Bukan Salahku

Bukan Salahku
Siapa Dia Dimatamu?


__ADS_3

Melangkah jauh dalam setiap kenangan


Terbenam dalam lautan kesedihan


Kasih yang pergi takkan mungkin kembali


Hilang terbawa, hampa, tak bertepi


Derita semakin terasa


Keluhan jiwa terus membara


Tersiksa oleh luka perasaan


Diatas pengkhianatan cinta didepan mata


Pergi menjauh, teruka oleh cinta


Bingung tentukan arah dan tujuan


Hanya kesendirian yang setia menemani


Terbang dalam lamunan


Anganku terbang melayang


Mengenang sebuah pengkhianatan


Diatas janji-janji manis kelembutan


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost Evelyn


Evelyn memasuki kost-an miliknya, saat mobil yang di kendarai oleh Presdirnya hilang dari pandangannya.


Ia membuka dan menutup pintu gerbang, berjalan menaiki anak tangga, dengan perasaan senang.


Entah karena apa .... Mungkin ini karena Ia yang mulai membuka hati, untuk Presdirnya yang selalu memperlakukannya dengan penuh perhatian.


Atau juga karena Ia tahu, jika Ia adalah segalanya untuk Dia.


"Ah! Apa yang Aku fikirkan, hentikan itu," gumam Evelyn, menepuk pipinya pelan untuk menyadarkan fikiran anehnya.


Yang Ia tahu dengan pasti adalah saat ini Ia sudah melangkah terlalu jauh, memasukkan sosok Arlan di dalam kehidupannya.


"Ibu sedang apa," gumam Evelyn berjalan menuju kamarnya, setelah melalui beberapa anak tangga.


Di depannya saat ini ada pintu terbuka, dengan Riki yang berdiri, menyender lengkap dengan ekspresi hangatnya seperti biasa.


Evelyn tersenyum, lalu melangkah cepat menghampiri sahabat sekaligus kakaknya.


"Riki! Kamu di sini, sejak kapan?" tanya Evelyn beruntun.


"Barusan kok, Aku sedang ingin makan siang dengan ibu. Kamu sudah makan?" balas Riki dan tanya Riki masih dengan senyum hangatnya.


Senyum yang sesungguhnya adalah senyum pengalihan semata, senyum agar perasaannya tidak curigai olehnya.


"Aku? Aku sudah makan, tadi setelah meeting, Aku di traktir Arlan. Kami berdua makan siang di Restoran Perancis, he-he!" seru Evelyn menjelaskan dengan semangat, tanpa tahu nada semangatnya sekali lagi menyakiti hati Riki, yang hanya bisa balas dengan senyuman kecilnya.


"Huwoo! Asiknya ... Lain kali Kita bertiga juga yah, makan di Restoran, Restoran biasa saja tapi!" seru Riki bercanda, menuai kekehan dari Evelyn.


"Bagaimana kalau nanti Kita makan bertiga, Aku traktir, anggap saja syukuran kesembuhan ibu. Bagaimana?" balas Evelyn tersenyum sumringah.


"Benarkah? Aku suka gratis! Tapi di tempat biasa Kita makan saja, jangan di Restoran mewah. Aku takut, tidak bisa memuaskan perutku, oke?" ujar Riki antusias, dengan tangan menepuk perut, dengan hiasan enam kotak miliknya.


"Iya! Kamu betul, makan di Restoran mahal porsinya kecil, sedangkan Kamu, kalau makan tidak cukup satu porsi!" seru Evelyn meledek, dengan kekehan renyahnya.


"Itu tahu! Apalagi kalau di Restoran mahal, Aku tidak bisa bersendawa, he-he!" balas Riki, kemudian tertawa bersama Evelyn yang menggeleng kepala, tidak heran dengan kebiasaan sahabatnya.


Riki terbuka dengannya, kelakuan tampan di depan publik hanya kedok, sedangkan saat bersamanya Dia akan berubah menjadi apa adanya.


Makan dengan bersendawa, makan dengan porsi banyak dan hal-hal lainnya, yang di sembunyikan dengan apik di hadapan wanita di luar sana.


"Tahu dong, Ak-


"Lyn! Kamu sudah pulang?"


Kalimat Evelyn terpaksa harus di telan lagi, saat mendengar pertanyaan dari arah belakang, tepatnya dari Sang ibu yang menatap keduanya dengan senyum hangat.


"Ibu! Iya, Aku di bolehin pulang, lagian jam kerja Aku tinggal beberapa jam lagi," ujar Evelyn menjelaskan.


Ia menghampiri Ibunya dan mengecup pipi Ibunya sayang, lalu tersenyum sumringah, senyum yang membuat Sang ibu melihat kearah Riki dengan sendu.


