Bukan Salahku

Bukan Salahku
Dilema


__ADS_3

Setiap hari kujalani dengan sepi dan duka


Tiada cahaya yang bisa kulihat selain hitam


Terisak sesak hingga tiada udara bisa kuraih.


Aku ingin tersenyum lagi seperti dulu


Seperti saat Aku jatuh cinta padamu


Namun Aku naif,


akulah bayang-bayang paling semu


Kehilanganmu adalah kelemahanku


Kekasihku


Maafkan Aku yang 'tak berdaya ini


Maafkan kelemahan ini


Aku telah kehilangan cinta.


*******


Arlan menatap datar orang-orang di depannya, yang saat ini sedang berbicara mengenai sesuatu, yang menurutnya sangat memuakkan.


"Sialan," batin Arlan mengumpat, saat mengingat kejadian beberapa jam lalu.


Flasback on


Kondominium Arlan


Arlan pov on


Saat ini Aku sedang mendudukan diriku di sofa ruang tamu, Aku baru saja pulang dari kantor setelah mengantar Evelyn pulang.


Di saat Aku sedang memejamkan mataku, Aku merasakan getaran pada saku celanaku.


Ah ... Senyumku merekah saat mendapat pesan singkat darinya, meskipun hanya menanyakan tentang Aku yang sudah sampai atau belum, Aku sudah senang bukan kepalang.


"Kenapa tidak bertanya yang lain juga sih," Gumamku lalu mendengus geli.


Aku pun membalas pesan dan mengajaknya untuk menghabiskan waktu bersama.


Jika dulu Aku selalu menghabiskan waktu malamku dengan para mainanku, sekarang beda. Aku akan menghabiskan waktu malam dengan berchat ria dengannya atau juga mengerjakan hal yang lebih berguna.


Aku pun membalas pesan darinya dengan segera, lalu menunggu balasan pesan darinya dengan hati senang.


"Sebaiknya Aku mandi."


Aku pun melangkahkan kakiku ke arah kamarku, berniat mandi dan kalau Dia balas menyetujui ajakanku, artinya Aku bisa segera pergi ke tempatnya.


Langkahku berhenti saat merasakan getaran tanda Aku mendapat pesan singkat, Aku membukanya dengan senyum dan perlahan pudar saat membaca pesan yang ternyata bukan darinya.


"Ke rumah, akan ada pembahasan mengenai pernikahanmu."


Flasback end


Maka itu di sini Aku saat ini, di rumah keluargaku, tepatnya di rumah keluarga Widiyo.


Di depanku saat ini ada Keanu atau juga Papaku, Aku bahkan malas mengakuinya sebagai Papa, Dia di temani oleh istri barunya yang masih muda.


"Pasangan menjijikan," Batinku berdecih jijik.


Lalu ada Tante yang kemarin siang datang ke hunianku. Dia datang bersama seorang laki-laki, yang Aku rasa adalah suaminya dan tentu saja seorang wanita yang kemarin pernah mengaku bahwa Dia adalah tunangan Aku.


"Apa hanya Aku yang tidak tahu apa-apa?" Batinku bertanya dengan bingung.


Arlan pov end


Nomal pov


"Seperti yang Kamu lihat. Di depan Kamu saat ini adalah keluarga Brata dan perempuan di depan Kamu adalah calon istri Kamu, Arlan," ujar Keanu membuka percakapan.


Ia menatap Anaknya yang balik menatapnya datar, membuatnya berdecih kesal atas kelakuan kurang ajar Anaknya.


"Tapi Aku tidak setuju." balas Arlan datar.


"Itu artinya Kamu tidak menyayangi mendiang ibumu, bukan kah dulu Kamu berkoar akan melakukan apapun jika itu perintah ibumu?" ujar Keanu telak, membuat Arlan tersentak kaget dengan jantung berpacu cepat.


Deg!


"Sial! " batin Arlan melihat Papanya dengan nanar.


Ia tidak bisa mengelak karena di atas pemakaman ibunya, Ia mengucapkan janji penyesalannya saat dulu tidak bisa mendampingi Sang ibu, ketika sedang sakit dan Ia sendiri berjuang mengurus perusahaan.


"Ak-

__ADS_1


"Laki-laki yang di pegang adalah ucapan dan tindakannya. Jika Kamu melanggar bukan hanya ibumu yang kecewa, tapi kamu juga sudah melukai harga dirimu sebagai laki-laki!" seru Keanu memprovokasi, Ia membuat ekspresi menghina untuk menutupi maksudnya berbicara seperti itu.


Tania yang memperhatikan dalam diam percakapan di depannya, gatal ingin ikut serta agar Arlan secepatnya menyetujui rencana ini.


