
Bukan keinginanku aku dan dia dekat seperti ini.
Bukan juga kesengajaan aku dekat dan selalu ada di sekitarnya.
Apa salahku, jika aku dekat dengan sahabat serta atasanku sendiri?
Aku harap kalian cepat sadar dan mengerti, tidak semua yang terlihat di depan mata adalah kejadian sesungguhnya.
Tidak semua yang di dengar itu yang terjadi.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Hari-hari selanjutnya ...
PT. TRI TUNGGAL
Intensitas cemo'ohan yang di terima Evelyn semakin menjadi.
Kali ini bukan hanya lirikan dan bisikan sinis, tapi juga sudah lanjut dengan tindakan fisik.
Evelyn duduk di mejanya dengan tangan mengusap bahu kirinya.
Ya ... Ia sedang berusaha meredakan nyeri pada bahunya, ulah teman sekantornya yang tidak sengaja atau juga sengaja, ia tidak tahu.
Mereka menabrakan bahu mereka ke bahunya, saat ia keluar dari toilet, juga saat ia hendak mengambil makan siangnya.
Dua kali bahunya di tabrak, bagaimana ia tidak merasakan sakit.
"Ah ... Mereka sebenarnya kenapa sih, kenapa semakin menjadi."
Evelyn memijit keningnya, guna meredakan pusing di kepalanya.
Tidak ada yang tahu dengan apa yang terjadi terhadapnya, baik Arlan atau pun Riki, bahkan ibunya pun tidak tahu.
Ia tidak ingin membuat ketiganya khawatir, lagian ... Setiap ada Arlan mereka tidak berani dan hanya bisa menatapnya dengan delikan mata di sembunyikan.
"Hais! Kapan ini akan berakhir."
"Apanya, yang akan berakhir?"
Deg!
Evelyn tersentak kaget, saat telinganya mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Presdirnya, yang melihatnya dengan kening berkerut penasaran.
"Astaga! Jangan bilang masa kontrak kamu yang lagi kamu keluhkan?" lanjut Arlan bertanya, dengan mata melotot galak.
Evelyn tergelak mendengar ucapan ngawur dari sang Presdir, yang melihatnya dengan ekspresi tidak terima.
Segitunya dia tidak ingin ia keluar dari perusahaan, sampai-sampai dengar potongan kalimatnya saja, ekspresinya bisa seperti itu.
"Kenapa kamu tertawa?" sembur Arlan pura-pura kesal.
Ia sendiri ikut tersenyum tipis, saat sang asisten tertawa dengan begitu santainya.
Ah ... Tawa santai yang sangat di rindukan olehnya, dan ia berharap ia bisa selalu melihat dan mendengar tawa dari Evelyn di setiap saat.
"Ha-ha-ha!"
Evelyn masih mencoba meredakan tawanya, saat Arlan pura-pura marah bertanya padanya.
Ia merasa jika Arlan sungguh lucu, apalagi dengan ekspresi marah dibuat-buatnya
Wajah garang pura-pura, kenapa harus pura-pura jika memang wajahnya sudah galak dari asalnya.
"Evelyn, kamu minta di sumpal kaos kaki ya?"
"Apa! Tidak mau, ih Arlan, jorok!"
__ADS_1
Evelyn mendelik kesal saat sang Presdir gantian tergelak, karena ia yang kesal dengan ucapan ngawur sang Presdir.
"Ha-ha-ha!"
Kini gantian Arlan tertawa tanpa sungkan, apalagi saat melihat wajah menggemaskan sang asisten.
"Ya ... Ya ... Ya, tertawa sampai puas, aku tidak mendengar," dengus Evelyn kesal.
"Ha-ha-ha, lagian kamu sih, tertawa tapi tidak kasih tahu aku alasannya apa," balas Arlan masih dengan tawanya.
"Ih! Balik ke ruangan aja sana, syuh-syuh!"
Evelyn mengusir sang Presdir layak mengusir ayam, membuat Arlan tertawa lebih keras alih-alih marah, akan tindakan tidak sopannya.
"Tidak mau, blee!"
"Ih Arlan!"
Evelyn pun bangkit dari duduknya, lalu berdiri di samping Arlan yang masih saja tertawa dengan santainya.
"Sana kembali ke alammu!"
Evelyn mendorong punggung tegap sang Presdir, sehingga Arlan pura-pura tidak terima dan keukeuh berdiri di tempatnya.
