Bukan Salahku

Bukan Salahku
Hari Sebelum Musibah


__ADS_3

Terbuat dari apa hatimu, kenapa bisa sejahat itu.


Bukankah sudah aku katakan, jika aku tidak seperti itu.


Tanyakan kepada dia, bukannya padaku.


Hentikan sekarang juga, atau kamu akan menerima balasan dariku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Hari-hari pun berlalu dengan lambat bagi Evelyn, yang semakin hari harus semakin sabar, saat bukan hanya dari teman melainkan dari atasannya juga, menatapnya dengan berbagai arti tatapan mata.


Untuk teman mungkin ia bisa mengabaikan, Kerena ia sudah mulai kebal saat mereka menatapnya sinis.


Tapi ... Bagaimana dengan sang Presdir, yang saat ini masih saja menatapnya dengan pandangan seperti itu.


"Aku lelah," batinnya frustrasi.


Hingga saat ini ia belum memberitahu Ibu serta Riki, tentang apa yang sedang menimpanya.


Ia masih memendam sendiri perasaan sedihnya.


Bagaimana bisa ia berbagi kesedihan, jika yang ia inginkan adalah kebahagiaan sang ibu.


Dan bagaimana bisa ia membagi kesedihan kepada sang sahabat, jika ia sendiri sudah terlalu sering memberi rasa sedih, dengan atau tanpa sengaja terhadap sahabatnya.


Saat ini di depannya ada sang Presdir, yang duduk dengan ia yang berdiri di hadapan sang Presdir.


Ia sedang menunggu Presdirnya selesai memeriksa laporan, yang beberapa saat lalu ia kerjakan.


Laporan dari devisi lain, dengan souvenir small note sebagai penyemangat.


Iya ... Penyemangat agar ia cepat keluar dari perusahaan ini.


Kertas kecil dengan sebaris kata, namun sungguh membuatnya ingin tertawa sarkas dihadapan si pengirim.


Jal*ng, enyah kau!


Sebenarnya apa itu arti jal*ng?


"Lyn."


"...."


Diam, Evelyn hanya diam saat sang Presdir memanggilnya.


Juga bukan karena ia tuli mendadak, saat panggilan sok akrab itu keluar dari bibir sedikit tebal sang Presdir.


Ia hanya merasa, jika namanya bukan lah Lyn, yang terdaftar sebagai asisten bagi sang Presdir.


"Lyn."


"Evelyn Carla Pak, nama saya Evelyn."


Ia menyahuti panggilan sang Presdir dengan menyebutkan nama lengkap, agar sang Presdir yang menatapnya menyesal, tahu akan posisi mereka saat ini.


"Aku maunya panggil kamu, Lyn. Bagaimana?" tantang Arlan keras kepala.


Diam-diam Evelyn menghela napas, saat menghadapi sikap seenaknya sang Presdir.


"Kalau saya tidak menyahut, bagaimana?" balas Evelyn balik menantang.


Keputusan salah, karena dengan begitu Arlan semakin semangat.


Bukan kah sudah ia jelaskan, apa yang membuatnya tergila-gila akan asisten pribadinya.


Sikap pembangkang dan keras kepala Evelyn adalah hal yang paling disukai olehnya.


Arlan menyembunyikan senyumannya.


Sepertinya cassanova kita sudah mulai gila.


Ya ... Benar sekali sudah gila, lebih tepatnya gila akan cinta dari sang asisten.


"Aku akan tetap memanggilmu seperti itu," ujar Arlan santai.


Evelyn memutar bola matanya malas, berusaha mengacuhkan sikap seenaknya sang Presdir.


"Terserah," batinnya masa bodo.


"Jadi, ada yang bisa dibantu, Pak Presdir?" tanya Evelyn menekan kata Pak agar Arlan diam sejenak.


"Tidak, aku mau kopi."


Evelyn pun tanpa banyak tanya berjalan menuju coffee maker, membuatkan secangkir kopi dan meletakkan secangkir kopi di meja milik sang Presdir.


Tak!


"Ada lagi, Pak?" tanya Evelyn, berdoa dalam hati agar ia bisa cepat keluar dari ruangan ini.


"Kam-

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ucapan Arlan harus tertunda, saat terdengar suara ketukan pintu dari arah luar ruangannya.


