Bukan Salahku

Bukan Salahku
Foto Spesial Untukmu


__ADS_3

Jangan bertanya, saat kamu sendiri tidak merasa.


Karena sudah aku bilang, ini bukan salaku.


Salahmu yang memaksaku untuk melakukan ini kepadamu, salahmu yang mengambil cinta dari tanganku dan salahmu, yang mengacaukan hidup tenangku.


Jadi, saat taringku sudah siap untuk mencabik setiap sendimu, jangan salahkan aku, jika kau akan merasakan sakit saat itu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kediamanan Brata


Di kamar dengan desain dan perabotan mewah, ada seorang wanita duduk di balkon kamarnya, memandangi langit malam dengan hiasan bintang.


Tania, yang saat ini sedang melamun, memikirkan lagi perkataan dari tunangannya, seorang tunangan yang sama sekali tidak menginginkannya.


Sebenarnya apa salahnya, ingin memiliki suami seperti Arlan, ia sangat mencintai Arlan, apa yang salah dengan rasa ingin memilikinya terhadap Arlan.


Persyaratan yang di ajukan Arlan sungguh membuatnya dilema, di satu sisi jika ia menerima syarat itu, artinya sama saja dengan ia menikah hanya untuk status.


Tapi, jika ia tidak menerima artinya ia akan melepas kesempatannya, untuk memiliki Arlan.


Bukan kah kata orang, cinta akan tumbuh perlahan, karena pertemuan dan juga biasa.


Apa dengan ia menerima syarat ini, maka ia dan Arlan akan menikah, kemudian tinggal bersama dan mungkin akan tumbuh benih-benih cinta.


"Mungkin saja," gumamnya dengan anggukan kepala pelan.


Hari semakin malam, saat ia larut dalam lamunannya, ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam, istirahat dan menenangkan sejenak pikirannya.


"Besok aku harus menemui Arlan," putusnya sebelum beranjak dari duduknya.


Menaiki ranjang empuknya, ia pun memejamkan mata, terbuai akan mimpi dalam tidurnya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Pagi datang dengan cepat, saat ini Nona muda Brata sudah ada di perjalanan, menuju perusahaan milik mendiang Papanya.


Di dalam mobilnya Tania menggeram marah, saat lagi-lagi ia dibuat kesal, akan foto yang di terimanya.


Ia tidak tahu, siapa dan apa tujuan orang itu mengirimnya foto-foto tersebut kepadanya. Seakan si pengirim ingin membuatnya marah, dengan foto yang di terimanya.


Benar ia sudah beberapa kali menerima foto kedekatan mereka, tunangannya dan juga wanita jal*ng tersebut.


Pagi ini bukan hanya dari sebuah foto, yang membuat paginya seperti benang kusut. Tapi juga sang Mama, yang menanyakan tentang surat pengalihan saham atas nama adiknya.


Astaga! Sepertinya Tuhan sedang memberinya cobaan, agar ia bisa memiliki Arlan di akhir cobaan ini.


"Ck ... Apa Mama tidak bisa sabar, aku bahkan baru memikirkan kelanjutan marger, dengan perusahaan Tri Tunggal."


Ingin rasanya ia istirahat sejenak, dari masalah perusahaan yang tidak ada habisnya, jika sudah membahasnya dengan sang Mama.


Ia terkadang berpikir, jika sang Mama terlalu ingin cepat menguasai saham milik sang adik, sedangkan adiknya sendiri pun masih belum bisa tengkurap.


Apa yang sebenarnya diinginkan sang Mama. Ia selalu bertanya, namun hanya jawaban sama lah yang di terimannya.


"Mama hanya ingin, milik adikmu tidak terbawa oleh perusahaan suamimu kelak."


Cukup masuk akal, saat sang Mama khawatir akan masa depan sang adik, tapi apa harus gencar bertanya setiap saat.


Seketika ia menyesal, menjanjikan hal yang membuatnya sendiri geleng kepala.

