Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kejelasan Semuanya


__ADS_3

Karena kejujuran itu lebih penting dari segalanya.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Seminggu setelah kepergian Evelyn.


Ini adalah hari ketujuh setelah kepergian Evelyn, Arlan yang merasa sudah cukup sedih pun segera melakukan rencananya, dengan Barly yang ikut serta dan akan melakukan tugasnya.


PT. Brata


Di perusahaan Pt. Brata tepatnya di ruang meeting ada Tania, juga seseorang lainnya yang saat ini sedang duduk berhadapan.


Keduanya sama-sama menatap namun beda pemikiran, Tania si pemilik ruangan menatap Arlan dengan mata berbinar senang, sedangkan Arlan menatap Tania dengan datar.


Tania tentu saja senang saat mendengar sendiri perkataan Arlan, tentang pernikahan yang akan dilaksanakan minggu depan.


Dalam hatinya ia bersyukur, saat kepergian Evelyn membuat tunangannya akhirnya mengajaknya menikah.


Ya benar sekali, Evelyn pergi sesuai janji saat ia sengaja mengancam Evelyn dengan Arlan sebagai jaminannya.


Bibir berpoles gincu merah itu tersenyum miring, sedangkan Arlan hanya menatapnya datar.


"Jadi, Arlan. Minggu depan adalah pernikahan kita," ulang Tania saat ia merasa benar-benar bahagia dan takut ini adalah mimpi.


"Hn."


"Bagus, aku tahu kamu akan menikahiku cepat atau lambat," sahut Tania puas, tanpa tahu jika Arlan tersenyum sinis dalam hati, saat melihat ekspresi senang dari Tania, dengan korban ia dan kekasihnya__Evelyn.


Arlan menyembunyikan rasa marahnya, saat ia ingat bagaimana bisa ia mengambil keputusan ini, keputusan untuk mempercepat pembalasan atas kelakuan buruk wanita di depannya.


Flasback on


Kost-an Evelyn


Saat ini aku sedang berada di depan gerbang kost-an kekasihku, sedang melihat dari dalam mobilku kepergian mobil lainnya. Mobil yang aku tahu milik siapa dan ingin kemana.



Ya ... Aku melihat sendiri bagaimana mobil sepupuku membawa kekasihku pergi untuk bersembunyi sementara waktu.


Aku yang meminta, saat aku ingat jika ini adalah cara untuk memancing tunanganku mengeluarkan taringnya.


Tanganku yang aku letakkan di atas stir kemudi mengepal, namun lama-kelamaan rileks saat aku ingat jika ini adalah demi kepentinganku juga.


Setidaknya aku semakin tahu apa yang harus dan tidak aku lakukan saat ini.


Ingatanku melayang saat aku dan Evelyn berbicara, dengan aku yang memaksa kekasihku untuk bercerita.


Aku yang baru saja keluar dari kamar mandi, segera menanyakan kejadian apa yang sebenarnya terjadi.


Awalnya Kekasihku enggan bercerita, mengelak dan selalu menjawab jika apa yang aku tanyakan tidak lah benar.


Tapi saat aku memperlihatkan video yang menampilkan kejadian saat aku dibawa oleh beberapa orang asing, saat itulah kekasihku berbicara dengan tangisan yang membuatku mengerti kejadian selanjutnya, tanpa kekasihku memberitahunya sekalipun.


Kemudian tidak disitu saja, aku pun menanyakan tentang maksud dan tujuan apa kekasihku mendatangi sepupuku.


Lagi-lagi kekasihku bungkam, namun saat aku menunjukan pesan dengan aku dan sepupuku yang bercerita, akhirnya kekasihku pun menceritakan tentang rencananya, yang akan meninggalkan aku agar aku menikahi tunanganku__Tania.


Aku tentu saja marah saat itu, tapi saat kekasihku bercerita jika dia tidak melakukan ini maka perusahaanku akan hancur, aku pun mulai mengerti jika kekasihku hanya tidak ingin aku jatuh terpuruk.


