Bukan Salahku

Bukan Salahku
Balas Satu Per Satu


__ADS_3

Dunia sudah terbalik.


Kini saatnya yang ditindas jadi menindas.


Yang dicemooh, balik mencemooh.


Yang berbuat, mendapat akibatnya.


Mari kita mulai dan di mulai dari kamu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Evelyn duduk dengan laptop menyala di hadapannya, serta jari-jari lentik berhiaskan kutex bening, mempercantik tampilanya yang biasanya sederhana.


Ini hari ke-tujuh, saat dirinya lagi-lagi datang dengan Arlan jalan disampingnya, berjalan dengan menebar aroma romantis yang memang disengajanya.


Dari arah depannya, ia bisa merasakan kehadiran seseorang, melangkah dengan percaya diri lengkap dengan lenggak-lenggok bahasa tubuh menggoda.


Personalia PT. Tri Tunggal, orang yang ia temui sebelum ia bertemu sang Presdir di awal masa kerjanya.


Wanita dengan tatapan mata menantang, serta sikap bermusuhan, jika dia melihatnya sedang dekat dengan Presdir di perusahaan ini.


Tak! Tak! Tak!


Suara heels yang beradu dengan lantai, semakin jelas saat eksistensinya semakin nyata dihadapanya, kemudian berdiri menjulang di depan meja kerjanya, dengan dagu terangkat pose sombong.


Pose yang dulu ia coba abaikan, saat dirinya ingin ketenangan menunggu berakhirnya masa kerjanya.


"Aku ingin bertemu Pak Arlan," ucap si personalia dengan nada tidak bersahabat, lengkap dengan mata memandang sinis. Dan itu membuatnya Evelyn mendengkus, balik menatap si personalia tidak kalah sinis.


"Sedang berbicara dengan siapa?" tanya Evelyn dengan nada acuh, alih-alih mempersilakan si personalia masuk.


Si personalia dengan nama Khalisa ini tentu saja kesal, saat mendapatkan balasan berani dari asisten Presdirnya, yang biasanya hanya akan menganggap lalu kelakuan sinisnya.


"Kamu mulia besar kepala ya, karena kamu merasa dekat dengan Presdir Arlan, jalan disampingnya," dengkus Khalisa menatap kesal ke arah Evelyn, yang balik menatap santai personalia di depannya.


"Kamu menganggap seperti itu, yah," balas Evelyn cuek, menghentikan jari-jari lentiknya yang tadi menari indah di atas keyboard.


Ia menatap dengan senyum miring, saat melihat wajah kesal personalia, yang ia ketahui salah satu antek-antek si Nyonya muda.


"Hell ... Aku tahu, pasti dulu dia juga yang mengatakan jika aku berduaan saja dengan Arlan," batin Evelyn kesal.


Khalisa semakin kesal, ia bahkan sampai mengepalkan tangannya emosi, saat lagi-lagi Evelyn menanggapinya santai, tanpa ada raut wajah emosi atau kesal seperti dirinya.


"Kam-


Ceklek!


"Ada apa ini?"


Ucapan Khalisa terpaksa harus ditelan dengan gugup, saat Arlan berdiri dengan aura tegas dan melihatnya dengan tatapan datar.


"Tamat riwayatku," batin Khalisa takut.


Ia berusaha menormalkan detak jantung serta mengubah raut wajahnya menjadi tenang, memasang senyum menggoda yang sayang sekali tidak mampu membuat Arlan mengubah aura dinginnya.


Dulu mungkin Arlan akan senang, ketika melihat senyum seperti itu, tapi tidak untuk sekarang saat kekasihnya menatap sayu ke arahnya.


"Pak Ar-

__ADS_1


"Kenapa Evelyn?" tanya Arlan, menyela dengan cepat saat personalianya hendak menyapanya.


Ia memperhatikan dari dalam, melalui CCTV di layar laptopnya, saat ia iseng ingin melihat apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya.


Dan see ... Ia melihat dan mendengar, jika ada sedikit kekacauan yang sedang di alami sang kekasih.


"Tidak ada apa-apa, Pak," jawab Evelyn dengan senyum menangkan, menatap sang personalia dengan tatapan mata menantang, seakan bilang jika ia bukan lagi dirinya yang dulu.


