
Cinta hanyalah cinta
Dia datang dan pergi sesuka hati
Bahagia dalam kebersamaan
Sedih dalam perpisahan
Cinta yang pergi hati yang merana
Larut dalam kenangan sosok yang ditinggalkan
Pemilik hati telah jauh pergi
Menyisakan kenangan indah
Tinggalkan kekosongan hati
Kemana hati ini melangkah
Ketika cinta sejati telah pergi
Kemana harus kucari lagi
Ketika gelap terus menghantui
Lautan tak berujung
Langit tak tersentuh
Yang telah pergi takkan pernah kembali
Kenangan cinta sejati akan terus kekal abadi
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kondominium Arlan
Saat ini Arlan sedang duduk sendiri, menghadap sebuah setelan jas dan kemeja baru, yang akan dipakainya diacara pertunangan bulshit malam ini.
Matanya menatap kosong, saat lagi-lagi teringat akan ucapan asistennya, seminggu yang lalu, sebelum mereka berubah menjadi orang asing, yang tidak saling kenal sebelumnya.
Selain hubungan atasan dan bawahan.
Tapi, walau begitu. Terkadang ia akan menatap rindu ke arah sang asisten, bahkan curi pandang saat asistennya sedang fokus, dengan pekerjaan yang di berikan olehnya.
Ia merindukan senyum lebar dari asistennya, ia merindukan tawa renyah dari asistennya, bahkan ia rindu saat bisa menikmati perjalanan dan makan siang ketika selesai mengadakan rapat di luar kantor.
"Sial."
Umpatan tidak henti-hentinya keluar dari belah bibirnya, saat terngiang ucapan Evelyn, ketika ia bertanya kenapa Evelyn tega melakukan ini dengannya.
Menyetujui dan menyuruhnya untuk melanjutkan pertunangan ini.
Sama saja dengan membunuhnya secara perlahan.
Arlan pov on
Aku ingat dengan jelas, bagaimana ekspresi asistenku, saat aku emosi dan tidak tahan didiami oleh Evelynku.
Aku lelah, aku tidak sanggup menahan rasa kecewa, dianggap tidak ada oleh Evelynku.
"Kenapa kamu tidak mengerti juga Lyn, aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kamu tidak percaya dan tidak memberikan aku kesempatan untuk membatalkan Pertunangan omong kosong ini?"
Itu adalah pertanyaan dengan penuh emosi, untuk asistenku yang balik menatapku kecewa.
"Tapi aku tidak mencintaimu, aku juga tidak percaya denganmu dan aku juga tidak akan memberikan kesempatan untuk kamu."
Jujur saja, aku tahu jika saat itu Evelyn berbohong, terbukti dengan mata berkaca-kaca dari asistenku saat melihatku.
"Lanjutkan Arlan, sekali aku mendengar pertunangan batal danTania datang dengan derai mata, aku akan benar-benar hilang dari pandanganmu."
Itu adalah kata-kata terakhirnya, sehingga aku lebih memilih untuk mengikuti kemauan Evelyn, dari pada tidak bisa melihat lagi wajahnya di tiap hariku.
Dengan air muka keruh, aku menjawab perintahnya diikuti kekehan kecil, layaknya orang bodoh yang sedang atau memang patah hati.
"Baik, itu mau kamu. Maka aku akan mengabulkan."
Dan Evelyn pun meninggalkanku, yang emosi dan hanya mampu menghancurkan benda di sekitarku.
Tidak lama dari keputusan Evelyn, aku pun mendatangi Tania yang menyambut kedatanganku dengan suka cita.
Aku ingin sekali berteriak di wajahnya, dengan makian dan sumpah serapah atas kejadian na'as yang menimpaku.
Bagaimana bisa ada wanita egois, yang mementingkan kebahagian sendiri, tanpa melihat ke kalutanku.
Ah ... Aku lupa dengan wanita istri muda Papaku, dia bahkan tega merebut disaat ibuku sedang sakit dan butuh perhatian sang suami.
