
Aku sudah tahu semuanya, sebelum kamu memberitahukan ini.
Bagaimanapun, seperti apapun, aku akan tetap mencintainya meskipun aku di jadikan korbannya.
Cintaku tulus untuknya, jadi jangan pernah berharap jika aku akan berpaling, hanya karena kebohongan yang sudah aku ketahui kebenarannya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Hotel Luxury, Kota B.
Di balkon bagian luar hotel, ada sepasang tunangan yang saling melihat dan berdiri berhadapan, dengan ekspresi berbeda di wajah masing-masing.
Arlan, si lelaki hanya menatap si wanita dengan ekspresi biasa, tanpa ada emosi sedikit pun. Sedangkan si wanita atau juga Tania, melihat tunangannya dengan raut wajah kaget saat ia selesai menyelesaikan penjelasannya.
"Arlan, kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Tania dengan ekspresi wajah kaget berganti kesal.
"Lalu, apa yang kamu harapkan?" tanya Arlan, dengan alis terangkat.
"Seharusnya kamu marah, seharusnya kamu benci dengan dia, karena kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi," tandas Tania dengan nada frustrasi.
"Untuk apa?" tanya Arlan masih dengan santai, menanggapi biasa saja perkataan tunangan tidak diinginkannya.
"Apa? Apa maksudnya, Arlan?" tanya Tania semakin penasaran, bukan hanya karena ekspresi tapi juga tanggapan Arlan, yang terlihat biasa saja di hadapannya, sama sekali tidak terlihat ekspresi marah atau kecewe.
"Tidak ada, aku harus pergi. Jika kamu tidak ada kepentingan lagi, aku permisi," elak Arlan dan meninggalkan Tania, tanpa melihat ataupun mendengar Tania yang memanggil namanya, dengan jeritan dan nada frustrasi.
"Arlan!"
Sepeninggalnya Arlan, Tania terduduk di lantai, tidak percaya dengan permainan Tuhan yang sedang menimpanya.
Apa jangan-jangan Arlan sudah tahu, lalu sengaja mempermainkannya dan berujung dengan ia yang ditinggalkan begitu saja oleh Arlan.
"Tidak-tidak, tidak boleh. Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Arlan."
Sementara Tania dengan segala kecemasannya, Evelyn berdiri dengan napas tercekat saat mendengar sendiri, bagaimana Tania memberitahukan rahasianya kepada kekasihnya yaitu Arlan, yang menanggapinya santai tidak merasa terganggu sama sekali.
Ia berjalan menuju toilet meninggalkan balkon dengan hati luar biasa kaget dan takut, setelah kekasihnya meninggalkan balkon tanpa menoleh dan tanpa melihat jika ada ia di balik pintu.
Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Presdir yang adalah kekasihnya, kekasih yang ia jadikan batu tumpuan bisa santai seperti itu, saat mendengar kenyataan sebenarnya tentangnya.
Kembali kebeberapa saat, sebelum Arlan dan Tania berbicara berdua.
Flasback on
Evelyn yang sedang berbincang dengan Rita dan Riyanti, menoleh ke arah sang kekasih yang saat ini sedang berbincang dengan koleganya.
Ia tersenyum kecil, saat melihat bagaimana sang kekasih yang bersinar di antara lainnya. Kemudian merasa ia jika kekasih baik-baik saja, ia pun hendak mengalihkan wajahnya, menghadap ke arah Rita, yang tadi memanggil namanya namun tidak jadi. Kepalanya dengan cepat menoleh lagi ke arah terakhir ia melihat sang kekasih, dengan seorang wanita yang sangat ia kenali siapa tiba-tiba menghampiri kekasihnya.
Hatinya tiba-tiba merasa tidak enak, apalagi saat melihat kekasihnya menurut begitu saja, mengikuti langkah si wanita, ke arah balkon di luar sana.
