
Sudah terlanjur, ya lanjut kan saja.
Jangan menyesali semuanya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Seminggu sebelum kepergian Evelyn
Arlan yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, sebelum bertolak ke kantor hendak memeriksa handphonenya, yang seharusnya ada di saku celana namun ternyata tidak ada.
Ia memeriksa lagi bergantian kanan-kiri, kemudian menepuk keningnya pelan saat ingat jika ia meletakkannya di atas nakas di kamar kost-an kekasihnya.
"Ah! Sial, aku lupa, sebelum mandi aku letakan di atas nakas samping tempat tidur," gumam Arlan kesal, kemudian mencari persimpangan untuk mobilnya berputar arah. Berniat mengambil handphone, sekalian menyetok candu selama berpisah nanti.
Mobil pun berbalik arah, berjalan membelah jalanan menuju daerah tempat tinggal kekasihnya tinggal.
Ketika mobilnya hampir sampai di dekat kost-an, Arlan dibuat bingung dengan kekasihnya yang menaiki taksi, padahal sudah dengan sangat jelas, jika ia meminta agar kekasihnya istirahat akibat aktivitas mereka tadi pagi.
"Mau kemana dia, bukankah aku menyuruhnya untuk istirahat. Lagian kenapa tidak memberitahuku, jika ingin keluar rumah. Kenapa harus pakai taksi," gumam Arlan penasaran. Kemudian mengikuti kemana arah si taksi pergi, yang entah kenapa arahnya seperti ia ketahui dengan sangat, menuju kemana.
"Kantor Riki," gumam Arlan bingung, kemudian melihat ke depan lagi saat Evelyn turun dari dalam taksi.
Ia pun menghilangkan pikiran negatifnya, saat melihat sendiri kemana Evelyn pergi tanpa memberitahunya. Setidaknya jika itu Riki, ia percaya jika Evelyn tidak akan kenapa-napa.
"Bikin khawatir saja, aku pikir kamu mau kemana," desah Arlan lega, kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan halaman depan kantor sepupunya, kembali ketujuan awal yaitu pulang ke huniannya dan mengganti pakaian baru kemudian berangkat kerja.
Skip
PT. TRI TUNGGAL
Arlan pun sampai di kantornya, berjalan dengan langkah penuh wibawa dan balas dengan anggukan kepala, saat setiap karyawan menyapanya sopan.
Di sampingnya berjalan saat ini ada Barly, yang kebetulan baru kembali dari luar, untuk bertemu beberapa partner yang tidak perlu ia turun tangan langsung.
"Tumben Ar, kesiangan," sindir Barly, saat keduanya ada di dalam lift, karena jika di sekitarnya ada orang lain, Barly mana berani menyindir sang Presdir tempatnya bekerja.
Arlan hanya mengendikkan bahu, menjawab santai sindiran tangan kanannya tanpa menoleh ke arah Barly.
"Tadinya mau di rumah aja, manja-manjaan dengan kekasihku, tapi ada yang merengek minta tanda tangan, jadi apa boleh buat."
"Sialan," umpat Barly tidak peduli siapa yang saat ini sedang diumpatinya, karena Arlan pun tergelak kencang di sampingnya.
"Ha-ha-ha! Cepat cari kekasih, agar tahu betapa indahnya santai bersama," ledek Arlan, membuat Barly melengoskan wajah kesal, mencibir dalam hati akan ucapan reseh sahabatnya.
"Terserah kamu, Ar."
Ting!
Tawa Arlan berhenti seketika saat pintu lift terbuka, berganti dengan ekspresi datar dan melangkah dengan tegas, diikuti oleh Barly di belakangnya yang membawakan tas kerja Arlan, sama-sama menuju ruangan milik Presdir untuk membahas pekerjaannya.
Ceklek!
Membuka pintu dengan sigap, Barly pun masuk setelah Arlan masuk dan berjalan lagi-lagi di belakang Arlan, layaknya anak itik yang mengekor kemanapun induknya pergi.
Brugh!
"Jadi, bagaimana dengan perusahaan milik keluarga itu? Sudah tahu, cara mengakusisinya?" tanya Arlan dengan serius.
Barly mengangguk, kemudian menjelaskan jika ada penjualan saham atas nama seseorang yang bahkan tidak ia ketahui, tapi jelas jika itu saham dari perusahaan yang sedang Presdirnya incar. Dan Arlan pun harus mengernyit, berusaha mengingat anggota keluarga si pemilik perusahaan. Tapi sayang, ia seperti lupa, saat ia pernah dengar sebelumnya nama ini.