Ia pun melihat sebentar ke arah sang asisten, sebelum mengizinkan si pengetuk untuk masuk.


"Masuk!"


Ceklek!


Pintu terbuka disusul dengan bunyi ketukan sepatu berhak tinggi, dari seorang wanita dengan pakaian kantor kurang bahan.


"Selamat siang, Pak Presdir!" sapa si pengetuk tadi.


"Khalisa, ada apa?" tanya Arlan kepada si pengetuk yang adalah Khalisa, personalia yang bekerja selama hampir tiga tahun di perusahaannya.


Sebelum menjawab pertanyaan sang Presdir, Khalisa melirik ke arah Evelyn dengan lirikan yang disembunyikan, ia masih punya otak untuk terang-terangan memperlihatkan rasa bencinya, saat dihadapannya ada sang Presdir yang pasti lebih memilih dia.


"Begini Pak, saya mau laporan data-data karyawan yang akan pensiun. Bagaimana menurut Pak Presdir?" tanya Khalisa tersenyum genit ke arah Arlan.


"Hn, kamu bicarakan dengan Barly. Biar dia yang urus sisanya," balas Arlan dengan nada datar.


Khalisa, yang mendapat jawaban datar dari sang Presdir kesal.


Ia mengepalkan tangan, untuk menyembunyikan perasaannya, lalu memasang senyum terbaiknya.


"Baik, Pak Presdir," balas Khalisa masih dengan nada manis.


"Hn, ada lagi?" tanya Arlan dengan alis terangkat, saat karyawannya diam saja melihat ke arahnya.


"Tidak Pak Presdir, kalau gitu saya permisi!" balas Khalisa, undur diri saat sang Presdir memandangnya seperti itu.


"Hn."


Sepeninggalnya sang personalia dari ruangannya, kini kembali hanya ada Evelyn dan si pemilik ruangan, dengan Evelyn yang bersiap pergi.


"Maaf Pak, kerjaan saya banyak. Saya harus keluar sekarang," ujar Evelyn.


"Baiklah, silakan bekerja. Lyn!" balas Arlan berseru senang.


Evelyn tidak menjawabnya, ia segera meninggalkan ruangan tanpa perduli dengan panggilan Arlan untuknya.


Percuma ... Karena bagaimana pun ia melarang, Arlan akan terus memanggilnya seperti itu.


Blam!


Pintu pun tertutup, dengan Arlan yang memandang pintu tersebut sedih.


Bagaimana ini, meskipun ia berjanji untuk tidak mengganggu Evelyn lagi, nyatanya ia bahkan tidak sanggup untuk tidak mengeluarkan kata-kata dalam hatinya.


Skip


Jam pulang sudah tiba, Evelyn lagi-lagi pulang sendiri saat Riki absen menjemputnya.


Ia tidak marah, ia justru senang saat sang sahabat kebanjiran pesanan desain ruangan.


Ia ikut senang jika sahabat sekaligus kakaknya sukses, bersinar dan semakin jaya.


Evelyn lagi-lagi menulikan pendengarannya, saat ada gosip ia yang berdua'an dengan Arlan di ruangan sang Presdir.


"Mereka orang gila ya? Aku asisten pribadi, lalu kalau aku membawakan barang-barang milik dia, apa artinya aku juga sedang menggoda dia? Dasar," gumam Evelyn pelan, dengan kepala menggeleng pelan.


Ia pun mempercepat laju langkahnya, menuju halte bis untuk menunggu bis selanjutnya datang.


Tidak lama kemudian, ia pun sampai di halte tidak jauh dari gedung perusahaannya.


Halte tempatnya saat ini menunggu, sudah mulai sepi karena jam pulang kantor lewat dari waktunya.


Ia menunggu dengan sabar, tanpa tahu jika ada seseorang yang berjalan di belakangnya dan mendorong punggungnya kuat.


Brugh!


"Akh!!"


"Rasakan, wanita sialan!"


Evelyn pun jatuh dengan lutut mencium aspal, diiringi umpatan kasar untuknya dari orang yang mendorongnya.


"Tania!"


Evelyn menahan desisan sakitnya, saat lututnya terluka akibat jatuh didorong oleh Tania tadi.


