Bukan Salahku

Bukan Salahku
Bukan Salahku


__ADS_3

Sepertinya kamu harus banyak mengingat akan kesalahan di masa lampaumu.


Bagaimana bisa kamu berpura-pura seperti itu, jika kamu sendiri lah yang menyebabkan itu.


Bukan kah sudah aku katakan, jika ini bukan salahku.


Ini salahmu, yang membangunkan sisi lain dari kehidupanku.


Maka nikmatilah segalanya, selagi kamu bisa menikmatinya.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost-an Evelyn


"Evelyn."


Mendengar panggilan atas namanya dari arah belakang, Evelyn pun yang sudah hampir membuka pintu gerbang berhenti, kemudian menoleh dengan tubuh menghadap ke arah si pemanggil.


"Siap-


Kalimat pertanyaan terpaksa ia telan kembali, ketika matanya melihat penampakan seorang wanita, yang sangat ingin ia hancurkan saat ini juga.


Ya .... Di depannya saat ini, ada Tania yang berdiri dengan menatap marah ke arahnya. Membuat senyum di bibirnya terukir cantik, saat merasa jika keadaan dan emosi musuhnya, bisa di katakan tidak baik-baik saja.


Ekspresinya yang tadi kaget, perlahan menjadi rileks saat ia pikir jika wanita di depannya sudah hilang kendali.


Dalam hati ia bertanya, apa hal yang membuatmu Nona muda Brata sampai mendatanginya. Apakah karena foto syur ia dan kekasihnya atau ada hal lain, saat kemarin juga temannya sempat mengirim berbagai pose foto, sebagai hadiah kiriman.


"Selamat malam, Nona Brata?" sapa Evelyn sengaja dengan nada cerianya, menatap Tania menantang lengkap dengan senyum manisnya.


"Tidak usah sok manis di hadapanku," sahut Tania dengan nada sinis yang kentara. Ia bahkan berdecih jijik, saat melihat ekspresi mengejek dari anak kandung Papa sambungnya. Wanita perebut dan penggoda tunangannya, calon suaminya kelak.


"Aku tidak sok manis, memang seperti ini lah aku. Kamu kan bisa lihat sendiri, ini lah alasan mengapa Arlan mencintaiku, alih-alih mencintaimu, yang adalah tunangannya. Ups ...."


Kepalan tangan Tania semakin mengerat, saat mendengar sendiri bagaimana ucapan kurang ajar, dari wanita di depannya yang saat ini masih menampilkan senyum manis.


"Aku datang ke sini, bukan untuk mendengar atau melihat senyum menjijikanmu."


Senyum manis dibuat-buat Evelyn memudar, digantikan dengan ekspresi wajah datar, dengan mata menatap Tania berbeda, saat mendengar ucapan menghina untuknya.


"Lalu. Apa maumu, Tania?" tanya Evelyn dengan nada datar, sama datarnya dengan ekspresi wajahnya saat ini.


"Kamu masih tanya apa mau aku?" timpal Tania dengan decihan sinis, jijik dengan kepura-puraan wanita di depannya.


"Sok suci sekali kamu, j*lang," lanjutnya semakin menghina.


Evelyn menguatkan hatinya, saat ia lagi-lagi mendengar kalimat menghina dengan isi sama.


J*lang.


"Lalu?" sahut Evelyn bertanya dengan nada santai, bahkan ia bersedekap tangan dengan alis terangkat, tidak perduli.


"Kamu!"


Tania kesal sendiri saat melihat Evelyn yang tenang, tidak termakan emosi saat mendengar panggilan menghina darinya.


"Apa?"


Lagi-lagi Evelyn hanya menyahuti kalimat Tania, dengan pertanyaan santai dan tidak pedulinya.

__ADS_1


"Dengar ini Evelyn, jauhi Arlan. Kubur mimpi kamu untuk bisa memilikinya, karena dia hanya akan jadi milikku, jadi suamiku."


