
Menurut Habibi, Ratih adalah gadis ceria yang selama Abi mengenalnya hampir tidak pernah melihatnya menangis atau bersedih apalagi mengeluh, entah seberapa banyak masalah dalam hidupnya, namun Ratih tidak pernah sekalipun menunjukkan jika Ia tengah bersedih, apalagi menangis? Jelas itu adalah hal yang nyaris tidak pernah Ratih lakukan setahu Abi.
Ratih besar di keluarga yang cukup berada, selain itu keluarganya juga terlihat harmonis dan saling mengasihi, tidak ada bedanya dengan keluarga Abi, keluarga mereka adalah keluarga yang hangat dan saling menyayangi satu sama lain.
Dan kini, Abi melihat Ratih tengah tergugu pilu layaknya orang yang tengah patah hati, Abi sedikit kecewa, mengapa Ratih tidak jujur padanya mengenai masalah hidupnya? Selama ini semua hal tentang Abi, Ratih selalu tahu, seluruh masalah Abi tanpa terkecuali. Dan kini, Abi malah melihat Ratih tengah bersimpuh di makam Bunda dengan menceritakan pria gebetannya yang terlihat telah menyakitinya.
Abi berjalan perlahan menghampiri Ratih yang masih saja bersimpuh dengan isakan tertahan, Abi yakin, dibawah teriknya mentari wajah Ratih kini pasti sudah memerah karenanya.
“Ra?”
Panggilan dari Abi membuat tubuh Ratih membeku, gadis itu terlihat menegang, perlahan wajahnya menengadah, terlalu jelas mimik ketakutan gugup diwajah Ratih.
“Sebegitunya kamu menyembunyikan keluh kesahmu dariku Ra? Kamu punya masalah apa sebenarnya?” Abi berjongkok, menaburkan bunga yang dia bawa di atas makam Bunda, sesekali tangannya mengelus nisan Bunda dengan sayang.
“Hah?” Ratih masih bingung, sekaligus kaget atas kedatangan Abi yang tiba-tiba.
“Hai Bunda, Abi datang, maaf seminggu ini Abi jarang menemui Bunda” Abi mengabaikan Ratih yang masih mematung, kini Abi malah berbicara dengan Bunda seperti Biasa.
“Bun, Abi lelah ...” Abi memulai kembali sesi curhatnya. Ratih mendengarkan dari sampingnya, mencoba mencerna setiap ucapan Abi.
__ADS_1
Hingga beberapa saat hanya keheningan yang mendominasi, Ratih melirik Abi yang kini tengah memejamkan matanya erat, rupanya Abi melanjutkan curhatnya didalam hati, membuat Ratih mengernyit tidak suka, jika Abi melakukan tindakan seperti demikian, Abi akan selalu terbuka padanya, dan kini ada hal yang ditutupi Abi darinya.
“Jadi, siapa pria yang sudah membuatmu menangis patah hati?” Abi kembali bertanya saat mereka sudah berada disalah satu warung kopi yang berada tidak jauh dari pemakaman Bunda, mereka telah selesai beramah tamah pada makam Bunda, karena matahari terasa terik menyengat kepala, akhirnya mereka memutuskan untuk berteduh sejenak.
“Hah?” Ratih gelagapan, takut sekali jika Abi tahu, siapa pria yang disukainya selama ini.
“Aku sudah dengar semuanya tadi” Abi kembali melanjutkan.
“Ma maksudnya?” bibir Ratih bergetar hebat, apakah ini akhir dari persahabatan mereka? Ratih memejamkan matanya kuat.
“Aku dengar, kalau kamu tengah patah hati karena seorang pria Ra, siapa pria itu? Selama ini aku selalu membagikan semua kisahku padamu, kamu selalu ada untukku, lalu sekarang? Kenapa kamu enggan membagi kisah sedihmu padaku? Apa ini alasan kamu ingin pergi, dengan alasan melanjutkan pendidikan? Kamu bohongin aku Ra?” Abi menatap Ratih, tatapan mengintimidasi, Ratih tahu betul, jika Abi sudah menatapnya demikian, itu artinya Abi tengah menahan kesal.
Abi terdiam, sungguh malang nian nasib sahabatnya ini, tidak pernah jatuh cinta, sekalinya jatuh cinta malah pada orang yang tidak tepat, langsung patah hati pula.
