Bukan Salahku

Bukan Salahku
Putri dari Sahabat Om Bima


__ADS_3

Bab 25


“Mau protes? Silahkan saja, jika kamu tidak suka kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau, tapi dengan catatan kedua orang tuamu akan hidup di jalanan” Abi mengedikan kedua bahunya acuh, lalu berjalan menuju ranjang berukuran besar, Abi merebahkan tubuhnya dengan santai, lalu mendusel diantara bantal empuk yang kini sudah berada di kepalanya, terlihat begitu nyaman membuat Naina kembali meradang. 


“Lo sekarang berani ancam Gue?” Naina mendekat bersiap menikam Abi dengan tatapan tajamnya. 


Abi terkekeh geli, menatap istrinya yang terlihat murka “jika itu bisa membuatmu menuruti inginku” 


“Cih! Lo boleh aja ancam Gue dengan orangtua Gue! Tapi, kewajiban Gue, selain dari pada Gue harus lahirin anak sialan ini, selebihnya Gue ogah melakukan apapun yang Lo suruh! Gue bukan babu Lo!” Naina melototkan matanya kesal, 


“Anak sialan?” Abi terbangun dengan mata tak kalah melotot tajam, tidak! Anak itu adalah anaknya, bagaimana mungkin Naina mampu mengatakan hal tersebut? Bagaimana jika anaknya mendengar dan merasakan sakit hati?.


“Jaga ucapan kamu Naina!” Abi mulai menunjukkan kembali taringnya.


“Gue gak peduli! Semua ini gara-gara anak ini! Gara-gara dia hidup Gue jadi semakin menderita!” Naina menjerit kesal, membuat Abi kembali terpancing emosinya.


“Derita apa yang sudah kamu alami Naina!!” Abi mencengkram rahang Naina dengan cukup erat, membuat Naina kembali mengerjapkan matanya sedikit ciut, kejadian dimana Abi mencekik lehernya membuatnya trauma, dan kini Abi kembali menyentuh fisiknya? Naina sedikit takut. 


“Kamu keterlaluan Naina! Dia anakku, dan jangan pernah sekalipun kamu memakinya apalagi menyakitinya! Ingat! Kamu bisa jadi gelandangan jika anak ini tidak ada!” Abi menghempaskan wajah Naina begitu saja, membuat wajah Naina tertoleh. 


“Kamu boleh tidur disini sendirian, setelah kupikir-pikir aku enggan juga jika harus tidur denganmu, tadinya aku hanya ingin tidur bersama anakku, namun jika itu memberatkanmu aku tidak masalah! Namun, ingat! Jangan coba-coba untuk menyakitinya, karena aku akan tahu semua yang kamu lakukan padanya” Abi melirik pada langit-langit kamar diujung sana, membuat tatapan Naina juga mengikuti arah yang sama. 


“Kamera CCTV?” Naina membelalak tak percaya, bagaimana mungkin Abi bisa melakukan semua ini? Bukankah ini terlalu berlebihan?.


“Kamu telah melakukan percobaan pembunuhan padanya, tidak menutup kemungkinan kamu akan melakukan hal yang sama, ingat! Aku akan memantau apapun yang kamu lakukan!” Abi menatap tegas pada sang istri yang kini tengah menatapnya tak percaya. 


“Abi! Kamu keterlaluan!!” jeritan Naina Abi abaikan, lelaki itu terus berjalan keluar ruangan tersebut dengan napas tak karuan, mencoba meredam amarah meski rasanya begitu sulit Ia lakukan, sampai Ia merasa jika ponselnya berdering, lalu Abi segera mengangkat teleponnya. 

__ADS_1


‘Abi? Bisa datang ke kafe yang sudah Om tunjukkan alamatnya lewat chat padamu?’ 


Abi mengernyit pelan, Om Bima? Kenapa ingin bertemu? Namun Abi tidak ingin terlalu banyak basa-basi, pria itu segera menyetujui dan bergegas menuju mobilnya. 


*** 


“Abi, perkenalkan dia adalah Salsabila” 


Abi terpaku sejenak, kala tepat saat Abi tiba di sebuah kaffe yang dijanjikan, ternyata Om Bima tidak sendiri, namun Ia datang bersama seorang gadis cantik yang diperkirakan seusia dengan Naina, hanya saja gadis ini terlihat lembut, juga cantik. Abi menggelengkan kepalanya pelan karena terpaku cukup lama menatap Salsabila, gadis itu menyihir Abi yang tengah dilanda gundah. 