__ADS_1


"Ah! Terserah lah, sebaiknya aku cepat membuatnya, sebelum Mama menceramahi aku lagi."


Dengan begitu sudah diputuskan, jika sehabis ini ia akan segera membuatkan surat kuasa, agar sang Mama tidak merecokinya lagi.


Tidak lama kemudian, mobil yang Tania kendarai sampai di area parkir perusahaannya.


Ia turun setelah membenahi lagi penampilannya, baru kemudian melangkahkan kaki ke arah pintu masuk perusahaannya.


Sepanjang perjalanannya, banyak karyawan yang menyapanya dengan hormat, yang dibalas dengan anggukan kepala darinya.


"Selamat pagi, Nona Direktur," sapa seorang resepsion ramah.


"Pagi, hubungi bagian Notaris untuk menemuiku di ruangan," ucap Tania yang di angguki kepala mengerti dari petugas di depannya.


"Baik, akan segera saya hubungi, Nona," balas si resepsion dengan lugas.


Tania pun melanjutkan langkah kakinya, menuju ke arah lift yang akan membawanya ke atas.


Di depannya ada lift, yang akan mengantarnya pintunya terbuka, ia pun memasukinya dan tersentak kecil saat merasakan getaran handphone, yang ia letakkan di saku blazernya.


Pesan dari temannya Axel adalah yang ia baca, isinya hanya ajakan makan siang, yang sepertinya tidak bisa ia iyakan, karena siang ini rencananya ia akan menyambangi kantor milik tunangannya.


Ting!


Ia pun melangkahkan kakinya, keluar dari dalam lift dan menuju pintu depan, yang adalah ruangannya.


🍃🍃🍃🍃🍃


Sementara itu, di tempat lain. Tepatnya di sebuah perusahaan, milik dari keluarga Widiyo.


Ada Evelyn dan teman sekantornya, yang sedang berbincang sebelum memulai pekerjaannya.


"Wah! Benarkah? Itu artinya, sebentar lagi Nona muda itu akan menyerah," ucap Raina dengan nada senang, saat mendengar cerita tentang Presdir mereka yang akan menikahi temannya.


"Ya, tapi aku juga tidak tahu, apakah wanita itu menyerah atau tidak.".


Perkataan dengan nada muram dari Evelyn, membuat Raina tersenyum kecil. Setidaknya ia tahu, bagaimana rasa cinta sang Presdir kepada temannya, yang saat ini sedang bimbang akan nasibnya di masa mendatang.


"Tidak perlu khawatir, Evelyn. Kamu akan mendapatkan kebahagiaanmu, setelah masalah ini selesai. Aku jamin," ujar Raina mantap, menatap Evelyn yang saat ini menampilkan senyum ceria lagi.


"Sok tahu! Yakin banget kamu, Rai," sahut Evelyn menatap Raina dengan kerlingan mata geli.


Raina terkekeh geli, saat mendapat tatapan mata menggoda dari temannya, ia tentu saja yakin akan ucapannya, karena ia sendiri yang mendengar dari lisan sang Presdir, tentang rencana sang Presdir kedepannya untuk temannya seperti apa.


"Yakin, dong!" seru Raina balas menatap temannya dengan senyum lebar.


"Karena aku ikut dalam permainannya," lanjut Raina dalam hati.


"Yee ... Sok tahu," dengkus Evelyn dengan senyum malu.


Teringat akan sesuatu, yang biasa di lakukan temannya, Evelyn pun segera mengeluarkan handphonenya, ia berbisik lirih agar tidak ada yang ikut mendengar apa yang akan ia katakan.


"Rai," gumam Evelyn, membuat Raina melihat Evelyn dengan alis terangkat bertanya.


"Apa?"


"Sini, dekati telinga kami," punya Evelyn yang segera di turuti oleh Raina.


Evelyn pun membisikan sesuatu, dengan nada malu, yang tentu saja membuat Raina tersenyum dengan rona merah pula di pipinya.


