Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kasihan


__ADS_3

Lihat dirimu saat ini ...


Seperti pengemis saat cintamu tak terbalas.


Lihat dirimu saat ini ...


Belum kah kau sadar akan kelakuanmu sendiri, saat seharusnya kamu merasa bersalah akan segalanya.


Lihat ini, lihat apa yang akan aku lakukan, aku akan buat kamu lebih memilih pergi, dari pada melihat tindakan nekatku selanjutnya.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kondominium Arlan


Setelah kepergian Evelyn yang berkata ingin membuka pintu untuk tamu, Arlan melanjutkan acara makan malamnya, makanan khas Italy ini salah satu makanan kesukaannya, selain sop makaroni dan buah jeruk.


Cukup lama Arlan menunggu kekasihnya kembali, namun tidak kunjung kembali dan itu membuatnya mengernyit, penasaran akan apa yang sedang dilakukan kekasihnya di depan pintu siapa.


"Dan siapa pula yang bertamu, aku rasa selain orang dekat, tidak ada yang tahu lagi hunianku saat ini," gumam Arlan penasaran.


Ia pun mengelap sudut bibirnya dengan tissue, lalu bangkit berdiri berjalan menuju pintu, dengan memanggil nama kekasihnya.


"Evelyn!" panggil Arlan, namun tidak kunjung mendapatkan sahutan, hingga ia tiba di ruang tengah, tepatnya ruang dengan menghadap arah pintu.


"Tania apa maksud kamu menampar aku, aku hanya membukakan pin-


Seketika rasa marahnya naik hingga batas kesabaran, saat melihat kekasihnya memegang tangan seorang wanita, yang melihatnya dengan ekspresi kaget.


"Tania! Sialan, apa yang kamu lakukan!"


Arlan berteriak murka, apalagi saat melihat pipi putih kekasihnya berhiaskan merah dengan cap tangan, pipi yang saharusnya hanya boleh berhiaskan merah rona malu karenanya.


"Arlan aku-


"Pergi kamu dari sini! Pergi sekarang juga!" sela Arlan cepat, saat Tania hendak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Arlan kamu usir aku demi wanita ini?"


Seketika Tania ikut tersalut emosi, saat tunangannya lebih memilih seorang asisten, dibandingkan dengan dirinya, yang notabennya__tunangannya.


"Cukup Tania, pergi sebelum aku panggil petugas keamanan!" seru Arlan tidak perduli, apalagi saat melihat ekspresi tidak percaya, yang tergambar jelas di penglihatannya.


"Arlan, aku ini tunangan kamu. Kenapa kamu seperti ini kepada aku!" teriak Tania kecewa, namun sayang Arlan tidak mempedulikan.


Arlan justru menghampiri kekasihnya, yang saat ini hanya bisa diam dengan tangan memegang pipi.


Evelyn melihatnya dalam diam, meski tangannya memegang pipinya yang berdenyut nyeri. Lalu mengubah raut wajahnya, menjadi pasrah dengan mata berkaca-kaca, murni karena sakit akibat tamparan Tania yang tidak main-main.


Tap!


Sesampainya Arlan dihadapan sang kekasih, Arlan segera membingkai lembut kedua sisi wajah Evelyn, mengusapnya perlahan seperti sebuah kaca tipis, takut jika Evelyn akan hancur jika ia kasar sedikit saja.


"Kamu tidak apa-apa, Schatz?" tanya Arlan khawatir, menatap Evelyn menyesal.


Ia kecolong di tempatnya sendiri, saat ada pengacau datang, membuat serta menyakiti kekasihnya.


Evelyn menggelengkan kepala, menjawab pertanyaan khawatir kekasihnya dengan mata sayu. Kemudian meringis saat mencoba membalas pertanyaan Arlan, dan itu membuat Arlan semakin khawatir sekaligus panik.

__ADS_1


"Aww," desis Evelyn pelan.


"Kita ke rumah sakit," ajak Arlan panik, namun Evelyn menggeleng, menolak dengan senyuman menenangkan.


"Tidak Ar, aku baik-baik saja," sahut Evelyn cepat.


"Tap-


"Arlan! Kenapa wanita itu yang kamu perhatikan! Aku ini yang tunangan kamu!" jerit Tania kesal, kakinya menghentak kesal, menatap Evelyn dan tunangannya dengan murka.


Evelyn dan Arlan sama-sama menoleh, namun dengan ekspresi berbeda yang ditunjukkan untuk Tania.


