Bukan Salahku

Bukan Salahku
Perkenalan


__ADS_3

“Di bawah masih ada banyak stock piring dan makanan, Bi ambilin lagi makanan untuk istriku, bawakan hingga dia mau makan sendiri, dan sadar! Jika dia makan bukan hanya untuknya, tapi juga untuk anakku! Katakan juga padanya, jika dia masih menolak, maka bersiaplah besok, tidak akan ada lagi hari baik untuknya dan untuk keluarganya” tatapan mata Abi tajam menyorot Naina yang kini tengah memundurkan langkahnya ke belakang menghindari pecahan beling yang berserakan di lantai akibat ulahnya.


“Ba baik Den” Bibi mengangguk takut-takut, lalu segera beranjak meninggalkan sepasang suami istri yang kini tengah saling menatap tajam. 


Dengan sigap tangan abi menuntun tangan Naina yang kini terlihat meronta ingin dilepaskan, Abi hanya terdiam, membawa Naina duduk disamping tempat tidur, dalam sekali gerakan Abi mengangkat kaki Naina dan memangkunya, meski Naina berusaha memukul tubuh Abi. 


“Budeg! Gue gak mau Lo sentuh!” 


Abi memejamkan matanya, rupanya Naina masih ingin menguji kesabarannya, Abi terdiam, meraih sekotak tissue lalu membersihkan Naina yang tertumpahi makanan, ah ... juga ada sedikit luka karena tergores beling tadi. 


Abi membersihkannya dengan sabar, lalu menempelkan plester setelahnya, Naina kini hanya terdiam setelah banyak mengeluarkan tenaga untuk berontak dan berakhir sia-sia. 


“Ini Den makanannya” Bibi datang lagi dengan makanan baru di atas nampan.


“Ini mau disimpan dimana Den?” Bibi bertanya lagi dengan raut takut-takut, belum genap satu minggu bekerja dirumah ini, namun Bibi sudah menyaksikan hal-hal yang sangat mencengangkan. 


“Kamu mau makan sendiri, atau mau aku yang suapi?” Abi bertanya kembali dengan sabar.


“Gue gak lapar! Gue gak mau makan!” Naina masih keras kepala, 


Abi menarik napas dalam “tinggalkan saja disana Bi” Abi tersenyum pada Bibi, memintanya untuk meninggalkan nampan di atas nakas. 


“Sekali lagi, kamu mau makan sendiri atau mau aku yang suapi?” Abi bertanya lagi setelah Bibi meninggalkan kamar mereka. 


“Lo budeg? Gue gak mau makan! Jangan paksa!” Naina berteriak histeris, merasakan frustasi yang tidak berkesudahan. 


Abi mencoba tersenyum di antara luka yang dia rasa, hingga menimbulkan ekspresi aneh di wajahnya, Abi segera meraih nampan dan menatap Naina tajam. 


“Sekarang buka mulutnya!” Abi menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya dihadapan Naina, namun dengan segera Naina menepis sendok tersebut, hingga makanannya tumpah mengenai dirinya juga selimut yang menutupi tubuhnya, Abi menghela napas lagi. menatap tajam Naina, rupanya terpaksa Abi harus melakukan tindakan yang dibenci Naina lagi. 

__ADS_1


“Buka mulutnya Naina!” Abi meraih kedua pipi Naina, memaksa gadis itu untuk memasukan makanannya, Naina melototkan matanya, berusaha kembali menepis, namun Abi segera mencengkram kedua tangan Naina juga, hingga gadis itu cukup kesulitan, selain daripada pasrah membuka mulutnya. 


“Cuih!”


Abi memejamkan matanya, kala makanan yang tadi sudah berada di dalam mulut Naina, kini berpindah ke wajahnya, Naina menyemburkan makanannya dengan sempurna di wajah Abi. 


Oke! Habis sudah kesabaran Abi, pria itu kembali mengapit pipi Naina dan memasukkan makanan ke dalam mulut istrinya, hingga Naina menjerit dan berusaha memberontak, namun dengan sigap Abi menindih tubuh Naina agar tidak terlalu banyak perlawanan, Naina sempat tersedak, namun akhirnya makanan dan segelas susu juga vitamin masuk kedalam perut Naina. 


