
Di sebuah rumah mewah kini Anne berdiri. Mendongakkan kepalanya sampai sakit tengkuknya, saking tingginya langit-langit rumah tersebut. Walaupun Anne belum bisa mengingat apapun tentang masa lalunya, tapi karena bukti yang sudah Juniar tunjukan kepadanya akhirnya dia pun mau ikut pulang bersama Juniar. Sementara Sean kini sudah berada di penjara. Sejujurnya Anne merasa kasihan pada Sean, bagaimana pun juga laki-laki itu selalu memperlakukan dirinya dengan baik, namun mengingat kesalahannya yang sangat fatal dia pantas mendapatkan hukumnya.
"Kenapa diam disini? Ayo masuk!" Ajak Juniar. Ia pun merangkul Anne dan membawanya menaiki tangga. Ia akan membawa Anne beristirahat bersamanya, mengingat perjalanan yang cukup panjang Anne pun pasti kelelahan.
"Wua--h...." Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Anne tanpa dia sadari. Memang menakjubkan. Dia tidak pernah membayangkan ini semua.
Melihat Anne yang tampak terpukau, Juniar tertawa kecil melihatnya. Namun itu di sadari oleh Anne sehingga wanita itu sedikit kesal.
"Kenapa tertawa?" Tanyanya ketus.
"Tidak apa-apa," jawab Juniar. Tanpa laki-laki itu mengatakan pun Anne sudah tahu, bahwa Juniar menertawakannya. Memang menyebalkan laki-laki itu, pikir Anne.
"Dimana kamarku?" Tanya Anne polos. Dia masih berdiri di depan pintu, sementara Juniar sudah duduk di ujung kasur.
"Tentu saja ini kamarmu. Ini kamar kita." Jelas Juniar. Anne pun menyadari bahwa dia adalah isteri dari pemilik rumah itu, jelas saja dia akan tidur bersamanya. Terlihat tempat tidur bayi pun sudah tersedia di samping kasur dewasa.
"Anne, kemarilah!" Pinta Juniar. Anne melangkah perlahan.
"Ada apa?"
"Taruh saja anak kita di kasurnya, lalu setelah itu kamu mandi dan istirahatlah. Kamu pasti lelah kan?"
_____
__ADS_1
Malam harinya, semua makanan tersaji di sebuah meja yang cukup besar. Katanya hari ini keluarga besar Juniar akan datang mengunjunginya, untuk merayakan kepulangan Anne dan sang buah hati.
Ketika Anne sedang bercermin, tiba-tiba saja Juniar mencium bahunya dari belakang. Anne melonjak seketika.
"Ini yang sering aku lakukan padamu ketika kamu mengganti baju," ujar Juniar santai.
Anne masih belum terbiasa atas perlakuan Juniar. Dia masih saja canggung dengan laki-laki itu. Namun kini dia membiarkan Juniar melakukannya sekali lagi. Anne memandangi laki-laki itu dari balik cermin yang ada di hadapannya.
"Apa yang dokter katakan tentang keadaanku?"
Anne memang belum mengetahui tentang keadaanya saat ini. Karena saat hasil rontgen itu keluar hanya Juniar yang mengambilnya, Anne tidak di beritahu apapun. Namun karena penasaran Anne pun menanyakannya hari ini.
"Kata dokter kamu baik-baik saja," ujarnya berbohong. Padahal dokter mengatakan keadaan Anne yang memburuk, karena terlalu banyak mengonsumsi obat-obatan itu terjadi gangguan pada saraf di otaknya, sehingga mengakibatkan hilangnya penglihatan dan pendengaran, lebih parahnya lagi mungkin umurnya tidak akan lama lagi.
Walaupun Juniar sudah mengetahui keadaan Anne yang sesungguhnya, tapi dia mencoba untuk tegar. Dia tidak akan menunjukan kesedihannya di hadapan wanita yang dia sayang. Terlebih mereka baru saja bertemu kembali.
"Sekarang ayo turun. Ibu, ayah sama kakek pasti sudah menunggu di bawah."
Benar saja saat dirinya menuruni tangga, terlihat wanita dan laki-laki paruh baya itu tengah menunggunya di bawah. Baru saja Anne selesai menuruni tangga, wanita paruh baya itu langsung memeluknya erat.
"Kamu kemana saja? Apa kamu di luar sana baik-baik saja? Tidak ada yang menyakitimu kan?" Tanyanya bertubi-tubi.
"Jane benar-benar jahat!" Lanjutnya lagi.
__ADS_1
Semua orang mengatakan Jane jahat. Jane adalah kakaknya, tapi kenapa bisa seorang kakak tega menyakiti adiknya sendiri, pertanyaan itu terus saja berputar di benaknya.
"Aku baik-baik saja, ibu. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ujarnya sambil tersenyum.
"Maafkan ayah, ayah tidak bisa membantu banyak untuk mencarimu nak. Keadaan ayah yang seperti ini sulit sekali untuk bergerak," ujar Ayah mertuanya.
"Tidak apa-apa ayah... Yang terpenting sekarang Anne sudah bisa kumpul lagi dengan kalian, Anne sangat senang."
Melihat kedua mertuanya yang berlinang dengan air mata, Anne bisa tahu bahwa mereka pasti sangat menyayanginya. Anne sangat senang bisa berada di keluarga yang penuh dengan kehangatan seperti ini.
Lalu di tengah-tengah keharuanya itu, seseorang berjalan dengan menggunakan tongkat secara perlahan. Kakek Kusuma Wijaya datang menghampiri mereka. Sesaat suasananya pun hening.
"Selamat datang, Anne," sapanya lirih. Kakek berusia delapan puluh tahun itu kini semakin rapuh. Mungkin karena tubunya di makan usia, sehingga sudah tidak ada gairah lagi untuk bersemangat. Namun dilihat dari raut wajahnya, kakek Wijaya itu terlihat ceria.
"Apa kabar kakek?" Tanya Anne. Walaupun Juniar belum menceritakan banyak tentang sang kakek kepadanya, tapi dia mencoba mengakrabkan diri.
Namun kakek Wijaya tampak menyeka air matanya. Sepertinya dia terharu melihat kepulangan Anne ke rumah itu, walaupun sebelumnya sang kakek tidak menyetujui pernikahan kedua Juniar. Kakek Wijaya merasa bersalah pada Anne, karena di masa lalu dirinya tidak teliti sehingga kini Anne pun menjadi korban kejahatan Jane, kakak angkatnya.
"Sini nak," ujarnya, sang kakek meminta Anne untuk mendekat padanya. Setelah Anne mendekat, kakek Wijaya pun memeluknya.
"Maafkan kakek, dari dulu harusnya yang menikah dengan Jun adalah kamu nak, bukan Jane. Kakek merasa bersalah sekali pada ayahmu."
"Apa maksud kakek?" Tanya Juniar. Pandangan semua orang tertuju pada Wijaya Kusuma. Kakek berusia delapan puluh tahun lebih itu tertunduk lesu, menarik napas yang terasa berat untuknya. Namun setelah keadaannya membaik, Ia pun menceritakan kejadiannya itu.
__ADS_1