Bukan Salahku

Bukan Salahku
Perubahan Yang Mulai Disadari


__ADS_3

Diantara semua permainan, mana permainan yang membuat kalian, tidak bisa move on?


Kalau aku jangan tanya.


Permainan paling seru dan membuat aku tidak bisa move on adalah ....


Permainan yang bisa membuat kalian kaget, kaget akan segala perubahan diriku yang tiba-tiba.


Jadi.


Selamat menikmati, teman ...


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Ini hari berikutnya, saat Evelyn masih melancarkan agresinya, kepada orang-orang yang dulu membuat hidupnya seakan di neraka.


Saat ini Evelyn sedang duduk di dalam kantor Presdirnya, kekasih bayangannya, atau apapun itu yang menunjukkan sebagai kepemilikannya.


Ia duduk dengan muka di tekuk, saat Arlan hanya menyuruhnya duduk, setelah ia selesai mengerjakan sisa pekerjaannya.


"Kenapa?"tanya Arlan tanpa melihat ke arah sang kekasih, yang melihatnya dengan mata mendelik kesal.


"Apa yang kenapa, aku harus balik ke meja kerja aku, Ar. Kalau ada telpon masuk bagaimana?" gerutu Evelyn dengan nada sewot, membuat Arlan mendengkus saat kekasihnya ada saja alasan untuk meninggalkannya sendiri.


"Mereka akan menelepon lagi, lagi dan lagi. Lalu jika masih belum diangkat juga, mereka akan menelepon bagian informasi, paham. Jadi jangan bawel, duduk manis dan diam, perhatikan wajah tampan aku saja," tandas Arlan dengan panjang lebar, menjelaskan dengan nada gemas, saat sang kekasih mendumel dihadapannya.


"Tidak mau, aku ma-


Ceklek!


Perkataan Evelyn terpaksa harus di tunda, saat ada seseorang yang dengan lancang, membuka pintu ruangan sang Presdir.


Dari balik pintu yang terbuka muncul sepasang sepatu mahal, dengan seorang pria paruh baya yang berjalan memasang wajah marah.


Evelyn memandang ke arah Presdirnya, yang saat ini menatap seseorang itu dengan tatapan datar dan aura dingin.


"Sepertinya akan ada hal serius yang dibahas," batin Evelyn menebak.


Ia berdiri dari duduknya, hendak berpamitan namun sayang, kekasihnya memerintahkan dengan tegas agar ia kembali duduk dengan nyaman.


"Duduk dan dengarkan, apa yang akan kami bahas."


Ia hanya bisa mengangguk dan mendesah pasrah, saat kekasihnya mengeluarkan nada absolut.


Ia sebenarnya tidak ingin terlalu ikut campur permasalahan keluarga kekasihnya, disaat dirinya hanya menjadikan Arlan sebagai batu pijakan akan rencananya.


Ketiga orang di ruangan dingin itu terdiam, dengan ekspresi berbeda di setiap wajahnya.


Arlan yang tetap menatap seseorang itu dengan datar.


Evelyn yang hanya mampu diam membisu.


Serta seseorang itu, yang menatap dengan amarah di kedua bola matanya. Menatap anaknya dengan tangan mengepal, saat ingat laporan yang di dengarnya dari calon menantunya, atau juga tunangan dari anaknya.


Yah ... Seseorang itu adalah Papa dari Arlan, siapa lagi kalau bukan Keanu Widiyo, yang merasa jika anaknya sudah keterlaluan.


Arlan yang merasa bosan membuka percakapan, dengan nada datar, nada yang biasa ia keluarkan untuk sang Papa.


"Ada apa?"


"Kamu keluar dulu," usir Keanu ke arah Evelyn, yang menatapnya alih-alih menjawab pertanyaan sang anak, dan itu membuat Arlan semakin marah.


Evelyn yang mendengar usiran dari Papa kekasihnya hanya bisa menatap ke arah Arlan, dengan tatapan mata memohon, tapi sayang Arlan tetap pada pendiriannya. Ia ingin Evelyn tahu apapun tentangnya, tanpa ada satu pun yang ditutupi.


"Anda tidak bisa mengusirnya, tanpa ada persertujuan dari saya. Siapa anda?" sahut Arlan cepat dengan nada dingin, menatap sang Papa tajam.


Keanu tentu saja marah, saat anaknya semakin kurang ajar dengannya, apalagi di hadapan seorang asisten biasa.