Evelyn terkekeh, alih-alih menanggapi serius kalimat ultimatum yang di ucapkan oleh Tania. Ia merasa lucu saat merasa Tania frustrasi, akan keberadaannya di tengah-tengah hubungan mereka.


"Ha-ha-ha!"


"Kenapa kamu tertawa?"


Tania menatap Evelyn dengan perasaan marah luar biasa, saat ucapannya hanya di tanggapi dengan tawa mengejek dari wanita di depannya.


"Kenapa kamu bertanya?" tanya Evelyn setelah menghentikan tawa mengejeknya.


Alisnya terangkat, lengkap dengan senyum miringnya.


"Apa! Sialan! Wanita murahan seperti kamu, seharusnya mati!"


"Maksudmu mati seperti ibuku? Ibuku yang tidak bersalah. Begitu?"


Deg!


Seketika mata Tania melotot, dengan jantung berdetak kencang saat mendengar ucapan Evelyn.


"Apa, bagaimana mungkin," batin Tania dengan perasaan takut luar biasa.


"Kenapa kamu diam?" desis Evelyn menatap Tania marah, tidak ada lagi ekspresi manis dibuat-buat, yang ada hanya tatapan marah saat ia ingat akan kematian tidak logis ibunya.


"Ap-apa maksudnya, siapa yang diam," elak Tania, dengan suara gemetar di awal namun sebisa mungkin ditutupinya.


"Apa maksudnya?" beo Evelyn cepat.


"Apa kamu sedang merasa merasa demikian?" lanjutnya bertanya, namun seperti sedang berpura-pura menebak.


"Ap- tentu saja tidak," tandas Tania cepat. Menolak tuduhan Evelyn, yang membuat jantungnya berdetak semakin kencang.


"Aku tidak takut," timpal Tania lagi-lagi mengelak.


"Oke, kamu tidak takut."


Diam.


Keduanya sama-sama diam, saat Evelyn menimpali perkataan Tania terakhir kalinya.


"Sudah malam, Nona Brata tidak mungkin kan, hanya akan ingin menyampaikan masalah itu?" tanya Evelyn setelah beberapa saat keterdiaman keduanya.


"Jauhi Arlan, kamu pasti tahu jelas maksudku apa," ujar Tania masih dengan maksud sama.


Dengan helaan napas dibuat selelah mungkin, Evelyn menghampiri Tania yang mundur perlahan.


"Mau apa kamu?" tanya Tania dengan nada takut yang kentara, namun Evelyn tetap melangkah mendekatinya.


"Jangan dekat-dekat!" lanjut Tania berseru panik.


Tap!


Evelyn pun berdiri tepat di hadapan Tania yang bergerak gelisah, saat merasa takut dengan apa yang akan didengarnya nanti.


"Dengar ini, Tania. Aku tahu apa yang terjadi dan apa yang sedang kamu sembunyikan. Jadi bukan salahku, jika aku melakukan ini denganmu. Merebut Arlan dari tanganmu, serta membuatmu kehilangan semua kebahagianmu."


Mata Tania membulat saat mendengar kalimat mengancam, dari lisan seorang wanita yang kini menatap marah kepadanya.

__ADS_1


"Aku tidak, ak-


"Aku tidak akan melaporkan masalah ini kepada pihak yang berwajib. Tapi aku akan membuatmu merasakan sakit, secara perlahan, hingga kamu lebih berharap mati, dibandingkan dengan hidup dalam kesedihan. Kesedihan berkepanjangan, tidak dicintai, ditolak, ditendang dari singgasanamu. Bagaimana, heum, " bisik Evelyn, sebelum pergi dan menoleh sebentar melihat Tania untuk terakhir kalinya, dengan Tania yang hanya mampu terdiam kaku.


Setelah kepergian Evelyn, Tania yang masih berdiri di depan gerbang kost-an Evelyn pun, perlahan sadar dari rasa syoknya.


Ia pun menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tidak ada yang mencuri dengar percakapannya, dengan Evelyn yang akhirnya memberitahukan juga jika ini adalah kesengajaan dengan tujuan menyakitinya.