“Oh, hai aku Habibi” Abi mengulurkan tangannya seraya tersenyum lembut pada Salsabila, gadis itu menerima uluran tangannya, lalu menunduk malu-malu. 


“Aku Salsabila, panggil saja Bila Mas Abi” Bila menunduk kembali, senyumannya terlihat tulus, mengingatkan Abi pada senyuman Ratih. 


“Salsabilla ini dia sedang kuliah di jurusan seni Bi, dan katanya dia tertarik untuk belajar melukis darimu” Om Bima tanpa basa-basi segera mengutarakan tujuannya. 


“Ah ya, aku juga masih banyak belajar” Abi merendah, meski pada kenyataannya seni adalah bidang yang dicintai Abi terlebih melukis. 


 “Ya, Abi kenal Om Awan” Abi berkata lembut, membuat Bila sedikit mengangkat wajahnya, lalu kembali menunduk. 


“Baiklah jika begitu, kalian bisa saling bertukar nomor ponsel” Bima tersenyum setelah memberikan ide pada Abi dan Bila, membuat Bila sedikit gugup, sementara Abi terlihat biasa saja. 


“Oh ya, Om dengar Naina hamil?” Bima menatap wajah Abi yang berubah sendu, pria itu seperti mampu menyelami mata Abi lewat tatapannya. 


“Apa kamu sedang ada masalah?” Bima bertanya khawatir. 


“Ah ya, Naina sedang hamil, dan kami baik-baik saja Om” Abi tersenyum kembali, melirik pada Bila yang tengah memperhatikannya. 

__ADS_1


“Aku sudah memiliki istri, dan dia tengah hamil anak kami, jadi jika nanti Bila menghubungiku dan aku sulit dihubungi, itu artinya aku sedang sibuk dengan istriku” Abi mengulas senyum menatap Bila yang terlihat canggung. 


“Ya, tentu Mas Abi” Bila mengangguk kaku, sementara Abi tersenyum dan Bima terlihat menghela napas pelan. 


“Baiklah, Om ada keperluan lain, jadi kalian Om tinggal gak apa-apa?” Bima bertanya tidak enak, namun Abi yang mengerti langsung menganggukan kepalanya. 


“Ya Om Bima bisa pergi, Abi bisa antar Bila ke rumahnya, sekalian Abi juga ingin silaturahmi dengan Om Awan” 


Salsabila mengangkat kepalanya, merasa senang karena akan diantar pulang oleh pria setampan Abi. 


“Ah ya, tentu” Bima dengan wajah berbinar segera angkat kaki dari kafe tersebut, meninggalkan Abi dan Bila yang tengah terdiam. 


“Mas Abi tidak apa-apa mengantarku pulang?” Bila bertanya dengan raut malu-malu. 


“Tentu, mau pulang sekarang?” Abi tersenyum, lalu akhirnya mereka beranjak meninggalkan kafe tersebut. 


Abi melirik pada gadis yang kini berada disampingnya, gadis itu terlihat pemalu dan tulus, teringat akan masa lalunya, dimana Abhi mengingat ketika Salsabila lahir, saat itu usia Abi mungkin masih sekitar usia lima atau enam tahun, Abi teramat senang karena akhirnya bisa memiliki sosok adik sebelum kala itu Viona hadir. 


“Dulu, aku melihat bagaimana kamu dilahirkan” Abi terkekeh geli sesaat setelah mengenang ingatan masa lalunya, Bila ikut tersenyum, ingatannya juga menerawang pada sosok pria pendiam yang gemar melukis di pojokan kala dia berkunjung ke rumah Om Satriya. 


“Sekarang kamu sudah besar, aku rasa waktu terlalu cepat berlalu” Abi kembali melirik Bila, gadis itu masih terdiam.


“Kamu ternyata masih selucu dulu, gadis pendiam yang lebih sering memperhatikan setiap gambarku” 


Bila mengangkat kepalanya, ternyata Abi masih mengingat semuanya. 


“Aku senang Mas Abi masih mengingat masa kecil kita” Bila tersenyum lembut. 

__ADS_1


“Tentu, bagiku kamu adalah adikku”


Senyuman Bila luntur seketika.


__ADS_2