Bukan Salahku

Bukan Salahku
Cinta Karena Ketulusannya


__ADS_3

Akhirnya tidak ada lagi kebohongan di antara kita.


Akhirnya aku bisa mencintaimu tanpa ada beban.


Akhirnya aku bisa mencintaimu tanpa harus takut akan kehilanganmu.


Terima kasih atas segalanya


Kekasihku, Arlan.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kondominium Arlan


Saat ini Arlan sedang berada di dalam kamarnya, ia berdiri di depan cermin full body, melihat bagaimana bentuk sempurna tubuh dengan perut ABS dan lengan berhiasakan biceps, yang terpampang jelas saat ia tidak memakai atasan sebagai penutup.


Sejenak ia melamunkan kejadian tadi, tepatnya saat tunangannya, memberitahu jika kekasihnya hanya ingin memperalatnya. Dalam hati tentu saja ada perasaan marah, tapi bukan itu yang jadi pokok permasalahannya sekarang. Setidaknya, jika saja kekasihnya cepat mengatakan yang sejujurnya, ia tidak perlu berpura-pura menjadi orang bodoh dan harus merasa kesal, sehingga tadi ia memperlakukan kekasihnya sedikit dingin.


Ia yakin dengan sangat, jika saat ini pasti kekasihnya sedang memikirkan perubahan sikapnya, yang tiba-tiba saja menjadi dingin saat di perjalanan pulang tadi.


Tangannya terangkat, untuk memijat pangkal hidungnya guna meringankan pusing, memikirkan kehidupannya yang terlihat sempurna, tapi nyatanya tidak sama sekali.


Berita tentang ia yang memiliki keluarga dengan orang tua harmonis, hingga mendiang Mamanya dibawa serta, Papa yang berhasil mendidiknya menjadi pria sukses seperti sekarang, lalu tunangan cantik dari keluarga kaya raya sekelas dengannya. Itu semua terbanding balik dengan apa yang dijalani olehnya.


Papa yang ia benci sampai meresap ke dalam tulang, tunangan yang tidak ia harapkan. Lalu, sebenarnya apa yang sempurna dari kehidupannya?


Setidaknya, kehadiran kekasihnya membuat hidup tidak sempurnanya menjadi sempurna. Meskipun saat ini hubungannya dan sang kekasih masih dibawah bayang-bayang dengan kedok kebohongan, tapi ia yakin jika kekasihnya pun mencintainya dengan hati yang tulus, seperti ia yang mencintai kekasihnya dari lubuk hati paling dalam.


Melihat lagi raut wajahnya di pantulan cermin, ia pun berbalik tanpa niat memakai atasan, berjalan keluar hendak menghampiri sang kekasih yang saat ini entah sedang apa.


Ceklek!


Kosong adalah yang ia lihat, saat ia membuka pintu kamarnya. Lalu menoleh ke arah dapurnya dan kosong adalah yang ia lihat pula.


"Kemana Evelyn," gumam Arlan bingung.


Kepalanya menoleh lagi ke arah lainnya, tepatnya ke arah pintu balkon yang terbuka, membuat senyumnya terbit meski samar.


Sebelum menghampiri sang kekasih, ia melangkah ke arah dapur, membuka pintu kulkas untuk mengambil sekaleng beer beralkohol rendah dan meminumnya setengah, sambil melangkah ke arah ruang tamu.


Ahh!


Desahan terdengar dari belah bibirnya, saat tenggorokannya yang tadi kering akhirnya lega juga, ketika merasakan aliran minuman dengan aroma khas tersebut.


Tak!


Meletakkan kaleng beer tersebut di meja ruang tamu, Arlan melihat lagi pintu balkon baru kemudian melangkah, menghampiri tanpa menimbulkan suara dan berdiri di belakang kekasihnya yang hanya diam melihat ke arah sana, membuat senyum kecilnya terbit menghiasi wajah tampannya.


Grep!


Ia pun dengan segera memeluk erat tubuh kekasihnya dan meletakkan dagunya di bahu sang kekasih.


"Evelyn ... Aku ingin kamu," bisik Arlan, sambil memeluk kekasihnya yang tersentak kaget dipelukannya.


"Arlan," gumam Evelyn lirih, merasakan bagaimana Arlan berbisik seduktif di telinganya, sehingga ia merasakan merinding di sekujur tubuhnya.


