
Tampan, kaya, mencintaiku ...
Sayang sekali saat ini masih jadi bonekaku.
Tapi kamu tenang saja, tiba saatnya dan semua permasalahan ini selesai, saat itu juga aku akan bertanya, apakah kamu masih mau memilikiku dan menjadikan aku satu-satunya kekasih hatimu.
Jadi sayang ... Untuk saat ini, biarkan semua ada dalam kendaliku.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Seperti apa yang dijelaskan oleh kekasihnya, Arlan memulainya dengan menghubungi tunangan tak diinginkannya.
Ia menghubungi dan berbicara dengan nada bersahabat, sehingga ia sendiri merasa ingin memukul dirinya sendiri, saat ia merasa seperti penjilat untuk seorang Tania, anak dari mendiang pengusaha sukses.
Saat ini ia sedang duduk di tepi ranjangnya, setelah selesai melakukan tugasnya dengan lancar dan sukses, saat tunangannya membalas izinnya dengan pekikan senang berlebihan.
Dalam hati ia berpikir, bagaimana ada seorang wanita begitu terobsesi dengannya, hingga melakukan hal ekstrim dengan mengorbankan perasaan orang lain, yang adalah dirinya sendiri serta kekasihnya sekarang.
"Aku harap ini cepat selesai, aku ingin segera memiliki Evelyn seutuhnya," gumam Arlan melihat foto sang kekasih saat sedang bekerja.
Ia pun beranjak dari duduknya, berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah seharian menjalani aktivitasnya, baik di dalam kantor maupun di luar kantor.
Ceklek!
Blam!
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kamar dari seorang Nyonya muda keluarga Brata. Ada Tania, yang menatap foto pertunangannya dengan senyum lebar.
Bagaimana ia tidak tersenyum lebar, jika tunangan tiba-tiba menghubunginya dan berkata jika Papa Keanu sudah berbicara dengannya, tentang hubungan ia dan tunangannya tentunya.
Benar kan apa katanya, jika orang yang bisa membujuk tunangan tampannya adalah Papa Keanu, calon mertuanya kelak.
"Ah! Tuan Widiyo memang yang terbaik," gumam Tania memuji, tanpa tahu jika kesenangannya hanya angan-angannya semata, nyatanya Arlan bahkan tidak ikhlas saat menghubunginya.
"Sebaiknya besok aku main ke tempatnya, bagaimana kalau besok aku ke kantornya," gumam Tania bermonolog, bertanya pada diri sendiri untuk kemudian terkekeh sendiri.
"Ah Arlan! Kamu membuatku seperti orang gila saja," lanjutnya masih dengan kesenangan semu.
Tania pun menghidupkan laptopnya , membuka file dokumen yang sudah di buatnya, untuk diberikan kepada tunangannya, dengan tujuan marger sesuai kesepakatan saat ia dan Arlan nanti menikah.
Ia merasa bila Arlan sudah bisa menerimanya, maka itu ia membuat terburu dengan harapan, jika lonceng pernikahan mereka bisa secepatnya terdengar.
"Ah! Jadi tidak sabar," gumam Tania senang, saat membayangkan jika besok ia bisa menghabiskan sisa harinya dengan sang tunangan.
🥀🥀🥀🥀🥀
Bergeser di tempat lainnya, tepatnya di kost-an milik Evelyn, ada Riki dan Riyanti yang sengaja datang, untuk menemaninya makan malam bersama.
Kedatangan keduanya disambut dengan antusias oleh si pemilik kamar, apalagi saat terdengar berita mengejutkan dari keduanya.
Coba tebak apa ...
Tentu saja, berita tentang kerja sama mereka yang semakin sukses, serta ... Keterbukaan mereka, untuk bisa saling menerima hubungan nanti.
Meski belum sampai tahap jadian, tapi ia sudah sangat bahagia, saat kakaknya bisa mulai move on darinya, serta mendapatkan wanita sebaik dan secantik Riyanti, wanita yang genjar memberikan perhatian kepadanya.
Ia sadar dengan jelas apa maksud dari pendekatan Riyanti, apalagi kalau bukan untuk meminta restu, restu yang membuatnya terkekeh geli, dan perpikir untuk apa.
Karena apa?