Sial ...
Aku kembali emosi saat mengingatnya.
Dan sekarang, tepatnya malam ini adalah pesta pertunanganku.
Diatur oleh Tania dan Papaku, aku hanya mengangguk saat ditanya, dimana dan seperti apa konsep acara nanti.
Bagiku ini hanyalah mimpi ...
Mimpi buruk yang akan menemani hari-hari kelabuku, setelah aku sempat merasakan hari penuh warna dari asisten kesayanganku.
"Sialan."
Aku melirik jam digital pada nakas samping tempat tidurku, di jam tersebut menunjukkan pukul tujuh malam, artinya hanya sisa satu jam masa laluku.
__ADS_1
Karena selanjutnya aku akan menghadapi hari, bagai di neraka dengan sekat dinding disebut pertunangan.
Bagaimana bisa aku bahagia dan menganggap dunia bagai surga, jika seorang wanita yang aku cintai, tidak bisa menjadi milikku.
"Evelyn," gumamku menyebut namanya, sebelum lagi-lagi aku memilih membanting botol beer yang saat ini tandas, berpindah isinya masuk kedalam lambungku.
Arlan pov end
Normal pov on
Hotel Grand Elty
Hall Cendrawasih
Setelah melewati perjalanan dengan tanpa kesadaran, Arlan bersama Barly sebagai sopir sampai di depan hotel, tempat Arlan dan Tania, calon tunangannya akan bertunangan.
"Bos, sudah sampai!"
Arlan hanya mengangguk dengan mata menatap datar hotel di luar mobilnya, Arlan enggan untuk segera keluar dan berjalan menuju hall tempat acara.
"Ar, something wrong?" tanya Barly hati-hati.
Barly sudah di anggap sang Presdir sebagai sahabat dan itu membuatnya tidak tahan bertanya, saat melihat ekspresi muram sepanjang perjalanan dari Presdir atau sahabatnya.
"Nothing, don't worry, Barl," balas Arlan tanpa mengubah raut wajahnya.
Barly mengangguk dan bergegas turun, saat Arlan lebih dulu turun.
Mereka jalan bersama, menuju tempat acara, tepatnya menuju ruangan tempat kedua keluarga penyelenggara pesta berkumpul.
Ceklek!
Barly membuka pintu untuk Arlan, yang masuk dengan langkah berat dan segera menatap datar, saat matanya bersiborok dengan mata sang papa dan wanita calon tunangannya.
"Arlan!" seru Tania senang.
Tania memakai baju berwarna putih, dengan belahan dibagian tengah, sehingga memperlihatkan kaki jenjang berwarna putih miliknya.
Jujur saja, Tania adalah wanita cantik dan menggoda, jika ia yang dulu bertemu dengan Tania, mungkin ia tidak akan segan membawa Tania ke ranjang dan menyetujui begitu saja pertunangan ini.
Tapi beda ... Ia bukan lagi Arlan yang dulu, Arlan yang menilai dan melihat fisik rupa lawan jenis sebagai tolak ukurnya.
Ia sadar dengan kenyataan, jika hati lebih berarti dari pada kemolekan dan nikmat surga dunia.
"Arlan, acara sudah mau dimulai. Yuk!" ajak Tania semangat, menggandeng lengannya dan bergelayut manja, tanpa menyadari jika ia sesungguhnya risih dan ingin menyentak kasar, jika ia sudah tidak memiliki hati nurani.
"Hn."
"Jangan seperti itu, Tania adalah tunangan kamu, seharusnya kamu lebih lembut, Arlan."
Keanu yang menatap sinis dan berkata seperti itu, membuat ia mendengus tidak kalah sinis.
"Urus saja istri kamu, Pak tua," balas Arlan dengan nada datar, berdecih sebelum pergi meninggalkan ruangan, dengan Keanu mengeluarkan sumpah serapah meski hanya di dalam hati.