Apa kekasihku tidak tahu, jika bukan hanya perusahaan yang bisa membuatku jatuh terpuruk, tapi kepergiannya juga lah yang dua kali lipat membuatku jatuh lebih dalam di keterpurukan.


Jadi malam itu, aku putuskan untuk mengizinkan kekasihku pergi dengan Riyanti yang membantu menyembunyikannya.


Aku juga memutuskan untuk mendatangi wanita itu__tunanganku, untuk mengikuti apa sebenarnya permainannya kali ini.

__ADS_1


"Hati-hati disana, Schatz," gumamku saat mobil sepupuku melaju pergi.


Flasback end


Maka itulah disini aku, dengan sengaja membawa tunanganku untuk bertemu di ruang meeting alih-alih di ruangannya. Aku sengaja melakukan ini, agar tangan kananku bisa leluasa mencari sebuah dokumen yang dimaksud oleh kekasihku.


"Baiklah Arlan, aku akan hubungi orang tua kita untuk persiapan," ujarnya menganggetkanku saat aku mengingat alasan aku berada disini.


"Hn. Terserah kamu," balasku dengan hati berharap, agar Barly cepat menemukannya dan aku pun bebas dari wanita jelmaan iblis ini.


"Akhirnya, aku bahagia."


Aku hanya melihatnya tanpa minat, saat dia memekik memberitahukan betapa dia sangat bahagia.


Wanita gila, batinku dengan sumpah serapah.


Tidak lama aku merasakan handphone di saku celanku bergetar, aku pun dengan segera mengambilnya dan memeriksa pesan tersebut.


Pesan dari Barly, yang mengatakan jika semua sudah beres.


Bagus, akhirnya aku bisa terbebas dari wanita ini.


"Hn. Aku pergi."


Aku tidak memperdulikannya, saat dia melihatku dengan binar mata bahagia ganti menjadi cemberut, yang sama sekali tidak ada imut-imutnya.


Wanita sialan, bagaimana dia bisa bahagia saat aku menderita.


Meninggalkan ruangannya tanpa menoleh, aku tidak peduli dan tidak menyahutinya saat dia memanggil namaku.


"Arlan, hei! Tunggu!"


Cih .... Sialan, aku harap Barly benar-benar sudah menyelesaikan tugasnya, tanpa meninggalkan jejak.


Sambil berjalan aku mengirim sebuah pesan, untuk dia pergi lebih dulu sedangkan aku mengunjungi satu tempat, tempat yang akan mengantar aku kepada si pengirim pesan singkat dengan tulisan penting.


Arlan pov end


Normal pov


Sepeninggalnya Arlan dari ruang meeting Pt. Brata kini hanya ada Tania yang akhirnya kembali ke ruangannya dengan langkah ruang.


Dalam hati Tania sungguh bahagia, karena akhirnya dia akan menikah dengan tunangan yang sangat ia cintai.


Membuka pintu segera, Tania berjalan menuju meja kerjanya tanpa ada rasa curiga dan kembali melakukan pekerjaannya.


Skip


Tania saat ini sedang ada dalam perjalanan menuju rumah Papa Keanu, untuk memberitahukan jika Arlan menyetujui pernikahan ini.


Dengan mengendarai mobilnya, Tania akhirnya sampai bersamaan dengan sang Mama yang keluar dari dalam rumah keluarga Widiyo dan itu membuat Tania heran.


"Mama! Mama ngapain di sini?" tanya Tania, menatap Kana dengan penasaran.


Sedangkan Kana yang melihat kedatangan putrinya pun kaget, takut ketahuan jika ia baru saja melakukan hal yang tidak boleh sampai Tania tahu.


Kana memasang senyum canggung, kemudian beralasan jika ia kemari karena alasan yang berhubungan Tania.


Dan Tania dengan mata berbinar termakan jebakan, karena menurutnya ini adalah sesuatu yang kebetulan.


"Benarkah Mah? Aku juga mau memberitahukan jika Arlan menerima pernikahan ini," timpal Tania dengan nada senang yang kentara, membuat Kana menatap Tania tidak percaya.