"Mau kemana mereka?" gumam Evelyn penasaran, membuat Rita dan Riyanti mengernyit bingung saat mendengar gumamannya.
"Ada apa, Evelyn?" tanya Riyanti penasaran.
Evelyn tersentak kaget, melihat Riyanti dengan senyum canggung kemudian menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak ada apa-apa, Riyanti."
Meskipun ia mengatakan tidak apa-apa, nyatanya Evelyn merasakan perasaan was-was dan cemas yang luar biasa, entah kenapa ia memiliki firasat tidak enak, karena kedatangan anak atau Nona muda dari keluarga Brata.
Tidak ingin rasa penasaran menggelayuti hatinya, ia pun berdiri dari duduknya ingin mendengar pembicaraan antara kekasihnya dan tunangan kekasihnya di sana.
"Itu, em ... Tante Rita, Evelyn permisi ke toilet dulu. Sebentar saja, tidak apa-apa kan, Tante?" pamit Evelyn dengan nada dan senyum tidak enak.
"Ke toilet? Ya sudah, Tante tunggu kamu di sini, dengan Riyanti. Iya kan, Riyanti," sahut Rita kemudian meminta pembenaran dari Riyanti, wanita cantik yang akhir-akhir ini dekat dengan anak laki-lakinya.
"Iya Evelyn, kami tunggu di sini. Kamu tenang saja," timpal Riyanti dengan senyum kecil.
"Iya, terima kasih, Tante, Riyanti."
Dengan begitu, Evelyn pun meninggalkan meja di mana ibu dari Riki dan juga Riyanti duduk, berjalan menuju pintu balkon yang tidak di tutup, namun tidak ada tamu lain kecuali dua orang ini.
Evelyn pov on
Saat ini aku sedang ada di balik pintu balkon, tempat di mana pesta di langsungkan. Aku berdiri dengan telinga terpasang, menunggu dengan hati berdebar saat wanita itu mulai membuka suara.
Aku bukan dan tidak akan cemburu, hanya karena mereka saat ini sedang berdiri berhadapan dengan jarak dekat. Tapi, aku lebih takut jika apa yang akan di sampaikan oleh wanita itu adalah pembahasan, dengan masalah dan rahasiaku dibawa serta.
"Arlan."
__ADS_1
"Hn."
Kekasihku bahkan hanya bergumam, tentunya aku tahu karena Kekasihku tidak menyukai wanita itu, sehingga hanya gumaman dingin yang akan diterima.
"Arlan, aku ingin memberitahukan satu hal sama kamu."
Aku bisa mendengar bagaimana nada suara frustrasi, yang wanita itu gunakan saat bilang seperti itu kepada kekasihku, yang lagi-lagi hanya bergumam.
"Hn."
"Arlan, aku serius!"
Aku sedikit tersenyum senang, saat wanita itu lebih mengeluarkan nada suara kesalnya, saat lagi-lagi kekasihku hanya bergumam.
"Emang apa yang kami harapkan, Tania," gumamku dengan senyum sinis.
"Kamu tinggal bilang, apa susahnya."
Ah! Akhirnya kekasihku mengeluarkan suara dengan pertanyaan bernada datarnya, nada suara yang tidak akan dia gunakan jika itu di hadapanku.
"Arlan, selama ini kamu itu diboohingi oleh Evelyn."
Jantungku berdetak kencang dengan perasaan takut, saat Tania dengan gemas memberitahu fakta kebenaran tentangku.
Tidak, ini tidak boleh terjadi.
Aku ketakutan saat Tania dengan lancar, memberitahukan kebohonganku kepada Arlan yang hanya ...
Diam?
Ada apa ini, kenapa Arlan hanya diam saat Tania mulai memberitahu fakta kenyataan tentangku.
"Arlan, kamu itu diperalat sama Evelyn. Selama ini Evelyn hanya ingin menggunakan kamu, untuk menyakiti aku, karena dia itu iri dengan kita. Karena dia iri dengan aku yang punya segalanya."