Ia masih punya harga diri, tidak ingin di anggap Papa yang tidak sabar, menghadapi kelakuan anak tunggalnya.
Acara berjalan dengan lancar.
Bahkan Arlan meskipun menampilkan raut wajah tidak ikhlas, tetap memasangkan cincin tunangan di jari manis Tania, kemudian bergantian, diiringi tepuk tangan dan kilat blitz kamera.
Pertunangan dua keluarga tersohor di kota ini, tidak mungkin tidak jadi berita terpanas.
Terlebih ia dikenal dunia luar sebagai pria bebas, dengan segala macam kelakuan buruknya namun segudang prestasi pula.
Tiba saatnya menerima ucapan selamat dari para tamu undangan, acara yang sangat ditunggu Tania.
Kenapa ...
Karena artinya ia akan melihat bagaimana ekspresi hancur, dari wanita yang sempat jadi penghalang kebahagiannya.
"Selamat menikmati, Evelyn sayang," batinnya dengan senyum sinis, apalagi saat ia melihat tiga orang berjalan ke arah mereka berdiri.
Senyumnya tambah lebar, semakin mengeratkan rangkulan dan bersikap manja.
Ia ingin menunjukan kepada wanita itu, jika ia adalah pemenang dan selamanya akan begitu.
Tapi ada apa ini, kenapa ekspresi wanita itu terkejut dengan emosi di kedua matanya.
Tania bingung, saat bukan dirinya yang dilihat oleh wanita yang dibencinya.
Ia mengikuti arah pandang Evelyn, yang menatap Papa sambungnya dengan tangan mengepal emosi.
"Ada apa ini?" batin Tania bertanya bingung.
Sedangkan sang Papa sambung, atau juga Farid Saputra menatap Evelyn dengan sorot mata nanar, takut dan rindu di saat bersamaan.
Ia menatap Evelyn dengan sorot mata menyesal, tapi tidak dengan Evelyn yang menatap sang ayah benci.
Bagaimana bisa takdir mempermainkannya.
Setelah ibu dari Tania menghancurkan hati ibunya, kini Tania yang berhasil menghancurkan hatinya.
Apakah ini takdirnya, dihancurkan dengan cara yang sama?
"Evelyn," gumam Farid sedih.
Kana atau juga istri baru dari ayah Evelyn, menatap Farid dan Evelyn bergantian.
Dengan senyum tanpa dosa, ia melihat ke arah Evelyn dan berbicara dengan maksud tujuan jelas.
"Ah ... Bukan kah, ini Evelyn?" ujar Kana bertanya dengan nada polos dibuat-buat.
Baik Farid, Evelyn bahkan orang yang ada di sekitarnya, ikut menoleh ke arahnya dengan sorot mata kaget dan penasaran.
__ADS_1
Terlebih Arlan, yang baru ini melihat sosok ayah dari wanita yang di cintainya.
Ia tahu jika ayah Evelyn telah menikahi majikan kaya, tapi ia tidak menyangka jika majikan kaya yang dimaksud adalah ibu dari tunangannya.
"Takdir macam apa ini," batinnya melihat Evelyn yang menahan emosi dan Farid bergantian.
"Mah, apa maksudnya ini?" tanya Tania melihat Mama, Papa dan Evelyn bergantian.
Keanu yang merasa sedang diperhatikan menyela dengan deheman kecil, akan sangat bahaya, jika pembicara sensitif didengar oleh orang diluar mereka.
"Ehem ... Sebaiknya kita jangan bahas ini disini," gumamnya memberi kode mata, untuk melihat sekeliling, saat ada Riyanti dan pihak media di sekitar mereka.
Kana yang mengerti mengangguk kepala, lalu menggandeng Farid yang hanya bisa mengangguk.
"Ikuti aku," gumamnya pelan, menyerahkan sisa acara kepada Keanu, sedangkan ia dan Farid, serta Tania memasuki ruangan, tempat mereka kumpul sebelum acara tadi.
