Bukan Salahku

Bukan Salahku
Siapa Dia?


__ADS_3

Naina mengerjapkan matanya kala Abi baru saja membuka gorden jendela kamarnya, Abi melirik pada Naina yang kini tengah masih berada dalam setengah mimpinya, perempuan hamil itu berusaha terjaga kala sinar mentari kembali menusuk indra penglihatannya, matanya sedikit terbuka, mengintip jam weker yang berada di atas nakas.


“Baru juga jam delapan” Naina menggumam sembari menguap. Melirik pada Abi yang kini tengah melipat kedua tangannya di dada. 


“Tidur hampir subuh karena maraton nonton? Kamu gak peduli dengan kesehatan anakku Na?” Abi menatap penuh intimidasi, semalam pria itu melihat CCTV untuk memantau kegiatan Naina, dan Abi merasa kesal kala melihat Naina tengah menonton sembari tertawa, bahkan hingga waktu menjelang subuh. Dan baru terlelap beberapa jam yang lalu. 


Abi sudah berkonsultasi dengan dokter, Abi juga sudah belajar banyak hal mengenai kehamilan, dan pola hidup Naina sungguh sangat jauh dari pola hidup sehat, terutama untuk kehamilannya, Naina masih seegois sebelumnya. 


“Bukan urusan Lo” Naina mendelik tidak suka, melempar selimutnya asal, dan beranjak menuju pintu kamar mandi, sepagi ini dan Naina sudah merasa kesal, moodnya hancur seketika mendengar omelan Abi. 


Abi menghela napas, memang apa yang bisa Ia harapkan dari seorang Naina?.


“Cepat mandi, hari ini kita ada periksa kehamilan kamu, aku sudah daftar, Mama dan Papa juga ikut, jadi jangan banyak drama lagi” 


Naina menyunggingkan bibirnya sinis, lagi-lagi hati perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu merasa kesal. Abi membuat jadwal untuknya seenak hati. 


“Gue gak mau!” Naina memasuki kamar mandi dan menutup pintunya dengan keras, membuat Abi mendesah kesal. 


*** 


“Nak, dimana Naina?” 


“Naina masih mandi Ma” Abi menjawab seadanya.


Rombongan dari keluarga Abi sudah datang, Mama dan Papa datang sepagi ini dengan antusias, Papa Satriya rela meninggalkan pekerjaannya hanya karena ingin melihat perkembangan calon anak Abi, Mama Zahara rela meninggalkan kegiatan sosialnya hanya demi mengantar Naina, dan kini Naina yang ditunggu malah sengaja berlama-lama di kamarnya dengan alasan berdandan, waktu sudah menunjukkan matahari sepenggalah naik, Mama dan Papa sudah mulai bosan menunggu, dan Naina masih anteng dengan serangkaian alat kecantikannya. 


“Ma, Pa, maaf lama menunggu” Naina datang, berjalan melewati tangga tanpa peduli harus hati-hati, hingga hampir saja Naina terpeleset namun Abi yang sudah peka segera membantunya berjalan, memperingatinya agar selalu hati-hati. 


“Tidak apa-apa” Papa tersenyum masam, tiga jam menunggu, dan Papa sesungguhnya sudah kesal dengan sikap Naina. 


“Sekarang, ayo kita berangkat” Mama tidak ingin banyak lagi basa-basi, beliau langsung mengajak anggota keluarganya pergi. 


*** 

__ADS_1


“Waahhh, ini calon cucu Pak Satriya nih, terlihat masih kecil namun Ia terlihat sehat” dokter menjelaskan dengan antusias, menatap binar haru pada keluarga Satriya membuat dokter ikut tersenyum senang, dokter tersebut juga merupakan teman lama Papa Satriya. 


“Waahh, Ma gak nyangka kita bakalan punya cucu di usia semuda ini” Papa terkekeh, memeluk pundak istrinya dengan hati mengharu biru. 


“Waktu terlalu cepat berlalu, dulu rasanya Abi masih kecil, masih Mama gendong, tapi sekarang Abi sudah mau punya anak, cucu kita” Mama tak kalah antusias, matanya kini sudah berkaca-kaca, bayangan masa muda yang melelahkan karena memutuskan untuk merawat Abi terbayang lagi dalam benaknya. Rasanya Ia merindukan Abi-nya yang kecil dulu. 


“Pak Abi harus lebih memperhatikan lagi pola makan dan pola istirahat istrinya ya Pak, janin terlihat sedikit lemah, namun Ia sehat kok, tidak perlu terlalu banyak khawatir” dokter tersenyum menenangkan sembari menuliskan beberapa resep obat dan vitamin. 


Abi melirik Naina yang terlihat acuh, sang istri masih terbaring diatas bed. 


“Abi jangan lupa untuk terus memantau kegiatan Naina, jangan sampai dia kelelahan” Mama menyarankan, menatap putranya dengan lembut. 


