Bukan Salahku

Bukan Salahku
Terima Kasih ...


__ADS_3

Duniaku yang berwarna sekarang sudah menjadi kelabu, apakah bisa jika aku meminta agar seorang pelukis mewarnainya lagi.


Lalu ... Dimana aku bisa mencari pelukis itu?


Lihat aku .... Bukankah aku sudah bilang, jika kamu butuh, aku akan menjadi apapun itu untukmu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost-an Evelyn


"Kamu!"


Evelyn kaget dengan kedatangan seorang wanita, yang tersenyum didepan pintu kamarnya saat ini.


"Apa kabar, Lyn?" tanyanya sambil tersenyum tulus.


"Raina, kamu tidak bekerja?" tanya Evelyn kaget.


Ya ... Raina, teman di kantornya, yang bekerja sebagai receptionist di perusahaan keluarga Widiyo.


Bagaimana bisa Raina ada disini, sedangkan ini masih jam kantor dan setahu Evelyn mereka hanya libur dihari minggu dan tanggal merah.


"Rai, kamu tidak bekerja?" tanya Evelyn penasaran.


Raina tersenyum lembut, menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Hari ini aku cuti, lalu aku pikir aku belum melihatmu lagi. Terakhir aku melihatmu, di pemakaman," jelas Raina.


"Benarkah? Terima kasih, kamu sudah menyempatkan diri menjengukku," ujar Evelyn sedikit senang.


Ia kira selain Riki dan Arlan, tidak ada lagi segelintir orang yang menghawatirkannya, nyatanya masih ada dan walaupun satu, ia sudah senang sekali.


"Tentu saja, he-he," balas Raina terkekeh kecil.


"Sebenarnya ini juga karena Pak Presdir," batin Raina.


Ya .. Benar sekali, ini adalah permintaan Arlan langsung. Kerena Presdirnya tahu, jika hanya ia seorang yang berteman dengan Evelyn, meskipun ada beberapa yang secara sembunyi kasian dengan Evelyn, tapi hanya ia yang menunjukannya secara langsung.


"Masuk, kita makan bersama. Kamu sudah makan? Kakakku membelikan aku banyak makanan, aku mana habis makan sendiri," ajak Evelyn sedikit semangat.


Ia membuka pintu kamarnya sedikit lebar, mempersilakan teman sekantornya untuk masuk dan mengikutinya dari belakang, setelah ia menutup pintu kamarnya pelan.


Blam!


Evelyn membawa Raina duduk di lantai seperti biasa, dengan dua kantung makan berisi makanan diatas meja.


Ia membuka satu per satu kantung plastik, dengan logo restoran dan mengeluarkan isinya satu per satu juga.


Beberapa kotak makanan lengkap dengan buah dan jus, tersaji di meja kecil tempat biasa ia dan ibunya makan.


Nyut!


Tiba-tiba perasaan itu datang lagi, membuat Evelyn menggelengkan kepalanya, mencoba mengenyahkan sejenak kesedihan itu.


Ia tidak boleh memperlihatkan kesedihannya didepan orang, maupun didepan Raina tanpa terkecuali.


Ia harus terlihat tegar, agar orang-orang yang menghawatirkannya tidak tambah khawatir.


Apalagi sampai mendapatkan tatapan kasian, ia tidak suka itu.


"Kamu kenapa, Lyn?" tanya Raina yang melihat Evelyn, menggelengkan kepalanya seperti merasa terganggu akan sesuatu.


Evelyn tersentak kaget, buru-buru melihat ke arah Raina yang menatapnya khawatir.


Baru saja ia bilang jangan membuat orang khawatir, sudah ada yang khawatir saja.


"Aku? Aku kenapa, Rai?" tanya Evelyn pura-pura tidak mengerti.


Ia tersenyum lebar, menutupi kesedihannya dan menepuk tangan sekali dengan semangat sebagai pengalihan.


Prok!


"Sa na (Baiklah) ... Bagaimana kalau kita makan dulu, nanti bercerita tentang kedatanganmu. Setuju?" usul Evelyn dengan nada pura-pura ceria.


Raina mengangguk setuju, memaklumi sikap pura-pura ceria, yang disajikan oleh asisten pribadi Presdirnya.


Asisten yang sangat dicintai oleh sang Presdir.

__ADS_1


Ia tahu dengan jelas, bagaimana sikap berbeda sang Presdir dengan temannya Evelyn, yang saat ini sedang membuka satu kotak makanan paket lengkap dan mendorong kotak tersebut ke arahnya.


"Ini punya kamu! Kamu suka ayam teriyaki tidak?" tanya Evelyn berharap.


Raina mengangguk dan tersenyum lebar.