"Hm?"


Arlan hanya bergumam dengan semakin mengeratkan pelukannya, serta wajah yang semakin masuk ke dalam ceruk perpotongan bahu dan leher jenjang milik kekasihnya.


Kelakuan manja dari Arlan, membuat Evelyn yang tadinya merinding menjadi tersenyum geli, tapi saat mengingat bisikan Arlan di telinganya, membuatnya bingung dan dengan cepat berbalik sehingga pelukan pun terlepas.


"Apa maksudnya, kamu ingin aku, Arlan?" tanya Evelyn dengan kening berkerut bingung.


Dalam hati Arlan mendengkus, gagal ingin bermesraan dengan sang kekasih. Bagaimana tidak dibilang gagal, jika kode sederhana dari ucapannya tadi, ternyata tidak dimengerti oleh sang kekasih.


"Aku ingin kamu, masa kamu tidak tahu?"


Arlan balik bertanya, saat kekasihnya menatapnya dengan bingung.


"Tidak."


"Huft ..."


Evelyn semakin menatap Arlan dengan bingung, saat helaan napas dalam keluar dari hidung mancung kekasihnya, akan jawaban cepat darinya mengenai pertanyaan sang kekasih.


Ia terkekeh dalam hati, saat Arlan tidak menjawabnya dan hanya membawanya masuk kembali dalam pelukannya.


"Aku jadi ingin memakanmu, sangking gemasnya aku," batin Arlan memeluk Evelyn dengan pelukan erat, seakan ingin meremukkan tulang sang kekasih.


Ia gemas karena biasanya, hanya dengan ia memberikan kode seperti itu, para wanita akan segera memasang pose dan membuka lebar kedua kaki mereka, sedangkan kekasihnya hanya menatapnya bingung lengkap dengan wajah polos tanpa dosa.

__ADS_1


Wajah yang semakin membuatnya ingin memakan kekasihnya saat ini juga.


"Arlan! Kamu ingin meremukkan tulangku?"


"Iya."


"Is! Jahat sekali," rengek Evelyn, saat pertanyaan hanya dibalas dengan jawaban cepat tanpa beban.


"Habis aku gemas dengan kamu, Schatz," sahut Arlan, kemudian membawa wajah kekasihnya menghadap ke arahnya, ingin melihat ekspresi mengemaskan dari seorang Evelyn Carla.


"Gemas?"


"Heum ... Gemas, sangking gemasnya aku ingin sekali memakan kamu sekarang juga. Membawa kamu berbaring di bawah kukunganku dan ....


"Dan?"


"Dan membawa kamu melayang ke surga sana."


Evelyn melotot kaget, saat mendengar pernyataan mesum dari kekasihnya, yang tergelak saat ia mencubit lengan keras milik kekasihnya.


"Mesum, ih! Lepas!"


Arlan semakin tergelak, saat Evelyn memberontak ingin lepas dari pelukan eratnya.


Ha-ha-ha!


"Kamu mesum sekali, lepas! Aku mau pulang saja," ucap Evelyn dengan nada sebal bercampur merinding, takut jika Presdir mesum yang merangkap sebagai kekasihnya, akan benar-benar melakukan itu kepadanya.


"Ha-ha ... Oke, oke. Jangan ngambek."


Arlan menangkap kedua pergelangan tangan Evelyn, meletakkannya di atas dada polosnya dan memeluk pinggang Evelyn, kemudian membawanya untuk semakin menempel pada tubuh toplessnya.


"Bisakah kamu rasakan, bagaimana jantungku berdetak cepat saat kamu di dekatku seperti ini?" tanya Arlan, menatap kedua mata kekasihnya yang menjawabnya dengan anggukan kepala kecil.


"Secepat apa?" lanjutnya.


"Cepat sekali," balas Evelyn tanpa memutuskan kontak mata dengan sang kekasih, yang tersenyum dengan senyum miring menggoda, sehingga ia sendiri yakin jika ini adalah senyum andalan sang kekasih untuk merayu wanita di luar sana.


"Tapi itu terjadi, jika aku sedang berada di dekatmu saja, Schatz. seperti sekarang ini," timpal Arlan.


"Benarkah?"


"Hum ... Tentu saja, karena aku sangat mencintaimu," jawab Arlan.