"Kenapa kamu belum pergi!" hardik Arlan, balik menatap Tania murka. Sedangkan Evelyn menatap Tania dengan sorot mata seakan bilang kasihan kepada Tania.


Tania tidak begitu saja mengalah, ia justru membalas dengan Evelyn sebagai pelampiasannya, saat matanya melihat tatapan mencemooh dari Evelyn.


"Karena aku tunangan kamu, aku berhak di sini. Tidak seperti wanita di hadapan kamu saat ini, siapa dia? Dia hanya seorang j*lang tidak tahu diri, dia ini si perebut tunangan orang kan. Iya kan."


Perkataan tanpa filter itu keluar mulus dari mulut wanita terhormat, dari Nyonya muda keluarga Brata. Membuat Evelyn tersenyum penuh kemenangan, saat bisa melihat kekasihnya yang mengepalkan tangannya emosi.


"Jangan pernah kamu menghina Evelyn, bahkan seribu wanita seperti kamu, tidak akan mampu menggantikan seorang Evelyn di hati aku. Apa ini jelas?" ujar Arlan menahan emosinya, sebisa mungkin untuk tidak menampar wajah tunangannya saat ini juga.


"Apa maksud kamu Arlan, kita adalah tunangan, sedangkan dia bukan siapa-siapa. Bagaimana bisa kamu bilang seperti itu, dia itu tidak lebih dari seorang asis-


"Evelyn kekasih aku! Evelyn adalah calon istri aku! Sudahkah ini cukup untuk membuat kamu sadar, jika kamu selamanya tidak akan mendapatkan hati ini."


Ekspresi syok adalah yang di lihat Evelyn dari Tania, saat Arlan dengan gamblang menyatakan hubungan mereka.


"Tidak mungkin!" seru Tania tidak percaya, menggelengkan kepala menolak kenyataan.


"Apa yang tidak mungkin?" tanya Arlan dengan nada tenang, masih menatap Tania murka.


"Jangan sebut nama Mamaku dengan mulut kotormu itu, Tania."


Arlan mendesis marah dan tidak terima, saat nama mendiang Mamanya disebut, tanpa malu dengan tambahan Mama.


"Sejak kapan, Mamaku jadi Mamanya," batin Arlan berdecih sebal.


"Tentu saja sejak pertunangan kita," balas Tania cepat, menatap Evelyn yang hanya menatap dengan alis terangkat elegan, sama sekali tidak terpengaruh saat Tania menyebut nama Wulan, yang ia ketahui ibu dari Arlan dengan begitu akrabnya.


"Baru tunangan, Evelyn bahkan akan menjadi Nyonya Widiyo. Aku jamin itu," timpal Arlan dengan nada tenang, menjelaskan dengan blak-blakan tanpa ada yang ditutupi.


"Tidak, ini tidak bisa. Dengar Arlan aku sudah bilang kepada Papa, untuk segera mempersiapkan pesta pernikahan kita."


Dengan telunjuk teracung Arlan mengusir Tania tanpa hormat, bahkan Arlan tidak segan menatap Tania dengan mata tajamnya.


"Menyerahlah Tania, aku tidak ditakdirkan untuk kamu. Pergi dari sini, sebelum aku khilaf dan menyeret kamu paksa, dengan kedua tangan aku sendiri," ucap Arlan dengan nada rendah, serius akan ucapannya, meskipun harus menjadi seperti laki-laki tidak punya hati.


Meskipun di hatinya Tania sakit luar biasa, nyatanya rasa arogannya tidak luntur sama sekali, justru ia dengan berani terus menantang Arlan. Ia adalah Nyonya dari keluarga tersohor, bagaimana ceritanya ia bisa kalah dengan rakyat jelata, anak dari Papa sambungnya yang sudah berjanji tidak akan mengganggu hubungan ia dan Arlan.


Untuk saat ini Tania mencoba untuk tenang, saat ia rasa percuma membuang tenaga dengan marah-marah tidak jelas.


"Arlan, aku tidak akan menyerah. Apapun akan aku lakukan, jika itu bisa membuat kamu ada di dalam genggaman tangan aku. Ingat ini, aku Tania Pratama Brata, tidak akan mudah menyerah dengan kamu. Terlebih kalah dari wanita rendahan macam dia," timpal Tania dengan janjinya, mendesis dan mendelik saat melihat Evelyn, membuat Evelyn merapat ke sisi Arlan dan menutup wajahnya, bersembunyi dilindungan kekasihnya.


