
Pernah dengar kalimat ini.
Lets play the game.
Kalau pernah dengar, selamat, artinya kalian tahu jika saatnya permainan dimulai.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Rumah Sakit Kota B
Ruangan tempat Evelyn dirawat sunyi, setelah keduanya saling memanggil nama masing-masing, serta mata saling memandang dengan hati berbeda.
Arlan yang menunggu reaksi dari asistennya terdiam, melihat ke arah Evelyn yang balik menatapnya dengan pandangan mata yang sulit diartikan olehnya.
Entah mengapa tatapan dari Evelyn, bukan seperti Evelynnya yang dulu, yang memandang dengan binar ceria untuknya.
Sebenarnya ada apa.
Itu adalah kalimat yang saat ini menghantuinya, kalimat yang berputar-putar sejak beberapa saat keterdiaman mereka.
Sedangkan disisi Evelyn, yang masih menatap sang Presdir dengan pandangan mata aneh, masih menunggu saat yang pas untuk ia memulai percakapannya.
Arlan berdehem guna mengambil perhatian asistennya, sehingga sang asisten pun berkedip dan menatapnya dengan masih memandangnya tidak biasa.
"Lyn, apakah ada sakit yang kamu rasa?" tanya Arlan hati-hati, menatap asistennya cemas dengan perasaan takut.
Takut ditolak kehadirannya.
"Sakit? Aku tidak merasakan apa-apa," jawab Evelyn dengan nada biasa.
"Lebih tepatnya mati rasa," lanjut Evelyn dalam hati.
"Apa maksudnya, Lyn. Bagaimana kamu tidak merasa sakit? Dan Kenapa kamu tidak merasakan apa-apa?" tanya Arlan panik, tangannya ikut memegang tangan Evelyn segera untuk diperiksanya, menuai delikan mata Evelyn yang langsung disadari olehnya.
"Ah! Maaf, aku sungguh khawatir denganmu," gumam Arlan menyesal, apalagi saat melihat ekspresi tidak suka dari wajah Evelyn.
Evelyn melunakkan sedikit ekspresi wajahnya, menjadi sedikit sayu, lalu memandang Arlan dengan wajah tidak berdaya.
"Tidak, kamu tidak salah Arlan. Tidak seharusnya kamu meminta maaf," gumam Evelyn lirih, menyembunyikan ekspresi wajahnya diantara untaian surai hitamnya.
"Tidak, Lyn. Aku yang salah, seharusnya aku lebih peka dengan kamu. Seharusnya aku tahu kamu ditindas di kantorku sendiri," terka Arlan segera, membuat Evelyn kaget karena akhirnya Presdirnya tahu juga hal yang ia tutup-tutupi.
"Kebetulan, aku tidak perlu mencari cara untuk yang satu ini."
Evelyn senang saat rencana kesekiannya, ternyata lebih dulu terwujud.
Ia pikir, teman sekantornya bisa belakang, tapi ternyata lebih cepat dari dugaannya.
"Atau ini juga, yang membuat mereka takut kepadaku," batin Evelyn menduga.
Jika pun seperti itu, ia justru senang. Karena dengan begitu, ia tidak perlu membuat mereka lebih kaget akan perubahannya nanti.
"Tidak apa-apa Arlan, ini salahku, bukan salahmu. Seharusnya aku sadar, akan siapa aku dan kamu. Sehingga aku tidak perlu merasakan itu," ucap Evelyn lirih.
Hati Arlan sedih saat mendengar ucapan Evelyn, yang sepertinya tulus dalam hati.
Kenyataannya seperti itu, karena sesungguhnya jika ini bukan untuk kelangsungan rencananya, Evelyn enggan memberitahukan isi hatinya dulu.
__ADS_1
"Tidak Lyn, kamu salah. Bukan kamu yang jatuh cinta, tapi aku yang lebih dulu jatuh cinta denganmu, seharusnya aku yang lebih tegas kepada semuanya, memberitahu semuanya jika kamu tidak salah dengan perasaanmu. Seharusnya mereka menghina aku," cecar Arlan dengan menggebu.
Ia seharusnya tidak menyembunyikan fakta, jika bukan sang asisten lah yang mendekatinya, tetapi ia sendiri yang memaksa kehendaknya, pada Evelyn yang dengan tegas selalu menolaknya.
"Baiklah Ar, jangan perpanjangan masalah ini. Toh, masalah ini juga sudah lama terlewati," ucap Evelyn bijak, menunggu lagi apa yang akan Arlan katakan.
"Lyn, tolong jangan benci aku, aku mohon," gumam Arlan lirih, sedih saat Evelyn mengingatkan lagi jika hubungan keduanya tidak akan pernah bisa bersama.
"Siapa yang membencimu, Ar?" tanya Evelyn pura-pura kaget.
"*Justru a*ku sangat butuh kamu," lanjutnya dalam hati.
Arlan tentu saja senang, saat Evelyn bertanya siapa yang membenci siapa.
Hatinya sedikit berharap jika Evelyn ternyata masih memiliki rasa dengannya.
"Kamu, aku kira kamu membenciku," tandas Arlan cepat, menatap asistennya dengan binar berharap.
"Aku mencintaimu, tapi untuk saat ini dendamku lebih penting."
Evelyn menggelengkan kepala menyangkal pernyataan Arlan, membuat Arlan semakin memiliki harapan yang membuncah.
"Tidak Ar, aku tidak membencimu. Bagaimana aku bisa membencimu, jika aku sangat butuh kamu untuk sandaranku," gumam Evelyn lirih, menatap Arlan dengan mata sayu.