Di belakangnya Riki menggeleng kepala dan tersenyum, seakan bilang tidak apa-apa.


"Beruntung Kamu, Nak," batin Mirna antara sedih dan bahagia.

__ADS_1


"Ibu sudah makan?" tanya Evelyn ceria.


"Ini ... Kami baru saja akan mulai makan," balas Mirna, menolehkan kepalanya kearah meja makan kecil, dimana sudah tersaji dua mangkuk dengan menu sup jamur.


"Riki bawa apa, Bu?" tanya Evelyn, melihat meja dan Ibunya bergantian.


"Sop jamur, kenapa? Masih mau? Beli sendiri sana!" seru Riki menjawab pertanyaan untuk Ibu Mirna.


"Ih! Aku mau, kalau sop jamur!" seru Evelyn merengek kearah Riki, yang menjulurkan lidahnya, meledek Evelyn yang memasang wajah cemberut.


"Ya sudah, beli sendiri!"


"Ih! Riki!"


Tawa dari Riki dan Sang ibu, dua orang yang di sayanginya memenuhi ruangan kecil, tempat Ia dan ibunya tinggal dan itu membuatnya ikut tersenyum bahagia.


"Jahat, pada ketawain Aku!" ujar Evelyn pura-pura ngambek.


"Ha-ha-ha!!"


Akhirnya mereka pun makan dengan Riki dan Mirna, yang berbagi porsi untuk Evelyn, mereka tidak tahan saat melihat ekspresi memelas dari Evelyn.


Mereka makan dengan di iringi obrolan ringan, terkadang akan ada candaan terselip di dalamnya.


Riki menikmatinya, meyakinkan diri jika Ia harus berpuas hati dengan apa yang di terimanya saat ini.


"Yah .... Begini sudah cukup," batin Riki melihat dan merekam setiap senyuman bahagia, yang saat ini Evelyn tampilkan di hadapannya.


Selesai makan Riki harus pamit, kembali ke kantor untuk mengurus desain yang belum di selesaikannya, tapi sebelumnya Ia harus mampir ke bengkel, untuk mengambil mobilnya yang mudah-mudahan sudah selesai di perbaiki.


"Riki, pamit Bu! Jaga kesehatan, nanti Riki akan selalu kemari, menemani Ibu!" seru Riki sebelum pergi keluar kamar, dengan Evelyn mengekor di belakangnya.


"Hati-hati, Nak Riki!" seru Mirna dengan senyum.


Keduanya jalan meninggalkan kamar kost, dengan diam tanpa obrolan, hal yang sangat aneh bagi keduanya.


Di sisi Riki sendiri Ia sedang menata hati, agar tidak lepas kendali dan di sisi Evelyn, Ia sedang mencoba berusaha menutupi perasaan bersalahnya.


Ia tahu dengan jelas, pasti Riki tahu dengan apa yang terjadi antara dirinya dan Arlan akhir-akhir ini.


Ia bersalah, saat dengan jelas melanggar janjinya sendiri, kepada Sahabatnya yang saat ini berhenti, berdiri menghadap kearahnya dengan sorot mata tidak terbaca.


Evelyn merasakannya, merasakan emosi yang bercampur, didalam tatapan mata sahabatnya.


"Lyn," gumam Riki memanggil.


"Kamu bahagia?"


"Tentu! Ibuku sudah sembuh, Kita bisa berkumpul seperti tadi, lalu Aku bisa melihat Ibuku tertawa lagi!" seru Evelyn semangat, membalas pertanyaan Riki, melupakan satu lagi alasan sumber kebahagiaannya.


"Aku juga bahagia!"


"He-he-he!!"


"Lyn!"


"Huem?" gumam Evelyn, sambil mengedarkan pandangan asal tidak melihat Riki, yang raut wajahnya berubah tidak ada senyum lagi.


"Boleh Aku tanya?"


"Iya?" Evelyn mulai merasakan perbedaan, dari nada bicara Riki yang terdengar berat.


Diam ... Riki menjeda pertanyaannya, menyiapkan hati dan perasaannya, untuk menerima kenyataan yang akan membuat matanya terbuka dengan lebar.


"Siapa Dia, di matamu?" tanya Riki menatap Evelyn serius.


"Dia?" balas Evelyn pura-pura tidak mengerti. Padahal jelas siapa Dia, yang saat ini sedang dibahas oleh mereka.


"Kamu tahu dengan jelas, Lyn. Siapa yang Aku maksud," lanjut Riki, tanpa sedikit pun mengubah nada bicaranya.


Deg!


Jantung Evelyn berdetak dengan kencang, saat mendengar pertanyaan serius dari sahabatnya.


