
Di rumah besar milik Juniar Wijaya, seseorang tengah menunggunya di ruangan tamu yang sangat luas. Setelah sang asisten rumah tangga menyambutnya dan menyuruhnya menunggu di ruangan itu, kini dia tinggal sendiri menanti pemilik rumah menemuinya.
"Ada perlu apa datang kesini?" Tanya Juniar yang muncul dari arah belakang.
"Perkenalkan saya Doni, teman Anne." Pemuda itu mengulurkan tangannya, di sambut dingin oleh Juniar. Memang akhir-akhir ini suasana hatinya tidak bagus.
"Maaf mengganggu waktunya. Hanya saja saya ingin memastikan keberadaan Anne, apakah dia sudah ketemu?"
"Dua hari yang lalu saya pergi ke Paris. Saya melihat orang yang mirip sekali dengannya." sambungnya.
Mendengar nama Anne di sebut, Juniar pun terbelalak menunggu kabar yang tengah di ceritakan oleh lelaki yang tengah berada di hadapannya itu.
"Lalu, dimana dia sekarang? Kenapa kamu tidak membawanya pulang!" Ujar Juniar dengan suara meninggi.
"Sabar! Saya belum selesai berbicara," ujar Doni.
Dia pun menceritakan pertemuannya dengan orang yang mirip sekali dengan Anne. Namun dia tidak yakin itu Anne karena wanita yang dia temui sama sekali tidak mengenalinya, padahal mereka tidak bertemu belum ada satu tahun.
Setelah mendengar cerita dari Doni, Juniar pun bergegas mengemasi baju dan akan segera pergi ke Paris, tempat dimana Doni melihat wanita yang mirip dengan istrinya itu. Jantungnya berdebar, dia sudah tidak sabar menemukan wanita yang dia cari. Juniar berharap, wanita itu memanglah Anne, sang isteri.
__ADS_1
"Kau harus ikut denganku," ujar Juniar pada Doni yang masih menunggunya di ruang tamu itu. Juniar meminta di antar ke tempat yang sama agar dirinya lebih mudah menemukan Anne. Mereka pun berangkat pada saat itu juga.
____
Anne tengah berdiri di depan cermin, memakai gaun yang di belikan oleh Sean malam kemarin. Dia sangat senang karena gaun yang di belikan oleh Sean sangat cocok dan cantik ketika dia memakainya. Anne tidak hentinya berputar-putar menikmati keindahan gaun yang melekat di tubuhnya itu, Sean yang tengah berbaring di kasur bersama sang bayi berdecak tidak hentinya melihat tingkah Anne.
"Sudah hentikan, apa kamu tidak pusing berputar-putar terus disitu?" Ujar Sean.
Anne pun berhenti, menatap Sean sambil melipat kedua tangannya di dada, "Kenapa? Apa kamu terganggu?" Ketusnya.
Seketika Sean pun terduduk di tepian kasur setelah melihat Anne yang tampak kesal sampai kedua alisnya menyatu, padahal laki-laki itu tidak bermaksud menyinggung perasaan sang isteri.
"Maafkan aku, maksud ku apa kamu tidak lelah berdiri di sana sudah hampir setengah jam hanya untuk berputar-putar, aku khawatir kamu akan lelah," ujar Sean berbohong.
"Jawab pertanyaan ku dengan jujur!" Ujar Anne. Sean pun mengangguk.
"Apa kamu mencintaiku?!"
"Tentu! Aku sangat mencintaimu." Jawabnya dengan yakin.
__ADS_1
"Apa kamu ingin memilikiku seutuhnya?!"
Karena wajah Anne kini semakin dekat dengan wajahnya, Sean sampai harus menelan saliva sebelum menjawab pertanyaan itu, dia sangat gugup jika jawabannya salah atau Anne tidak menyukai jawaban yang dia berikan.
"Tentu saja. Bahkan sekarang kamu sudah menjadi milikku."
"Apa kamu berjanji akan menjagaku dan setia padaku?!"
"Tentu saja, aku berjanji bahkan pada diriku sendiri aku akan selalu mencintaimu."
Tiga pertanyaan itu sudah cukup untuk Anne, dan jawaban yang terlontar dari mulut Sean juga cukup membuat Anne yakin bahwa Sean akan setia padanya. Dan sekarang Anne semakin mendekat sampai bibir indah itu menyatu, bertaut pada bibir milik Sean. Laki-laki itu hanya terdiam, dia masih terkejut dengan apa yang Anne lakukan kepadanya, baginya ini di luar ekspektasi, dia tidak tahu bahwa Anne akan siap secepat ini.
Tanpa menunggu lama, Sean pun mengikuti permainan yang Anne mulai. Jantungnya berdebar kencang, sekujur tubuhnya mulai bereaksi tidak karuan. Detik ini, waktu yang dia tunggu-tunggu sedari lama akan segera dia lalui. Tangannya menjamah setiap lekuk tubuh sang isteri, begitupun sebaliknya. Kini keduanya pun sudah saling melepaskan pakaiannya, Sean bertindak agresif sampai Anne tidak punya celah untuk sekedar menarik nafas, namun saat mereka akan menciptakan kenikmatan itu tiba-tiba saja sang buah hati menangis keras.
"Maaf, aku harus menyusuinya dulu," ujar Anne meninggalkan Sean. Laki-laki itu berdecak sebal. Padahal menunggu momen ini butuh waktu berbulan-bulan, kini dia cemburu pada bayi kecil itu. Dia menghampiri Anne dan bergelendot di pundak sang isteri.
Anne menoleh padanya dan berkata, "Sabar ya, nanti kita lanjutkan lagi setelah dia tidur," ujar Anne. Sean dengan sabar menunggu bayi yang sedang menyusu itu tertidur lagi.
Anne meletakan sang bayi dengan hati-hati agar tidak terbangun. Dia pun melirik ke belakang, namun sayangnya Sean sudah tertidur pulas, Anne tidak tega jika harus membangunkannya, dia pun membiarkan Sean tidur. Namun malam itu Anne tidak bisa tertidur, dia kembali teringat laki-laki yang dia temui di kafe itu.
__ADS_1
"Apakah dia memang mengenalku?" Batinnya.
Anne terus saja menggali pikirannya, semakin berusaha, semakin sakit kepalanya. Rasanya seperti akan meledak, pikirnya. Dia pun ingin kembali ke tempat itu, andai saja dia bisa kembali bertemu dengan laki-laki itu dia akan menanyakan apa yang di pikirkan saat ini.