"Saya Papa kamu, saya masih pemilik perusahaan ini. Siapa dia?" murka Keanu, menunjuk Evelyn dengan jari telunjuk teracung lancang, serta berpura-pura tidak tahu saat dirinya sebeni tahu kenyataan dari tunangan sang anak sendiri.


Arlan tetap santai duduk pada kursi kebesarannya, memandang sang Papa seakan ia tidak takut akan kemurkaan, yang tergambar jelas di kedua bola mata seorang Keanu.


"Evelyn, kemari," perintah Arlan dengan nada tak terbantahkan, menatap sang kekasih yang juga menatapnya ingin protes.


"Sekarang!" lanjutnya dengan nada final.

__ADS_1


Keanu melihatnya dengan pandangan tidak mengerti, saat asisten pribadi sang anak berdiri dan berjalan memutari meja, untuk selanjutnya di tarik dan duduk di pangkuan sang anak, sedangkan sang anak matanya tetap memandangnya tanpa takut.


Evelyn yang keget hampir saja memekik, namun ditahannya, saat ia mendengar bisikan lembut dari arah belakang.


Setelah Keanu melihat sendiri, sikap anaknya yang tidak biasa kepada sang asisten pribadi, ia semakin marah saat cerita kekecewaan tunangan anaknya yang benar adanya.


Kejadian jelas yang dilihatnya sendiri, semakin membuat ia tidak habis pikir, kepada sang anak yang selalu membuatnya marah.


"Arlan, kamu jangan bercanda. Kamu sudah punya tunangan, kamu tidak pantas memiliki pasangan lain, selain tunangan kamu, calon istri kamu!"


Keanu berseru murka, menatap tajam Evelyn yang hanya mampu diam dipelukan posesif Arlan, yang sama sekali tidak termakan dan terbawa emosi. Justru, Arlan semakin menjadi, memperlihatkan kemesaraannya dengan sang asisten, kepada sang Papa yang akhirnya emosi juga.


"Yang beristri saja bisa selingkuh, kenapa aku yang baru tunangan tidak boleh?" tanya Arlan dengan nada santai menyindir sang Papa, yang semakin melotot murka ke arahnya.


"Kurang ajar! Lancang kamu!"


"Loh! Anda marah? Tersinggung kah? Ck-ck-ck ... Padahal yang sedang saya bahas bukan anda, tapi sepertinya anda merasa," timpal Arlan masih dengan nada santai, membuat Evelyn yang ada di pangkuannya tersentak kaget, saat mendengar sendiri masalah keluarga yang di alami sang Presdir, namun sang Presdir menanggapinya santai tanpa emosi.


"Apa ini alasan dia, benci sekali dengan papanya sendiri," batin Evelyn menebak-nebak.


"Arlan, kamu jangan semakin kurang ajar. Yang sedang kamu ajak bicara ini adalah orang tua kamu, Papa kandung kamu!"


Keanu semakin tidak bisa menahan kontrol emosinya, saat anaknya dengan gamblang menyindirnya di hadapan orang luar.


"Hentikan basa-basi ini, cepat katakan apa maksud kedatangan anda kemari? Menghabiskan waktu saja," ucap Arlan tidak perduli, ia dengan santai memeluk Evelyn, yang menegang dipelukannya.


Sepertinya sang asisten kaget akan alasan pertikaian ia dengan sang Papa, apalagi ini sudah menyangkut masalah keluarga dan Evelyn masih lah baru memiliki hubungan dengannya.


"Kam- ... Ck, dasar kurang ajar."


Keanu menghentikan acara marahnya, setelah mengumpati sang anak dengan makian kasarnya.


Suasana pun menjadi hening, saat Keanu mencoba meredakan amarahnya yang dari tadi meledak-ledak, jika sudah berhadapan dengan putranya, yang memiliki bentuk fisik sama sepertinya namun sifat mirip mendiang sang istri.


"Jadi, siapa dia?" tanya Keanu melihat ke arah anaknya, yang santai berbisik dengan sang asisten yang tidak melirik ke arahnya, lebih tepatnya merasa kejadian ini diluar batas urusan.


Arlan melihat dengan alis terangkat, saat Keanu bertanya mengenai wanita dipangkuannya, lalu ia memasang senyum mengejek saat ia merasa ini adalah sebuah lelucon.


