
Mencoba tuk bertahan ditengah kepungan badai cobaan
Lelah dalam melangkah menggenggam cinta tak berbalas
Warna pelangi hanyalah semu yang dirasakan
Hilang tersalip awan-awan biru yang menderu-deru
Lupakan semua kenangan dan janji-janji hati
Kepastian sudah diberikan
Namun pengkhianatan menjadi jawaban
Cinta sejati kini telah ternodai
Hampa terasa sunyi didalam jiwa
Menanti harapan melepas masa-masa kelam
Melangkah maju menuju sebuah harapan
Cinta sejati sudah jauh dan pergi
Berlalu pilu ditelan oleh sang waktu
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
PT. TRI TUNGGAL
Ruangan Arlan
Di kursinya dengan laptop menyala, ada Arlan yang sedang mengerjakan tugas, yang baru saja asistennya berikan.
Meskipun ia percaya jika hasil kerjaan Barly dan Evelyn tidak ada cacat. Tapi, ia tetap memeriksa dengan teliti setiap detail, kata demi kata dan totalan dari jumlah yang tercetak di layar laptopnya.
Saat sedang fokus dengan pekerjaannya, ia di kagetkan dengan pintu terbuka, di susul dengan seorang wanita, yang sangat ia tidak harapkan kedatangannya.
"Sial, mau apa dia kemari?" batin Arlan khawatir.
"Halo, Arlan!" sapa si wanita, yang tadi membuka pintu ruangannya tanpa mengetuk.
Arlan berdiri dari duduknya dan menatap si wanita dengan mata melotot kaget, ia tiba-tiba merasakan firasat tidak enak.
"Kamu!"
"Segitunya tidak ingin bertemu," batin si wanita menahan marah, dengan tangan mengepal.
"Iya, aku. Kenapa?" balas si wanita.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Tania?" ujar Arlan menahan rasa khawatirnya.
Ia menolehkan wajahnya ke arah pintu, yang ternyata tidak di tutup oleh wanita yang ia panggil Tania.
"Tutup pintunya!" seru Arlan memerintah.
"Ada apa? Kamu takut obrolan kita di dengar seseorang?" balas Tania bertanya dengan bibir tersenyum miring.
"Apa maksud kamu?" tanya Arlan pura-pura tidak mengerti, menyembunyikan perasaan takut yang tiba-tiba menyerangnya.
"Gawat, semoga Evelyn tidak di luar," batin Arlan gelisah.
"Apa? Aku tidak ada maksud apa-apa. Kenapa kamu takut seperti itu, kami tidak menyembunyikan sesuatu, kan?" tanya Tania dengan nada main-main.
Ia menikmati setiap raut wajah gelisah dari Arlan, meskipun tidak kentara.
"Tidak," balas Arlan mencoba mengontrol emosinya.
"Lalu, mau apa kamu kemari?" lanjut Arlan bertanya.
"Apakah aku, tidak di persilakan duduk terlebih dahulu?" tanya Tania berpura-pura.
"Kamu bisa duduk, di mana pun kamu mau," balas Arlan menatap Tania datar.
"Termasuk di pangkuan kamu, tunanganku?" ujar Tania dengan nada senyum miringnya.
"Jaga bicara kamu!" seru Arlan tiba-tiba emosi, akan sangat gawat jika ada yang mendengar perkataan wanita di depannya.
"Kenapa aku harus menjaga ucapanku?" balas Tania dengan nada tinggi, kekesalannya sudah di ambang batas. Ia tidak sanggup lagi menahan, apa yang di rasakannya saat ini.
"Kamu, tunanganku!" lanjut Tania sengaja menekan setiap di kata tunangan.
__ADS_1
"Ingat Tania, apa yang sudah jadi kesepakatan kita!" seru Arlan marah.
"Bukankah sudah aku bilang, untuk tidak menyebarkan atau berbicara, jika kamu adalah tunangan aku!" ujar Arlan hilang kendali.
"Aku tidak menyebarkan, aku hanya mengingatkanmu, jika aku adalah tunanganmu!" balas Tania santai.
Percekcokan keduanya berlangsung sengit, tanpa tahu seseorang mendengar dengan tangan dan hati bergetar.