"Suka, aku pemakan segalanya dan kamu tahu itu," balas Riana bercanda, membuat Evelyn sedikit terkekeh karena memang benar, jika teman sekantornya ini suka makan apa saja kecuali makanan laut sama sepertinya, maksudnya udang.


"Seperti aku, aku juga kan pemakan segalanya," sahut Evelyn ikut bercanda.


Mereka terkekeh bersama, memulai makan siang telat mereka diselingi sedikit obrolan, tentang masa kuliah mereka dulu.


Meskipun tidak akrab dan bukan satu jurusan, setidaknya mereka pernah satu Dosen dibeberapa mata kuliah.


Evelyn melupakan sejenak rasa sepinya, selain Riki yang datang ke kost-annya, ia tidak menerima orang lainnya.


Terlebih sang Presdir, yang selalu mencoba menghubunginya, namun tidak sekalipun ia mengindahkannya.


Nanti dulu, pikirnya.


Setelah masa dukanya, ia akan bekerja seperti dulu sambil memikirkan cara keluar dari perusahaan tersebut.


"Oh ya Rai," panggil Evelyn disela-sela makannya, menuai gumaman dan pandangan bertanya dari yang dipanggil.


"Hmm?"


"Bagaimana keadaan kantor?" tanya Evelyn tidak mengharapkan apapun.


Ia bukan bertanya tentang, apakah ada yang khawatir tentangnya atau tidak, ia hanya bertanya keadaan dan tidak lebih.


"Normal seperti biasa," balas Raina mengerti.


"Tidak ada lagi Nyonya Brata yang datang," lanjut Riana menatap Evelyn, yang wajahnya berubah seketika.


Raina meletakkan sendok yang dipakainya, lalu meminum minumannya dan mengelap sisa makanan disudut bibirnya.


Ia menghadap ke arah Evelyn, lalu menatap perduli ke arah Evelyn yang juga menatapnya.


"Evelyn aku tahu, kamu mendapatkan perlakuan buruk di kantor. Aku juga minta maaf karena aku tidak membantumu," ujar Raina menyesal.


"Aku tidak ingin kamu semakin disakiti, jika aku membantumu. Aku juga tidak memiliki kekuatan, untuk melaporkannya kerena aku takut, kamu akan lebih disakiti. Maafkan aku, Lyn," lanjutnya sungguh-sungguh.


Evelyn tersentak kaget saat mendengar, jika ternyata ada yang tahu walaupun takut, dirinya mendapat perlakuan buruk di kantor.


Ia tidak marah dengan Raina, karena ia tahu jika posisi Raina juga bukan posisi dimana bisa membantunya.


Salah-salah malah Raina sendiri, yang akan terkena imbasnya dan ia tidak ingin itu terjadi dengan teman satu-satunya.


Ia menggelengkan kepala menolak rasa bersalah Raina, lalu memegang tangan Raina untuk diremasnya pelan.


"Tidak, Rai. Kamu tidak salah, aku tahu posisi kamu. Lagian aku juga tidak ingin ada apa-apa denganmu, aku cukup berterima kasih, atas kebaikan kamu selama ini. Kerana kamu sudah menemaniku, saat aku sedang butuh teman seperti ini," ujar Evelyn panjang lebar.


Ia menatap Raina dengan mata berkaca-kaca, membuat Raina segera membawa Evelyn kepelukannya.


Grep!


Seketika Evelyn terisak, saat menerima pelukan hangat dari temannya, pelukan yang juga ia terima di pemakaman empat hari yang lalu.


Hiks! Hiks! Hiks!


"Menangis Lyn, jika itu bisa meringankan beban kamu. Aku akan disini menemani kamu, kamu jangan khawatir yah," bisik Riana ikut menangis.


Dengan handphone mode panggilan tersambung, Raina menghubungkan Evelyn dengan sang Presdir yang mendengarnya di kantor sana.


Ia tahu ia salah, jika ia ketahuan melakukan ini Evelyn pasti akan membencinya.


Tapi ia hanya ingin membantu sedikit, saat ia tahu jika Presdirnya sangat menghawatirkan sang asisten pribadi.


Ia juga tahu bahwa sang Presdir mencintai teman, yang saat ini ada dipelukannya.


Tapi ia juga tahu, jika sampai ada keajaiban datang, temannya Evelyn dan Presdirnya Arlan, tidak akan pernah bersatu dalam sebuah ikatan lebih dari hubungan kerja.


Ia hanya berdoa, jika kedepannya akan ada kebaikan yang datang untuk Evelyn, untuk segala cobaan yang ditanggung sendiri oleh Evelyn.