Melangkahkan kaki dengan terburu, Tania pun masuk ke dalam mobilnya dan segera menghidupkan mesin mobilnya, meninggalkan gerbang kost-an Evelyn, untuk segera pulang ke Kediamanannya.


Di dalam mobilnya, Tania berpikir keras dengan otak yang langsung memproses dan menghubungkan, masalah satu dengan masalah lainnya.


Mulai dari tiba-tiba tunangannya dan Evelyn yang menjadi pasangan kekasih, padahal dulu ia sempat lega karena Evelyn tidak mendekati tunangannya lagi. Kemudian foto-foto yang di kirim untuknya, dengan menampilkan keintiman hubungan keduanya, yang tentu saja membuat meradang. Lalu, kenyataan akan rahasia yang ia sembunyikan selama beberapa waktu ini.


"Tidak, aku yakin sekali, jika tidak ada yang seorang pun di sana saat kejadian itu. Ini pasti akal-akalannya saja."


Tania menolak akan kebenaran, dari kenyataan sesungguhnya yang telah ia lakukan, juga akan dosanya yang telah menghilangkan nyawa ibu Mirna. Ibu dari wanita yang sangat ia benci, namun memang sama sekali tidak punya salah kepadanya.


"Bagaimana ini, aku tidak ingin masuk penjara."


Dengan hati dan badan gemetaran, Tania akhirnya sampai juga di depan gerbang tinggi kediamanannya. Bahkan ia sendiri tidak tahu bagaimana ia, saat mengendarai mobil di perjalanan tadi.


Setibanya di bagasi mobil, Tania pun memasuki rumahnya dengan langkah linglung. Ia berjalan dengan pikiran entah kemana, membuat Kana, yang saat ini sedang menonton televisi, dengan Farid di ruang santai mengernyit heran.


Ada apa? Pikir keduanya.


"Tania! Kamu sudah pulang?"


Tania sama sekali tidak menyahut, pertanyaan klasik dari sang Mama, yang melihatnya semakin penasaran.


Kana melihat ke arah suaminya, yang juga melihat ke arah sana, tepatnya ke arah Tania yang berjalan menaiki anak tangga, tanpa menjawab pertanyaan darinya.


"Tania, kenapa?" bisik Kana, bertanya kepada suaminya yang hanya bisa mengangkat bahu tidak tahu.


"Aku kan, tidak pernah kemana-mana," jawab Farid dengan santai, saat ia merasa seperti tahanan rumah.


"Ck."


Kana yang mendapatkan balasan tidak sesuai keinginannya, hanya bisa berdecak saat ia merasa kesal akan jawaban suaminya.


"Jaga Kenzo baik-baik, aku akan menemui Tania dulu, akan sangat merepotkan jika anak itu kesal," ujarnya kepada sang suami, kemudian melanjutkan dalam hati lanjutan kalimatnya.


Farid mengangguk singkat, sebelum Kana berdiri dan berjalan meninggalkannya berdua, bersama Kenzo yang tiduran di kereta bayinya.


"Huft ... Aku kangen denganmu Nak, maafkan ayah Evelyn. Ayah sangat berdosa kepadamu," gumam Farid lirih, saat ia ingat hari dimana ia melihat sendiri, bagaimana terpuruknya sang anak di makam mendiang istrinya.


Tidak ada yang tahu, jika ia turut hadir di acara pemakaman ibu dari Evelyn yang adalah istrinya, bahkan istrinya pun tidak mengetahui dirinya yang pergi dari rumah.


Ia melihat dari kejauhan, saat Evelyn menangis setelah semua orang pergi meninggalkannya.


Untuk saat ini, ia hanya bisa berdoa dan meminta dengan sangat, agar Tuhan selalu melindungi putrinya, ketika ia sendiri tidak mampu melindungi anaknya.


"Sekali lagi, maafkan ayah Nak."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Terima kasih kak atas tap like, serta dukungan votenya wahai readers, yang Author nantikan komentarnya 🤣.


Sampai babai


__ADS_2