Bukan Salahku

Bukan Salahku
Sahabat


__ADS_3

Jika tawa dan bahagiamu adalah dengan aku yang seperti ini, maka aku akan menerimanya dengan ikhlas.


Tapi yang harus kamu tahu, selamanya aku akan selalu mencintaimu.


Menunggumu kembali kepelukanku.


Menunggu kamu bersandar kepadaku.


Dan selalu membuka tangan, saat kamu butuh pelukanku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost-an Evelyn


Di depan gerbang kost yang di sewa Evelyn, berdiri Evelyn dan Riki, yang hari ini mengantar Evelyn pulang.


Keduanya terdiam, setelah Riki mendengar perkataan singkat, namun cukup membuatnya gerah seketika, dari mulut Evelyn sendiri.


Tepat beberapa menit yang lalu, sahabat perempuannya bilang jika sepupunya, sudah melepas sahabatnya dengan syarat sederhana bagi sepupunya, namun sulit untuk sahabatnya yang menerimanya.


Flasback on


"Aku akan menerima ini, tapi aku minta satu hal, Lyn."


"Apa?"


"Jangan anggap aku tidak ada, aku mohon."


"Aku."


"Setidaknya, jadikan aku sahabatmu juga Lyn, dengan begitu aku tidak akan merasa kamu membenciku."


"Aku mohon."


"Baiklah, Arlan."


Flasback end


"Jadi, Arlan meminta kamu, untuk menjadikannya sahabatmu juga, Begitu?" tanya Riki memastikan, setelah lama keduanya saling diam.


Di sisi Evelyn ia takut sahabat sekaligus kakaknya marah, karena ia lagi-lagi mengingkari janji.


Sedangkan di sisi Riki sendiri, ia merasa jika Arlan sepertinya sangat mencintai adiknya, sehingga sepupunya kehilangan kepercayaan diri.


Yang ia tahu sepupunya bukan orang yang mudah menerima, jika itu bukan di hadapan tantenya yang telah berpulang.


Ia kira setelah tante dan juga kekasih yang dua-duanya di surga, tidak akan ada orang lagi, yang dapat membuat hati sepupunya luluh.


Ia tidak menyangka Evelyn atau juga sahabatnya, mampu membuat dunia seorang cassanova bernama Arlan Cahya Widiyo, bertekuk lutut dan juga luluh.


"Iya .... Arlan bilang, jika ia akan menjamin ketenangan aku, jika aku bersikap biasa dan menganggapnya ada seperti dulu."


Riki menghela napas saat mendengar penjelasan, dari Evelyn yang saat ini hanya mampu menundukkan kepala.


Sepertinya Evelyn takut, jika ia akan marah dan kecewa, saat lagi-lagi sahabatnya ketahuan masih berurusan dengan sepupunya.


Riki menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menerima kenyataan, jika perempuan di depannya adalah benar, titisan dewi dengan segala macam kebaikannya.

__ADS_1


"Biaklah Lyn," ujar Riki, membuat Evelyn mengangkat kepalanya tiba-tiba, tidak menyangka dengan perkataan sang kakak.


"Eh!"


Riki mendengus saat mendengar dan melihat ekspresi bengong dari sahabatnya, yang terlihat lucu di penglihatannya.


"Malah, eh," dengus Riki, menepuk kepala adiknya gemas.


"Maksud kamu, apa Rik?" tanya Evelyn penasaran.


Sekali lagi Riki menghela napas, untuk kemudian tersenyum kecil saat melihat Evelyn, yang memandangnya dengan tatapan menunggu.


"Maksud aku, kamu boleh bersahabat dengan Arlan. Mungkin dengan begitu, dia akan sadar dan cepat menerima kenyataan. Evelyn cantik," ujar Riki menjelaskan dengan sabar.


"Benarkah, aku bisa bersahabat dengannya. Sama seperti aku bersahabat denganmu?" tanya Evelyn dengan nada senang.


Riki yang melihatnya tentu saja terkekeh, sepertinya ia tahu kenapa ia sangat mencintai adiknya, yang saat ini menatapnya dengan mata bersinar cerah.


Yang di butuhkan Evelyn adalah sandaran, yang mendukung dan ada setiap saat.


Ibu Mirna adalah sandaran nyaman untuk Evelyn.


Ia juga salah satunya.


Dan sepertinya kalau menambahkan sepupunya, ia juga tidak akan keberatan, jika itu membuat adiknya bahagia seperti ini.


"Iya ... Jika benar dia sungguh-sungguh hanya ingin jadi sahabat kamu, aku tidak akan melarangnya. Karena apa, karena aku yakin, kamu bisa menilai sekitarmu dengan bijak."


