Bukan Salahku

Bukan Salahku
Rasa Amarah


__ADS_3

Mata dibalas dengan mata.


Darah dibalas dengan darah.


Nyawa dibalas dengan nyawa.


Apakah di dunia ini sudah tidak ada keadilan? Sehingga yang tidak bersalah harus menanggung dosa?


Lantas ... Apa gunanya hukum dan keadilan?


Jika aku bahkan belum merasakan sebuah keadilan tersebut.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Pemakaman kota B


Di depannya saat ini ada gundukan tanah, dengan suasana sunyi-sepi saat seseorang duduk dengan tubuh memeluk batu nisan baru, menangis terisak saat ia merasa sendiri.


Evelyn menatap nanar nama mendiang sang ibu di batu nisan, saat ia mengingat dengan jelas, bagaimana ibu tetangga itu melihatnya dengan sorot mata menyesal.


Apa ini?


Apa maksud kesaksian ibu tersebut?


Apa benar yang dikatakan itu adalah sebuah kenyataan?


Bagaimana bisa ia mencari keadilan, jika bahkan hanya seorang anak kecil, yang melihat kejadian jatuhnya sang ibu dari tangga dua minggu yang lalu.


Saat ini yang di rasakan hatinya bukan lagi sedih, melainkan marah dan benci pada seseorang.


Bagaimana ada manusia berhati kejam seperti dia, ia pikir ayahnya sudah kejam dengan perlakuannya kepada ibunya.


Nyatanya, ada yang lebih kejam dengan menjadikan ibunya korban, saat dirinya lah yang bersalah karena kelakuan buruknya.


Tapi benarkah kelakuannya selama ini adalah kelakuan buruk, saat dirinya justru mendorong seseorang itu untuk menerima seseorang lainnya.


Apakah kebaikannya kurang, dengan imbas sang ibu sebagai penanggung dosanya?


Apakah harus seperti itu?


Hiks! Hiks! Hiks!


Air matanya tumpah ruah, saat mengingat pesan terakhir ibunya, yang berbicara dengan lembut dan halus memintanya dengan sungguh-sungguh.


"Boleh ibu minta satu hal."


"Keburukan yang dibalas dengan keburukan, hanya akan menciptakan lebih banyak keburukan, tapi keburukan yang dibalas dengan kebaikan, akan mendapat sedikit kebaikan dari keburukan."


"Ibu minta, jika suatu saat terjadi apa-apa dengan ibu, tolong jangan simpan dendam dengan siapapun, maafkan ayahmu kelak, jangan jadi anak ibu yang pendendam."


"Bisakan, Evelynku sayang?"


Sekelebat ingatan akan permintaan sang ibu menari-nari dihadapannya, mengejek hati dan matanya yang mulai tertutup.


Bagaimana bisa ada manusia sebaik ibunya, yang begitu saja memaafkan pria dengan segala kedurjanaannya.


Bagaimana bisa ada manusia sebaik ibunya, yang memintanya untuk tidak menjadi pendendam seperti itu.


Bagaimana ia bisa diam saja, saat tahu kenyataan akan ketidakadilan untuk sang ibu.


Di atas makan semi basah sang ibu Evelyn berjanji, untuk membalas orang-orang jahat yang sudah menyakiti ibunya.


Ia hanya akan membalas sesuai besarnya dosa orang tersebut, ia akan menjadi Evelyn yang berbeda untuk seseorang yang pantas mendapatkan karma tersebut.


"Ibu jangan benci aku setelah ini, aku hanya ingin membalas dendam ini sampai mereka tahu, jika mereka sudah salah memilih korban sebagai lawan. Aku akan menunjukan, bahwa mereka salah, menyangka aku akan semakin lemah karena kepergian ibu."


Evelyn menatap lagi tempat istirahat terakhir sang ibu, dengan telapak tangan menggengam tanah basah, akibat rintikan hujan kecil yang lama kelamaan menjadi deras.

__ADS_1


Zrash!


Petir menyambar meredam tangisan pilu Evelyn, bahkan air hujan pun turut menyamarkan aliran bening cristal dari kedua matanya.


"Huwaa!!!"


Evelyn berteriak sejadi-jadinya, ia hanya menyalurkan emosinya, saat ingat lagi dan lagi flasback kebahagian dirinya bersama sang ibu.


"Dengar ini wanita dan pria sialan, aku pastikan kalian akan menerima semua dendamku. Menerima semua karma dari apa yang kalian tanam."


Evelyn tidak peduli sekalipun ada yang mendengarnya, karena saat ini ia hanya ingin hujan tahu, jika mulai saat ini ia bukan lagi Evelyn Carla yang dulu, tapi ia adalah Evelyn Carla yang baru, yang akan membalas dendam sesuai keinginan mereka.


"Di mulia dari kamu," desis Evelyn dengan seringainya, saat ia menyusun rencana balas dendam untuk mereka.


Di tempat lain, tepatnya di depan kost-an milik Evelyn, berdiri Riki di bawah payung berwarna biru, menunggu sahabatnya yang dari tadi tidak mengangkat telepon, maupun membuka pesan darinya.


Perasaan Riki cemas dan juga gelisah disaat bersamaan. Ia takut ada apa-apa dengan sahabat merangkap adiknya, yang seminggu ini sudah mulai kembali seperti dulu.


Semenjak di kantor perasaannya sudah tidak tenang, saat ia tidak mendapat balasan pesan terakhirnya dari adiknya.