Karena baginya, jika itu kebahagian sang kakak, ia akan turut serta mendoakan yang terbaik.
Meskipun ia dan kakaknya ada sedikit salah paham beberapa saat lalu, saat Arlan dengan sengaja memberitahukan hubungan mereka, tapi syukurlah kakaknya memberi dukungan juga.
Ia tidak tahu apa yang di katakan Arlan kepada Riki, tapi yang jelas Riki akhirnya mendukung juga hubungan terlaranya, hubungan yang sebenarnya bukan seperti yang dibayangkan oleh sang kakak.
"Jadi Om Keanu datang, lalu marah-marah dengan Arlan. Begitu?" tanya Riki memastikan, saat Evelyn bercerita kegiatan mereka hari ini.
__ADS_1
Tapi yang menjadi fokusnya adalah Keanu yang datang.
"Iya, aku juga tidak bisa apa-apa. Bahkan, aku sempat diusir, namun Arlan malah semakin senang. Aku juga baru tahu, jika Arlan dan Papahnya ada masalah."
Riki sedikit kaget saat Evelyn bercerita tentang masalah yang dialami oleh sepupunya, dengan cerita yang benar adanya.
Ia pun tahu ini dari Papanya, saat mereka sedang menghadiri pemakanan tantenya, yaitu Wulan Mama dari seorang Arlan.
"Syukur lah kamu sudah tahu, ternyata benar Arlan mencintai Evelyn, dan berusaha membuat tunangannya menyerah," desah Riki senang, lalu melanjutkan dalam hati saat ia ingat kesungguhan sepupunya cassanovanya.
"Em ... Baiklah mari makan!" seru Riyanti semangat, menengahi pembicaraan serius, antara kakak dan adik di hadapannya.
Riki dan Evelyn pun menoleh ke arahnya, kemudian mengangguk kepala kompak.
"Baik, kapten!" seru keduanya menggoda Riyanti, yang terkekeh geli saat melihat tingkah lucu keduanya.
Mereka pun makan dengan diselingu obrolan ringan, sesekali akan terdengar kekehan dari ketiganya, kekehan seorang Evelyn saat di hadapan sang kakak, Riki Apriandi Gandhi.
Skip
Pagi datang dengan cepat, saat ini seperti biasa Evelyn sedang mengerjakan laporan di meja kerjanya.
Hari ini juga seperti biasa, saat lagi-lagi ia berjalan dengan Arlan di sampingnya, menggandeng tangannya, dengan ia yang mendengus ke arah personalia maupun ke arah lainnya, yang pasti ke arah mereka yang melihatnya dengan tatapan iri.
Saat ia sedang memeriksa dokumen, Evelyn di kagetkan dengan tumpukan map dengan warna-warni menghibur matanya.
Bruk!
"Nih ... Asisten Presdir, ups atau selingkuhan tidak malu Tuan Widiyo," bisik seseorang itu, di akhir kalimatnya.
Evelyn tidak marah, justru ia mengibaskan rambutnya sombong, lalu memandang seseorang dengan jenis kelamin perempuan itu, dengan tatapan meledeknya.
"Kenapa bisik-bisik? Takut ketahuan Tuan- ah! Maksud aku, Arlan. Begitu kah?" balas Evelyn dengan senyum miring, apalagi saat ia melihat ekspresi marah, namun ditahan dari wanita dihadapannya.
"Lihat saja, sampai Nyonya Tania datang, lalu menampar wajah sok cantik kamu," ujar si wanita dengan nada kesal luar biasa, membuat Evelyn semakin senang.
"Lucu sekali," gumam Evelyn dengan gelengan kepala geli, membuat seseorang di ujung pintu sana bertanya dengan ekspresi ingin tahu.
"Lucu bagaimana?"
Evelyn pun menolehkan wajahnya, melihat ke arah pintu, dan menemukan sosok sang Presdir yang berdiri dengan tangan berkacak pinggang, serta seragam kantor dengan jas yang sudah ditanggalkan, menyisakan kemeja putih lengkap dengan dasi yang menggantung indah di lehernya.
"Ar!" seru Evelyn dengan nada ceria, membuat Arlan yang tadi menampilkan raut wajah keras, berangsur rileks, apalagi saat mendapatkan senyum cantik sang kekasih.
