
Evelyn pov on
Tahu angka '0'?
Kalau tahu ... Aku tidak perlu jelaskan lagi, karena kalian semua juga tahu, apa yang sedang aku maksud.
Tapi ....
Apakah kalian tahu apa makna dari angka '0'?
Kalau tidak tahu akan aku beritahu.
Sama seperti hidupku, angka '0' adalah goresan tidak bertepi, mulai dari goresan awal, lalu bertemu akhir dan mulai dari awal lagi kemudian bertemu akhir lagi.
Bisa di bilang, hidupku yang sekarang adalah hidup awal, saat aku baru memulai goresan untuk kemudian lanjut menggores lagi.
Itu sebabnya aku merasa aku adalah angka '0', tidak bertepi, berujung dan akan selalu seperti itu sampai waktunya tiba, pena takdirku berbicara dan menghentikan takdir kehidupanku sendiri.
Evelyn pov end
Normal pov on
Saat ini Evelyn dalam perjalanan pulang ke kost-an, bersama Riki dengan keadaan sunyi yang sungguh mengganggu.
Di taman tadi, mereka sudah menyepakati, jika mereka akan memulai semua dari awal dan dengan suasana baru.
Seperti angka '0' yang artinya dari awal lagi.
Riki menceritakan semua, tentang perasaan, tentang sakitnya dan tentang betapa sayangnya dia kepada Evelyn, yang diam mendengarkan tanpa banyak menyela.
Kali ini ia tidak menghindari sahabatnya, justru ia menyambutnya suka cita dengan harapan, ia dan sahabatnya bisa sama-sama saling terbuka.
Tidak ada lagi rasa yang di tutupi, ia menerima perasaan sahabatnya, bukan berarti ia menerimanya menjadi kekasih.
Sudah ia bilang, mereka akan menjadi angka '0' lagi, artinya mereka mencoba untuk bisa saling menerima dengan tanpa perasaan, selain perasaan sayang satu sama lain seperti sahabat.
Riki dan Evelyn sama-sama turun dan berjalan masuk, Riki bilang ingin menemui ibu.
Evelyn sih tidak masalah, ibu juga telah menganggap Riki seperti anak dan ia sudah menganggap sahabatnya bagian dari ia dan ibunya juga.
"Assalamualaikum, Ibu, aku pulang!" ujar Evelyn mengucapkan salam.
"Waalaikum salam! Eh .... Riki juga mampir?" tanya Mirna , yang di balas senyum dari Riki.
"Assalamualaikum, Bu!"
"Waalaikum salam, kalian mau minum? Biar ibu ambilkan," ujar Mirna bertanya.
"Tidak, Bu. Biar Lyn yang ambil, ibu istirahat saja," tolak Evelyn mencegah sang ibu.
Ia meletakkan tas tangannya dan berjalan ke arah meja, tempat biasa mereka meletakkan gelas dan membuka kulkas kecilnya.
__ADS_1
Riki pun duduk dengan lesehan, di meja bersama ibu Mirna, yang segera mengajak Riki berbincang seru.
Keakraban keduanya membuat senyum kecil terbit di bibir Evelyn, ia akan menuruti kata Riki, yang bilang jika mulai saat ini hanya perlu fokus untuk menyelesaikan kontrak kerjanya.
"Jadi, desain hasil kamu sekarang sudah mulai banyak di pakai, banyak yang memesan, nak Riki?" tanya Mirna antusias, saat Riki menceritakan jika minggu-minggu ini ia kebanjiran pesanan.
"Alhamdulillah Bu, seperti itu lah," balas Riki dengan senyum malu.
Sesuatu yang belum ada apa-apanya, jika di bandingkan dengan sepupunya, yang mempunyai segalanya, di umur dia yang segitu.
"Syukurlah ... Ibu do'akan selalu ramai permintaan. Bagus sekali, kamu harus terus semangat."
Mirna dengan wajah berseri-seri mendengar setiap apa, yang di ceritakan oleh Riki bantuan teman perempuannya, yang memberikan ia kesempatan bergabung dengan pengusaha lainnya.
Di saat sedang asik berbincang, dari arah samping datang Evelyn, yang membawa minuman setelah mengganti baju kerjanya.
"Lagi ngomongin apa sih?" tanya Evelyn, sambil meletakkan minuman dingin, di meja kecil yang ada di tengah-tengah mereka.
Sang ibu menoleh, saat mendengar pertanyaan penasaran dari sang anak.
"Kamu tahu , Riki usahanya sudah mulai lancar. Semoga semakin lancar, semakin sukses. Iya kan, Lyn?" jelas Mirna bertanya dengan semangat, yang di sambut dengan binar bahagia darinya.