Akhirnya tiba juga saatnya Ia bicara jujur, tentang apa yang sedang terjadi dengannya dan juga dengan Presdirnya.


Ia tahu lama ke lamaaan, Ia harus menjelaskan ini dengan sejelas-jelasnya kepada Riki, orang yang selalu ada di sampingnya.


Keterbukaannya akhir-akhir ini tersapu oleh keegoisanya, yang menginginkan sahabat dan Presdirnya untuk tidak saling bertentangan, apalagi Ia tahu dengan jelas apa hubungan keduanya.


"Maafin Aku, Riki. Aku tidak bisa menahannya, Aku bilang Aku akan mencoba menerima perasaan," ujar Evelyn menatap Riki dengan sorot mata menyesal.


"Aku menanamkan dalam hati, jika apa yang Aku lakukan semata untuk menghargainya sebagai Atasanku. Tapi aku salah, ternyata Aku terbawa perasaanku sendiri, kasih sayang dan perhatiannya membuatku luluh. Aku termakan dengan janjiku sendiri," lanjut Evelyn Saat Riki hanya diam, tanpa ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.


"Riki!" seru Evelyn.


"Maafin Aku, Aku melanggar janjiku padamu! Aku bukan sahabat yang baik untukmu!" seru Evelyn menatap Riki dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Salah ... Bukan ini maksudnya.


Ingin rasanya Riki berteriak, bukan ini maksud perkataannya.


Bukan karena Evelyn menghianati atau melanggar janji yang di katakannya.


Riki ingin memberitahukan jika Ia amat sangat mencintai Evelyn juga, tapi Ia tidak ingin menambah rasa canggung di antara mereka.


Ia tahu akan sangat berbeda jika Ia bilang kenyataan sesungguhnya, kepada Evelyn yang lagi-lagi salah mengartikan, apa pertanyaan darinya.


Bukan salah Evelyn atau salah Arlan.


Ini salahnya ...


Ia hanya seorang laki-laki pengecut, yang takut kehilangan bahkan sebelum berperang.


Meskipun ada niat di hatinya untuk jujur dengan Evelyn, tapi Ia tidak siap saat Evelyn mengetahui perasaan, yang berujung Ia di tinggalkan tanpa ada kesempatan.


Ia lebih rela menjadi bayangan di belakang Evelynnya, dari pada harus kehilangan kesempatan menjadi orang yang di harapkan, saat Dia membutuhkan sandaran.


"Riki!"


"Iya," balas Riki tanpa nada.


Biar seperti ini dulu, biarkan Ia menjadi Riki yang patah hati dulu, sebelum kembali menjadi Riki Si sandaran Evelyn.


"Riki, Kamu mara-


"Tidak!" sela Riki cepat, bukan marah yang saat ini Ia rasakan dan Evelyn tidak boleh merasakan kekecewaannya.


"Cukup Aku," batin Riki meyakinkan diri.


"Tapi, Kam-


"Tidak,Aku tidak apa-apa, ah ... Aku harus pulang,"


Lagi-lagi kalimat yang akan di ucapkan Evelyn di sela dengan cepat olehnya, lebih baik seperti dulu.


"Jemputanku sudah datang, sampai nanti lagi, Lyn," lanjut Riki, melirik ke arah ujung jalan saat ojek online pesanannya terlihat.


"Riki!"


"Biarin Aku sendiri dulu, Lyn. Aku janji, akan kembali menjadi Riki Kamu yang dulu," ujar Riki lembut.


"Oke! Jangan di fikirkan," lanjut Riki, menuai anggukan kecil dari Evelyn.


"Baiklah," balas Evelyn lirih.


Tidak tega melihat ekspresi sedih dari wanita kesayanganya, Ia pun menepuk kepala Evelyn sayang, dengan senyum kecil menenangkan.


"It's oke, masuk gih, istirahat!" seru Riki lembut.


"Baiklah, hati-hati, Riki," balas Evelyn tersenyum sendu.


"Bye!"


"Bye, Riki."


Tin! Tin! Tin!


"Dengan Bapak Riki?"


"Iya, saya!"


"Helmnya Pak, silakan!"


"Oke, thanks!"


Dengan begitu, Riki pun meninggalkan Evelyn, yang melihat kearahya, dengan bulir air mata sedih.


Sebenarnya jika di perhatikan Riki pun hampir menjatuhkan bulir air matanya, tapi Ia tahan sebisa mungkin, menghindari rasa penyesalan Evelyn lebih jauh.


"Segini Kamu tidak tahu perasaanku, Lyn. Apalagi kalau tahu." gumam Riki.


"Kenapa, Pak?"


"Tidak apa, saya lagi patah hati, jalan aja Bang!"


"Ya elah, patah hati, zaman sekarang," batin Si kang ojek prihatin.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2