Bukan Salahku

Bukan Salahku
Cemas


__ADS_3

Cahaya yang tadi bersinar kini perlahan meredup, digantikan dengan kegelapan pekat.


Hati seorang manusia siapa yang tahu, saat seorang manusia lainnya mengganggu.


Jadwal permainan dimulai, siapkah anda menanggungnya?


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Arlan pov on


Saat ini aku sedang mengendarai mobilku dengan kecepatan pelan, sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari seseorang, yang membuat aku dan sepupuku panik, saat tidak mengetahui keberadaannya.


Aku sungguh menyesal, namun percuma karena penyesalan tidak akan membuat masalah selesai, serta tidak akan membuat Evelyn ada dihadapanku saat ini juga.


Aku mencari di daerah sekitar kantor, sedangkan Riki mencari di sekitar kost-anya.


Sudah dua kali aku berputar-putar di daerah sini, tapi sayang Evelyn masih belum terlihat di sepanjang jalan yang aku lewati.


"Lyn, kamu di mana."


Hatiku cemas, saat aku melihat waktu di arloji, yang terpasang apik di pergelangan tangan kananku.


Sudah pukul sembilan, itu artinya aku sudah berkeliling selama dua jam.


Getaran handphone, yang aku letakkan di dashboard membuatku segera melihat, siapa gerangan yang menghubungiku.


🔊 Riki calling


Ah! Apa dia sudah bertemu dengan Evelyn.


Aku pun segera menggeser tombol hijau, dan menekan tombol loudspeaker, sehingga suara Riki memenuhi mobilku, mobilku kali ini sunyi karena biasanya aku selalu memutar lagu kesukaanku.


"Ya Rik, apa sudah bertemu?" tanyaku to the point.


Aku tidak ingin berbasa-basi, apa lagi ini mengenai asistenku, wanita yang aku cintai.


"Justru aku ingin bertanya."


Astaga!


Seketika aku semakin panik, saat Riki juga beritanya denganku bingung.


"Aku juga belum Rik," ujarku sedih.


"Jangan menyerah, kita cari lagi!"


Aku pun mengangguk, mendengar seruan semangat dari sepupuku, meskipun aku tahu dia tidak melihatnya, aku tidak perduli.


"Tentu Rik, aku akan berputar lagi."


"Baiklah. Aku tutup sambungnya."


"Hn."


Tut!


Aku pun kembali berputar arah, sambil melihat sekitar kanan dan kiri tidak kenal lelah.


"Evelyn."


Aku sangat khawatir, cemas dan apapun itu yang berhubungan dengan rasa takut.


Dulu juga seperti ini, saat aku kehilangan wanita yang aku cintai.


Kenapa aku selalu mencintai seseorang yang bukan selevel dengan keluargaku, sehingga aku selalu mendapat batu sandungan berupa keluargaku.


Jika dulu Papa, kali ini mendiang Mamaku.


Apakah kisah cintaku akan berakhir tragis lagi, apakah aku harus kehilangan lagi.


Lebih baik aku melihatnya tertawa meski dia tidak bisa aku miliki, dari pada tidak melihatnya sama sekali.


Aku mengingat-ngingat lagi, tempat biasa yang dia datangi.


"Kenapa kamu suka pantai?"


"Karena pantai tempat paling nyaman, saat aku butuh ketenangan."


Deg!


Seketika aku sadar, saat sekelebat ingatan tiba-tiba menari dihadapanku.


Astaga.


Kenapa aku sampai melupakan pantai, aku tahu dengan sangat jika pantai adalah tempat favoritnya untuk merenung.


"Sial!"


Aku mengumpat untuk diriku sendiri, saat aku lagi-lagi bodoh tidak segera mengingat akan tentangnya.

__ADS_1


Dengan segera aku memutar kemudi stirku, berbalik arah menuju daerah pantai di sekitar kota ini.


"Tapi, pantai mana."


Benar juga, sialan.


Tidak ingin aku bingung sendiri, aku pun menghubungi anak buahku, tepatnya tangan kanan kepercayaanku.


Aku segera mencari kontak telepon Barly, orang kepercayaanku untuk membantuku menemukan jejak Evelynku.