Abi menyeka air mata Naina yang mengalir di pipinya, Abi merasa bersalah harus melakukan semua ini pada Naina, namun demi keberlangsungan hidup anaknya, Abi terpaksa harus melakukannya. 


“Maaf Na, seharusnya kamu menuruti saja apa perintahku, aku hanya ingin kamu makan tanpa banyak drama, hanya itu, kenapa susah sekali Na?” Abi bertanya lembut pada Naina, namun gadis itu dengan cepat memalingkan wajahnya, kekesalannya sungguh sudah mengakar. 


“Sekarang kamu istirahat lagi, aku mau beresin ini” Abi meraih selimut baru dari dalam lemari, menyingkirkan selimut kotor yang tadi tertumpahi makanan, Abi menyapu lantai yang kotor, dan membersihkan pecahan belingnya, sesekali mata Abi melirik pada Naina yang kini sudah menutupi tubuhnya dengan selimut sembari membelakangi Abi. Menghela napas Abi hanya menggelengkan kepalanya. 


*** 


‘Mas Abi, bisa bantu Bila mengerjakan lukisan ini? Bila mendapatkan tugas dari kampus, tapi setelah coba Bila kerjakan ternyata sulit’ 


‘Boleh, tapi Bila datang saja ke rumah Mas Abi ya? Soalnya Mas Abi sambil jagain istri Mas Abi’ 


‘Oke Mas’ 


Abi menyimpan kembali ponselnya di atas meja makan, melirik Naina yang masih belum menyuapkan makanannya dengan benar. 


“Ayo makan yang benar Na, kamu tidak boleh melewatkan sarapan” 


Naina hanya mendengus malas, merasa terganggu dengan ucapan Abi barusan, dengan kesal Naina memasukkan makanan kedalam mulutnya secara asal, hingga hampir saja Naina tersedak jika Abi tidak sigap memberinya minum. 


“Pelan-pelan Na, nanti kamu tersedak, anakku kaget” Abi menepuk bahu Naina pelan, namun segera gadis itu menepisnya kasar, Abi hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Na, lebih baik kamu berjemur di taman depan, matahari pagi bagus buat kamu” 


Sekali lagi Naina menghentakkan kakinya dengan kesal, melengos menjauhi Abi menuju teras depan rumahnya, Naina lebih baik segera menuruti perintah Abi daripada kejadian tadi terulang lagi. 


Abi tersenyum melihat tingkah Naina yang terlihat kekanakkan. 


“Gue udah empet banget tinggal sama si budeg! Tapi Gue gak punya cara lain buat pergi dari sini, Gue masih gak rela kalau tiba-tiba keluarga Gue hidup miskin!” Naina tengah menggerutu kesal, saat ada mobil cukup mewah parkir di halaman rumahnya setelah satpam di depan mempersilahkannya masuk. 


“Hai Kak” 


Naina memicingkan matanya kala melihat seorang gadis muda yang diperkirakan hanya beda satu atau dua tahun darinya itu tengah menyapanya dengan sopan dan lembut. 


“Siapa Lo?” dengan ketus Naina melirik gadis cantik yang kini tengah tersenyum ramah padanya. 


“Aku ...”


“Bila? Ayo masuk” 


Kedua gadis itu menatap pada Abi yang kini tengah berjalan ke arah mereka, Abi tersenyum lembut sementara mentari pagi menyoroti wajah tampannya, hingga Abi terlihat begitu bersinar. 


“Na, ini Bila, Bila ini anak dari Om Awan sahabat baik Mama dan Papa” Abi berusaha menjelaskan. 


“Gak nanya! Dan gak mau tahu!” 


Naina melengos pergi setelah mengatakan hal tersebut dengan wajah super judes miliknya. 


“Loh? Kak Naina marah?” Bila menundukkan kepalanya, merasa tidak enak atas kehadirannya yang kurang berkenan. 


“Ah, tolong maafkan istriku ya Bil, dia memang begitu, namun aslinya Naina itu baik kok, mungkin saja kalian bisa berteman nanti” Abi mencoba mengerti posisi Bila, hingga gadis itu kembali tersenyum lembut dengan menundukkan kepalanya. 

__ADS_1


“Najiiiisssss!!!”


Abi dan Bila terjingkat kaget kala mendengar lengkingan keras dari dalam rumah. 


__ADS_2