"Rasakan, bukannya aku bilang jangan dekati Arlan lagi!"


Evelyn perlahan bangkit dari jatuhnya, lalu menatap tajam Tania yang tersenyum puas dihadapanya.


"Apa maksudnya?" tanya Evelyn menahan sakit, saat kakinya ia paksa untuk berdiri.


"Tidak usah pura-pura bodoh! Aku tahu apa yang kamu lakukan, jika sedang berdua'an dengan tunanganku," balas Tania sinis, berdecih kesal saat mendapat laporan dari seseorang, tentang kelakuan buruk wanita didepannya.


"Apa maksudnya? Aku bekerja, apa yang aku lakukan tentu saja bekerja!" seru Evelyn tidak terima.


Untunglah halte bis ini sedang sepi, coba bayangkan jika tempat ini ramai dan pertengkaran mereka disaksikan oleh publik.

__ADS_1


Bukan hanya dirinya yang akan malu, tapi ibunya akan kecewa juga.


Meskipun ia tidak salah, ia tidak jamin jika ia yang akan dibela oleh masyarakat awam.


Masyarakat awam hanya melihat dengan sebelah mata, tanpa ada pengamatan lebih lanjut.


"Cih!"


Tania berdecih semakin sinis.


Ia jijik dengan wajah polos wanita atau anak dari Papa sambungnya saat ini.


"Masih pura-pura, heh!"


Evelyn tentu saja kesal, apa maksudnya ini.


Memangnya apa yang salah dengannya?


Berada di ruangan sang Presdir untuk membahas soal pekerjaan, apakah itu kesalahannya?


Aneh sekali.


"Tania, sebenarnya apa mau kamu?" tanya Evelyn lelah.


Demi Tuhan, ia bahkan tidak berbicara dengan Arlan selain untuk membahas pekerjaan.


"Mau aku?" tanya Tania memastikan.


"Ya."


"Bodoh! Kamu bodoh ya."


Bukannya menjawab, Tania malah semakin menjadi untuk memakinya.


"Tania cepat katakan, jika tidak, aku akan meninggalkan kamu disini sendiri," ujar Evelyn tidak terpancing emosi.


Ia tetap sabar dan mencegah tangannya, agar tidak menampar pipi Tania saat ini juga.


"Kamu tahu sekali apa mau aku, Evelyn," balas Tania dengan senyum miringnya.


"Aku tidak mengerti," balas Evelyn dengan nada tenang luar biasa.


"Jauhi Arlan sialan, jauhi. Apa kamu sekarang mengerti!" seru Tania kalap.


Evelyn tersenyum sarkas, saat wanita terhormat di depannya terbakar emosi.


Astaga ... Segitu bahayanya yah, dirinya di mata Nyonya muda Brata.


"Aku tidak mendekatinya," balas Evelyn memandang Tania tidak takut sedikitpun.


"Jal*ang mana ada yang ngaku," ledek Tania sinis.


Tangan Evelyn mengepal erat, saat makian itu didengarnya lagi.


Jal*ng, jal*ng, jal*ng.


"Omong kosong Tania, jika kamu takut Arlan perpaling padaku, lebih baik kamu perbaiki diri sendiri."


Evelyn pun meninggalkan Tania yang memanggil namanya murka.


Persetan dengan Tania dan kekuasaannya, jika sehabis ini ia di pecat dari perusahaan Arlan, ia tidak akan menyesal, justru ia akan sangat berterima kasih dan sujud syukur kepada Tuhan.


"Evelyn sialan, tunggu pembalasanku," desis Tania dengan gigi menggeletuk menahan marah.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.


Intermezo :


Author lagi ngopi sudah habis dua gelas.


Evelyn : Bang Thor, kapan aku beraksi?


Author : Buatin kopi dulu, yang seperti Arlan.


Evelyn : Pakai sianida?


Author : Astaga, Tania tuh yang dibantai!


Evelyn : Ide bagus, Bang Thor.


Author geleng-geleng kepala, sepertinya cast dua novel Author lagi pada galau.


Next up seperti biasa, jam 5 sore ya guys.


Terima kasih atas vote dukungan, tap like dan komentarnya ...


Sampai babai beneran.

__ADS_1


Bhubay.


__ADS_2