
Jangan salah menilai seseorang, karena yang terlihat baik di luar, belum tentu baik di dalam.
Katanya orang jahat itu tercipta dari lahir.
Benarkah ...
Pada hakikatnya baik dan jahat itu hidup berdampingan.
Bagaimana mau ada seseorang yang dijuluki jahat, jika tidak ada seseorang yang baik dan begitu pula sebaliknya.
Tapi jangan salah ...
Seseorang yang baik menjadi jahat, itu lebih kejam dari pada, yang dari awalnya sudah jahat.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Seminggu berlalu sejak Evelyn masuk rumah sakit.
Evelyn dirawat dua hari, untuk benar-benar memulihkan kondisi kesehatannya.
Sebenarnya jika Evelyn tidak protes, mungkin kakak dan kekasih bayangannya akan memaksanya tetap dirawat, tapi untunglah ia bisa meyakinkan dan merayu Keduanya, sehingga mereka mengiyakan keinginannya.
Tunggu ... Kenapa ada kata kekasih bayangan?
Tentu saja, pada saat malam pertama ia dirawat, ia dan Arlan sudah memulai dengan suatu hubungan terlarang.
Awalnya Presdirnya tidak percaya dengan keputusannya, tapi untunglah ia bisa membuat Arlan mengiyakan dan menyetujui hubungan ini, dengan catatan ia akan tetap mengiyakan pembenaran jika ada yang bertanya hubungan mereka seperti apa.
Tidak masalah baginya, jika harus dicap perempuan penghancur hubungan orang, toh selama ini image-nya sudah buruk di hadapan orang-orang, jadi tidak salah kan ia mengabulkan tuduhan mereka.
Hari ini adalah hari pertama ia masuk bekerja, karena Presdirnya sekaligus kekasih bayangannya melarang dirinya kembali bekerja, dengan alasan kesehatannya.
Ish ... Sebenarnya Evelyn sudah tidak sabar, untuk memulai permainannya, dimulai dari kantor sebagai sumbu, karena ia sudah tahu, ada seseorang yang selalu menyampaikan berita kepada targetnya.
Ia juga sudah punya teman untuk meminta bantuan, meski ia harus menggunakan cara curang agar dia berpihak padanya, menceritakan tentang rencana dan kejadian sesungguhnya kepada orang tersebut.
Sampai saat ini kakaknya hanya tahu, jika ia dan sepupu kakaknya sudah saling memaafkan dan menerima.
Evelyn membuat pengecualian untuk Riki, saat Arlan akan memberi tahukan hubungan gelap mereka.
Evelyn masih belum sanggup membuat Riki kecewa, nanti saja pikirnya, pelan-pelan sambil bercerita tentang kejadian sesungguhnya, kejadian yang membuatnya berubah seperti ini.
Di depan kaca ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri, hari ini rambutnya yang berwarna hitam sudah ia warna serta rambutnya yang lurus ia rubah menjadi ikal.
Tidak ada senyum ceria dan senyum manis seperti dulu, saat ia masih memiliki sandaran abadinya, yang ada hanyalah senyum kamuflase, untuk menutupi setiap emosi yang sedang ia rasakan.
"Dimulai Evelyn Carla," bisiknya melihat dan menatap matanya sendiri melalui pantulan cermin.
Di tempat lain, tepatnya di jalanan ibu kota, yang pagi ini macet mengingat ini adalah waktu pergi kerja dan sekolah, ada Arlan yang sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar.
Hari ini ia akan kembali menjemput asistennya, Evelyn yang mulai dari seminggu lalu adalah kekasihnya.
Meskipun ia masih belum mengerti dengan apa yang terjadi dengan perubahan tiba-tiba Evelyn, nyatanya ia tetap menerima dengan hati bahagia.
Juga meskipun hubungan mereka adalah hubungan terlarang, serta belum diketahui orang lain, nyatanya ia sudah sangat senang bukan kepalang, jika Evelyn sendiri tidak keberatan jika suatu saat, akan ada orang yang bertanya tentang mereka.
Jika seperti ini, ia jadi tidak sungkan untuk memamerkan hubungannya, meskipun resiko yang akan ia dapat adalah kemarahan tunangannya.
__ADS_1
Justru ia menunggu saat wanita itu menyerah, lalu memutuskan pertunangan mereka.
Arlan tersenyum saat membayangkan hubungan mereka kedepannya.