"Arlan," Gumamnya, menatap kejadian di dalam dengan nanar.
"Oh ... Ayolah Arlan, aku sudah tahan ini lebih dari dua bulan. Bukankah sudah aku bilang, sekali kamu bersama wanita, maka saat itu juga aku akan mengumumkan pertunangan kita!" seru Tania semakin menjadi.
"Apa maksud kam-
"Aku melihatnya Arlan!" seru Tania menyela dengan cepat, apa yang akan di ucapkan oleh Arlan.
"Apa!"
"Kamu fikir aku tidak tahu, heh ... Asisten kamu, kan? Dia kan yang jadi alasan kamu untuk menyembunyikan pertunangan kita?" ujar Tania sambil melirik ke arah pintu, di mana ada Evelyn yang bediri kaku.
"Sudah dengar semua?" tanya Tania dengan nada senang.
Deg!
Jantung Arlan seakan ingin copot, saat melihat penampakan sang asisten di depan pintu, dengan tangan memegang nampan dan memandangnya nanar.
"Tidak, tidak mungkin," batin Arlan memandang Evelyn dan Tania bergantian.
Evelyn masuk dengan langkah kaku, menahan getaran pada kakinya, yang seakan berubah menjadi jeli.
Hatinya sakit saat mendengar sendiri jika benar, Arlan telah memiliki tunangan dan selama ini menyembunyikan Kenyataan darinya.
"Maaf, saya tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian," gumam Evelyn dengan kepala menunduk.
Ia berjalan ke arah meja dan meletakkan cangkir, masih dengan tangan bergetar.
"Evelyn."
"Ah, Asisten kamu memang harus tahu!" sela Tania dengan dengusan sinis, menatap Evelyn dengan pandangan benci.
"Tania, hentikan!" seru Arlan membentak Tania, membuat dua wanita di ruangan itu berjengkit kaget, dengan perasaan berbeda-beda.
"Evelyn, dengarkan aku!" seru Arlan, tanpa memperdulikan Tania yang menatap keduanya marah.
"Game It's over, Arlan. Permainan kamu selesai," ujar Tania menulikan pendengarannya.
"Diam!" sekali lagi Arlan membentak Tania, membuat Tania diam, namun dengan mata menatap Evelyn benci.
"Evelyn, dengarkan ak-
"Maaf, saya rasa tidak ada yang perlu di bicarakan. Terlebih saya dan bapak adalah atasan dan bawahan," sela Evelyn cepat.
Ia menatap Tania dan Arlan bergantian, dengan hati sakit dan mata menahan sebisa mungkin laju lelehan kristalnya, ia melanjutkan ucapnya ke arah keduanya dengan senyum kecilnya.
"Sepertinya Nyonya Tania salah sangka, di antara kami tidak ada hubungan sama sekali. Kalian bisa melanjutkan pertunangan kalian, yang sudah berjalan lama."
Diam ... Baik Tania ataupun Arlan, keduanya sama-sama tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
"Pak Presdir jangan lupa juga untuk mengundang saya, saya akan dengan ikhlas memberikan kalian Do'a,"
Evelyn menyelesaikan kalimatnya sambil senyum sedih, menatap ke arah sang Presdir dengan mata berkaca-kaca.
Arlan hanya menatap tidak percaya ke arah Evelyn, yang balik menatapnya sedih.
Hatinya ikut sedih saat melihat mata bergetar menahan tangis, dari asisten yang sudah merajai hatinya tanpa ia sadari.
Beda Arlan, beda lagi dengan Tania.
Ia justru tersenyum dalam hati, saat asisten tunangannya, berkata untuk melanjutkan pertunangan mereka.
Dengar sendiri kan, wanita itu yang memerintahkan Arlan untuk mengundang dia, diacara pertunangan mereka nanti.
"Akhirnya, kamu ada di genggaman tangan aku, Arlan," batin Tania puas, dengan perasaan senang membuncah.
"Evelyn, apa maksud kamu?" tanya Arlan berusaha mendekati sang asisten, tapi sayang, Evelyn segera mengangkat tangannya, memberi tanda untuk tidak mendekatinya.