"Tapi, kita berhasil beli saham itu kan?" tanya Arlan kemudian, dengan Barly yang lagi-lagi mengangguk sehingga Arlan pun tersenyum puas.
__ADS_1
"Bagus! Cari terus sela yang dibuat, sepertinya dia juga tidak tahu, jika di perusahaannya sedang ada tikus," lanjut Arlan dengan nada senang luar biasa.
"Baik, Pak!"
"Oh iya, Barl. Aku minta kamu selidiki CCTV di apartemen xxx, tadi malam, bisa kan."
Barly yang mendengar permintaan sahabatnya mengernyit, untuk apa memeriksa CCTV apartemen orang. Ingin jadi penguntit kah.
"Aku curiga, ada sesuatu yang terjadi, saat aku tidak sadar tadi malam," lanjut Arlan, saat melihat ekspresi penasaran Barly. Sehingga Barly yang tadinya penasaran jadi kaget, terkejut akan kejadian yang menimpa sahabatnya.
"Apa karena ini juga, kamu telat datang, Ar?" tanya Barly khawatir, namun jadi helaan napas lega saat Arlan menjawabnya dengan gelengan kepala dan senyum mencurigakan.
"Tidak, jangan khawatir. Kalau alasan telat, you know lah, tidak perlu dijelaskan," timpal Arlan dengan penjelasan ambigu.
Dasar, apa ini juga alasan Evelyn tidak masuk kerja, Barly hanya bisa membatin curiga, apalagi saat tahu tabiat sahabatnya, yang sudah biasa melakukan hal yang sepertinya memang iya sesuai tebakannya.
"Kami akan menikah, kamu jangan berpikiran buruk tentang kekasihku, Barly," tandas Arlan memperingati, saat mengetahui arti keterdiaman tangan kanannya.
Kekehan kecil keluar dari Barly, lucu dengan penjelasan yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan oleh Presdirnya.
"Zaman sekarang sudah lumrah, Arlan. Anak SMP pun sudah merasa, yah, lagian itu urusan kalian, hak kalian," timpal Barly dengan bahu terangkat tak acuh.
"Sialan, buat apa aku jelaskan yah," sahut Arlan ikut terkekeh.
Keduanya pun kemudian membahas pekerjaan lainnya, setelah Barly menyanggupi perintah Arlan untuk memeriksa kejadian, saat sang Presdir pergi ke hunian milik tunangannya.
"Sialan, awas saja, jika benar ada sesuatu dibalik perubahan sikap Evelyn pagi ini."
Waktu pun cepat berlalu, kini saatnya Arlan pulang setelah menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal, bersama Barly yang mengambil alih tugas kekasihnya.
Arlan juga berencana untuk memberhentikan kekasihnya, agar kekasihnya tidak lelah dan menunggu kedatangannya pulang dari kantor saja. Yah, hitung-hitung belajar saat mereka nanti sudah menikah.
"Astaga! Jadi ingin cepat bertemu dengannya," gumam Arlan frustrasi.
Niat ingin ke arah huniannya jadi batal, saat ia lebih memilih ke kost-an Evelyn terlebih dulu, baru kemudian pulang ke hunian sendiri.
Entah kenapa, ia merasa rindu sekali, padahal tadi pagi ia masih sempat melihat, meskipun dari jarak pandang jauh.
🍂🍂🍂🍂
Tidak lama kemudian, Arlan pun sampai di depan kost yang disewa oleh kekasihnya. Ia memasuki halaman, lalu menaiki anak tangga dengan langkah tidak sabar, sehingga akhirnya ia pun sampai di depan pintu kamar kekasihnya.
Tangannya terangkat, hendak mengetuk pintu namun berhenti di udara saat mendengar percakapan sang kekasih, dengan obrolan ganjil di pendengarannya.
Ia memasang dan menajamkan telinganya, mencuri dengar percakapan, yang sepertinya melalui sambungan telepon, kemudian memikirkan ini dalam diam, mencari tahu apa sebenarnya maksud ucapan kekasihnya.
Apa lagi ini, pikir Arlan.
"Sebaiknya aku ikuti dulu, apa mau Evelyn saat ini," gumam Arlan, kemudian membuka handphonenya, mencari kontak telepon milik kekasihnya, berpura-pura jika ia tidak mendengar pembicaraan tadi.
Tut! Tut! Tut!
Klik!
"Halo, Arlan. Ada apa?"