"Apa? Arlan menerima pernikahan ini?" tanya Kana kaget.


"Iya Mah!" jawab Tania dengan kepala mengangguk semangat.

__ADS_1


Tidak lama mereka pun masuk ke dalam dengan Kana yang ikut serta, ingin mendengar bagaimana rencana pernikahan anaknya nanti.


Keesokan harinya


Di kantor milik Presdir Pt, Tri Tunggal ada sang Presdir__Arlan yang menatap dokumen juga beberapa bukti lainnya, dengan senyum sinis mengembang.


Presdir dari Pt. Tri Tunggal ini semakin tidak sabar saat akan melakukan eksekusinya.


Di depannya ada Barly, asisten__Tangan kanan juga sekaligus sahabatnya, yang kemarin sudah bekerja keras dengan mencari dokumen ini sebagai bukti.


"Bagus! Kita tinggal dia yang mempermalukan diri, kita ikuti saja permainannya dulu," ujar Arlan dengan senyum miring terpasang apik.


Sementara itu di tempat lainnya, Evelyn yang saat ini sedang bersembunyi.


Ia duduk dengan senyum dibibirnya, saat sebentar lagi bisa bertemu dengan kekasihnya__Arlan.


Ia tidak menyangka dengan ia mengatakan kejujuran kepada Arlan, segala sesuatu yang membuatnya takut sirna semua.


Ia hampir saja menjadi wanita bodoh, mengambil keputusan sepihak, tanpa tahu jika pasti kekasihnya lah yang akan sangat meranan nantinya.


Flasback on


Evelyn pov on


Tidak lama berselang dari aku mengobati luka goresku, sebuah bunyi notif pesan masuk membuatku segera bangkit dari dudukku.


Aku dengan segera berjalan, menuju meja tempatnya tadi meletakkan handphone milikku. Membuka sandi handphone dan membuka pesan dengan aku yang melihat isi pesan dengan mata melebar kaget.


"Arlan!"


Diriku tentu saja kaget, saat melihat foto kekasihku yang tertidur, dengan tubuh terikat serta Tania yang berdiri di belakangnya.


"Apa maksudnya ini," gumamku penasaran.


Rasa takut menyelimutiku, saat membayangkan kejadian buruk yang akan menimpa kekasihku.


Aku baru saja ingin menelepon nomor si pengirim gambar, namun aku urungkan saat mendapat pesan berikutnya dari nomor sama.


Isi pesan yang membuatku segera bergegas pergi, menuju alamat tempat kekasihku di ikat dan di sekap.


"Arlan, tunggu aku."


Dengan begitu aku pun berangkat menggunakan jasa ojek dan menuju gudang tidak terpakai, dengan semak dan tumbuhan tidak terawat yang aku lihat setelah turun dari motor.


Aku melangkah masuk kedalam dan aku disambut dengan dua orang berbadan kekar. Mereka mengatarku ke tempat kekasihku berada, hingga aku pun bisa melihatnya.


Tania tentu saja juga ada disana, dia membicarakan hal yang lagi-lagi membuatku tidak percaya.


Bagaimana bisa Tania memalsukan dokumen dan juga menodongkan pisau ke leher kekasihku, hanya agar aku meninggalkan kekasihku saat ini juga.


"Tinggalkan Arlan atau kamu akan melihat kehancuran perusahaan, juga kematian Arlan saat ini juga."


Ancaman yang tidak main-main sehingga aku lebih memilih untuk mengalah, dari pada aku melihat kematian kekasihku di depan mataku sendiri.


Flasback end


Dan itulah yang membuat Arlan pagi-pagi ada di kost-anda milikku, karena saat itu aku memiliki kesepakatan akan meninggalkan Arlan di satu minggu setelahnya.


Maafkan aku, Arlan. Aku hanya berharap, kamu baik-baik saja dan segera menjemputku.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya

__ADS_1


Terima kasih dan sampai jumpa.


__ADS_2