Arlan dengan segera membawa Evelyn kepelukannya, membawa wajah kekasihnya untuk masuk kedalam dadanya. Ia balik menatap Tania semakin sengit, yang membuat Tania semakin marah.


"Lindungi dia terus Arlan, tapi jangan pikir aku akan menyerah hanya karena melihat kamu memeluknya."

__ADS_1


Dengan begitu Tania pun pergi meninggalkan Kondominium Arlan, berjalan dengan kaki menghentak serta dada naik-turun kesal setengah mati.


"Sialan, liat apa yang akan aku lakukan," desis Tania menatap tajam lift di depannya, yang akhirnya terbuka setelah ia dengan brutal menekan tombol turun.


Ting!


Sedangkan di dalam hunian milik Arlan, Evelyn yang tadi menyaksikan sendiri, bagaimana marahnya wanita l*knat tersebut, tersenyum dengan bahagia.


Ia menyembunyikan senyum penuh kemenangannya, di dalam perlindungan seorang Presdir, kekasih yang benar-benar ia cintai tulus, namun masih belum saatnya untuk menyerahkan diri secara penuh.


"Schatz, geht es dir gut? (Sayang, kamu tidak apa-apa?)" tanya Arlan khawatir.


Ia membawa wajah dari kekasihnya, ke hadapannya, untuk diperiksa dengan teliti disetiap inci-nya.


"Ja, mir geht's gut , (Iya, aku tidak apa-apa)" jawab Evelyn dengan senyum kecil, ia menepuk dada bidang milik Presdir kekasihnya untuk menenangkan.


"Kita kompres luka kamu yah, aku tidak mau wajahmu memiliki bekas merah. Jika itu sampai terjadi, aku janji aku aka-


"Ssstt ... Jangan Arlan, lupakan saja. Aku yang salah, biar bagaimana pun kalian pasangan yang sudah tunangan, sudah seharusnya dia marah."


Evelyn segera menyela ucapan yang akan di katakan oleh Arlan, ia tidak ingin membuat ini terlalu mudah.


Evelyn tahu dengan jelas, Arlan dan ancamananya, hanya akan membuat rencananya kacau. Ia mau, ia sendiri yang menghukum Nyonya muda dari keluarga Brata itu.


Ia ingin memastikan dengan tangannya sendiri, jika Nyonya muda itu akan merasakan berkali lipat dari rasa sakitnya.


Mungkin di mulai dari Arlan yang membuat dia terbang melayang dulu, atau mungkin dengan kesenangan singkat dari kekasihnya dulu.


Arlan menatap sayang Evelyn, yang memiliki hati bak malaikat namun kenyataannya tidak seperti itu.


"Aku mencintaimu, kamu yang terbaik dari yang terbaik. Bagaimana bisa kamu memiliki hati baik seperti ini, seharusnya kamu membalas dendam, bukannya pasrah seperti ini."


Deg!


Ucapan yang keluar dari bibir kekasihnya, membuat jantung Evelyn berdetak kencang, merasa tertohok akan ucapan tulus yang tidak benar adanya.


Nyatanya ia saat ini sedang memanfaatkan laki-laki di hadapannya, laki-laki yang adalah Presdir, kekasih yang tulus mencintainya.


Mata Evelyn bergetar merasa bersalah, saat menatap wajah dengan senyum teduh kekasihnya. Dalam hati ia meminta kepada Tuhan, untuk tetap membuat kekasihnya mencintainya meskipun nanti aib-nya terbongkar.


"Tuhan, aku cinta dia, aku sayang dia. Tapi aku juga membutuhkan dia, aku mohon Tuhan buat dia mencintaiku sampai saatnya dia tahu kebenaran akan keburukanku," batin Evelyn menatap Arlan dengan tatapan bersalah.


"Schatz. Was ist los? (Sayang, ada apa?)" tanya Arlan khawatir saat kekasihnya tidak menyahutinya, malah menatapnya dengan sorot mata yang tidak ia mengerti.


"Es ist nichts, nur das ich dich so sehr liebe. (Tidak, aku hanya, aku sangat mencintaimu.)"


Evelyn menggelengkan kepalanya, kembali menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang kekasihnya.


"Ich liebe dich auch so sehr. (Aku juga sangat mencintaimu)"


"Maafkan aku Arlan, tapi aku memang benar mencintaimu," batin Evelyn menyembunyikan tangis dan perih dalam hati.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...

__ADS_1


Terima kasih kak atas dukungannya.


Sampai babai.


__ADS_2