"Buka pintu, Schatz. Aku di depan sini," balas Arlan dengan nada tenang, agar kekasihnya tidak curiga kepadanya.
"Kamu di depan! Kenapa tidak pakai kunci sendiri?"
"Hn. Tidak, aku ingin di sambut denganmu," balas Arlan manja, kemudian terkekeh saat mendengar dengkusan dari seberang sambung sana.
__ADS_1
"Manja!"
"Hn."
"Kalau begitu tunggu."
"Oke."
Tidak lama kemudian terdengar bunyi pegangan pintu yang dipegang dari dalam disusul dengan bunyi khas pintu terbuka.
Ceklek!
"Sayang! Kamu tidak ganti baju kamu dulu?"
Pintu terbuka, dengan Evelyn yang menampilkan ekspresi canggung, ditutupi baik dengan pertanyaan untuk Arlan, namun sayang sebenarnya Arlan sudah tahu dan balas dengan ekspresi mencoba biasa saja.
Tidak ingin membahas mengenai masalah yang ia dengar, sampai ia tahu ada apa dibalik kejadian tadi malam.
"Tidak, aku terlalu kangen dengan kamu. Jadi aku memutuskan untuk ke sini dulu, baru kemudian pulang, itu pun jika kamu mau ikut denganku pulang ke tempatku," balas Arlan panjang lebar, tetap menggoda kekasihnya seperti biasa agar Evelyn tidak curiga juga terhadapnya.
"Sembarangan, kita belum menikah. Mana bisa tinggal bersama," tukas Evelyn, dengan senyum malu, senyum manis kesukaan Arlan yang segera mengecup kening Evelyn sayang, kemudian melangkah masuk mendahului si pemilik kamar.
"Aku mau mandi," ujar Arlan, sambil berlalu menuju kamar mandi, tanpa berbalik atau melihat Evelyn yang mengekor di belakangnya.
"Aku ambilkan handuk," sahut Evelyn dengan tergesa mengambil handuk bersih di lemari pakaian miliknya.
"Hn."
Arlan memperhatikan dalam diam apa yang dilakukan kekasihnya, yang dengan cekatan menarik handuk di tumpukan kain, tanpa membuat kain lainnya ikut tertarik, kemudian berjalan santai ke arahnya dan berdiri di hadapannya dengan tangan mengulurkan handuk berwarna putih kepadanya.
"Ada apa?" tanya Evelyn bingung, saat Arlan hanya melihatnya tanpa niat mengambil handuk yang dipegangnya.
Cukup lama Arlan mengamati raut wajah Evelyn, yang terlihat seperti memiliki beban namun tidak ingin dibagi kepadanya.
"Sayang," panggil Evelyn, cukup untuk membuat Arlan tersentak kecil dan mengambil dengan segera handuk di hadapannya.
"Maaf, aku melamun. Hari ini aku lelah sekali, tapi entah kenapa bisa langsung hilang, saat aku melihat wajahmu, apalagi jika melihat senyummu."
Evelyn terkekeh kecil, dengan kepala menggeleng pelan kemudian menangkup kedua pipi Arlan, yang mendesah senang saat merasakan usapan lembut di pipinya.
"Semangat, Arlanku bukan orang yang mudah mengeluh. Iya kan," bisik Evelyn menatap Arlan teduh, kemudian mengecup kecil bibir Arlan yang tersenyum merasakan kecupan lembut dibibirnya.
"Tentu saja, terima kasih, Schatz," balas Arlan, kemudian memasuki kamar mandi, setelah membalas kecupan dari Evelyn dengan cumbuan mesra kesukaannya.
Blam!
Di dalam kamar mandi, Arlan yang sedang melepas kemejanya berhenti sejenak, saat merasakan getaran pada saku celananya.
Mengambil handphone miliknya yang tadi pagi sempat ia ambil, Arlan menampilkan wajah semangat saat menerima pesan dari sahabatnya, yang tadi ia minta untuk mencari tahu kejadian selama ia tidak sadarkan diri di apartemen tunangannya.
Ia pun membuka pesan, lengkap dengan video berdurasi cukup lama di dalamnya. Video yang cukup membuatnya terkekeh sinis, saat sedikit mengerti arah permainan tunangannya, meski baru melihat sebentar video yang di kirim oleh Barly.
"Wanita sialan, permainan apa lagi kali ini, heum," gumam Arlan dengan gigi bergeletuk, menahan rasa marah yang harus ia sembuyikan dulu.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya.
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1