“Ra? Siapa dia? Apa aku mengenalnya?” Abi menghela napas, merasa nasib Ratih begitu tragis, tanpa Abi sadari jika nasibnya jauh lebih tragis.
“Kamu gak akan kenal dia, dia te temanku” Ratih kembali terbata, jantungnya berdebar Ratih merasa begitu gugup.
“Teman?” Abi mengerutkan keningnya, rata-rata Abi mengenal siapa teman Ratih.
__ADS_1
“Teman di ... di rumah sakit, ta tapi sekarang dia udah gak disana lagi” Ratih semakin melancarkan kebohongannya.
“Ah, sayang sekali, coba saja dia masih ada disana, pasti sudah kupatahkan lehernya, berani sekali dia mengabaikan sahabatku yang sempurna ini” Abi mengutuk kesal, sesekali dia menyeruput kopi yang telah dipesannya, sementara Ratih kembali tertegun, andai Abi tahu siapa pria itu sesungguhnya.
“Ra, kamu perempuan yang sangat cantik, kamu baik, kamu lucu, kamu imut dan menyenangkan, carilah pria yang baik, masih banyak pria single diluar sana yang mengantre, mau menjadikan kamu sebagai kekasihnya, jangan lagi jatuh cinta pada pria beristri, hm?” Abi menatap Ratih dalam, ini adalah peringatan dari Abi yang membuat hati Ratih semakin sakit saja, Abi melarangnya untuk mencintai pria beristri, itu artinya Abi juga melarangnya untuk menyukai Abi.
“Tapi, perasaan siapa yang bisa menentukan, jika aku bisa mengendalikan hatiku, aku ingin jatuh cinta pada Christian bautista saja, tidak ingin yang lain” Ratih menolehkan kepalanya ke sembarang arah, tidak ingin lebih lama lagi di tatap oleh Abi, baginya mata Abi adalah kelemahannya, Ratih bisa menangis histeris dan langsung memeluk Abi, lalu menceritakan perasaannya, seandainya jika Abi belum menikah dengan Naina.
“Ra, tolong, bunuh perasaan kamu, jangan coba-coba untuk tetap memupuknya, lupakan dia, ah ... sekarang aku malah menyetujui kamu melanjutkan studimu di luar negeri sana, itu lebih baik untukmu Ra” Abi memanggutkan kepalanya berulang kali, dan sungguh pernyataan Abi malah membuat Ratih kian sakit, batinnya perih terasa disayat oleh banyak belati tak kasat mata.
“Jangan pernah memulai kisah dengan orang yang sudah berada dalam tengah kisah, mengerti maksudku?” Abi kembali menatap Ratih yang kini matanya sudah berkaca-kaca.
“Jangan menangis, atau perlu aku mencarikanmu kekasih yang tampan, rupawan dan mapan?” Abi menaik turunkan alisnya hendak menggoda, namun air mata Ratih malah menetes deras. Kepalanya menggeleng cepat.
“Huh, jatuh cinta memang selalu semenyakitkan itu Ra” Abi mengusap air mata Ratih yang tumpah ruah. Merasa bersalah karena tidak ada disamping Ratih saat Ratih tengah jatuh cinta pada orang yang salah, Abi terlalu sibuk dengan urusan Naina, hingga mengabaikan Ratih seperti ini, Ratih pasti kesepian, harus memendam rasanya seorang diri tanpa bisa mengutarakannya pada orang lain.
“Sudah, sudah, aku berdoa untukmu Ra, semoga kamu segera dipertemukan dengan pria baik yang tulus mencintaimu, dan yang pasti dia harus single” Abi kembali mengusap air mata Ratih yang kian merebak.
“Biiiiii ...” tiba-tiba saja Ratih menghambur dipelukan Abi dengan isak yang makin kuat, membuat pria itu tertegun merasa kaget dengan sikap spontan Ratih, sahabatnya ini tidak pernah ingin melakukan kontak fisik apapun dengannya, dan sekarang? Kenapa Ratih menjadi sekalap ini? Dan yang lebih anehnya lagi, kenapa pelukan Ratih terasa nyaman, terlebih Abi juga tengah sama menyimpan rasa sedih tak terkira di hatinya. Apa mungkin karena gadis itu tengah patah hati? Atau karena Abi yang terlalu kasihan melihat Ratih patah hati?.
__ADS_1