Arlan melihat personalianya, memasang wajah dingin, saat mengingat ucapan lancang dari karyawannya terhadap kekasihnya.


"Ada apa mencariku?" tanya Arlan datar, membuat Khalisa gugup seketika.


Padahal ia sering mendengar nada datar dari Presdirnya, tapi entah mengapa nada yang saat ini di keluarkan Presdirnya lebih dari sekedar dingin.


"It-itu Pak, saya mau melaporkan tentang penerimaan karyawan magang," jelas Khalisa dengan nada gugup, serta hati takut saat melihat tatapan tidak biasa dari Presdirnya.


"Hn, kamu bisa bicarakan dengan Evelyn, dia yang akan memeriksanya, dan saya percaya dengan keputusannya," jawab Arlan tegas membuat Khalisa mengangguk kepala paham, kemudian melihat ke arah asisten pribadi Presdirnya, yang juga melihat ke arahnya dengan senyum yang berubah menjadi senyum manis.


Kemana senyum sinisnya tadi, kenapa tiba-tiba berubah menjadi Evelyn yang seperti dulu lagi.


"Evelyn apakah dia sudah berubah, atau dia punya kepribadian ganda," batin Khalisa bingung.


"Baik Pak."


Arlan mengangguk, kemudian melihat ke arah asistennya, mengulangi perkataannya tadi dengan nada yang berbeda, membuat Khalisa menatap tidak percaya dengan hati bertambah iri.


"Mengerti kan, Evelyn?" tanya Arlan setelah menjelaskan ulang, apa perintahnya tadi kepada personalianya.


"Tentu, Pak Presdir," balas Evelyn tersenyum dengan kepala mengangguk mengerti.


"Bagus, aku ke dalam lagi," lanjut Arlan, membalikkan tubuhnya, memasuki kembali kantor miliknya.


Blam!


"Anda bisa menyerahkan laporannya kepada saya, sesuai dengan perkataan Pak Presdir," ucap Evelyn dengan nada mendayu, menunjukan jika ia adalah si asisten kepercayaan dengan persentase full, kepada si personalia yang menatapnya kesal.


Khalisa dengan kesal meletakkan map laporan, ke atas meja kerjanya menimbulkan suara, dari map tebal yang beradu dengan permukaan meja.


"Jangan senang dulu, kamu itu bukan siapa-siapa, dibandingkan dengan Nyonya muda Brata," desis khalisa sinis, namun sayang itu adalah hal yang paling ditunggu oleh Evelyn, yang saat ini semakin menampilkan senyum manis penuh janji.


"Dasar bit*h," lanjut Khalisa saat melihat senyum aneh dari asisten pribadi Presdirnya.


"Kalau begitu kita lihat, siapa yang menang, Kha-li-sa," balas Evelyn dengan menekan nama si personalia, berusaha tidak termakan umpatan untuknya. Kemudian ia tersenyum ceria, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Semoga harimu menyenangkan!" "seru Evelyn semangat, membuat Khalisa menghentakkan kaki kesal dan meninggalkan kantornya, berjalan dengan langkah kaki lebar menuju lift di depan sana.


Ting!


Evelyn bahkan masih sempat melambaikan tangannya, mengucapkan salam perpisahan tanpa suara, kepada Khalisa yang menatap tajamnya.


Tidak lama dari kepergian personalia, telepon di meja kerjanya berdering, membuatnya mendengkus saat bisa menebak siapa yang saat ini sedang menghubunginya.


Siapa lagi kalau bukan ...


"Dengan Evelyn Carla, ada-


" Ke ruanganku."


See ... Arlan tentu saja.


Ia bahkan harus menghela napas, saat ucapannya disela dengan nada tidak sabar dari Presdir merangkap sebagai kekasih bayangannya.

__ADS_1


"Baik," balas Evelyn dengan nada tenang.


Evelyn pun segera melangkahkan kakinya, menuju pintu ruangan di depannya, namun belum juga ia menyentuh gagang pintu, pintu lebih dulu terbuka dengan ia yang di tarik paksa dan masuk kedalam pelukan posesif kekasihnya.