"Arlan," gumam Evelyn, memanggil nama sang kekasih yang menjawabnya dengan gumaman.


"Hum?"


"Apa kamu sungguh-sungguh mencintaiku?" tanya Evelyn, membuat Arlan yang tadi memandangnya dengan tatapan memuja, menjadi bingung akan pertanyaan aneh darinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Aku hanya ingin tahu."


Arlan tidak membalas pertanyaan Evelyn, melainkan membawa Evelyn kedalam ciuman dalam dan menggebu, menyampaikan rasa cinta yang tidak mampu ia ucapkan secara lisan.


Di dalam ciuman dengan rasa posesif, Evelyn bisa merasakan bagaimana lembutnya bibir Arlan menyapa bibirnya, sehingga ia yang tadinya kaget akhirnya terbuai dengan mata terpejam, mengikuti alur permainan bibir dengan Arlan si good kisser.


Melepas tautan bibirnya, Arlan pun melihat dengan senyum kecil saat Evelyn meraup rakus udara sebagai pengganti pasokan, saat tadi ia dengan seenaknya tanpa permisi membawa Evelyn ke dalam buaian.


"Apa itu kurang?" tanya Arlan kurang ajar, menuai delikan kesal dari Evelyn, yang masih belum puas meraup udara di sekitarnya.


"Kurang apa?" sentak Evelyn kesal, tapi sayang Arlan hanya terkekeh dengan kekehan seksi, yang terdengar menggoda di telinga Evelyn.


Dengan cepat ia menggelengkan kepalanya, saat ia merasa sudah mulai tertular mesum. Bagaimana bisa ia berpikir jika kekehan kekasihnya seksi dan menggoda.


"Astaga!" batin Evelyn berseru kaget.


Arlan dibuat bingung saat melihat Evelyn yang menggelengkan kepala tanpa sebab.


"Kenapa, Schatz?" tanya Arlan, menangkup dua sisi wajah Evelyn, sehingga Evelyn pun berhenti dari acara geleng kepalanya, ganti menjadi bingung lengkap dengan mata berkedip cepat.


"Tidak, tidak ada apa-apa."


Setelahnya suasana pun sedikit hening, saat Evelyn yang masih meredakan detak jantung, sedangkan Arlan menikmati bagaimana wajah bersemu sang kekasih di hadapannya.


"Kenapa kamu bertanya, apa aku sungguh-sungguh mencintaimu, Evelyn?" tanya Arlan setelah beberapa saat keterdiamannya.


"Aku hanya ingin tahu," balas Evelyn apa adanya.


"Apa perhatian dan cinta yang aku berikan kepadamu selama ini kurang, Evelyn?" tanya Arlan menatap serius kekasihnya, yang balas dengan gelengan kepala cepat.

__ADS_1


"Lalu, kenapa kamu masih bertanya?" lanjutnya dengan nada gemas.


"Karena ada hal yang belum kamu tahu, dan aku takut karena itu kamu akan meninggalkanku, bahkan akan membenciku," jawab Evelyn sambil menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah Arlan yang tiba-tiba berubah menjadi kaget.


Arlan tentu saja kaget, karena merasa jika ini adalah saatnya sang kekasih akan membuka rahasia kepadanya, kebenaran dibalik kejadian yang sesungguhnya, saat tiba-tiba Evelyn ingin menjadi kekasihnya padahal dulu Evelyn sangat ingin menjauhinya.


"Apa mksudnya, Schatz?" tanya Arlan pura-pura bingung.


"Arlan, aku ingin memberitahu kamu satu kebenaran. Aku juga akan menerima, jika kamu kecewa dan membenciku, saat sudah mengetahui kebenaran sesungguhnya."


Deg! Deg! Deg!


Baik Arlan maupun Evelyn, keduanya merasakan jantung masing-masing berdetak cepat, namun dengan perasaan yang berbeda.


Disisi Arlan, ia senang akhirnya sang kekasih mau jujur juga, sedangkan disisi Evelyn, ia takut jika Arlan akan meninggalkannya karena kebenaran tentangnya.


"Apa, apa yang ingin kamu beri tahu, Schatz?" tanya Arlan dengan nada tidak sabar, namun tertutupi dengan baik oleh nada tenangnya.