Evelyn hendak mengikuti ketiga orang tadi, tapi langsung dicekal oleh seseorang yang adalah Riki.
"Lyn," gumam Riki dengan kepala menggeleng, isyarat untuk tidak pergi.
Ia menatap Evelyn khawatir, namun Evelyn balas menggeleng juga dan tersenyum kecil menenangkan
"Tidak apa-apa, Riki. Percaya sama aku," balas Evelyn sebelum melepas pelan tangan Riki, kemudian mengikuti ketiganya masuk ke dalam ruangan.
Entah apa yang dibicarakan keempat orang di dalam sana, yang jelas baik Riki maupun Arlan sama-sama khawatir, takut jika Evelyn akan kenapa-napa.
Meskipun ada Farid sebagai ayah, tapi itu tidak membuat keduanya tenang.
"Lyn."
Riki mendengus sinis, saat sepupunya bergumam menyebut nama Evelyn pelan.
"Hentikan Arlan, kamu tidak pantas menyebut namanya lagi."
Arlan seketika melihat dengan tajam, saat sepupunya berkata seperti itu terhadapnya.
Siapa dia, sehingga berhak melarangnya menyebut nama wanita yang dicintainya.
"Urus saja urusanmu, Riki."
"Tentu saja, Evelyn adalah urusanku."
"Cih .... Bahkan kamu sendiri seorang pengecut,"
"Ap-
"Aku berani jamin, jika sampai saat ini kamu belum bilang tentang perasaanmu. Iya kan, heh?" tanya Arlan datar, menatap wajah Riki yang tegang dengan sorot mata tajam.
"Tidak usah ikut campur!"
"Cih."
Pertengkaran kedua pria ini disaksikan dalam diam oleh seseorang lainnya.
Riyanti.
Ya ... Riyanti mendengar dan melihat dengan jelas, jika dua pria ini sangat mencintai satu orang sama, namun dengan satu pria yang tidak mungkin punya kesempatan memiliki.
Riyanti pov on
Beberapa minggu ini aku dan dia sudah mulai dekat, bahkan sudah saling terbuka dan bercerita satu sama lain.
Padahal aku kira, aku sudah bisa mencapai Riki.
Tapi takdir bilang lain, aku dibuat sadar jika dengan begini, harapan akan cintaku pupus sudah.
"Tidak, selama Evelyn belum tahu, aku akan tetap berusaha," batinku melihatnya di depan sana, yang sedang berdiri di hadapan Arlan.
Ini adalah niat dan tekadku.
Semoga kali ini aku tidak salah dan kalah.
Tadinya fikiranku seperti itu , saat tiba-tiba kejadian lebih mengejutkan terjadi dihadapanku.
Tidak tahu seperti apa, tapi yang jelas saat ini aku melihat dengan mata kepalaku sendiri.
Saat Evelyn keluar dari ruangan dan berdiri disisi Riki dengan Arlan dan Tania yang juga segera berdiri disamping Arlan, saat keluar dari ruangan tersebut.
Lalu kejadian selanjutnya adalah Evelyn yang dikejar Riki, aku yang mengejar Riki dan Arlan yang berlari dibelakangku.
Dari sini aku melihat dan mendengar, bagaimana Evelyn yang menangis, Riki yang menenangkan dengan pelukannya.
Dan juga ...
Pernyataan cintanya.
"Evelyn, lihat aku. Ada aku, aku yang mencintaimu."
Serta ....
Bunyi pecahan hati yang hancur dariku.
Kemudian yang selanjutnya aku tidak tahu, karena aku lebih memilih pergi dan meninggalkan Arlan yang juga terpaku, melihat kejadian di sana dengan sorot mata menyesal dan hancur.
"Sebaiknya kamu kembali ke dalam, Arlan. Biarkan mereka," gumamku sebelum pergi membawa luka.
"Ha-ha-ha, takdir macam apa ini."
Riyanti pov end
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.