"Tentu saja Bu, Riki kita yang terbaik!" seru Evelyn melihat Riki, yang juga melihatnya dengan senyum kecil.
"Berkat do'a kalian," balas Riki tulus.
Ketiganya melanjutkan obrolan, makan malam bersama hingga datang juga waktunya untuk Riki pulang.
Evelyn mengantar Riki hingga pintu gerbang, kemudian berdiri berhadapan dengan Evelyn, yang menatapnya penasaran.
Riki diam dengan mata menatap Evelyn serius, lalu mengenghembuskan nafas lelah.
"Lyn."
"Iya?"
Evelyn semakin menatap Riki penasaran, saat ia belum mendengar lagi kalimat lanjutan dari sahabatnya.
"Ingat pesanku, bekerja dan jangan dekat dengannya lagi. Bisa kan?" pinta Riki serius.
"Iya," balas Evelyn singkat, dengan nada sama seriusnya seperti sang sahabat, ia juga menatap Riki dengan tatapan penuh terima kasih.
"Kalau kamu mau, aku juga bisa membuat kamu keluar da-
"Riki, kita sudah bicarakan ini. Lagian aku hanya ingin bekerja profesional, hanya sampai kontrakku selesai dan aku akan keluar dari perusahaan itu."
Riki diam tidak bisa membantah lagi, apa yang di ucapkan sahabat perempuan atau juga adiknya, yang menjawabnya dengan nada mantap.
Ia merasa de javu saat Evelyn bilang seperti itu, ia takut jika nanti akan ada kejadian, yang lebih dari ini dan jangan juga di luar kendalinya.
Seakan ada batu mengganjal hatinya saat memikirkannya, tapi ketika melihat ekspresi yakin sahabatnya, ia pun mencoba untuk meyakini.
__ADS_1
"Baik ... Tapi kamu harus tetap hati-hati. Jangan buka sela dan memberikan dia tempat, untuk mendekati kamu lagi."
Evelyn mengangguk saat Riki selesai dengan nasihatnya, ia juga berjanji tidak akn mendekat atau memberi sela untuk Arlan lagi.
Ia cukup tahu diri saat Tania, Ayah serta Nyonya Brata merendahkannya.
Belum lagi teman sekantornya, yang membicarakan ia di belakang punggungnya.
"Kamu tenang saja, Riki. Aku akan sebisa mungkin akan menghindarinya dan tidak akan membiarkan dia mencari celah untuk masuk di hatiku lagi, kecuali kami sedang ada dalam waktu bekerja. Di luar situ, aku akan berjanji."
Riki mengangguk puas saat mendengar sendiri, bagaimana Evelyn memandangnya dengan tatapan mata serius.
Ia berharap apa yang di katakan Evelyn benar adanya, ia hanya takut jika Evelyn akan merasa lebih sakit, jika sepupunya masih mendekati sahabatnya.
"Baiklah, Lyn. Aku percaya," gumam Riki dengan senyum kecil, membuat Evelyn yang melihatnya ikut tersenyum meskipun tipis.
"Oh ya, Lyn."
"Huem?" gumam Evelyn bertanya.
"Apa kamu, akan memberitahukan ini kepada ibu?" tanya Riki hati-hati.
Deg!
Evelyn tersentak kecil saat mengingat, jika ibunya belum tahu kebenaran tentangnya dan Arlan, karena ia sendiri sebenarnya masih sibuk menenangkan hartinya sendiri.
"Ak-aku, aku tidak tahu akan memberitahukannya atau tidak, Riki," gumam Evelyn lirih.
Ya ... Sampai saat ini ia belum bercerita, biasanya hanya akan hitung jam sang ibu tahu keadaannya.
Tapi sekarang, jangankan bercerita, ingin memberitahukan saja ia tidak sanggup.
Ia tahu jika sang ibu sudah memiliki angan-angan, saat ia dan Arlan bersama nanti.
"Kamu harus memberitahukan ini secepatnya, Lyn," ujar Riki cepat.
"Aku tahu."
"Ceritakan Lyn, aku tidak mau kalian kenapa-napa lagi. Bukannya kamu bilang, sesama anggota keluarga harus saling terbuka?"
"Baik, aku akan menceritakannya."
Akhirnya Riki pun masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan Evelyn, setelah berpamitan kepada sahabatnya di luar tadi.
Sementara itu Evelyn yang berdiri di depan gerbang, membalikkan tubuhnya kemudian berjalan memasuki kost-annya
" Haruskah aku bercerita?" gumamnya bertanya pada diri sendiri.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya.
Sampai babai.