Aku memberanikan diri melihat dari sela pintu, ingin melihat bagaimana sikap dan raut wajah kekasihku, Arlan. Yang kebetulan saat ini berdiri menghadap pintu, sedangkan Tania membelakangiku.
Dan lagi-lagi aku dibuat bingung, saat melihat ekspresi biasa bahkan nyaris tanpa ekspresi, yang saat ini sedang ditampilkan oleh kekasihku.
Kenapa raut wajahnya seperti itu?
Aku bingung dengan kenyataan, jika apa yang aku takutkan ternyata tidak terjadi.
"Arlan, kenapa kamu hanya diam saja?"
Aku tersentak saat aku mendengar perkataan Tania, sepertinya aku tadi sedikit melamun saat memikirkan kemungkinan yang ada.
"Tidak ada, aku harus pergi. Jika kamu tidak ada kepentingan lagi, aku permisi."
Setelah mengatakan itu, kekasihku pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah belakang.
"Arlan!"
Hal yang terakhir aku dengar adalah Tania yang menjerit memanggil nama kekasihku, dengan aku yang ikut meninggalkan pintu depan balkon.
Aku berjalan menuju toilet untuk menenangkan diri, sebelum aku bertemu muka dengan kekasihku yang saat ini tidak aku tahu, seperti apa perasaan dalam hatinya, saat tahu jika aku telah menyakitinya dengan cara licik seperti ini.
Evelyn pov end
Flasback end
Dan di sini lah sekarang Evelyn, berdiri di depan cermin yang ada di dalam toilet, melihat pantulannya sendiri dengan ekspresi wajah sedikit pucat.
Evelyn takut jika Arlan akan marah dengannya, bahkan akan meninggalkan dirinya sendiri, padahal ia sebenarnya sangat mencintai Arlan dengan sungguh-sungguh.
"Arlan, maafkan aku," gumam Evelyn dengan kepala menunduk.
Sedangkan disisi Arlan, yang saat ini sedang duduk menyendiri di bagian sudut ruangan, hanya bisa berdiri menatap sekitar tidak fokus, dengan tangan memegang gelas berisi wine.
Pikirannya melayang disaat ia sedang berdiri berhadapan dengan tunangannya, Tania. Yang tiba-tiba datang dan membawanya untuk bicara berdua, dengan pembahasan yang sama sekali tidak ia bayangkan.
Sepertinya kekasihnya sudah mulai dengan permainannya, sehingga Tania tahu tentang dirinya yang dipermainkan oleh Evelyn.
Dan ia juga tahu sebenarnya ada seseorang yang mencuri dengar, apa yang disampaikan oleh Nona Brata, dari balik pintu dengan bayangan yang sangat kelihatan keberadaannya.
Ia sengaja hanya diam tanpa mengeluarkan uneg-unegnya, yang tahu kenyataan tentang ia diperdaya oleh asistennya sendiri.
Ia sengaja ingin membiarkan kekasihnya sampai sejauh mana, menganggap dirinya tidak tahu tentang dirinya yang dijadikan batu pijakan.
__ADS_1
Ia juga ingin kekasihnya dengan sendirinya tanpa paksaannya, memberitahukan tentang rahasia yang sebenarnya bukan rahasia baginya.
"Aku harap setelah ini kamu memberitahu aku kebenarannya, sehingga aku bisa dengan leluasa membantumu, untuk melewati dan melawan hal yang tidak kamu sanggup lakukan sendiri."
Yah, Arlan hanya menunggu saat hari di mana kekasihnya, Evelyn. Memberitahukan kebenaran tanpa ia yang memaksanya.
Skip
Pesta telah usai, kini saatnya Evelyn dan Arlan pulang, setelah berpamitan dan menunggu tamu benar-benar meninggalkan ballroom.