Tenaga yang di keluarkan Evelyn percuma, saat ia semakin mendorong punggung Arlan yang sama sekali tidak bergeser.
"Tidak mau!"
Cukup lama Arlan dan Evelyn bercanda, menikmati suasana tanpa takut di lihat orang lain.
Entah harus bersyukur atau apa, tapi lantai ruangan sang Presdir yang tidak boleh sembarangan di lalui orang, membuat ia tidak perlu takut di pandang mencurigakan oleh teman sekantornya.
Niatnya hanya ingin rileks dalam bekerja, tapi jika orang yang melihat ia tahu jika kedekatannya, memang tidak wajar terlebih sang Presdir sudah punya calon istri.
Evelyn pun berhenti dari becandanya, lalu menatap Arlan serius, sehingga Arlan yang di tatap seperti itu mengerutkan kening penasaran.
"Arlan."
"Ya?"
"Aku harap, jika ada yang lain, kamu jangan terlalu dekat denganku seperti ini ya."
Deg!
Jantung Arlan berdetak kencang, saat mendengar permintaan aneh, yang lagi-lagi di dengarnya dari mulut asistennya.
Wajah santainya berubah menjadi kaku, saat asistenya menatapnya dengan pandangan serius.
"Apa maksud kamu, Lyn?" tanya Arlan datar.
Evelyn takut saat mendengar nada datar itu, tapi ia tidak boleh seperti ini, kedekatannya lagi-lagi di pandang sebelah mata, ia takut akan semakin menjadi kalau ia masih berdekatan dengan sang Presdir.
"Tidak ada maksud Arlan, tapi aku tidak ingin ada yang salah paham."
Evelyn dengan raut wajah tenang menjawab pertanyaan Arlan, yang saat ini ganti menatapnya curiga.
"Siapa?"
"Hah? Siapa bagaimana?" tanya Evelyn tidak mengerti.
"Siapa yang anggap kamu seperti itu? Katakan!"
Arlan bertanya serius saat Evelyn pura-pura tidak mengerti, ia tahu dengan jelas Evelyn tidak akan seperti ini, jika tidak ada yang membuat gara-gara terlebih dulu.
"Tidak ada siap-
Grep!
__ADS_1
Ukh!
Arlan yang gemas dengan elakan asistennya, memegang bahu Evelyn yang sedang nyeri, sehingga Evelyn yang tidak siap pun mengaduh kesakitan.
"Lyn!"
"Lyn, kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Arlan panik.
Evelyn hanya menggeleng kepala, dengan tetap menahan ringisan.
"Tidak, aku tidak apa-apa," balas Evelyn dengan nada semeyakinkan mungkin, tapi sayang Arlan tidak percaya begitu saja.
"Katakan Lyn, ada apa? Kenapa kamu kesakitan seperti itu?"
"Aku bilang aku tidak apa-apa, Arlan."
"Lalu kamu kenapa?"
"Tidak ak-
"Kita ke rumah sakit!"
Masih dengan memeriksa keadaan Evelyn, yang sesekali meringis, Arlan melihat lagi ekspresi sakit yang terlukis di raut wajah sang asisten.
"Tidak, tidak perlu, Ar."
"Kalau begitu katakan ada apa?" tanya Arlan cepat dan khawatir.
Ia takut ada apa-apa dengan sang asisten, ia hanya ingin tahu kebenaran yang terjadi.
Meskipun ia sering dapat laporan tentang aksi bully yang di terima asistennya, tapi ia tidak menyangka sampai seperti ini.
"Apa ini ulah karyawan sini?" tanya Arlan dengan nada marah.
"Apa?"
"Benar! Pasti ini ulah seseorang kan, katakan siapa dia?"
Arlan tentu saja murka dengan kejadian ini, bagaimana bisa karyawannya bertindak seanarkis ini.
"Tidak Arlan, bukan!"
"Ayo, tunjukkan aku!"
Arlan pun membalikkan tubuhnya, hendak pergi menuju lift dengan Evelyn, yang mengekor dan berusaha mencegah sang Presdir.
"Tidak, Ar. Dengar kan ak-
Ting!
Ucapan Evelyn berhenti, berganti dengan mata melotot kaget saat ia melihat Tania yang berdiri dengan ekspresi marah melihatnya.
"Mau apa kamu kemari?"
"Tania."
"Wanita murahan."
Plak!
"Tania! Apa-apa'an kamu!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya.
__ADS_1
Sampai babai.