Ia pun membuat ekspresi memaklumi, mencari simpati dari Arlan yang akhirnya melihat ke arahnya.


"Om .. Tidak apa-apa jika Arlan tidak menginginkan pernikahan ini, Aku mengerti. Mungkin Arlan sudah punya yang lain." ujar Tania lembut.


"Kamu perempuan yang baik Tania, Arlan akan sangat beruntung menikah dengan Kamu. Sudah cantik, pintar, pengertian dan yang pasti mandiri. Om sangat setuju jika Kamu yang jadi istri Arlan!" seru Keanu dengan mata berbinar semangat, memuji calon menantunya di depan Arlan yang hanya mampu terdiam.


"Lihat Arlan, kurang apa Tania?" lanjut Keanu namun sayang yang di tanya hanya melengoskan kepalanya.


"Kalian bisa saling mengenal dan bertunangan dulu, Tante yakin pelan-pelan cinta akan tumbuh di antara kalian," ujar Kana ikut menimpali perkataan Keanu.


"Papa harap Kamu memikirkannya, kalian bisa bicara berdua. Karena kalian adalah pasangan yang akan menikah," ujar Keanu mengakhiri pembicaraan.


Ia memberi kode kepada Tania yang di mengerti oleh Tania segera.


"Arlan. Bisa Kita berbicara?" ujar Tania melihat ke arah Arlan dengan senyum kecil.


Arlan menatap sebentar ke arah Tania dan mengangguk mengiyakan, mau tidak mau Ia harus berbicara empat mata dengan wanita di depannya.


Ia ingin menolak dengan tegas, Ia tidak ingin menyakiti hati wanita yang ada di sana.


"Baik." balas Arlan.


"Kami keluar sebentar Tante, Om. Mah, pah Aku keluar dengan Arlan dulu," ujar Tania dengan kode mata ke arah Sang Mama, sehingga Kana pun mengangguk dengan senyum.


Mereka pun pergi meninggalkan ruang tamu, pergi ke arah luar rumah dan berdiri di depan mobil milik Arlan.


"Kamu mau ajak Aku kemana, Ar?" tanya Tania mencoba biasa, padahal dalam hati sudah senang saat membayangkan Ia naik mobil dengan Arlan duduk di sebelahnya.


"Masuk saja." ujar Arlan datar.


Tania mengangguk dan memasuki mobil dengan Arlan yang lebih dulu masuk, tanpa membukakan pintu untuk Tania yang saat ini menyembunyikan decihan sebalnya.


"Lihat saja nanti." batin Tania marah.


Brum!


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam dengan pemikiran masing-masing, Arlan yang sedang memikirkan cara menolak dan Tania yang sedang senang saat bisa duduk berdampingan dengan Arlan.


Arlan mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata, menuju salah satu dermaga tempat Ia dulu jika ingin menyendiri.


Ckiit!


Bunyi decitan ban mobil terdengar, di susul dengan debaman pintu saat Si pengendara keluar dari dalam mobilnya.


Arlan lebih dulu keluar dan berjalan menuju tepi dermaga, Ia menyugar rambutnya yang berantakan terkena angin laut.


Sedangkan Tania berjelan pelan dan berdiri di belakang Arlan dengan senyum senangnya.


"Aku yakin Kamu sedang bingung kan, Arlan." batin Tania senang.


"Ar-


"Tolong batalkan rencana ini, Aku tidak ingin pernikahan ini."


Tania menghentikan ucapannya, saat mendengar nada datar dari Arlan, yang saat ini masih memunggunginya.


"Aku sudah memiliki wanita yang Aku sukai," lanjut Arlan, kali ini Ia membalikkan tubuhnya menghadap Tania, yang menatap Arlan dengan mata bergetar dan tangan mengepal.


"Ak-


"Tania ... Kamu cantik, Aku yakin banyak laki-laki di luar sana yang menyukaimu. Aku bukan yang terbaik untukmu," sela Arlan menatap Tania dengan serius.


"Fikirkan itu Tania," Lanjutnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap laut kembali.


Di belakangnya saat ini Tania sedang menahan marah, Ia mengatur nafas dan membuangnya perlahan, saat ini Ia tidak boleh terbawa suasana.


"Jangan harap," batin Tania dengan senyum miringnya.


"Arlan, ada yang ingin Aku tunjukkan," ujar Tania dengan nada suara tegas, membuat Arlan yang mendengarnya melirik ke belakang tanpa membalikkan tubuhnya.


"Apa?"


"Lihat Aku," balas Tania meminta, sehingga Arlan pun akhirnya menghadap sepenuhnya ke arah Tania.


Setelah merasa Arlan memperhatikannya, Ia pun meraba lehernya untuk melepas pengait sebuah kalung dengan liontin bentuk hati.


