
Katanya ... Tuhan itu Maha Mendengar, lalu kenapa hanya aku yang do'anya tidak didengar.
Katanya ... Tuhan tidak akan memberikan cobaan yang melebihi kapasitas hambanya, tapi kenapa ujianku sangat berat.
Apakah dikebidupanku dulu sebelum ini, aku adalah manusia yang jahat? Sehingga saat aku terlahir kembali, Tuhan selalu menguji kesabaran, iman, serta kekuatanku.
Ya Tuhan ... Bisakah aku menukar nyawaku untuk ibuku?
Atau .... Bisakah aku, menyusul ibuku saja ke sana?
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Evelyn menangis sejadi-jadinya, saat tubuh kaku sang Ibu ditutup dengan kain putih di atas ranjang di hadapan matanya.
Di sampingnya ada Riki, yang memeluk Evelyn erat, saat Evelyn meraung dan dengan sesekali mengguncang tubuh kaku sang ibu.
Riki ingat saat sepupunya memberi kabar tentang berita mengejutkan ini.
Bahkan ia sampai meninggalkan tempat meeting, saat itu ia kebetulan sedang mengadakan meeting dengan klien, membahas tentang desain impian si klien.
Ia dengan perasaan panik luar biasa mengendarai mobil dengan cepat. Hingga ia tidak memikirkan keadaan dan keselamatan dirinya sendiri.
Sedangkan Arlan yang melihat pemandangan di depannya hanya mampu terdiam.
Ia masih mengingat dengan jelas, saat Evelyn terdiam kaku di meja kerjanya, dengan air mata mengalir deras.
Ia yakin jika saat itu ia tidak memperhatikan keadaan sang asisten, asistennya akan hanya berdiam diri dengan mata terus mengeluarkan kristal bening.
Flasback on
Arlan pov on
"Tidak-tidak-tidak."
Aku mengernyit heran, saat mendengar gumaman panik dengan tubuh bergetar, dari asistenku, masih dengan handphone di telinganya.
Aku pun dengan langkah tergesa berjalan menghampiri asistenku dan menepuk bahunya, yang tersentak kaget dengan lelehan kristal bening di kedua matanya.
"Lyn!"
Aku memanggilnya dengan suara tercekat, selain ibu Mirna tidak ada yang mampu membuat Evelyn seperti ini.
Aku merasa de javu, saat aku melihat ekspresi aneh darinya.
"Arlan Ibuku!"
Aku sudah yakin, pasti ini karena ibu Mirna.
"Kenapa, ada apa?" tanyaku ikut panik.
"Arlan Ibuku di rumah sakit, pemilik kost bilang jika ibu jatuh dari tangga dan sedang ada di UGD, Arlan ibuku-
Aku yang mendengarnya tanpa permisi menarik tangannya, yang hanya bisa ikut dengan langkah linglung.
Di sepanjang perjalanan kami dari atas hingga berjalan di lobby, banyak tatapan mata penasaran dari para karyawan, tapi untuk saat ini aku tidak memperdulikannya.
Yang aku prioritaskan adalah Evelyn, yang berjalan dengan menyebut nama ibu dengan tangan gemetar di genggaman tanganku.
Ya Tuhan ... Apa ini maksudnya, kenapa cobaan untuknya tidak ada habisnya.
Baru saja dia senang akan kesembuhan sang ibu, dia sudah diberi cobaan dengan kembalinya sang ibu ke rumah sakit.
Aku membuka pintu dan mendudukkan Evelyn, yang menurut tanpa banyak protes.
Aku pun segera masuk, menghidupkan mesin mobil dan tancap gas meninggalkan area parkir perusahaanku.
Di sepanjang perjalanan, aku bisa mendengar isakan darinya, serta gumaman menyebut ibu dengan nada suara menyayat hatiku.
Aku salah satu orang yang tahu, selain Riki, bagaimana cintanya Evelyn kepada sang ibu.
"Ibu-ibu-ibu."
Aku menolehkan wajahku kesamping, lalu kembali kedepan karena jalanan lumayan ramai dan aku takut kami ada apa-apa di jalan.
