
Perpisahan adalah akhir pertemuan.
Semua sudah dituliskan oleh takdir.
Kini kita tidak bisa bertemu, berpisah namun untuk sementara waktu.
Tiba saatnya raga ini menyusul, sambut lah aku dengan senyum.
Ibu ...
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Evelyn pov on
Kelabu ....
Seperti awan di atas sana, atau mereka tahu apa yang saat ini sedang aku rasakan.
Ini hari apa?
Senin, selasa, atau minggu?
Aku tidak tahu, sudah berapa jam, berapa hari atau bahkan berapa waktu, yang aku habiskan di sini, didepan kursi tempat terakhirku bermanja dengan ibu.
Suara dering dari handphoneku memenuhi setiap sudut kamarku, namun tak sedikit pun aku berniat untuk menerima, meliriknya pun aku enggan.
Evelyn, kalau habis mandi handuknya di jemur sayang.
Oh ... Aku ingat itu, saat itu aku sangat lelah sehabis pulang bekerja.
Waktu itu aku meletakkan dengan asal, handuk yang aku pakai untuk mengeringkan rambut basahku.
Ya Tuhan .... Jangan terlalu lelah sayang, lihat ini sudah jam berapa.
Lyn ... Dibawa bekalnya.
Lyn ... Ibu jahit ini untuk kamu.
Di luar dingin, jangan lupa bawa jaket yang tebal.
Lyn ...
Lyn ...
Ibu.
Kenapa hanya suara dan bayanganmu yang tertinggal?
Mana kehangatanmu yang dulu?
Aku meringkuk di bawah kaki kursi, memejamkan mata ingin melihat lagi senyum itu.
"Ibu ... Ini sudah berapa hari? Apakah boleh aku menyusulmu?"
Aku melihat pantulan wajahku yang kacau, melalui kaca bingkai foto dihadapanku.
Tidak ada lagi air mata, seakan kering ketika aku lagi-lagi menangis saat mengingat ibu.
Beberapa hari ini aku bahkan tidak mengurus diriku sendiri, jika bukan mereka yang mengingatkanku.
Ini adalah hari ke-empat kematian ibuku, itu artinya sudah empat hari pula aku mengurung diri.
Aku bertanya kepada-Nya, didalam setiap doa yang aku panjatkan.
Aku mengeluh kepada-Nya, tentang aku yang tidak siap akan segalanya.
Aku tidak sanggup untuk menjalani hidup tanpa ibu, ibuku segala bagiku.
Sampai saat ini aku masih bingung, kenapa ibuku bisa jatuh dari tangga, sedangkan ibu adalah orang yang selalu mengingatkanku, akan keselamatan saat melakukan segala aktivitas.
Ring! Ring! Ring!
Lagi-lagi dering handphoneku terdengar.
Aku tahu siapa yang setiap menitnya yang menghubungiku, siapa lagi kalau bukan mereka.
Kakakku dan juga dia, Presdir di perusahaan tempatku bekerja.
Ngomong-ngomong soal bekerja, aku ingin sekali keluar dari sana.
Aku ingin jauh dari hidup keduanya, maksudku dari dia dan tunangannya.
Aku juga ingin menghilang dari sini, bahkan jika bisa, aku ingin hilang dari dunia ini.
Aku ingin melupakan segalanya, bukan segalanya, tapi aku ingin melupakan hal buruk yang terjadi, bukan ingin melupakan kenangan indahku bersama ibu dan kakakku.
Ah! Benar juga, Jika aku pergi dari sini, apakah kakakku akan mengizinkan.
Sungguh aku lelah selelah-lelahnya.
Rasanya aku ingin kembali pada masa kehidupanku dulu, masa dimana aku belum mengerti akan kejamnya dunia.
Masa dimana aku masih tertawa bersama Ibu dan Ayahku dulu.
Ayah ...
Benar juga, aku tidak tahu apakah ayah tahu atau tidak berita kematian ibuku.
Atau tahu, tapi dia enggan untuk menghadiri pemakaman ibuku atau juga mantan istrinya.
Perduli setan.
Bahkan jika dia datang dan mengucapkan turut berduka cita, aku akan dengan senang hati menolaknya.
Aku masih ingat dengan jelas, air mata ibu luruh karena pengakuannya dulu.
Aku melirik jam di dinding kamarku, pukul dua siang, itu artinya aku lagi-lagi melewatkan makan siang yang kesekian.
Perutku meronta minta diisi, tapi sungguh, aku sama sekali tidak ingin memakan apapun saat ini.