"Bersandar padaku Lyn, aku akan berusaha untuk menjadi sandaran paling nyaman untukmu," sahut Arlan semangat, membalas dengan cepat apa yang digumamkan asistennya.
Hatinya senang bukan kepalang saat ia mendengar sendiri, bagaimana asistennya membutuhkannya untuk menjadi sandarannya.
Kali ini Arlan memberanikan diri memegang tangan Evelyn, meremasnya pelan yang dibalas dengan remasan erat pula dengan Evelyn.
Ia melihat ke arah asistennya dengan mata terkejut, apalagi saat Evelyn menatapnya dengan senyum manis, senyum yang sudah lama sekali tidak ia nikmati.
"Lyn, kamu senyum untukku?" tanya Arlan kaget dan senang disaat bersamaan.
Jantungnya berdetak dengan kencang, saat Evelyn mengangguk dan membawa telapak tangannya untuk diusapkan dipipi sang asisten.
"Tentu, karena aku ingin bersandar denganmu. Aku ingin berlindung dibawah perlindunganmu, aku ingin selalu denganmu," balas Evelyn lembut.
Arlan menarik tangannya, menatap Evelyn tidak percaya meski di hati senang luar biasa.
"Tapi, tapi bukannya kamu, yang ingin aku menikah dengan wanita itu? Lalu bagaimana aku dan kamu bisa selalu bersama?" tanya Arlan bertubi-tubi.
Ia takut Evelyn sedang bercanda dengannya, ia tidak ingin semua ini hanya lah angan-angan semunya semata.
"Sepertinya aku terlalu terburu-buru," batin Evelyn sambil mencari solusi.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Evelyn menatap mata Arlan serius.
Ini adalah cara ampuh, karena ia tahu jika Arlan akan menjawab satu kata pasti.
"Tidak."
Benarkan, jadi ia tidak perlu bersusah payah.
"Kalau begitu apa yang salah?" gumam Evelyn lirih dengan nada sedihnya, membuat Arlan segera mengusap kepalanya sayang.
"Tidak ada yang salah. Kalau begitu, bagaimana kalau aku membatalkan pertunangan itu?" tanya Arlan dengan nada kelewat senang.
__ADS_1
"Akan sangat kacau, jika Arlan memutuskan pertunangan itu untuk saat ini," batin Evelyne gelisah.
"Arlan, bukan berarti aku ingin menjadi milikmu, saat aku bilang ingin bersandar denganmu," tutur Evelyn lembut, mengusap sisi wajah Presdirnya pelan, sehingga membuat Arlan yang merasakan usapan lembut itu, senang bagai terbang ke awan.
"Jadi apa maksud kamu, Lyn?" tanya Arlan tidak mengerti.
"Aku akan menjadi milikmu dalam bayangan, menemanimu dari belakang, ada disaat kamu butuh perhatian," balas Evelyn lembut, dengan nada manis serta tatapan mata, yang mampu membuat Arlan terhipnotis karenanya.
"Kamu mau jadi yang kedua, dikehidupanku?" tanya Arlan tidak percaya.
"Bukan yang kedua," ralat Evelyn cepat, membuat Arlan menatap Evelyn tidak mengerti.
"Maksudnya apa Lyn, bagaimana bisa tidak disebut kedua, jika aku masih memiliki tunangan?" tanya Arlan bingung.
"Apa kamu menganggapku yang kedua?" tuduh Evelyn cepat, menatap Arlan kecewa sehingga Arlan menggelengkan kepalanya cepat, menampik tuduhan tidak benar dari asistennya.
"Tentu saja tidak, aku sama sekali tidak menganggapnya ada dan aku sangat mencintaimu."
"Aku tahu dengan pasti," batin Evelyn dengan senyum yang disembunyikan, meskipun hati sedikit bergetar haru.
"Kalau begitu, kabulkan keinginan aku, atau aku lebih baik menghilang dari pandanganmu, Arlan."
Nada tegas yang dikeluarkan asistennya, membuat Arlan menggelengkan kepala cepat, menolak perkataan Evelyn, yang sungguh membuatnya sakit jantung seketika.
Ia lebih rela, jika ia yang dijadikan budak cinta oleh Evelyn, daripada tidak bisa melihat dan merasakan lagi sentuhan dari Evelyn.
Wanita yang membuatnya lagi-lagi menjadi seperti pria dungu, hanya karena ancaman yang sesungguhnya tidak ada sangkut paut dengannya.
"Baiklah Lyn. Jika itu dapat membuat aku memilikimu seutuhnya, meskipun dalam bayangan, aku akan menerimanya."
Arlan menatap sayang asistennya, yang balas menatap dengan senyum manis serta mata berkaca-kaca, menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa, tatapan yang sungguh tidak ia mengerti apa dan kenapa.
"Maafkan aku, bukan salahku jika aku melakukan ini, aku hanya ingin mendapatkan kamu nanti diakhir kisah, juga membuat dia merasakan kehilangan, merasakan bagaimana miliknya direbut oleh orang lain."
Evelyn berkali-kali meminta maaf tanpa bersuara, saat ia memulai merubah segala tentangnya.
Karena mereka, yang ingin ia seperti perebut tunangan orang.
Karena dia, yang menuduhnya seakan-akan ia merebut tunangannya.
Juga karena dia, yang merebut ayah dari tangan ibunya.
Maka jangan salahkan ia, jika ia mengabulkan tuduhan mereka semua.
Dimulai dari Arlan yang ada digengamannya, maka ia pastikan jika perlahan, mereka akan menikmati hasil dari perubahannya.
"Lets play the game, guys."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.
Tulis komentar, serta keinginan kalian, jika semuanya mau crazy up dari Author.
__ADS_1