Benarkan perasaannya selama ini tidak pernah salah, Evelyn ternyata mencintainya juga. Sehingga Evelyn ingin menjadi miliknya, saat dia benar-benar kehilangan sandaran.
Ini yang di tunggunya, ini yang diinginkannya, ini adalah harapannya yang akhirnya terwujud.
Bukan kah ia pernah berkata, jika suatu saat Evelyn akan datang sendiri kepelukannya, dan ternyata tiba juga saatnya.
Setelah ini ia akan memastikan, jika Evelyn tidak akan pernah lari dari sisinya lagi, ia akan mengikat Evelyn erat, meskipun Evelyn meminta ia melepaskan suatu saat nanti, ia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Arlan berjanji dengan keyakinannya, akan membawa Evelyn masuk kedalam golden cage-nya, tanpa tahu jika dirinya pun ternyata hanya dijadikan jalan, menuju kesuksesan rencana tersembunyi dari Evelyn Carla baru, yang telah membuang sosok Evelyn Carla yang dulu.
"Aku akan menjadikan kamu ratuku, satu-satunya di istanaku, Evelyn," janji Arlan dengan kesungguhannya.
Cinta Arlan yang tulus, apakah akan membuat Evelyn kembali menjadi Evelyn yang dulu.
Siapa yang tahu ...
🍃🍃🍃🍃
Butuh waktu sekitar lima belas menit, bagi Arlan untuk sampai di depan gerbang kost milik kekasihnya.
Ah!
Senyumnya mengembang, saat dirinya menyebut sang asisten sebagai kekasihnya.
Bahkan hanya karena hati menyebut kekasih saja, jantungnya sudah berdegub semakin kencang, apalagi jika ia bisa menjadikan asistennya sebagai istrinya dan ibu dari anak-anak nanti.
Seketika bukan hanya senyuman yang mampir di bibirnya, tapi kekehan dengan gelengan kepala, saat dirinya seperti pria dungu yang terlalu banyak berharap.
Oh ... Apa ini, seorang cassanova yang dulunya tidak ingin menikah, tiba-tiba memikirkan dan menyatakan lebel seorang istri pada satu wanita.
Arlan keluar dari mobilnya, dengan senyum terpatri di bibir, saat melihat penampilan baru kekasihnya, yang sekarang tampil berani dengan model rambut baru pula.
Sedangkan Evelyn, yang berjalan dengan langkah biasa balas senyum kepada Presdirnya, yang saat ini tampil gagah dengan setelan kantor rapihnya.
Senyum Presdirnya sangat mempesona, tidak heran jika di luar sana banyak yang mengantre, untuk bisa menjadi kekasih atau hanya sekedar mendapat belaian sesaat sang Presdir, yang sekarang sudah ada dalam ikatan benang kendalinya.
"Pagi, Lyn," sapa Arlan hangat, masih dengan senyum tampan terpasang di bibirnya.
Evelyn tidak langsung menjawab, karena sapaan Lyn baginya hanya akan mengingatkannya akan kelemahan dirinya di masa lalu.
"Pagi sayang," sapa Evelyn sengaja, setelah keterdiamannya untuk memulai sesuatu yang baru.
Sapaan dengan panggilan sayang dari Evelyn, tentu saja membuatnya Arlan seketika salah tingkah, belum lagi jantungnya yang semakin berdegub kencang. Membuat ia takut, jika wajahnya saat ini akan berhiaskan rona merah.
"Sialan, padahal hanya menyapaku dengan panggilan sayang, tapi kenapa membuatku gila," batin Arlan, yang saat ini sedang berdebat dengan hati dan pikirannya.
"Apa aku panggil kamu sayang juga boleh, Lyn?" tanya Arlan dengan nada senang, membuat Evelyn mengangguk namun dalam hati kesal, saat lagi-lagi panggilan Lyn terdengar di telinganya.
"Tentu Ar, lebih baik dari pada Lyn," balas Evelyn biasa, namun jika diperhatikan kalimatnya sungguh ambigu, pada bagian belakangnya. Namun sayang, Arlan yang terlanjur senang, tidak menggubrisnya dan hanya fokus dengan kelimat izin dari kekasihnya.
"Benarkah? Baiklah, kalau begitu, mulai saat ini aku akan panggil kamu Schatz(Sayang). Bagaimana?" ujar Arlan bertanya dengan nada senang, yang tidak perlu repot di tutupinya.