Bruk!


Brak!


Serta debamam pintu, saat sang kekasih menutup pintu dengan mendendang bebas pintu ruangannya.


Evelyn kaget dengan apa yang di terimanya saat ini, pelukan posesif dari Presdir kekasihnya terasa sangat tulus, membuatnya terbuai dan ikut membalas pelukan tersebut secara tidak sadar.


"Bisakah kamu bilang, jika kamu sedang di tindas, apalagi ini adalah wilayahku," bisik Arlan di telinga Evelyn, membuatnya meremang saat merasakan hembusan napas sang kekasih, yang berbisik dengan nada khawatir dan tulus.


Untuk sesaat Evelyn luluh, namun segera di tepisnya jauh-jauh, karena ini belum saatnya ia memiliki Arlan secara utuh.


Masih banyak yang harus ia lakukan, karena sampai saat ini sepertinya Nyonya Brata masih belum bertindak, seperti masih mencoba bertahan, padahal ia tahu dengan pasti jika saat ini si Nyonya Brata sedang mengalami apa itu rasa kesal.


Evelyn mengusap punggung tegap sang Presdir, memberikan afeksi kepada kekasihnya yang semakin erat memeluknya.


"Maaf, maafkan aku," balas Evelyn lirih, menutupi kenyataan jika dirinya bahkan senang, saat melihat ekspresi tidak percaya dari si personalia tersebut.


Arlan menggelengkan kepala cepat, tidak tahu jika ia salah mendengar ucapan bernada aneh dari kekasihnya, saat dirinya terbuai akan usapan lembut pada punggungnya.


"Tidak, kamu tidak salah. Apa yang harus aku lakukan untuk menghukumnya?" tolak dan tanya Arlan masih menikmati usapan, tidak ingin menyia-nyiakan kehangatan yang dirasakannya saat ini.


"Hukuman? Untuk siapa?"


Evelyn pura-pura tidak mengerti, lalu hendak mengurai pelukannya namun sayang, Arlan tidak membiarkannya begitu saja, justru memeluknya semakin erat.


"Mereka, mereka yang sudah macam-macam denganmu," sahut Arlan cepat, membuat Evelyn tersenyum miring, namun Arlan tidak tahu.


"Tidak Ar, jangan, biarkan saja," balas Evelyn menolak, namun dalam hati ingin sekali menyetujui tawaran itu dengan segera.


"Tidak bisa Schatz, mereka harus dapat hukumannya," tolak Arlan keras kepala, menuai dengkusan pura-pura menyerah dari Evelyn, yang sebenarnya senang dengan senyum puas.


"Baiklah Ar, tapi cukup aku saja, kamu diam dan tonton saja. Bagaimana?" usul Evelyn pura-pura pasrah, namun cukup membuat Arlan mengangguk mengiyakan.


"Apapun, jika itu untuk kesenangan kamu, Schatz(Sayang)," balas Arlan.


Ia menarik wajahnya dari ceruk leher kekasihnya, menatap wajah cantik sang asisten dan memajukan wajahnya, untuk mengecup kecil dengan cepat bibir mungil kekasihnya, yang dibalas cubitan manja dari kekasihnya.


"Mesum, ambil kesempatan dalam kesempitan," dumel Evelyn manja, membuat Arlan terkekeh.


"Kemarin kecup kening, lalu pipi sekarang bibir, besok apa lagi," batin Evelyn sedikit horor saat membayangkan ada adegan parah lebih dari ini.


"Haih ... Untung aku juga masih cinta," lanjutnya masih dalam batin.


"Tidak apa-apa mesum, sama kekasih sendiri ini," balas Arlan tidak perduli, membuat Evelyn terkekeh dengan imutnya.


"Dasar."


"Yang penting aku sudah dapat golden card, hanya tinggal memakainya saja," batin Evelyn dengan senyum manis, melihat Arlan yang tersenyum pula di hadapannya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.

__ADS_1


Author lagi ada acara keluarga, maaf kalau updatenya bolong-bolong 🤣.


Hontoni gomenesai minna-san (Benar-benar minta maaf, semuanya)


__ADS_2