__ADS_1
Terakhir kali aku makan, mungkin kemarin malam, itu juga karena kakakku memaksa aku dengan ancaman, akan membawaku tinggal di rumahnya jika aku menolak.
Yang benar saja, meskipun aku mengenal kedua orang tuanya, aku tetaplah seorang wanita terlebih aku bukan siapa-siapanya.
Ring! Ring! Ring!
Lagi-lagi suara itu.
Mereka tidak akan menyerah, jika aku tidak menerima panggilan itu dengan segera.
Aku pun mengambil handphone, yang aku simpan di atas meja riasku.
🔊 Arlan calling ....
Astaga ... Apa dia tidak bosan, menghubungiku seperti ini.
Padahal sudah jelas, jika aku menolaknya.
Baiklah aku Jujur jika aku masih senang dengan kepeduliannya, dan meskipun hatiku masih menginginkannya, tapi aku sadar, jika kami selamanya tidak akan bersama.
Aku mengabaikannya dan mengembalikan handphonku diatas meja rias, lalu kembali melihat figura dengan foto ibuku didalamnya.
Ibu ...
Aku bahkan belum sempat menceritakan dosaku kepadanya, tentang kebohonganku selama ini, tentang semuanya.
Ibu, maafkan aku.
Aku belum bisa membahagiakanmu, disaat dirimu masih ada di dunia.
Ring! Ring! Ring!
Handphoneku lagi-lagi berdering, membuatku menghela napas lelah dengan kegigihan keduanya.
Apa karena mereka satu saudara, sehingga memiliki sifat sama?
Entah lah ...
Kali ini nama sahabat atau juga kakakku, terpampang dengan apik di layar handphoneku.
🔊 Riki calling ...
Riki.
Aku tidak sampai hati, jika harus membuatnya khawatir seperti kemarin.
Dia rela datang hanya untuk membawakan aku sekotak nasi dan buah-buahan, lengkap dengan eksperi khawatir di wajahnya.
Baiklah ... Ini sudah saatnya mengakhiri kesendirianku, untuk besok lanjut menyendiri lagi.
Sebelum menerima panggilan, aku menghela napasku untuk menormalkan suaraku.
Aku pun menggeser tombol hijau, kemudian meletakkan benda elektronik itu di telinga kananku.
Klik!
"Halo."
Normal pov on
Disaat bersamaan di kantor Riki.
Riki saat ini sedang duduk, dengan jari mengetuk permukaan meja tidak sabar, saat menunggu panggilan darinya, diterima oleh sahabat atau juga adiknya.
Ia sangat khawatir dengan keadaan sahabatnya, Evelynnya.
Sudah empat hari dari hari kematian ibu, sahabatnya mengurung diri bahkan jika bukan karena ancaman darinya, Evelyn tidak akan memakan makanan yang ia bawa.
Tut! Tut! Tut!
The number you call, It's not active pleas-
"Ya ampun Evelyn, kenapa nggak diangkat sih," gumamnya panik.
Ia pun menekan mencoba memanggil lagi, tapi sayang suara pengalihan panggilan dari operator lah yang didengarnya.
"Astaga, siapa sih yang sedang meneleponnya juga."
Riki pun menunggu beberapa saat, kemudian mencoba menekan ulang nomor kontak milik Evelyn.
Tut! Tut! Tu-
Klik!
"Haloo."
Seketika Riki bernapas lega, saat akhirnya Evelyn menerima panggilan darinya.
"Lyn, kamu kemana aja?" tanya Riki khawatir.
"Tidak kemana-mana."
Jawaban dengan nada datar dari sahabatnya, membuat Riki kembali khawatir lagi.
Kemarin juga begini, tidak ada nada ceria yang ia dengar dari Evelynnya.
"Baik, lupakan. Yang saat ini aku mau tanya adalah, apakah kamu sudah makan siang?" tanya Riki mengalah, akan sangat panjang jika ia nekat membahas apa yang dilakukan oleh Evelyn disana.
"Sudah."
"Bohong," gumam Riki pelan, kemudian ia mendengar helaan napas dari seberang telepon sana.
"Aku tidak lapar, Riki."
Sudah ia duga, Evelyn tidak akan makan jika ia tidak mengingatkan.
"Evelyn kamu harus makan," ucap Riki lembut.
Ia berharap dengan bujukannya kali ini, Evelyn akan mengerti dan menuruti lagi permintaan darinya.
__ADS_1
"Riki ak-
"Aku mohon, Lyn."
Riki segera menyela dengan cepat, saat Evelyn hendak menolaknya.
Ia tahu pasti akan ditolak, tapi ia tidak akan berhenti sampai Evelyn mau makan.