“Tentu Ma”


“Waahhhh, calon cucuku sehat rupanya” 


Semua orang yang berada di ruangan tersebut serempak menoleh, bahkan Naina segera berusaha untuk membenahi pakaiannya sendiri yang tadi sempat tersingkap kala suster menerapkan gel di perutnya. 


“Bim, kenapa Lo ada disini?” Papa Satriya menatap sahabatnya jengah. 


“Tadi Gue ke rumah Lo, kata Bibi kalian pergi ke rumah sakit, Gue pikir kalian udah pada pulang, ternyata masih disini, syukurlah, Gue bisa lihat calon cucu Gue ...” suara Bima melemah kala melihat tatapan dari masing-masing orang yang terlihat heran. 


“Ah, ya! Cucu Satriya artinya masih cucu-ku juga, begitu bukan? Haha” Bima tertawa canggung, namun semua orang bisa melihat matanya yang berkaca-kaca kala menatap layar yang masih menampakkan gambar calon cucunya. 


“Boleh lihat hasil printnya?” Bima melirik suster yang tengah membereskan hasil print USG dari anak Naina. 


“Silahkan Pak” suster memberikannya, Bima menerimanya dengan mata terpaku menatapnya, tangannya sedikit bergetar. 


“Om Bima tidak apa-apa?” Abi yang paling peka mendekati Bima, lalu menatapnya lembut. 


“Ah, ya! Hanya teringat kala Om melihat USG Gladys dulu, jadi terkenang masa lalu” Bima menghalau air matanya yang hampir saja turun, lalu melirik Satriya dan Zahara yang menatapnya kesal. 


“Oh, ya ... kenangan masa kecil anak memang sulit dilupakan, begitupun dengan aku yang sulit sekali melupakan kenangan masa kecil Abi, bahkan tadi kita sudah membahasnya, ya kan Bi?” Satriya memeluk pundak Abi, lalu tersenyum ke arahnya, Abi tersenyum membalas sembari mengangguk. 

__ADS_1


“Ck!” 


Terlalu asyik bersua antara Bima, Satriya dan Abi, mereka melupakan Ibu hamil yang tengah menggerutu sendirian, rupanya Naina merasa diabaikan hingga harus berdecak sekeras itu, dokter tersenyum melihat tingkah Ibu hamil yang terlihat memiliki emosi tidak stabil tersebut. 


“Ah, kita sudah selesai, ayo kita pulang” Mama Zahara yang sedari tadi ikut menyimak obrolan para pria, ikut merasa bersalah, segera turut membantu menantunya untuk merapikan diri, lalu mereka semua beranjak pulang setelah mendengarkan banyak wejangan dari dokter. 


*** 


“Na, kamu istirahat dulu disini, aku buatkan dulu makanan sehat buat kamu” Abi membantu Naina untuk merebahkan dirinya diatas ranjang setelah mereka tiba. 


“Gue gak mau makan sayur! Gue maunya makan bakso setan” Naina memutar bola matanya kesal, sudah tahu sekali jika Abi akan membuatkan makan siangnya hanya nasi dengan sayuran yang terasa hambar dan membuatnya semakin mual. 


“Itu gak sehat buat kamu Na, kemarin kamu sudah makan bakso” Abi mengingatkan. 


“Dasar budeg! Dibilang gak mau makan sayur juga!” Naina melengos kesal, namun Abi tidak peduli, pria itu bergegas turun ke lantai satu, sementara Naina mendengus kesal, gadis itu memilih turun dari atas ranjangnya, lalu berjalan mengitari rumah lantai dua. 


Naina merasa belum tahu seluk beluk rumah ini, semenjak pindah Naina hanya berdiam diri di kamar, atau paling jauh hanya menyambangi dapur saja. 


Satu pintu di samping kamarnya menarik perhatian Naina, sepertinya itu kamar yang digunakan Abi selama ini, gadis itu melengos kesal, namun tak urung tangannya membuka handle pintu. 


“Hmh? Apa itu?” 


Kamar Abi terlihat cukup luas juga, setiap perabotan yang berada di dalamnya terlihat tertata dengan sangat rapi, meskipun Abi seorang pria, namun suaminya itu pecinta kebersihan dan kerapian. 


Ada banyak barang mewah didalam sana, namun yang menarik perhatian Naina bukan pada barang-barang unik tersebut. Langkah Naina terhenti pada sebuah foto besar yang terpajang di kepala ranjang Abi yang cukup luas. Foto itu sepertinya lukisan tangan Abi sendiri.


Seorang gadis cantik, berusia kisaran masih SMA, tengah tersenyum pada kamera, gadis itu terlihat sederhana, namun jika lebih diteliti lagi meski gadis dalam foto itu tersenyum, namun matanya memancarkan kesedihan, amarah juga luka yang menganga. Naina mengernyitkan keningnya. 


Siapa dia?


Pacar Abi?


Brengsk!

__ADS_1


__ADS_2