Biasanya, walaupun Evelyn sedang sibuk, adiknya akan tetap membalas pesannya. Tapi sekarang, bahkan sampai ia telpon berkali-kali, panggilan serta pesan pun tidak diterimanya.


"Sebenarnya dimana kamu, Lyn," gumam Riki cemas.


Ia mencoba menghubungi Evelyn lagi dan lagi, tapi sayang Evelyn tidak menerimanya.


Arloji di tangan sebelah kirinya, menunjukan pukul tujuh malam, dan sekarang ada di mana adiknya.


"Akh! Sial, sebenarnya di mana kamu Lyn?" gumam Riki semakin khawatir.


Seketika nama sang sepupu melintas dibayangannya, membuatnya dengan segera mencari kontak handphone sepupunya.


Calling Arlan


Tertera di layar handphonenya, ia menempelkan handphonenya di telinga sebelah kanannya, kemudian menunggu dengan tidak sabar.


Klik!


"Ah!"


Seketika Riki mendesah lega, saat sepupunya menerima panggilan darinya.


"Hn?"


Helaan napas dari sepupunya, membuat Arlan yang mendengarnya di seberang sana mengangkat alis penasaran.


"Arlan!" seru Riki senang, saat mendengar gumaman sepupunya.


"Hn, ada apa. Riki?"


"Ar, apa di sana ada Evelyn?" tanya Riki to the point.


"Evelyn? Bukankah sudah pulang semenjak sore?"


Riki sekali lagi menghela napas, saat mendengar sepupunya balik bertanya kepadanya.


"Aku tahu, dia juga memberi tahuku seperti itu. Tapi-


"Tapi apa, Riki!"


Riki terpaksa menghentikan ucapannya, saat sepupunya menyelanya dengan nada kaget yang kentara.


Riki sebenarnya tidak ingin bertanya ini, tapi ia tahu jika sepupunya pun pasti khawatir dengan adiknya.


Riki bukan orang yang akan lama marah dengan membabi buta, terlebih itu adalah sepupunya, yang sebenarnya korban dari perjanjian sepihak mendiang tantenya.


Ia tahu seberapa besar, sepupunya mencintai sahabat sekaligus adiknya.

__ADS_1


"Tapi Evelyn tidak mengangkat telepon dariku, bahkan pesan singkat pun tidak dibaca. Evelyn tidak pernah seperti ini, terakhir Evelyn seperti ini saat ibu meninggal."


Kondominium Arlan


"Apa! Bagaimana bisa?"


Arlan yang mendengar perkataan sepupunya, mengenai Evelyn yang tiba-tiba hilang menjadi tambah khawatir.


Ia bahkan sampai berdiri dari kursi kerjanya, ketika Riki sudah membahas masalah Evelyn.


Telinganya selalu sensitif, jika itu mengenai asistennya, yang hingga sampai saat ini masih merajai hatinya.


"Aku tidak tahu, terakhir kali Evelyn kirim pesan, dia bilang sedang jalan kaki turun dari bis."


Seketika Arlan menyesal, saat tidak mengikuti Evelyn pulang di jalan tadi.


Seharusnya ia mengikuti asistennya, hingga asistennya sampai dengan selamat di depan kost-annya.


"Sialan," batin Arlan kecewa, ya ... Ia kecewa dengan dirinya sendiri akan keteledorannya.


Arlan pun mencoba tenang, memikirkan jalan untuk mereka menemukan keberadaan Evelyn.


"Huft ... Tenang Ar, tenang," gumam Arlan dalam hati.


"Riki, sekarang kita berpencar. Aku akan mencari Evelyn di daerah jauh dari kost, sedangkan kamu, cari disekitar daerah situ. Oke?"


"Oke!"


Usulan dari Arlan disetujui dengan segera oleh Riki, tanpa banyak protes maupun alasan.


Arlan pun memutuskan sepihak panggilan dari sepupunya, menyambar jaket, kunci mobil dan dompetnya lalu sedikit berlari keluar dari kamarnya.


Brak!


Pintu hunian Arlan ditutup dengan bantingan keras, menyisakan debaman kuat yang menggema di ruangan sepi Kondominium milik Presdir dari keluarga Widiyo.


🍂🍂🍂🍂


Kembali pada Riki, yang saat ini kembali memasuki mobilnya, ia segera mengidupkan mesin mobilnya dan tancap gas mengelilingi daerah tempat adiknya tinggal.


Dua pria dengan perasaan sama-sama khawatir, mencari satu wanita, yang saat ini masih menata diri untuk kelanjutan dendamnya.


Sedangkan Evelyn saat ini sedang duduk, dengan pandangan kosong menatap laut didepan sana.


Ya ...


Bukankah sudah diberi tahu, jika laut adalah tempat sembunyi pilihannya saat sedang merasakan gundah, takut dan perasaan buruk lainnya.


Dengan tubuh basah dan perut meronta minta diisi, Evelyn tetap duduk dengan tubuh menggigil namun tak diindahkannya.


Ia membiarkan dirinya tenggelam akan kesedihan, akan perasaannya yang sebentar lagi mati.


Tolong biarkan untuk malam ini saja, dirinya menjadi Evelyn si lemah, kerena keesokan harinya, dirinya akan benar-benar berubah menjadi Evelyn yang baru.


Evelyn yang tidak mengenal apa itu mengalah dan sabar.


"Selamat datang, Evelyn Carla. Selamat tinggal Lyn," gumam Evelyn sebelum kegelapan menghampirinya, dengan seseorang memanggil namanya khawatir.


"Evelyn!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Siapakah kira-kira yang memanggil Evelyn? Mau tahu ...


Ikuti saja kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2