☘️☘️☘️


Sedangkan di kantor sana, tepatnya di ruang Presdir PT. Tri Tunggal.

__ADS_1


Ada Arlan, yang mendengar dengan hati sedih.


Barly sudah mengusut tuntas masalah pembullyan atas Evelyn, namun ia juga tidak memberi hukuman.


Ia ingin Evelyn sendiri yang memberi mereka ganjaran, ia tidak ingin disebut pemimpin objektif jika ia menggunakan kekuasaan atas egoisnya sendiri.


Dan ia tahu bagaimana sang asisten, asistennya bukan orang yang pendendam.


Kecuali Evelyn menginginkan ia memecat mereka, pelaku pembullyan, ia tidak akan segan memecat tanpa terkecuali.


"Evelyn, maafkan aku. Seharusnya aku tahu, ada yang tidak beres denganmu. Harusnya aku tahu, jika permintaan kamu kemarin adalah kode buat aku. Andai aku tahu kamu tersiksa, ditambah mendapatkan tamparan yang tidak layak untukmu, aku akan dengan cepat mematuhi keinginanmu."


Arlan menyesal dan menyesal pun percuma, maka dengan itu ia sengaja mengirim Raina untuk menghibur asisten kesayanganya.


Untunglah Riana bisa membuat Evelyn terbuka, sehingga ia tahu jika asistennya sudah melupakan kejadian pembullyan atasnya.


"Terbuat dari apa hatimu, Lyn. Akan sangat beruntung seseorang, yang kelak menjadi pendampingmu. Dan aku tidak rela, jika itu bukan aku," gumam Arlan dengan tangan mengepal tidak terima.


Melalui earphonenya, ia bisa mendengar percakapan keduanya.


Ia sudah seperti stalker, namun ia tidak peduli, jika itu Evelynnya, wanita yang ia cintai sampai rasanya mau mati.


Meskipun samar, ia bisa mendengar kekehan merdu asistennya dan baginya itu cukup.


Skip


Kembali pada kamar kost yang disewa oleh Evelyn, saat ini ada Raina yang berdiri hendak pamit undur diri.


Hari sudah mulai sore, Evelyn sendiri sampai tidak merasa jika ia dan temannya menghabiskan waktu lama.


"Aku pulang dulu, Lyn. Cepat kembali bekerja, aku kangen makan siang denganmu di kantin kantor," ujar Raina dengan nada memohon.


Evelyn tersenyum tipis, kemudian menganggukkan kepalanya singkat.


"Mungkin senin nanti aku masuk bekerja, terima kasih sudah merindukanku," jawab Evelyn tulus.


"Tidak, jangan ada terima kasih, Karena aku takut kamu akan membenciku, kalau kamu tahu Pak Presdir dengar pembicaraan kita," ujar Raina cepat dan lanjutnya dalam hati.


"Dalam pertemanan tidak ada terima kasih, Lyn. Maukah seperti itu denganku?" tanya Raina berharap.


Evelyn mengangguk mengiyakan dan memeluk Raina erat.


"Untuk terakhir kalinya, terima kasih, Raina," bisik Evelyn tulus.


"Dengan senang hati, Lyn. Terima kasih kembali," balas Raina berisik lirih.


"Baiklah, aku pulang dulu. Kamu istirahat, supaya kerja nanti semangat," lanjut Raina mengurai pelukan erat Evelyn, yang balas mengangguk mengerti ke arahnya.


"Tentu, aku pasti semangat setelah ini," balas Evelyn mencoba ceria.


"Bye Lyn, aku pulang dulu," pamit Riana kemudian meninggalkan Evelyn, setelah mendapatkan balasan singkat dari Evelyn.


"Hati-hati, Raina."


Evelyn melihatnya dari atas sini, Raina yang menaiki motonya dan meninggalkan halaman kostnya.


"Terima kasih, Raina," gumam Evelyn tersenyum meski tipis.


Ia pun kembali masuk ke dalam kamarnya, menutup pintunya pelan dan dalam hati berjanji, akan menjalani hari lagi seperti biasa.


Ia sedikit terbuka saat ia sadar, jika ternyata masih ada orang yang peduli kepadanya.


Melalui curhatannya dengan Raina, juga rasa sayang yang melekat di hatinya dari sang ibu, ia yakin akan bisa menjalani harinya lagi tanpa sedih.


Ia akan pelan-pelan mencobanya, ia juga tidak ingin membuat sahabat sekaligus kakaknya sedih lagi.


Cukup sampai nanti hari ke-tujuh, ia akan merubah dirinya menjadi Evelyn yang baru.


"Semoga aku bisa menjalaninya dengan baik," pinta Evelyn sungguh-sungguh.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2