"Tentu, darling," balas Evelyn dengan nada mendayu.
__ADS_1
Satu lagi perubahan dari Evelyn, yang membuat Arlan sedikit aneh, namun juga senang disaat bersamaan.
Biar lah, pikirnya.
Jika itu untuk kebahagian Evelyn, ia akan menutup mata dan menganggap itu hanya lah rasa curiganya semata.
"Yuk, kita berangkat ke kantor," ajak Arlan kemudian, dengan Evelyn yang mengangguk dan memasuki mobil setelah Arlan membukakan pintu depan untuknya.
"Terima kasih," bisik Evelyn dengan senyum manis, membuat Arlan lagi dan selalu lagi merasakan terbang ke awan.
Evelyn Carla, si wanita biasa dengan begitu mudahnya, mampu membuat seorang Presdir bernama Arlan salah tingkah, serta menampilkan wajah merona.
"Kein problem, Schatz (Tidak masalah, sayang)," ucap Arlan lembut, kemudian menutup pintu dan berjalan cepat, menuju pintu satunya.
Blam!
Setelah menutup pintu mobilnya, Arlan pun menghidupkan mesin mobilnya kembali, menginjak pedal gas dan pergi meninggalkan kost milik Evelyn, menuju perusahaannya.
Skip
Mobil mewah berwarna putih, yang diketahui milik Presdir dari perusahaan keluarga Widiyo tiba juga, di halaman parkir luas PT. Tri Tunggal.
Arlan membuka sabuk pengamannya, kemudian membantu kekasihnya membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuh kekasihnya, membuat Evelyn sang kekasih tersenyum manis sebagai ganti ucapan terima kasih.
Keduanya berjalan bersama, dengan Arlan yang melangkah perlahan, namun tegas disaat bersamaan, untuk menyeimbangkan langkah mungil sang kekasih.
Di sepanjang perjalanan mereka menuju lift, banyak karyawan yang menyapa Arlan ramah, namun berubah menjadi tatapan mencomooh saat melihat siapa yang berjalan di samping sang Presdir. Dan itu tentu disadari oleh Evelyn, saat mata mereka tidak sengaja atau disengaja oleh Evelyn, untuk saling balas menatap dengan sikap menantang.
Kali ini Evelyn tidak menundukan kepala dan menyembunyikan wajahnya, justru ia dengan sengaja mengajak Arlan berbicara, dengan ujung dirinya yang di manja, menuai berbagai ekspresi kaget dari semuanya, namun tidak di pedulikan olehnya.
"Rasakan, ini baru awal, kita lihat sampai berapa waktu, untuk Nyonya muda itu tahu dengan keadaan ini," batin Evelyn senang, saat ia mendengar bisik-bisik iri, dari karyawan yang melihat tingkahnya.
Ting!
Pintu lift terbuka, keduanya pun melangkah memasuki lift bersama-sama. Meninggalkan pertanyaan heboh dengan bisikan semakin jelas, saat melihat pemandangan aneh di depan mata mereka.
"Bagaimana mungkin."
Mungkin ini lah, yang menjadi pertanyaan paling utama, bagi mereka yang melihat kejadian barusan.
Tinggalkan karyawan dan segala macam jenis gosip, yang akan beredar luas setelah ini.
Kita kembali kepada pasangan baru, yang saat ini sedang berdiri bersisihan, dengan Evelyn yang tiba-tiba tersenyum kemudian kekehan kecil, membuat Arlan yang melihat dan mendengarnya pun mengernyit bingung.
"Ada apa?" tanya Arlan penasaran.
Evelyn menatap sang Presdir, menjawab dengan senyum manis seperti biasa, serta kalimat merayu yang mampu membuat seorang Arlan diam dan hanya mengangguk patuh.
"Tidak ada sayang, aku hanya senang bisa berangkat bersama seperti ini. Bisakah nanti kita selalu bersama?" pinta Evelyn dengan senyum merayu.
"Tentu, apapun jika itu keinginanmu," sahut Arlan cepat.
"Ah! Aku senang sekali," pekik Evelyn dengan hati senang luar biasa, karena dengan ini akan semakin membuat yang lainnya melotot kaget ke arahnya.
"Dan ini baru permulaan," batin Evelyn tersenyum puas.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya
Sampai babai.