terbuka membuat Arlan mengalihkan pandangannya, melihat ke arah pintu dan tersenyum saat melihat kekasihnya berjalan pelan menghampirinya.


"Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Evelyn formal, menuai dengkusan tidak terima dari sang Presdir.


Evelyn balik mendengkus, alih-alih menyahuti nada sewot dari sang Presdir, yang memang tidak suka di panggil olehnya dengan sebutan Pak.


"Emang Bapak adalah Bapak, tapi bukan Bapak-bapak," ejek Evelyn membuat Arlan berdiri dari duduknya, menghampiri dengan cepat kekasihnya, yang kini tergelak akan rasa kesalnya.


Grep!


Arlan dengan segera membawa Evelyn dalam kukungannya, merapat ke dinding tidak jauh dari meja kerjanya dan memberikan kekasihnya hukuman kecil.


Dalam kukungan seorang Arlan, Evelyn tergelak saat merasakan geli ketika kekasihnya, menggelitiki di bagian bawah ketiaknya__Daerah sensitifnya selain belakang lehernya.


"Ha-ha-ha! Arlan, hör auf damit, (Arlan, hentikan ini)" pinta Evelyn di sela-sela ia menahan tawa yang semakin menjadi.


"Nicht wollen, (Tidak mau)" tolak Arlan tetap pada kegiatannya.


Ia dengan semangat menggelitiki setiap jengkal tubuh kekasihnya, yang kini semakin tertawa dengan sesekali memukul lengannya, menghalau tangannya yang dengan santai menggrilya bawah ketiaknya.


"Arlan."


Rengekan dari kekasihnya, membuat Arlan mau tidak mau menghentikan kegiatannya, ganti dengan menghapus keringat akibat aktivitasnya tadi.


"Enak?" tanya Arlan santai, menuai pukulan sayang dari Evelyn bersarang di lengannya, lengkap dengan ekspresi merajuk.


Pipi menggembung, mata melotot tajam.


Arlan terkekeh kecil, alih-alih takut akan ekspresi merajuk dari kekasihnya, yang selalu membuatnya gemas dan semakin membuatnya jatuh cinta.


"Geli tahu," sungut Evelyn cepat, masih dengan ekspresi merajuknya.


"Ok es tut mir lied, (Baiklah, maafkan aku)" gumam Arlan di depan wajah kekasihnya, sehingga keduanya bisa saling merasakan hembusan napas.


"Wiederhole nicht, (Jangan ulangi)" balas Evelyn menatap kekasihnya dengan mata mendelik masih kesal.


"Hemm, iya," gumam Arlan balas menatap Evelyn dengan tatapan memuja.


Evelyn akhirnya bisa tersenyum, saat kekasihnya meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Oke, lepaskan aku," pinta Evelyn namun sayang Arlan menggelengkan kepalanya menolak.


"Tidak mau, biar seperti ini," gumam Arlan, sebelum membawa wajahnya ke perpotongan leher Evelyn. Ia membenamkan wajahnya di sana, di tempat sensitif bagi seorang Evelyn, yang kini hanya mampu menahan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya.


Kegiatan keduanya di saksikan oleh mata kepala seseorang, yang hanya mampu mengepalkan tangannya menahan emosi. Ia ingin sekali masuk dan mengeluarkan sumpah serapah, kepada seorang wanita di dalam sana, yang kini sedang balas memeluk tunangannya.


"Sialan," desisnya sebelum meninggalkan tempatnya berdiri, berjalan dengan sedikit menghentakkan kaki, membawa rasa sakit yang selalu di terimanya.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Skip


Evelyn dan Arlan saat ini ada di depan kost-an milik Evelyn. Hari sudah sore saat Arlan mengantar kekasihnya pulang, untuk istirahat menghilangkan lelah akibat aktivitas kantor mereka.


Keduanya berbincang sebelum Arlan pulang ke huniannya sendiri, sama-sama beristirahat saat ia pun merasakan letih luar biasa.


"Kamu sudah dapat undangan dari Riki, sayang?" tanya Evelyn di tengah-tengah obrolan mereka.


"Sudah, kita pergi bareng?" ajak Arlan saat mendengar pertanyaan kekasihnya.


"Boleh. Tapi ... Apa kamu tidak bersama dengan tunanganmu?" tanya Evelyn dengan nada tidak senang yang kentara, membuat Arlan mendengkus geli.


"Kalau kamu mau aku bis-


"Jangan!"


Evelyn dengan segera menyela ucapan kekasihnya, saat ia dengan sengaja bertanya hal yang tidak di inginkannya. Niatnya menggoda, malah ia yang balik di goda.


"Menyebalkan," batin Evelyn kesal.


"Tadi siapa yang bertanya?" tanya Arlan menggoda, dengan alis terangkat menatap kekasihnya dengan binar geli, saat melihat Evelyn yang melengoskan wajahnya ke arah lain.


"Hanya bercanda," bisik Evelyn lirih, membuat Arlan menggelengkan kepala, kemudian menarik Evelyn dalam pelukannya.


"Jangan sebut namanya, aku tidak suka."


Ada nada dingin saat Arlan mengucapkan kalimat perintahnya, membuat Evelyn tersenyum dalam hati, maski ada khawatir saat ia takut jika Arlan tahu tentang kebenarannya.


"Hum."


Tidak bisa menjawab perintah mutlak dari kekasihnya, Evelyn hanya mampu bergumam dan menyamankan dirinya di pelukan sang kekasih, yang saat ini sedang mengusap punggungnya perlahan.


"Baiklah, aku harus pulang. Kecuali kamu mengundangku masuk, dengan bonus sedikit cumbuan. Mungk-


"Oke, selamat istirahat, sayang," sela Evelyn mengurai pelukannya cepat, saat kekasihnya membisikan kalimat dengan nada seduktif di telinganya.


Arlan tergelak kecil, saat kekasihnya takut akan bisikannya menggodanya. Ia menatap kekasihnya dengan binar mata geli, saat lagi-lagi kekasihnya memandangnya dengan mata memicing tajam.


"Mesum," sungut Evelyn dengan gumaman kecil.


"Setelah menikah, aku pastikan kamu akan ketagihan. Schatz," sahut Arlan dengan bahu terangkat santai.


"Diam lah, Arlan."


Arlan pun pulang setelah berhasil mencuri kecupan di bibir mungil kekasihnya, menuai pekikan kesal dari Evelyn, yang merasa kecolongan akan tindakan Arlan barusan.


"Arlan, menyebalkan!"


Blam!


Brum!


"Hais ... Untung cinta," gumam Evelyn sebelum membalikkan tubuhnya, namun berhenti saat seseorang memanggil namanya dengan nada rendah.


"Evelyn."


"Siap-


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Terima kasih atas tap like dan dukungan votenya, duhai readers yang Author sayangi😊.

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2