Bukan Salahku

Bukan Salahku
Lepaskan Aku


__ADS_3

Tidakkah kamu mengerti, kenapa kita begini


Seharusnya kamu tahu, kenapa kita seperti ini.


Kamu bilang kita? Dari mana kita, jika kita bahkan belum memulai.


Kamu bilang kita? Bagaimana bisa menjadi kita, jika bahkan kita tidak pernah bersama.


Aku mohon jangan seperti ini, aku, dia adalah wanita, jangan permainankan atau kamu sendiri yang akan aku permainkan.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


"Bisakah kamu tidak mengangguku, bisakah kamu lupakan aku?"


Deg!


"Apa?"


Arlan memandang asistennya tidak percaya, saat kata laknat itu terucap dengan mudah.


Bagaimana bisa Evelyn mengatakan itu, saat dia lah penyebab dari perubahannya?


Bagaimana dengan mudah Evelyn menyerah, jika ia saja masih berusaha?


Tidak ...


Ini tidak bisa dibiarkan


"Tidak bisa Lyn, aku tidak bisa!" seru Arlan menolak kenyataan.


Ia menatap asistennya tidak percaya, saat sang asisten justru menatapnya kecewa.


"Bukankah kita sudah saling menerima? Bukankah kita sudah saling terbuka dan mengenal satu sama lain?"


Untunglah mereka saat ini sedang ada di basement sepi, sehingga mereka tidak perlu khawatir jika keadaan di dalam mobil terlihat oleh orang lain.


Kebetulan, mereka baru selesai dengan meeting yang berada di lantai atas.


"Ibu bahka-


"Jangan bawa-bawa ibuku, Arlan."


Dengan cepat Evelyn menyela perkataan Presdirnya, telinganya sensitif saat sang ibu di bawa serta dalam pembicaraan mereka.


"Tapi beliau sud-


"Ini salahku, terlalu percaya padamu tanpa melihat ke belakang, tanpa melihat keadaan dan status kamu lebih dulu."


Lagi-lagi Evelyn menyela ucapan sang Presdir, yang melihatnya dengan pandangan sulit di artikan.


"Arlan dari awal tidak ada kata kita, bagaimana kamu bisa berkata kita, bahkan aku dan kamu tidak pernah punya ikatan untuk menjadi kita."


Evelyn menatap Arlan serius, dengan hati menjerit, menguatkan diri untuk terus bersikap seperti batu.


"Tapi-


"Arlan, kamu tahu cinta itu tidak bisa di paksakan, cinta tidak harus memiliki, juga tidak saling menyakiti."


Evelyn menjeda kalimatnya, memantapkan hati saat ia melihat kedua bola mata Arlan lembut, sehingga Arlan yang melihatnya merasa senang, namun juga khawatir disaat bersamaan.


Tatapan lembut dari Evelyn, membuat hatinya lagi-lagi jatuh cinta.


Tapi, saat melihat rasa sakit di dalam binar mata wanita yang di cintainya, seketika ia sadar jika selama ini, cintanya merubah dirinya menjadi Arlan yang satunya.


Arlan yang egois dan Arlan yang selalu ingin menang, tanpa melihat apa yang terjadi karenanya.


"Arlan, jika kamu bisa membuka hati untukku, lalu kenapa tidak bisa untuk tunanganmu? Bukankah aku dan dia sama-sama wanita?" tanya Evelyn.


Evelyn merasa percuma jika ia hanya mendiamkan, tanpa memberikan pengertian lebih untuk laki-laki egois di depannya.


Perkataannya dua minggu lalu, sepertinya hanya sampai di telinga, namun tidak di hati sang Presdir.


Terbukti, dengan sang Presdir yang masih saja melihat ke arahnya.


"Tidak! Kamu dan dia berbeda, Lyn."

__ADS_1


Evelyn menghela napas, saat mendengar gumaman keras kepala dari Arlan, yang saat ini menatapnya dalam.


"Kalian berbeda, senyum kalian berbeda, hati kalian berbeda, semua yang ada pada diri kalian berbeda. Itu yang membuat aku tidak bisa menerima dia, Lyn."


Arlan menyebutkan satu per satu apa yang menjadi alasan, kenapa ia sampai saat ini enggan menerima kehadiran tunangannya.


Evelyn salah menilanya, jika ia akan dengan mudah menerima Tania, hanya karena mereka sama-sama wanita.


Apakah karena sama-sama wanita, maka hati dan segalanya akan sama?


"Kamu adalah kamu, dia adalah dia. Kalian tidak sama," ujar Arlan menatap Evelyn tetap pada pendiriannya.


"Ya Tuhan, kenapa keras kepala sekali," batin Evelyn lelah.


Ini sudah terlalu jauh, obrolan mereka sudah lebih dari sebatas pekerjaan.


Seharusnya ia berhenti sekarang juga, tapi hatinya belum bisa, jika Riki saja bisa sampai menemukan titik terangnya.


Lalu ... Kenapa sang Presdir juga tidak.


Ia berharap saat ia mengajukan pertanyaan ini, sang Presdir akan lebih mengerti siapa dia di mata dan hatinya.


Cukup lama mereka berdiam saat keduanya hanya saling tatap.


Di sisi Arlan ia mengharapkan sedikit harapan dari Evelyn, sedangkan Evelyn sedang memantapkan hati.


Huft!