"Sabar, Lyn. Aku yakin ibumu baik-baik saja," ujarku menenangkan.
Aku bisa melihatnya mengangguk kecil, namun isakannya tidak kunjung berhenti.
Cukup lama aku mengendarai mobil miliku, membelah jalanan dan menyalip saat aku melihat celah sedikit.
Waktu yang kami butuhkan sekitar dua puluh menit, saat kami sampai di parkiran rumah sakit kota B.
Kami berlari bersama menuju ruang UGD sesuai informasi yang kami terima.
Drap! Drap! Drap!
__ADS_1
Evelyn berlari di depanku, tanpa mengindahkan peringatan larangan dari para perawat.
Aku pun begitu, mengikutinya dari belakang dengan sesekali meminta maaf, sebagai pengganti dari Evelyn yang terkadang menabrak orang di koridor.
Di depan sana aku bisa melihat Evelyn, yang bertanya kepada seseorang, mungkin dia yang menghubungi Evelyn di kantor tadi.
"Pak Ibu Pak, bagaimana bisa ibuku-
Ceklek!
Aku melihat pintu ruangan yang tadi tertutup terbuka, disusul dengan seorang Dokter yang keluar dari dalam sana.
Aku berdiri di samping asistenku, yang segera bertanya dengan suara bergetar menahan tangis.
Hatiku ikut sakit melihat dan mendengarnya.
Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan.
"Dokter-dokter bagaimana ibuku?"
Asistenku bertanya dengan menatap Dokter tersebut penuh harap, sepertinya ia menginginkan hal baik bukan sebaliknya.
Aku melihat Dokter tersebut menghela napas, lalu menjelaskan tentang keadaan ibu Mirna dengan sorot mata menyesal.
"Maaf kami sudah melakukan yang terbaik, tapi nyawa ibu Mirna tidak bisa tertolong lagi. Benturan yang ada di kepala, membuat ibu Mirna kehilangan banyak darah. Sekali lagi maafkan kami."
Perkataan sang Dokter tentu saja membuatku syok, aku melirik ke arah samping, di mana Evelyn yang terdiam kaku.
"Bohong Dok, ini pasti bohong!"
Aku tidak sanggup mendengarnya lagi, aku pun membawa Evelyn kepelukanku, tapi dia memberontak menolak dengan memukul-mukul dadaku.
"Tidak Arlan tidak!"
"Sstt ... Tenang dulu Evelyn, kita sama-sama lihat ibu, oke."
Aku bisa merasakan gelengan kepala darinya, serta tangisan semakin jelas.
Tiba-tiba Evelyn melepas pelukanku, berlari menerobos pintu operasi yang tertutup, dengan aku yang ikut berlari mengejarnya.
Brak!
"Ibu! Bangun ibu!"
Hatiku nyeri, hatiku hancur, saat dia menangis sambil memeluk tubuh ibunya, dengan kepala bersimbah darah.
Seketika ingatanku melayang, saat aku kehilangan Mamaku dulu.
Kejadian seperti ini, bedanya aku tidak menangis dan hanya mampu menyesali perbuatanku.
"Ibu! Aku mohon!"
Aku masih mendengar jeritan pilunya.
Tes!
Apa ini ... Apa ini air mata?
Apa aku menangis.
Aku pun menghapus air mataku, aku tidak boleh lemah, saat ini Evelyn lebih memerlukan dukungan bukan air mata.
Riki.
Ah! Benar juga, aku harus menghubungi Riki, sepupuku harus tahu dengan apa yang sedang menimpa Evelyn.
Aku pun berjalan ke arah pintu, dengan Evelyn yang masih saja menjerit pilu.
"Ibu!"
Itu adalah hal yang terakhir aku dengar, sebelum aku benar-benar meninggalkan ruang operasi.
Blam!
Aku menunggu dengan sabar panggilanku di terima, hingga saat nada tunggu keenam baru lah, sepupuku menerima panggilanku.
"Hn, ada apa Ar?"
"Riki. Bisakah kamu ke rumah sakit kota B sekarang."