Di dalam mobil yang dikendarai Arlan, suasana sedikit berbeda dengan suasana saat mereka berangkat.
Biasanya selain suara musik instrumen, suara obrolan dengan Evelyn yang mendominasi juga akan memenuhi ruangan di dalam mobil, tapi tidak, saat keduanya diam dengan isi kepala masing-masing.
Evelyn diam karena tidak tahu, ingin membahas apa, saat dirinya takut dengan Arlan yang hanya diam sedari mereka ada di pesta. Sedangkan Arlan, masih menunggu dengan kejujuran Evelyn, yang ia yakini tidak akan terjadi malam ini.
Keterdiaman keduanya berlangsung hingga mobil yang di kendarai Arlan, sampai di halaman luas hunian milik Arlan, alih-alih di depan gerbang kost-an yang disewa oleh Evelyn.
Evelyn menatap tidak mengerti ke arah Arlan, yang sama sekali tidak melihat ke arahnya. Arlan malah dengan cepat mematikan mesin mobil, setelah memarkirkan mobilnya di tempat biasa ia parkir.
"Ar-
Ceklek!
Blam!
Ucapan Evelyn terpaksa ia telan kembali, saat dengan cepat Arlan keluar dari mobil dan membuka pintu samping.
Ceklek!
"Turun," ucap Arlan dengan nada biasa, meski ada sedikit nada datar di dalamnya.
Evelyn mengiyakan, turun setelah menerima uluran tangan kekasihnya.
Blam!
Arlan menutup pintu mobilnya sedikit kuat, sehingga debaman pintu menggema di basement sepi, yang ada di bawah kondominium tempat Arlan tinggal.
Keduanya jalan bersama, menuju lift yang akan mengantar mereka ke lantai tempat tinggal Arlan.
Lagi-lagi keduanya diam, hingga perjalanan yang biasanya sebentar terasa sangat lama.
"Ar-
Ting!
Pintu lift terbuka, lagi-lagi menyela kalimat yang akan diucapkan oleh Evelyn.
Arlan dengan segera keluar dari dalam lift, menggandeng tangan Evelyn lembut dan membawanya untuk berjalan ke arah pintu hunian miliknya.
Memasukkan kode, dengan angka yang sangat dihapal di luar kepalanya, Arlan membuat pintunya sedikit lebar, mempersilakan Evelyn untuk masuk terlebih dahulu.
Suasana gelap menjadi terang, saat si empunya hunian menghidupkan saklar, sehingga kini ruangan dengan isi perabot masih sama, terlihat dengan jelas di kedua bola mata Evelyn.
"Sayang, kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Evelyn setelah sekian lama tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Arlan yang tadi ingin memasuki kamarnya berhenti, hanya menolehkan wajahnya untuk menatap Evelyn, yang juga menatapnya dengan kening bertaut bingung.
"Tidak ada apa-apa, hanya ingin menghabiskan malam denganmu. Apa salahnya."
Setelah mengatakan itu, Arlan kambali ke tujuan awalnya, membuka pintu kamarnya dan memasuki kamarnya.
Evelyn hanya pun yang ditinggal begitu saja mendesah lelah, ia melangkah kan kakinya menuju balkon hunian kekasihnya.
Evelyn membuka pintu berjalan ke arah dan berdiri di tepi balkon, kemudian menurunkan pandangan dan wajahnya, untuk melihat langit malam kota B, yang saat ini penuh dengan bintang buatan menghiasi.
Di saat sedang melamun melihat pemandangan di bawah sana, Evelyn tersentak kaget dan menjadi merinding saat merasakan pelukan tiba-tiba dan bisikan dengan nada seduktif, dari seseorang yang suaranya ia hapal di luar kepala.
"Evelyn ... Aku ingin kamu."
Deg!
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Maafkan Author yang khilaf, suka bolos nulis. 🤣
Terima kasih dan sampai babai.