Tut! Tut! Tut!


Klik!


"Ya, Bos."


"Barly, segera cari keberadaan Evelyn. Kerahkan seluruh anak buah untuk mencari Evelyn di daerah pantai, tanpa terkecuali. Aku tidak mau tahu, dan segera hubungi aku jika sudah ketemu."


Aku tidak perduli apakah Barly mengerti atau tidak dengan ucapanku, yang jelas aku hanya mengutarakan apa yang ada dipikiranku.


"Baik."


Aku pun segera memutuskan panggilan secara sepihak, kemudian kembali menyisir daerah dengan pantai sebagai patokanku.


Cukup lama aku mengendarai mobilku, hingga aku sampai di pinggiran daerah pantai, tidak jauh dari pemakaman kota, tempat sama yang aku kunjungi dua minggu lalu.


Tempat peristirahatan terakhir ibu dari Evelyn.


Benar juga.


Pemakaman, pantai.


"Sial."


Lagi-lagi aku mengumpat, saat aku sadar jika pemakaman adalah salah satu tempat yang pasti dikunjunginya juga.


Aku segera turun dari mobil, menutup pintu dan berjalan ke arah pintu masuk, dengan sandal rumah tipis, sangking terburu-buru ingin segera mencarinya.


Jalanan becek menuju pantai, membuatku semakin khawatir dan berpikir yang tidak-tidak.


Ya Tuhan, bagaimana kalau Evelyn kehujanan dan kedinginan.


Aku semakin mempercepat laju langkah kakiku, dengan kepala menoleh kiri dan kanan, serta menajamkan mata serta telinga.


"Evelyn, kamu di mana."


Aku terus bergumam, saat aku semakin panik tidak melihat eksistensinya di sekitar sini.


Di pinggir pantai sana, aku bisa melihat siluet seseorang, duduk membelakangiku tapi aku tahu dengan jelas siapa dia.


Dengan perasaan senang dan khawatir disaat bersamaan, aku mempercepat laju langkahku, yang berubah menjadi lari kencang, saat melihat dia terhuyung dan jatuh menghantam pasir pantai.


"Evelyn!"


Arlan pov end


Normal pov on


Di saat bersamaan, disisi Evelyn.


Rasa pusing dan dingin yang di rasakan Evelyn semakin menjadi, gumaman darinya adalah hal yang terakhir sebelum kegelapan menghampirinya.


"Selamat datang, Evelyn Carla. Selamat tinggal Lyn,"


Brugh!


Evelyn pun jatuh dengan posisi menyamping, saat dirinya pingsan tidak kuat menahan rasa pusingnya.


Sedangkan Arlan, yang tiba di samping Evelyn segera menyangga kepala Evelyn, memangkunya dan menepuk-nepuk pipi Evelyn panik.


"Lyn, Lyn, bangun Lyn!" panggil Arlan panik, namun sayang tidak ada sahutan sama sekali.


Arlan memeriksa suhu tubuh dan tersentak kaget, saat merasakan panas dengan bibir membiru dari Evelynnya.


Demam.


Tentu saja, siapa yang tidak akan demam saat terkena air hujan dan duduk di pantai sepanjang malam.


Arlan pun dengan segera mengangkat Evelyn di gendongannya, berjalan dengan cepat menuju mobil, meskipun susah saat tanah yang ia injak gembur, ia tetap berusaha berjalan secepat yang ia bisa, agar Evelyn bisa cepat pula mendapatkan pertolongan.


"Evelyn, maafin aku. Jangan tinggalkan aku," gumam Arlan cemas.


Skip


Di ranjang pasien ada ada seorang wanita, terbaring dengan selimut menutupinya hingga dada.


Napasnya yang teratur menandakan, jika si wanita sedang tidur, terbuai dalam mimpi indahnya.


Wajahnya yang tadi pucat, sudah berangsur-angsur kembali kesemula dengan rona merah.

__ADS_1


Di sampingnya ada dua laki-laki, yang menunggu si pasien dengan raut wajah cemas.


Tidak ada percakapan diantara keduanya, saat mereka lebih memilih memperhatikan tanpa suara, si pasien yang adalah seorang wanita, yang sangat keduanya cintai.