"Ar, aku sedang meet-
"Ibu Mirna meninggal."
Aku segera menyela kalimatnya, dengan dia yang berseru kaget akan informasi yang aku sampaikan.
__ADS_1
"Apa maksudnya Arlan!"
"Riki aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, Evelyn sangat membu-
"Evelyn! Bagaimana dengan Evelyn."
"Sebaiknya kamu cepat kesini, jangan banyak bertanya."
Klik!
Aku pun memutuskan panggilan sepihak, kesal saat dia bertanya dengan aku yang dalam kondisi kacau.
"Sial, sebenarnya apa yang terjadi."
Aku merasa tidak berguna, saat aku baru saja menyadari jika Evelyn selalu menjadi korban.
Aku sudah memerintahkan Barly untuk mengusut kejadian di kantor, aku merasa kecolongan. Bagaimana bisa di belakangku ada hal seperti ini, lalu Evelyn menutupi hal ini dariku dengan sempurna.
Tidak lama aku melihat Riki berlari di ujung sana, ekspresi wajahnya kelihatan panik luar biasa dan aku tahu, bagaimana Riki mencintai ibu Mirna.
"Arlan, di mana Evelyn?"
Aku menolehkan wajahku ke arah pintu, yang dimengertinya, dia juga segera berlari membuka pintu dan sekali lagi aku mendengar tangisan keras Evelyn, dengan nama Riki disebutnya berulang.
"Riki! Ibuku!"
Flasback end
Maka itu di sini lah aku, yang tidak bisa melakukan apa-apa, saat Evelyn mengguncang tubuh ibu Mirna dan bibir meracau meminta ibu Mirna bangun dari tidurnya.
Arlan pov end
Normal pov
Puk!
Arlan yang kebetulan berdiri di ujung pintu masuk, tersentak kaget saat merasakan tepukan pada bahunya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap si penepuk.
Di depannya saat ini ada petugas rumah sakit, yang melihat ke arahnya dengan tangan memegang map.
"Dengan sanak-saudara ibu Mirna?" tanya perawat tersebut, sedangkan Arlan hanya mengangguk mengiyakan.
"Kami ingin mengingatkan untuk pengurusan administrasi terlebih dahulu, agar pengambilan jenazah ibu Mirna bisa secepatnya dilaksanakan," jelas seorang perawat.
Arlan mengangguk mengerti, lalu meminta dokumen yang bersangkutan, membubuhinya dengan tanda tangan serta pelunasan biaya administrasi.
"Terima kasih, secepatnya akan kami urus untuk ambulansnya," ujar si perawat ramah.
Arlan hanya mengangguk dan kembali berjalan ke dalam untuk memberitahukan masalah pemakaman.
"Rik," gumam Arlan pelan, yang diangguki kepala mengerti oleh sepupunya.
"Lyn," bisik Riki masih memeluk tubuh sahabatnya.
"Lyn, boleh kami mengurus persiapan pemakaman?"tanya Riki hati-hati.
Evelyn melepas pelukanya pada Riki, lalu menatap kakaknya tidak percaya.
"Apa maksudnya Riki? Ibuku belum meninggal, ibuku sedang istirahat. Bagaimana bisa kalian menyiapkan pemakan, jika ibuku saja masih hidup dan sedang tertidur pulas."
Baik Riki maupun Arlan sama-sama terdiam, saat melihat tatapan linglung dari Evelyn, yang lagi-lagi membuka kain putih yang menutupi sang ibu.
"Ibu ... Riki dan Arlan jahat dengan ibu, mereka ingin memisahkan kita. Ibu apa yang harus aku perbuat, hiks! Kasih tahu mereka ibu, jika ibu masih hidup dan ada di sini."
"Lyn."
"Lyn, kamu tidak boleh begini, biarkan ibu ber-
"Cukup! Kalian jahat, kalian ingin memisahkan aku dan ibu? Kalau begitu kubur aku bersama ibu! Kubur aku Riki! Kubur aku Arlan! Kubur!"
"Evelyn kamu harus tenang!"
"Tidak! Ib-
Brugh!
"Lyn!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1