Sebelum menjawab pertanyaan Arlan, Evelyn mengurai pelukan Arlan, beringsut dan memberi jarak sedikit jauh kemudian menatap serius kedua mata Arlan, membuat Arlan tidak terima namun di tahannya dengan tangan mengepal disisi kanan-kiri tubuhnya.


"Arlan, sebenarnya aku. Sebenarnya aku."


Evelyn memutuskan kontak mata karena gugup, tidak sanggup saat nanti akan menerima tatapan benci dari kekasihnya, tapi tidak bisa ia harus segera mengakhiri sandiwaranya ini dengan segera.


Ia ingin mencintai Arlan dengan sepenuh hatinya, saat selama ini ia juga merasakan jika Arlan mencintainya dengan sangat tulus.


Menguatkan hatinya sekali lagi, Evelyn pun menatap Arlan kembali dengan sorot mata menyesal dan bola mata berkaca-kaca, sehingga Arlan yang melihatnya menahan diri untuk tidak menghampiri Evelyn dan membawanya kedalam pelukan menenangkannya.


Arlan ingin sekali rasanya mengatakan, jika ia tahu segalanya, namun sekali lagi harus ditahannya, karena tidak ingin membuat kekasihnya mundur untuk jujur.


"Sebenarnya apa, Evelyn?"


Mendengar namanya dipanggil dengan nama alih-alih panggilan sayang, Evelyn pun semakin menguatkan hatinya, maka dengan hembusan napas ia pun kembali menatap Arlan, yang juga menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Sebenarnya, aku hanya ingin memanfaatkan kamu. Aku ingin menghancurkan Tania, menghancurkan tunangan kamu melalui kamu, Arlan."


"Semua yang dikatakan oleh Tania benar adanya, jika aku hanya memperalat kamu, untuk membalas semua orang yang sudah jahat denganku."


"Tania juga benar, jika aku hanya menjadikanmu sebagai batu pijakanku untuk keberhasilan rencanku. Semuanya benar, Arlan."


Evelyn dengan nada terburu-buru menjelaskan kebenaran tentangnya, dengan persiapan hati saat nanti ia mendapat ekspresi kecewa dan marah Arlan kepadanya.


"Kamu pasti akan membenciku kan, Arlan. Kamu pasti marah denganku, iya kan, Arlan."


Evelyn terus meracau, dengan segala pemikiran negatifnya, kepada Arlan yang hanya diam tanpa bergerak sedikit pun, bahkan ekspresi wajahnya biasa.


"Seharusnya kam-


Cup!


Evelyn terdiam kaku, saat tiba-tiba sesuatu menyentuh bibirnya meski sekilas. Ia menatap tidak percaya saat Arlan ada di hadapannya, tanpa ia sadari kapan kekasihnya bergerak, saat ia sedang kalut akan pemikirannya tadi.


Sedangkan Arlan, yang tidak ingin mendengar ucapan dengan nada takut keluar dari bibir kekasihnya, lebih memilih menghampiri dengan cepat dan membungkam bibir Evelyn dengan bibirnya.


"Arlan!"


Evelyn memanggil nama Arlan dengan kaget luar biasa, bagaimana bisa Arlan tidak marah dengan pengakuannya.


"Arlan, kamu tidak-


"Marah?" sela Arlan cepat, menuai anggukan kepala dari Evelyn yang masih menatapnya tidak percaya.


"Tentu saja aku marah, bahkan rasanya aku ingin sekali menghancurkanmu. Tapi ..."


"Tapi?"


"Tapi tidak bisa, karena ini adalah kesalahanku juga. Jika aku tidak membawamu serta dalam kehidupanku, aku yakin jika kamu juga tidak akan merasakan penderitaan ini," balas Arlan menatap Evelyn dengan binar mata bahagia, saat Evelyn menatapnya kaget dan tidak percaya.


"Ak-


"Yang aku tahu, aku sangat mencintaimu. Tidak perduli aku dijadikan apa denganmu, aku akan menerimanya dengan hati siap sedia."


"Jadi Evelyn, mari kita buka lembaran baru, kisah yang baru tanpa ada masa lalu. Aku mencintaimu dengan sangat, aku menerima kamu apa adanya, aku akan selalu menjagamu, aku akan ada disaat kamu membutuhkanku."


"Aku sangat mencintaimu, Evelyn. Aku mencintaimu di atas segalanya."


"Arlan, aku."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya .....


Terima kasih dan Sampai babai


__ADS_2