Evelyn segera menghambur memeluk Riki, yang balas memeluk Evelyn erat.


Di dalam pelukan Riki, Evelyn tersenyum lebar dan mengucapkan terima kasih berulang, membuat Riki tertawa, dengan tingkah sang sahabat yang merangkap sebagai adiknya.


"Tidak ada terima kasih, bukan kah kita sudah sepakat, tidak ada kata terima kasih, diantara kita?" balas Riki tulus.


Evelyn mengangguk mengerti, saat Riki berbisik lirih di telinganya.


"Em, tentu saja. Kakak," gumam Evelyn mengurai pelukannya.


"Baiklah .... Kalau begitu aku pulang, kamu istirahat. Oke!" seru Riki tersenyum hangat.


"Oke!"


"Salam buat ibu, aku tidak bisa mampir. Banyak pekerjaan," ujar Riki dengan nada tidak enak.


"Em, akan aku sampaikan."


Evelyn mengangguk dan mengayunkan tangannya, saat Riki masuk dan tancap gas meninggalkannya.


"Hati-hati, Riki!"


Ia pun membalikkan tubuhnya, berjalan menuju gerbang, menaiki tangga dan membuka pintu kamar dengan semangat.


"Assalamualaikum, ibu!"


"Waalaikum salam, sudah pulang sayang?"


"Sudah, Bu."

__ADS_1


Skip


Keesokan harinya


Evelyn menjalani hari dengan santai, saat sang Presdir menepati janjinya, untuk menerima keadaan dimana ia, hanya menganggap sang Presdir sebagai sahabat dan tidak lebih.


Arlan pun sedang belajar, menerima jika kedepannya hanya akan status ini untuk mereka.


Meskipun di hati masih ada perasaan tidak terima, Arlan tetap berusaha memenuhi janjinya, untuk tidak menatap asistennya dengan tatapan seperti dulu.


Dan tidak terasa pula, hari dimana mereka menjadi sahabat sudah berjalan hampir setengah bulan lamanya.


Masalah tunangannya, ia juga tidak menerima atau pun menolaknya.


Ia memasang wajah seperti biasa, dingin dan tidak tersentuh, saat tunangannya mengajak ia makan atau juga berkencan layaknya pasangan pada umumnya.


Padahal Evelyn selalu menasehatinya, untuk berusaha menerima Tania sebagai tunangannya.


Tapi ia sekali lagi menegaskan, jika ia akan berlaku dengan apa adanya, dengan apa yang di rasakannya, terhadap wanita bernama Tania yang adalah tunangannya.


Ia tidak perduli, mau di cap berengs*k atau pun bajing*n, sekali lagi ia tidak perduli.


"Oh ... Ayolah Arlan, kalian sudah bertunangan lama, masa masih juga belum memiliki perasaan terhadapnya?" ledek Evelyn saat keduanya sedang duduk bersama, membahas kembali masalah proyek, setelah klien yang bersangkutan pulang.


Saat ini mereka ada di restoran, duduk di ruang Vip, dengan meja makan terisi minuman yang sudah hampir habis isinya.


"Bukannya kamu sendiri yang bilang, jika cinta itu tidak bisa dipaksakan?" balas Arlan telak, membuat Evelyn mendengus dengan bibir mengerucut lucu.


"Pintar sekali mengcopy omongan orang," dengus Evelyn sewot.


Arlan tergelak, saat melihat asistennya sebal dengan jawaban atas pernyataan sang asisten.


Ia hanya mengikuti, lalu apa yang salah.


"Tidak bisa membalas, payah!" seru Arlan meledek Evelyn, yang balas mendelik ganas ke arahnya.


"Ble-ble-ble!"


Evelyn hanya meledek Arlan, dengan gerutuan dan bibir mencebil lucu.


Dan pemandangan itu segera direkam kedalam otak besar Arlan, sebagai penikmat segala macam ekspresi lucu milik asistennya, asisten yang masih dicintainya.


"Setidaknya aku masih bisa melihat senyummu," batin Arlan dengan ekspresi senang.


"Kenapa senyum-senyum?" sembur Evelyn membuat Arlan lagi-lagi tergelak.


"Duh ... Asisten siapa sih, galak banget," ledek Arlan, menuai pelototan dari Evelyn.


Kemudian keduanya pulang bersama, dengan Evelyn yang meminta Riki untuk menjemputnya.


Mereka menunggu di depan halaman restoran, bercanda bersama tanpa tahu jika keakraban keduanya, dipandang dan disalah artikan oleh seseorang, yang menatap keduanya curiga.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2