Bukan Salahku

Bukan Salahku
Part 44


__ADS_3

Pagi pun mulai menyapa, terdengar suara sang buah hati tengah menangis meminta susu. Memang anak itu selalu terbangun saat subuh. Juniar terlihat duduk lesu di kasurnya, Ia menatap Anne yang terlihat bugar walaupun Ia tahu semalaman isterinya itu tidak tidur dengan nyenyak.


"Kenapa kamu membangunkan kami semalaman, nak?" Ujar Juniar pada anaknya itu. Bayi itu kini sudah tumbuh besar, saat ayahnya berbicara Ia hanya tersenyum menatapnya.


"Sayang, kamu pasti lelah." Anne pun menanggapinya dengan senyuman, sama halnya dengan anaknya tadi.


"Kenapa kalian mirip sekali, aku bicara kalian hanya tersenyum saja."


"Jun, jangan berisik!" Bisik Anne, Juniar pun melirik pada anak yang tengah berada di gendongan Anne. Anak itu tertidur, Jun gemas, melihat anaknya yang begitu lucu rasanya Ia ingin sekali mencubit pipi mungil itu.


Sudah sebulan Anne tinggal lagi bersamanya. Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Bahkan anak yang Ia nanti-nanti kehadirannya kini sudah tumbuh besar. Usianya kini sudah menginjak satu tahu, tapi baru sebulan ini Ia bersamanya.


Anne pun menghampiri Juniar yang kini tengah duduk menikmati terbitnya mentari, dengan secangkir teh yang Anne sajikan untuknya, membaut suasana pagi terasa begitu istimewa.


"Aku berharap waktu akan selamanya seperti ini," pinta Juniar. Anne yang duduk di sampingnya hanya tersenyum, lalu Ia pun menyeruput teh yang masih panas itu.


"Jun, jika aku meninggal lebih dulu darimu, apa kamu akan mencari pengganti ku?" Tanya Anne tiba-tiba. Juniar terkejut, mendapati pertanyaan itu membuat dadanya terasa sakit. Mengingat kembali ucapan sang dokter waktu itu membuat dadanya semakin sakit, sampai Ia berpikir ada sesuatu yang menusuk-nusuk jantungnya.

__ADS_1


Melihat Juniar yang menunduk, memegangi dadanya dan terlihat kesakitan membuat Anne panik.


"Kamu kenapa Jun?"


Juniar menggeleng, Ia pun memberikan isyarat tangan pada Anne, menandakan bahwa Ia baik-baik saja.


"Kamu yakin? Tapi sepertinya kamu tidak kelihatan baik-baik saja. Apa kita perlu pergi ke dokter? Atau mau aku panggil dokternya ke rumah?"


Setelah semuanya terasa membaik, Juniar pun menenangkan Anne yang sedari tadi tidak berhenti bertanya. Walaupun ingatan Anne belum kembali, tapi setidaknya wanita itu masih peduli dan memperhatikan keadaanya.


"Tidak usah sayang... Aku baik-baik saja. Lihat aku, sehatkan?"


"Jangan bohong! Aku tahu kamu tengah memikirkan sesuatu," ujar Anne memicingkan matanya.


Juniar tertawa, ternyata wanita yang ada di sampingnya itu tidak pernah berubah. Ia masih sama seperti dulu. Juniar merangkul Anne ke dalam pelukannya.


"I love you," ujarnya. Kata-kata itu sederhana namun kenapa begitu bermakna saat Juniar yang mengucapkannya.

__ADS_1


"Jun...." Panggil Anne.


"Ada apa?"


"Aku tidak tahu kapan ingatanku akan kembali seperti dulu. Maaf, untuk semua hal yang mungkin membuat kamu kecewa. Tapi mulai saat ini aku akan mencintaimu sampai ajalku tiba."


"Kamu tidak perlu meminta maaf padaku sayang, hilangnya ingatanmu itu karena kelalaianku. Aku tidak bisa menjagamu dengan baik saat itu." Juniar tidak kuasa menahan air matanya. Kini Ia menangis di hadapan Anne. Anne terharu melihatnya, rasanya melihat Juniar menangis membuat hatinya terasa tenang dan hangat. Mungkin itu adakah bukti bahwa Juniar adalah laki-laki yang bertanggung jawab.


Ia pun sudah berulang kali mendengar bahwa selama dirinya menghilang Juniar begitu sangat kehilangan. Sampai-sampai ia mengabaikan perusahaan nya, sehingga ada beberapa perusahaannya yang tutup.


Bahkan katanya Juniar selalu bersikap seperti mayat hidup. Tidak ada gairah untuknya. Padahal jika ia mau, ia bisa saja mencari wanita lain dan melupakannya. Semua itu tidak Juniar lakukan, itu berarti Juniar benar-benar sangat mencintai Anne. Anne beruntung.


Pagi yang cerah, di selimuti dengan haru yang membuncah, keduanya sama-sama menangis.


Ditengah rasa haru yang menyelimuti keduanya, tiba-tiba saja anaknya yang berusia satu tahun itu berjalan mencari keseimbangan menghampiri mereka.


"Ma-mah...." Panggilnya.

__ADS_1


Anne pun tersenyum seraya menyambutnya kepelukkannya, Juniar tidak mau kalah saing, ia pun ikut memeluk keduanya.


__ADS_2