Arlan melihat bagaimana sang asisten menghela napas, dengan helaan napas yang terdengar lelah di telinganya.


"Arlan," panggil Evelyn.


Ia mengalihkan pandangan tidak lagi menatap sang Presdir, lebih memilih menatap keluar, tepatnya jejeran mobil di luar sana.


"Ya?" sahut Arlan masih melihat asistennya.


Sedetik pun ia tidak mengalihkan pandangannya, seakan jika ia mengalihkan sedetik saja, maka Evelyn akan hilang dari pandangannya.


"Kamu benar-benar mencintaiku?"


"Aku tahu dengan pasti," batin Evelyn sudah menebak.


Arlan membalas dengan cepat saat sang asisten bertanya, tentang perasaan dengan nada semangat.


Apakah Evelyn tidak tahu, jika pertanyaan itu adalah pertanyaan aneh sedunia.


Kenapa?


Karena tanpa di tanya pun dunia sudah tahu, jika hanya Evelyn lah yang ia cintai saat ini.


Setelahnya Evelyn pun menghadap ke arah sang Presdir, menatap dengan raut wajah tidak terbaca dan juga nada tidak biasa.


"Kalau begitu kamu pilih, aku ada di samping kamu, tapi hati aku mati atau aku ada jauh darimu, tapi hati aku bahagia? Pilih yang mana, Arlan?"


Deg!


Seketika jantung Arlan berdetak dengan kencang, saat mendapatkan pilihan yang tadi ada di dalam pikirannya.


Padahal ia berpikir, jika Evelyn bertanya karena ia akan di berikan harapan dan kesempatan, tapi apa ini, kenapa pilihan seperti ini.


Dan baru saja ia memikirkan ini di ruangannya tadi pagi, memikirkan untuk membuat Evelyn tatap tinggal di sisinya sekalipun dirinya di benci.


Lalu sekarang .... Ia mendengar sendiri, pilihan dari asistennya dengan nada suara datar dan raut wajah tidak terbaca.


"Ak-


"Pilih Arlan, dengan begitu aku tahu, satu kenyataan lagi dari kamu."


Evelyn dengan nada tidak terbantahkan, menatap Arlan semakin dalam.


Ia ingin tahu, apa yang akan di pilih Presdirnya.


"Ak-aku ingin kamu ada di samping aku, tapi bukan dengan hati mati melainkan keadaan hati bahagia," balas Arlan dengan keinginan indahnya.


"Jawaban kamu tidak ada di pilihan Arlan, aku sudah menebaknya," gumam Evelyn dengan kepala menggeleng pelan.

__ADS_1


"Apa maksudnya, Lyn?" tanya Arlan tidak mengerti.


Bukankah seperti itu, ia hanya ingin bahagia bersama wanita yang di cintainya, kenapa harus susah seperti ini.


"Arlan kamu mencintaiku?" tanya Evelyn sekali lagi.


"Iya Lyn, iya aku mencintaimu!" seru Arlan menjawab dengan cepat.


"Hingga rasanya ingin mati," lanjutnya bergumam lirih.


"Tapi aku tidak mencintaimu."


"Bohong!"


Arlan lagi-lagi menjawab dengan cepat ucapan Evelyn, yang sungguh membuatnya hancur untuk kedua kalinya.


"Tapi aku, hanya menganggapmu sebagai atasanku."


"Tidak!"


"Tapi aku tidak menginginkan kamu di hidupku."


"Hentikan!"


"Tapi aku sungguh tidak punya perasaan kepa-


Grep!


Deg!


Evelyn tersentak kaget, saat mendapatkan pelukan erat dari Presdirnya.


Tubuhnya mendadak kaku, dengan mata melotot kaget serta hati sakit, saat mendengar gumaman lirih dari sang Presdir yang memeluknya erat.


"Cukup-cukup-cukup, hentikan-hentikan, jangan katakan itu lagi, Lyn. Aku mohon."


"Ar-


"Jangan Lyn, aku mohon. Jangan siksa aku seperti ini, Lyn."


"Arlan," batin Evelyn sedih.


Ia sedih saat mendengar nada memohon dari laki-laki, yang biasa mempermainkan hati wanita.


"Sekali ini, biarkan aku egois," batin Evelyn sebelum membawa tangannya mengusap lembut rambut sang Presdir.


Ada perasaan senang saat mendapat usapan sayang dari asistennya, tapi itu tidak lama saat Evelyn mengatakan kalimat yang membuatnya menyerah seketika.


"Lepaskan aku, aku mohon," bisik Evelyn lirih.


Deg!


"Sepertinya ini kah, akhirnya," batin Arlan sedih.


Ia pun menghela napas sebelum menjawab permintaan Evelyn, lalu melepas pelukan yang jika tidak segera ia lepas, akan membuatnya gila saat ini juga.


"Baiklah Lyn, aku akan melepaskanmu."


Jawaban serak dari Arlan, membuat Evelyn senang namun sedih di saat bersamaan.


Ia baru saja akan bilang terima kasih, tapi sayang harus ia telan kembali, saat sang Presdir melanjutkan kalimatnya, yang membuatnya penasaran dan bimbang seketika.


"Aku akan menerima ini, tapi aku minta satu hal, Lyn."


"Apa?"


"Jangan anggap aku tidak ada, aku mohon."


"Aku."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya .....

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2