Bukan Salahku

Bukan Salahku
Hati Lain Yang Tersakiti


__ADS_3

Sometimes I wish I were a little kid again, skinned knees are easier to fix than broken hearts


If the truth was told instead of a lie, then the pain would go away sooner and not hurt as much.


Terkadang aku ingin jadi anak kecil lagi, lutut yang terluka lebih mudah disembuhkan daripada hati yang tersakiti


Apabila kita tahu kebenarannya terlebih dahulu, maka perasaan kecewa itu akan pergi lebih cepat dan tak terasa terlalu menyakitkan


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Gandhi Interior Desain


Di dalam ruangan disebuah kantor interior desain, ada Riki si pemilik ruangan dan juga tamu wanita, yang akhir-akhir ini dekat dengannya .


Mereka terlibat obrolan yang seru, bukan hanya soal pekerjaan, tapi juga tentang pribadi, yang entah kenapa sama sekali tidak mengganggu.


Riki mulai bisa membuka diri dengan sekitar, apalagi dengan kedatangan wanita di depannya, yang saat ini sedang menjelaskan dengan semangat, saat ia bertanya apa kegiatannya di luar dari jam kantornya.


"Jadi, kamu sudah mulai bekerja, bahkan sebelum kamu lulus dari universitas? Hebat, Kamu sungguh hebat!" puji Riki dengan nada semangat, membuat yang di puji tersenyum malu.


"Iya, Papa tidak bisa menghandle sekaligus. Jadi, aku mau tidak mau harus turun tangan," balas seseorang yang di puji.


"Hebat kamu Riy, salut aku," ujar Riki dengan tangan bertepuk.


Wanita yang di panggil Riy atau juga Riyanti tersebut tersenyum, lalu menggeleng kepala, menampik pujian berlebih yang di layangkan Riki untuknya.


"Tidak, ini tidak seberapa dengan kamu. Kamu bahkan sudah punya usaha sendiri," balas Riyanti balik memuji.


"Baiklah aku mengerti, lagian masing masing punya pencapaiannya sendiri. Aku hebat di bidang ini, lalu kamu hebat dibidangmu."


"Itu tahu!" balas Riyanti kemudian terkekeh kecil, membuat Riki ikut terkekeh.


Mereka pun melanjutkan obrolan mereka, membahas lowongan-lowongan, yang mungkin saja akan menciptakan celah bagi Riki melebarkan sayap dan tentunya diselipi dengan candaan, membuat suasana hangat di rasakan oleh masing-masing.


Tok! Tok! Tok!


Di saat sedang asik membahas hal ini dan itu, keduanya di kagetkan dengan ketukan pintu pelan, membuat Riki melihat Riyanti, yang tersenyum dan mengangguk mengizinkan.


"Siapa?" batin Riki penasaran.


Riki pun berjalan menuju pintu, membuka perlahan dan ia pun kaget seketika, saat melihat penampilan tidak karuan dari sahabatnya.


Dengan menatap sahabatnya khawatir, ia bertanya namun bukan jawaban, pelukan erat lah yang ia terima.


"Lyn?"


"Riki."


Brugh!


Grep!


Hiks! Hiks! Hiks


Riki tersentak kaget, saat mendapat pelukan erat dan mendengar isakan dari sahabatnya.


Karena ia tidak tahu dengan apa yang terjadi, maka ia pun hanya membalas pelukan sahabat dengan erat, lalu membawanya masuk sebelum jadi pemandangan menyenangkan, bagi karyawannya yang belum terlalu banyak.


Ia menutup pintu dengan Evelyn yang masih di pelukannya, membiarkan sahabatnya memeluknya, menumpahkan segala kesedihan yang dirasakannya juga, di setiap isakan sang sahabat.

__ADS_1


"Ada apa ini?" batin Riki bingung.


Ia pun mengusap punggung dan rambut Evelyn sayang, membuat seseorang liannya yang juga ada di situ merasakan sakit di hatinya, saat lagi-lagi melihat pemandangan menyakitkan di depannya.


Riki yang santai memeluk Evelyn dan Evelyn yang tidak sadar akan kehadirannya.


Bukan salah Evelyn, ia hanya orang asing di antara keduanya.


Sedangkan Riki yang lupa dengan seseorang lainnya di ruangnya, tetap dengan santai memeluk Evelyn.


Meskipun hatinya penasaran dan bingung, ia tetep menerima, saat Evelyn menangis di pelukannya.


Isakan masih terdengar, pelukan masih belum terlepas dan seorang wanita lainnya harus rela, saat hatinya sakit di beberapa saat keheningan.