Ia berjalan mendekati dan berdiri di hadapan Arlan yang mengernyit bingung.


Ia mengambil tangan kanan milik Arlan dan meletakkan kalung tersebut di telapak tangan Arlan, yang langsung bergetar saat melihatnya.


"Tidak mungkin," batin Arlan menatap kalung dan Tania bergantian dengan mata nanar.


"Dari mana kam-


"Ibumu. Aku cuma ingin memberikan ini kepada Kamu, itu milik Kamu kan? Karena Kamu menolakku, Aku kembalikan," sela Tania cepat dengan senyum kecil.

__ADS_1


"Pulang yuk!" seru Tania ceria, membalikkan tubuh dengan senyum kecil berganti menjadi senyum tanpa ekspresi.


Skip


Keesokan harinya


Pukul. 20:00


Kost-an Evelyn


Arlan pov on


Saat ini Aku sedang mengunjungi ibu Mirna, em ... Maksudnya, Aku sekalian ingin menghabiskan waktu dengan Evelyn juga.


Di depanku saat ini ada ibu Mirna, yang sedang bertukar cerita denganku mengenai kehidupan mereka dulu.


Ibu Mirna juga bilang sudah menganggapku seperti Anaknya sendiri, mambuatku senang dan merasa mendapat sinyal untuk melakukan pendekatan lebih terhadap Evelyn.


Tapi jujur saja, Aku sedang bingung dengan keadaanku saat ini.


Di satu sisi Aku ingin menggapai cintaku sendiri, tapi di satu sisi Aku sangat menyayangi mendiang ibuku.


"Nak, nak Arlan!"


Aku tersentak kaget saat mendengar panggilan khawatir dari ibu Mirna, ya ampun Aku tidak sadar melamun karena memikirkan kejadian kemarin malam.


"Iy-iya tante, ada apa?" Balasku bertanya dengan canggung.


"Kamu melamun, apa ada yang sedang Kamu khawatirkan?" Tanyanya kepadaku.


Ah ... Apa yang harus Aku katakan, tidak mungkin Aku bercerita tentang kejadian kemarin, apalagi bercerita tentang rencana pernikahanku.


"Tidak ada Tante," Balasku dengan senyum menenangkan.


Aku bisa melihat senyum hangat dari ibu Mirna, membuatku ingat kembali dengan mendiang ibuku.


"Ibu," Batinku menahan sesak.


Aku tidak menyangka ibuku akan membuat diriku bimbang dengan perjanjiannya dan temannya dulu.


Kenapa ibu sama sekali tidak memberitahukan Aku, saat dulu ibu masih hidup.


"Nak Arlan, Kamu melamanun lagi!"


"Ah! Maaf Tante!" Ujarku kaget.


Sial ... Lagi-lagi Aku melamun.


Sebaiknya Aku melupakan kejadian kemarin dan nanti saja Aku fikirkan lagi.


Arlan pov end


Normal pov


"Kamu bisa cerita dengan Tante, kalau Kamu mau," ujar Mirna dengan senyum hangat, Ia sudah menganggap Arlan bagian dari kehidupannya. Terlebih Anaknya seakan menerima sinyal yang di berikan oleh laki-laki di depannya.


"Tidak Tante, Aku hanya kepikiran suatu hal." balas Arlan.


"Oh ya ... Apa itu?" tanya Mirna penasaran.


"Em ... Hal yang tidak penting, he-he!" balas Arlan mengelak dengan kekehan canggung.


"Maaf Tante." batin Arlan menyesal.


"Oh ... Baiklah," balas Mirna memaklumi.


"Tapi Tante, boleh Ar bertanya?" lanjut Arlan dengan menelan salivanya gugup.


"Iya ... Apa?"


"Jika kita sudah berjanji, apa benar kita harus menepati?" tanya Arlan pelan, memandang Mirna dengan ekspresi tidak terbaca.


Mirna tersenyum mendengar pertanyaan Arlan, Ia pun menepuk punggung tangan Arlan dan menjawab dengan hati-hati.


"Tentu saja."


Deg!


"Tentu saja harus di tepati, janji adalah hutang dan hutang harus di lunasi. Ini adalah bagian tanggung jawab dari ucapan Kita," ujar Mirna menjelaskan dengan lembut.


"Manusia yang di pegang bukan hanya ucapannya, tapi juga perbuatannya. Jadi apa pun kalau sudah berjanji harus di tepat. Ingat ... Jangan berjanji jika tidak bisa menepati!" Lanjutnya mengakhiri penjelasan dengan nada tegas.


"Aku mengerti." balas Arlan singkat.


"Maafin Aku, Ibu."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ....


__ADS_2