"Ar, sebaiknya kamu pulang dan istirahat. Biar aku yang jaga Evelyn untuk malam ini," usul Riki hati-hati, namun sayang hanya gumaman dan gelengan kepala yang didapatnya.


"Tapi Ar, ini sudah malam. Kamu bes-


"Tidak Riki, sebaiknya kamu yang pulang. Istirahat dan kembali kemari keesokan harinya," putus Arlan keras kepala.


Riki menghela napas lelah, saat mendapat jawaban keras kepala dari sepupunya, yang memang dikenalnya keras kepala dan tidak mau kalah serta mau menang sendiri.


Yang jelas ini sifat turunan dari Om Keanu, bukan dari turunan Tantenya.


"Arlan, hanya bisa satu orang yang berjaga."


Itu bukan perkataan, tapi pernyataan Riki yang secara tidak langsung, jika diantara mereka harus ada yang mengalah.


"Kalau begitu, biar aku."


See ...


Arlan dan keinginan mutlaknya.


"Evelyn tidak akan suka dengan kehadiranmu," balas Riki telak, menohok hati dan jantung Arlan yang tiba-tiba berdenyut.


Arlan bukan orang yang mudah menyerah, maka ia dengan segala kekeraskepalaannya, menampik pernyataan sepupunya cuek dan masa bodo.


"Aku tidak peduli," kata Arlan masih keras kepala.


"Arlan ak-


"Rik, aku mohon. Biarkan aku yang menjaga Evelyn untuk malam ini, aku janji jika Evelyn menolakku, aku akan segera menghubungimu dan pergi dari sini."


Riki yang melihat kesungguhan dari sepupunya mendesah sekali lagi.


Astaga, berapa kali ia mengucapkan astaga hari ini, yang jelas ia sangat lelah dengan tingkah keras kepala sepupunya.


Tidak ingin ribut dengan keadaan tidak memungkinkan adiknya, Riki pun akhirnya mengalah dengan kepala mengangguk pasrah.


"Baiklah, Ar. Kamu menang, tapi ingat janjimu. Segara hubungi aku, jika Evelyn bangun dan menolak kehadiranmu," putus Riki, yang dibalas dengan anggukan kepala senang dari sepupunya.


"Aku pulang, jaga Evelyn."


"Pasti," gumam Arlan bersungguh-sunguh.


Riki pun mendatangi Evelyn, mengecup kening adiknya sayang dengan perasaan sedih.


"Jangan seperti ini lagi, Lyn."


Blam!


Pintu pun tertutup dengan debaman kecil,


Riki pergi meninggalkan ruangan, menyisakan Arlan yang memegang tangan Evelyn dan sesekali mengecupnya lembut.


"Cepat sadar, Lyn," bisik Arlan memandang wajah damai Evelyn dengan tatapan sayang.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Waktu menunjukkan pukul tiga pagi, Arlan yang semalaman terjaga, akhirnya jatuh juga ke alam mimpinya, tidur dengan posisi duduk bersedekap tangan pose siaga.


Di ranjang pasien ada Evelyn yang terbangun dari tidurnya, menatap langit-langit ruang inap dengan ekspresi bingung.


"Dimana ini?" gumam Evelyn bingung.


Ia pun melirik kiri dan kanannya, lalu seketika tersentak kaget saat melihat Arlan tidur dengan posisi duduk, kelihatan sekali tidak nyaman.


"Arlan," bisiknya takut membangunkan sang Presdir dari tidurnya.


Ia ingat jika semalaman ia duduk di pinggir pantai, dengan pakaian basah kemudian pingsan, lalu juga ia ingat jika ada suara seseorang yang memanggilnya panik.


"Apakah itu Arlan," ucapnya sambil menatap sang Presdir dengan perasaan campur aduk.


Pandangan matanya pelan-pelan berubah, menjadi datar saat ia mengingat akan sumpah dendamnya.


Ia pun mengeraskan hatinya, dengan apa yang akan dilakukannya setelah ini.


Arlan yang terganggu dalam tidurnya pun bangun, dengan mata berkedip pelan, dan berubah menjadi melotot saat melihat Evelyn yang menatapnya juga.


"Evelyn!"


"Arlan."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2