"...."
Riki tidak mendengar sahutannya lagi, kecuali helaan napas yang membuat Riki tersenyum.
"Baiklah, aku akan bel-
"Aku yang akan pesankan, kamu tunggu disana dan jangan kemana-mana. Apa kamu mengerti?"
Lagi-lagi Riki menyelanya dengan cepat, sehingga Evelyn pun balas dengan dengkusan, yang terdengar lucu di telinganya.
Evelynnya selalu seperti ini, jika dipaksa dengan sesuatu yang tidak diinginkannya.
"Baiklah Riki, aku mengerti."
"Bagus! Aku akan pesankan makanan kesukaan kamu. Oke?"
Riki tersenyum semakin lebar saat mendengar jawaban singkat, akan permintaannya kepada Evelyn, adiknya yang sangat ia cintai.
"Oke."
"Aku tutup teleponnya, kamu tunggu saja. Oke," ujar Riki semangat.
"Oke."
"Bye, Lyn."
"Bye, Riki."
Tut!
Panggilan pun berakhir, dengan Riki yang segera memesankan makanan sesuai perkataannya.
"Evelyn mau makan, Riki?" tanya seseorang yang dari tadi melihatnya dalam diam.
"Mau Riy, ini aku sedang memesankan makanan kesukaannya," balas Riki melirik sekilas ke seseorang yang dipanggilnya Riy.
Riy atau juga Riyanti tersenyum kecil, tidak merasa cemburu saat Riki memberi perhatian berlebih kepada Evelyn, wanita yang dulu ia anggap saingan berat mendapatkan cinta seorang Riki.
"Bagus! Jangan lupa, buah segarnya sekalian," usul Riyanti semangat.
Riki hanya mengangguk dengan senyum tipis, saat mendengar usulan dari Riyanti. Dan itu cukup bagi seorang Riyanti, yang sudah mendapat sinyal positif dari pria didepannya saat ini.
Setelah mendengar kenyataan tentang perasan Evelyn kepada Riki, dari mulut Evelyn sendiri. Ia mulai menganggap Evelyn sebagai adiknya juga, bukan lagi sebagai sainganya terberat baginya.
Tapi ia tidak tahu apakah Evelyn menganggapnya demikian atau tidak. Karena ia merasa jika Evelyn masih belum membuka diri untuknya.
"Riy! Riy!"
"Ah! Iya? Kenapa Riki?" tanya Riyanti setelah tersentak kaget.
Ia tidak sadar melamun, sehingga panggilan berulang Riki tidak didengarnya.
Riki menggelengkan kepalanya, lalu mendengkus kecil.
"Aku tanya, kamu sudah makan belum?" ulang Riki menjelaskan pertanyaannya.
"Sebelum kesini aku sudah makan, kenapa?" balas Riyanti lalu bertanya.
"Tidak apa-apa, aku tadinya mau pesan buat kita juga, tapi kamu sudah makan," ujar Riki apa adanya.
"Oh!"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Kembali pada Evelyn, setelah menutup panggilan dari Riki, yang bilang akan mengirimkan ia makanan.
Meletakkan handphone miliknya di meja rias, Evelyn berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
Sepertinya hari ini cukup, setelah ini ia akan menjalani harinya seperti dulu, meskipun ia tidak tahu apakah bisa benar-benar seperti dulu, seperti saat ia masih ditemani seorang ibu.
Sepuluh menit kemudian Evelyn sudah segar, dengan wajah pucat tanpa binar kehidupan di matanya.
Tok! Tok! Tok!
"Sepertinya pesanan dari Riki," gumam Evelyn saat mengingat jika kakaknya memesankan ia makanan.
Tanpa banyak bicara, Evelyn segera berjalan menuju pintu dan benar jika seorang petugas restoran yang mengantar makanan.
Ia pun menerima dengan senyum tipis, menerima kotak makanan kemudian menutup pintu pelan.
"Ya ampun, makanannya banyak sekali," dengkus Evelyn pasrah, saat sang kakak terlalu berlebih membelikannya makanan.
Ia baru saja akan mendudukkan dirinya di lantai, setelah meletakkan makanan diatas meja kecil, tapi sayang ketukan pintu menginterupsinya.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa lagi yang datang," gumamnya penasaran.
Dengan terpaksa ia pun berdiri lagi, berjalan ke arah pintu dan membuka saat ketukan masih terdengar.
Tok! Tok! -
Ceklek!
Pintu terbuka dengan Evelyn yang kaget akan kedatangan seseorang.
"Kamu!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.