Seorang Keanu tidak tahu siapa dan apa yang dilakukannya?


Unbelieveble.


"Jangan pura-pura tidak tahu, saat anda tahu dengan jelas kenyataannya," balas Arlan dengan dengkusan mencemo'oh, membuat Evelyn mengerutkan kening, namun tidak lama saat Arlan melanjutkan kalimatnya.


"Pasti, Tania sendiri kan yang bercerita. Kenapa? Apa dia sudah tidak sanggup lagi, menanggung beban perasaannya?" lanjut Arlan bertanya dengan nada puas, apalagi sampai kata-katanya ini dikabulkan oleh Tuhan.


Keanu terdiam setelah tersentak kaget, saat anaknya bisa menebak dengan mudah apa yang membuatnya bertindak.


Meskipun anak buahnya sudah melaporkan hal yang sama, ia tidak akan turun tangan sendiri sampai ia sendiri mendapatkan keluhan dari yang bersangkutan.


Dan alhasil ia baru mendatangi anaknya, saat ia sendiri sudah tahu kenyataan sejak beberapa waktu dari mata-matanya di perusahaannya ini.


"Tania sangat mencintaimu, Arlan," ujar Keanu mencoba membujuk, saat ia sadar jika anaknya tidak akan kalah, jika ia mengeluarkan emosi, justru sang anak hanya akan bertambah emosi.


"Tapi aku tidak mencintainya, apa dia buta jika aku sudah memiliki wanita yang kucintai saat itu, dan saat ini?" sahut Arlan tajam.


Di pangkuannya, sang kekasih ikut tersentak kaget, saat Arlan dan Papa dari Arlan menyebut nama seseorang yang dibencinya.


"Tania, berarti dia sudah tahu namun belum berani bertemu," batin Evelyn mencermati, setiap apa yang di obrolkan kedua dalam diam.


"Kamu bisa belajar mencintainya!" seru Keanu gemas.


"Tahu apa anda tentang cinta? Sedangkan anda sendiri memiliki banyak cinta untuk wanita diluar sana," sahut Arlan dengan nada meledeknya, terkekeh sinis saat sang Papa, si pria durjana berbicara tentang cinta.


"Arlan, kita sedang tidak membicarakan masalah Papa!"


Dalam hati Keanu ingin menyumpah serapahi sang anak, yang semakin kurang ajar dengannya.


"Sialan, jika bukan karena dia yang merengek, lebih baik aku santai bersama istriku," batin Keanu kesal.


"Dan aku tidak sedang ingin membahas masalah dengan tunangan aku, kalau dia mau, dia datang dan katakan pembatalan. Done, selesai semua."


"...."


"Kenapa? Tidak bisa jawab? Lagian ini adalah masalah pribadi aku, anda tidak berhak untuk mencampuri urusanku. Dengan siapa aku memiliki hubungan dan dengan siapa aku akan menikah nanti, itu juga bukan urusan anda. Jadi, Tuan Keanu yang terhormat, silakan anda pergi dari sini, sebelum saya panggilkan petugas keamanan," lanjut Arlan dengan panjang lebar, mengusir sang Papa yang menatapnya tidak percaya.


"Kamu mengusir Papa?" tanya Keanu marah.

__ADS_1


"Kenapa tidak?" sahut Arlan cepat tanpa ragu sedikit pun.


"Bila perlu, anda tidak usah datang kemari lagi. Aku rasa itu lebih baik," lanjut Arlan tidak peduli.


"Cih."


Keanu pun pergi meninggalkan ruangan anaknya, membuka dan menutup pintu dengan kuat, menimbulkan debaman pintu keras, dengan Evelyn yang tersentak kaget.


Brakh!


"Sstt ... Tidak, tidak apa-apa. Kamu tenang saja," bisik Arlan saat ia merasa Evelynnya kaget.


Evelyn menganggukan kepala, saat ia merasa nyaman akan usapan di rambutnya. Ia mendongakkan kepalanya, melihat rahang tegas sang kekasih yang wajahnya akan menampilkan ekspresi kaku, setiap habis bertemu dan bertengkar dengan Tuan Widiyo.


Ia sudah memiliki rencana, saat ia mencermati obrolan dengan topik pembahasan Tania, wanita yang sangat ingin ia cekik saat ini juga.


Dengan gerakan lambat dan lembut, ia mengusap rahang tegas itu dengan jari tangannya, memberikan afeksi menenangkan dengan Arlan yang akhirnya menatap ke arahnya.