Hal yang seharusnya rahasia, harus menjadi tidak rahasia, saat dirinya mesti membeberkannya kepada rekan yang selalu membantunya.

__ADS_1


"Aku sudah dapat fotonya, seperti katamu. Dengan posisi yang pas."


Raina menatap Evelyn dengan senyum bangga, karena sebenarnya sudah dari awal ia ingin foto dengan gambar yang wah, agar Nona yang menerima foto tersebut, bisa kehilangan akal saat menerimanya.


"Bagus, aku akan pastikan gambarnya terkirim dengan kualitas terbaik," sahut Raina dengan semangat.


"Kirim ke aku," lanjutnya memerintah, yang segera di angguki oleh Evelyn.


"Sudah aku kirim, aku harus ke atas dan bekerja. Sepertinya Arlan akan mencariku, karena pagi ini aku meninggalkannya," ujar Evelyn, setelah selesai dengan kepentingannya. Ia terkekeh kecil saat membayangkan bagaimana ekspresi dari kekasihnya, yang kesal karena ia berangkat kerja tanpa menunggu di jemputnya.


"Oke, setelah ini harus ada pertunjukan yang seru," balas Raina dengan jenaka, membuat Evelyn lagi-lagi terkekeh.


"Aku harap, dia akan datang kemari setelah melihat kirimanmu, Rai," timpal Evelyn, kemudian meninggalkan meja informasi dan Raina, yang tergelak akan apa yang di harapkannya.


Skip


Kembali di perusahaan Brata.


Di meja kerjanya, Nona muda dari keluarga Brata ini sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Ia baru saja menyelesaikan surat pengalihan saham, dengan Notaris perusahaannya. Saham sepuluh persen ini atas nama adiknya, dengan sang Mama si pengelola.


Terserah nanti seperti apa, yang jelas baginya ini sudah bukan urusannya lagi.


Waktu sudah menunjukan pukul sebelas siang, seperti perkataannya tadi pagi, ia pun bersiap untuk pergi ke kantor milik tunangannya, untuk membicarakan syarat akan pernikahan mereka kelak.


Menyimpan data yang sudah di selesaikan, ia pun berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan ke arah pintu, lalu berhenti saat ia merasakan getaran pada saku blazernya.


Tangannya merogoh saku, untuk mengambil handphonenya yang tadi bergetar tanda notif pesan datang.


Drt! Drt! Drt!


Melihat pesan gambar yang tertera, lagi-lagi ia merasa was-was takut jika gambar yang akan di lihat olehnya adalah gambar nista, yang akhir-akhir ini sering ia terima.


Dalam hati ia berdoa, agar apa yang di terimanya tidak seperti kemarin. Ia juga memejamkan mata, saat jarinya mengetuk layar handphone, gambar pun terlihat setelah loading beberapa saat.


Seketika jantungnya berdetak, dengan rasa amarah yang menguasai.



"Apa-apaan ini!"


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sementara itu, di kantor milik keluarga Widiyo. Di saat bersamaan, seseorang yang sedang duduk di closed tertutup sengaja menyendiri, terkekeh dalam hati saat melihat lagi apa yang baru saja ia kirim.


Ia tidak menyangka, jika temannya akan benar-benar mengambil gambar, dengan posisi yang sangat pas.


Pantas saja temannya yang pemalu, tapi sudah berubah tidak malu akhirnya malu lagi. Ternyata gambar yang di dapat benar-benar sesuai ekspektasi.


Ia yakin setelah melihat gambar yang kali ini ia kirim, seseorang yang menerima kirimannya akan menjerit marah, dengan seruan frustrasi dan sebagainya.


"Ha-ha-ha, emang enak. Nyerah aja deh, jangan ganggu hidup temanku lagi," gunamnya pelan, sebelum keluar dari bilik kecil toilet, lalu mencuci tangan dan keluar menuju meja informasi tempatnya bertugas.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2