"Apakah dirinya tidak di anggap ada?"


Itu adalah fikiran negatifnya, tapi ia tahu sedang ada yang tidak beres dengan kedua orang di hadapannya.


Jadi, untuk menghilangkan rasa tidak enak di hatinya, ia pun berdehem pelan, membuat kedua pasang sahabat tersebut tersentak kaget, dengan si wanita mengurai pelukannya pada sahabat laki-lakinya.


"Ehem."


Evelyn yang mendengar deheman orang lain, menolehkan wajahnya ke arah sofa, dimana ada seorang wanita yang dikenalnya, sedang duduk dan memperhatikannya.


"Riyanti," gumam Evelyn lirih.


Ia pun menoleh ke arah Riki, yang menampilkan ekspresi tidak enak ke arah Riyanti, saat mereka seakan tidak menganggap ada orang lain, selain dirinya dan Evelyn di ruangan ini.


"Ri, maaf atas ketidak nyamanan ini.".


Riyanti tersenyum dan menggeleng kepala, lalu berdiri dengan membawa tasnya.


"Riyanti, maaf aku tida-


"Tidak, Lyn. Ah ... Maksudku, aku pergi dulu. Kalian juga selesaikan ini dengan segera, permisi," sela Riyanti cepat.


Ia menggeleng kepala dan tersenyum kecil, melihat ke arah Riki dengan sorot mata tidak terbaca.


"Aku ant-


"Tidak, emh ... Aku bisa sendiri. Terima kasih, Riki," ujar Riyanti lagi-lagi menyela perkataan keduanya.


Ia pun meninggalkan ruangan Riki, setelah mengucapkan salam perpisahan dan dibalas senyum dan kepala mengangguk dari Riki.


"Sampai jumpa, Riki!"


"Sampai jumpa juga, Riy!"


Blam!


Saat ini hanya ada ia dan Evelyn diruangannya, duduk berhadapan namun masih saling diam.


Keheningan ini membuat Riki bingung, apalagi isakan dari Evelyn masih terdengar meski sesekali.


Membuatnya sakit dengan hati seakan dicubit.


Tidak tahan dengan apa yang sebenarnya terjadi, Riki pun menanyakan masalahnya dengan lembut, kepada Evelyn, wanita dan sahabat yang sangat disayanginya.


"Lyn."

__ADS_1


"...."


Diam ... Evelyn belum menanggapinya dan itu membuatnya frustrasi seketika.


"Ada yang tidak beres," batinnya menebak-nebak.


"Lyn, ada apa, Lyn?" ujar Riki mengulangi pertanyaannya.


Hiks! Hiks!


Masih isakan yang terdengar, membuatnya ingin menjambak rambut sangking gemasnya.


"Lyn-


"Riki, Riki, maafin aku."


Riki menatap bingung ke arah sahabatnya, kenapa Evelyn meminta maaf dengannya, apa salahnya.


Seketika jantungnya berdetak kencang, saat perasaan takut menghampirinya.


"Tidak, jangan-jangan dia tahu perasaanku," batin Riki takut.


"Maaf? Maaf untuk apa, Lyn?" tanya Riki penasaran.


Meskipun jantungnya seakan mau meledak, tapi sebisa mungkin ia mengontrol perasaan takutnya.


"Riki, maafkan aku. Aku tidak menuruti perkataanmu, aku malah dengan berani mencintainya."


Riki semakin tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Evelyn, tapi dia sedikit lega saat bukan tentangnya, yang sedang dibahas oleh sahabatnya.


"Tapi, kenapa?" batin Riki semakin bingung.


"Aku tidak mengerti, ada apa Lyn, apa yang sedang kamu sampaikan?" tanya Riki penasaran.


Evelyn yang menundukkan kepalanya pelan-pelan mengangkat wajahnya, menatap Riki dengan mata basah dengan linangan kristal bening.


Deg!


Seketika jantung Riki sakit, ia dengan terburu menghampiri Evelyn, duduk di sebelahnya dan segera memeluk Evelyn yang balas memeluknya erat.


"Ada apa, Lyn. Cepat katakan?" tanya Riki dengan nada tidak sabar.


"Hiks! Riki, aku dan Arlan ...."


Riki mendengar dengan seksama, apa yang diceritakan dengan nada tergugu oleh sahabatnya.


Seketika amarahnya memuncak, menyumpah serapah dalam hati dan berjanji akan membuat perhitungan saat ini juga.


"Arlan sialan, bajing*n, bangs*t,"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Kritik dan saran di perlukan, jangan lupa komentar dan likenya.


Terima kasih.

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2