"Kamu tunggu saja undangannya, terima kasih, Evelyn!" seru Tania tanpa melihat sekitarnya.
Masa bodo fikirnya.
Evelyn beralih melihat Tania dan tersenyum kecil.
__ADS_1
"Tentu saja, Nyonya Tania. Saya akan menunggu dengan tidak sabar," balas Evelyn lembut.
Lalu ia menoleh ke arah Arlan dan tersenyum, dengan bola mata sayu.
"Selamat yah, Pak Presidr. Semoga langgeng sampai pernikahan," lanjut Evelyn menahan suaranya, yang hampir saja bergetar sedih.
"Kalau begitu, saya permisi."
"Ah! Silakan tehnya diminum, Nyonya Tania!" Lanjutnya berseru ceria.
Evelyn pun meninggalkan ruangan dengan air mata, yang akhirnya tumpah juga.
Ia segera melangkahkan kakinya ke arah lift, menghindar dengan cepat dan menulikan telinganya dari panggilan Arlan di belakangnya.
Panggilan dari Arlan serta panggilan Tania, yang memanggil Arlan marah.
Setelahnya ia tidak tahu lagi, apa yang mereka berdua ributkan, karena saat Arlan hampir mencapai lift, pintu pun tertutup dengan Evelyn yang tidak lagi mampu menahan isak tangisnya.
"Hiks! Hiks!"
"Pembohong, hiks! Ya Tuhan, apa salahku," batin Evelyn meratapi hidupnya.
Ini adalah kali pertama ia jatuh cinta, saat ia menyadari perasaannya, ternyata cinta itu bukan untuknya.
"Riki," batin Evelyn menyebut sang kakak sedih.
Kembali pada Arlan yang menatap pintu lift nanar, dengan Tania yang ada di belakangnya tersenyum bahagia.
"Kamu kalah, Arlan. Kamu jelas tahu apa maksudnya," ujar Tania tidak perduli keadaan tunangannya.
"...."
"Perjanjiannya sangat jelas, minggu depan pesta pertunangan kita akan di selenggarakan. Suka tidak suka, acara itu akan tetap di laksanakan," lanjut Tania, memutuskan sepihak acara yang sudah di nantinya.
"Aku akan mem-
"Mimpi!"
Kalimat yang akan di katakan Tania di sela dengan cepat, oleh Arlan yang mengepalkan tangannya emosi.
"Mimpi kamu ingin bertunangan denganku!" seru Arlan dengan nada tinggi.
Ia membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Tania dan menatap Tania tajam yang balik menatapnya, dengan tatapan tidak percaya.
"Apa-
"Tidak ada pertunangan, dengar itu!" sela Arlan, kali ini dengan nada rendahnya.
Sumpah demi tuhan ... Jika ia tahu ini adalah akhirnya, ia dari awal menolak pertunangan ini, dari pada melihat Evelyn menatapnya kecewa.
"Sial," batin Arlan mengumpat.
"Tidak bisa, kamu sudah berjanji, kamu sudah-
"Pergi!"
"Apa?"
"Aku bilang pergi, pergi sekarang juga dan jangan pernah perlihatkan wajah kamu lagi, apalagi sampai datang kesini lagi," ujar Arlan emosi menunjuk pintu lift.
"Tidak bisa, aku pastikan jika minggu depan adalah hari pertunangan kita. Titik. Dengar itu!" balas Tania marah, sebelum meninggalkan Arlan yang segera menendang udara kesal.
"Sialan, bangs*t!"
"Akh!!"
Arlan mengamuk sejadi-jadinya saat dua wanita beda tahta di hatinya, meninggalkan ia dalam keadaan mengenaskan.
Baru saja kemarin ia dan asistennya mulai bisa terbuka dan menerima satu sama lain, sekarang ia menghadapi kenyataan, jika ia sendiri yang membuat wanita kesayanganya menjauhinya.
"Evelyn," gumam Arlan dengan tubuh merosot di lorong ruangannya.
Untunglah lantai ruangan miliknya, hanya terisi ruangannya dan ruangan asistennya, jadi ia tidak perlu khawatir, akan di saksikan oleh karyawannya yang lain.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
Sampai babai.
__ADS_1