"Ada apa, Schatz?" tanya Arlan dengan nada aneh, saat dirinya merasa tergelitik, meresapi kelembutan jari-jari kekasihnya di rahangnya.


"Tania tahu hubungan kita?" balas Evelyn bertanya dengan nada sedih, menutupi kesenangannya saat tebakannya benar adanya.


"Tapi sayang sekali, kenapa harus Tuan Widiyo yang mendatangi kami, bukan dia sendiri," batin Evelyn sedikit kecewa, masih dengan mengusap perlahan rahang tegas Presdirnya.


"Bagus dong, jadi kita tidak perlu menutupi hubungan kita dari dia," sahut Arlan memandang Evelyn, dengan alis terangkat tidak mengerti.


"Aku tahu, tapi apa kamu yakin, jika dia akan menyerah dengan begitu mudah?" tanya Evelyn memulai rencananya.


Arlan berpikir sejenak dengan pertanyaan sang kekasih, yang benar adanya saat ia sadar jika tunangannya sangat keras kepala.


"Jadi, kira-kira apa yang harus aku lakukan?" tanya Arlan dengan nada bingung, membuat Evelyn tersenyum dengan manis, yang sungguh menggoda dipenglihatannya saat ini.


"Kamu mau tahu? Tapi aku takut kamu tidak setuju," gumam Evelyn, membuat Arlan semakin tidak mengerti.


"Kenapa aku tidak setuju?" tanya Arlan penasaran.


"Karena aku yakin, kamu tidak akan menyukainya," balas Evelyn pura-pura tidak yakin.


"Apa? Coba katakan," sahut Arlan tidak sabar.


Evelyn tersenyum dalam hati, jika sampai rencana ini berjalan dengan baik, itu artinya ia tidak perlu menunggu lama menjalani permainan ini.


Lebih cepat lebih baik, bukan kah seperti itu pas sekali untuknya?


"Kamu hanya perlu mengizinkan dan memperbolehkan dia untuk ada di sekitar kita, lalu selanjutnya kamu tahu kan, apa maksudku?" jawab Evelyn menjelaskan dengan singkat rencana terselubungnya, yang sayangnya langsung disetujui Arlan tanpa banyak berpikir.


"Aku mengerti!" seru Arlan semangat.


"Tapi, kenapa Evelyn seakan ingin hubungan pertunangan ini batal secepatnya," batin Arlan penasaran.


Bukan kah dulu Evelyn yang mendorongnya untuk ia dan Tania bersatu, menjalani pertunangan sesuai wasiat dari mendiang Mamanya.


"Kamu setuju?" tanya Evelyn dengan nada kaget, menuai anggukan kepala yakin dari Arlan.


"Tapi, bagaimana dengan janji kamu dengan mendiang Mama kamu?" tanya Evelyn sedih, kali ini benar-benar sedih karena bagaimana pun, wasiat Mama lebih penting dibandingkan dengan yang lainnya.


"Jika itu dia sendiri yang membatalkan, aku tidak punya salah dengan Mama, Schatz," balas Arlan dengan bahu terangkat, tidak perduli dengan perasaan tunangan yang tidak diinginkannya.


"Baiklah Ar, tapi aku mau kamu menghubungi dia dan meminta maaf, dan ...."


Arlan mendengarkan dengan serius, rencana yang saat ini sedang dijelaskan oleh kekasihnya. Kekasihnya yang tiba-tiba berubah total, bukan hanya penampilan, tapi kepribadian dan juga segalanya.


Perubahan total, yang ia rinci pointnya dan ini dimulai saat mereka jadian di malam itu.


"Mengerti?" tanya Evelyn ceria, menuai anggukan kepala mengerti dari Arlan, apalagi ia berpikir jika rencana ini memiliki keuntungan tersendiri untuknya.


"Tentu saja, Schatz."


"Good," sahut Evelyn senang, tersenyum manis dengan Arlan yang memajukan wajahnya, untuk menggapai bibir dengan polesan soft red, yang dari tadi menggodanya untuk segera dicicipi.


Kecupan panjang, dengan Evelyn yang sudah mulai terbiasa dengan kelakuan mesum sang kekasih.


"Aku harus selidiki ini secepatnya," batin Arlan disela-sela kegiatan kecupannya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.


__ADS_2