"Hn ... Kita makan siang di luar, setelahnya kita lanjut ke tempat lain, tadi ada klien penting hubungi aku, untuk meeting dadakan. Paham, Schatz?" gumam dan jelas Arlan dengan lembut, menuai anggukan kepala imut dari kekasih yang juga adalah asistennya.
"Baik, aku paham," jawab Evelyn semangat.
Arlan pun berjalan dan menghampiri Evelyn Kekasihnya, lalu iseng melihat laporan yang ada di meja sang kekasih, kemudian terdiam marah, saat menemukan note kecil berisi makian beragam jenis warna.
Arlan mengangkat wajahnya, menatap kekasihnya yang ternyata sedang sibuk dengan barang-barang, yang akan di bawa mereka saat meeting nanti.
Dengan segera Arlan menyimpan catatan kecil itu di saku celananya, untuk nanti diusutnya tuntas, dengan Barly si penyelidik pribadinya.
"Sepertinya ini sudah sering terjadi, dan lagi-lagi dia tidak ingin memberi tahu. Bukan salahku, kalau aku bertindak sesuai kekuasaanku," batin Arlan, melihat ke arah sang kekasih lalu tersentak kaget, saat pipinya merasakan sentuhan lembut, dengan Evelyn yang memandangnya khawatir.
"Ah! Kenapa, Schatz?" tanya Arlan bingung.
"Aku panggil kamu dari tadi," tanya Evelyn khawatir, membuat Arlan menyesal saat dirinya tidak sadar melamun.
Arlan pun menepuk kepala kekasihnya lembut, kemudian bergumam kecik sebagai penenang "Aku tidak apa-apa, Schatz."
Evelyn menggelengkan kepalanya singkat, meskipun dalam hati berpikir yang tidak-tidak.
"Baiklah ... Kita sebaiknya berangkat sekarang," lanjut Arlan mengajak, yang disetujui cepat oleh sang asisten.
__ADS_1
"Yuk!"
"Mau makan dimana?" tanya Arlan saat sebelum berbalik, dengan Evelyn yang mengekor berjalan memasuki ruangannya.
"Makan apa aja, asal sama kamu," sahut Evelyn menjawab pertanyaan sang Presdir dengan jawaban menggoda, membuat Arlan tergelak saat mendengar dan menyaksikan sendiri, bagaimana perubahan Evelyn dari si pemalu, menjadi si tukang rayu.
"Benar yah! Bagaimana kalau makan didalam kamar, sambi-
Bugh!
"Ouchh .... Sakit Schatz, tega sekali pukul aku,"
Arlan pura-pura kesakitan, saat Evelyn dengan sengaja memukul lengannya, kemudian terkekeh geli saat sang kekasih mendumel disebelahnya.
"Suruh siapa, pikiran kamu ngeres," sahut Evelyn cepat, saat mendengar gerutuan kekasihnya.
"Ye ... Yang salah paham itu kamu, aku kan belum selesai berbicara, sudah main sela saja. Dasar," dengkus Arlan pura-pura marah, membuat Evelyn ganti terkekeh imut, saat mendengar gerutuannya.
"Emang iya, kok," tandas Evelyn tidak mau kalah.
"Ya, ya, ya, kamu benar, tapi sayang peraturan hanya ada dua," sahut Arlan santai, kemudian mengingatkan lagi peraturan antara atasan dan bawahan, membuat Evelyn seketika melotot ganas dengan ia yang memekik sakit lagi saat ia digigit oleh Evelyn dengan gemas.
"Ow! Sakit Schatz!"
"Rasakan, syukur!"
Mereka pun jalan bersama setelah mengambil jas dan keperluan, menuju area parkir untuk makan siang, kemudian lanjut dengan meeting dadakan, disalah satu Restoran ternama di kota B.
Tidak lama kepergian Arlan dan Evelyn, seorang wanita datang dengan langkah percaya diri, kemudian berjalan menuju meja informasi, untuk bertanya keberadaan tunangannya.
Kali ini ia tidak akan takut tidak dikenal, karena kemarin tepatnya saat ia datang untuk terakhir kalinya, seharusnya mereka sadar dengan apa yang terjadi.
"Tuan Arlan, ada?"
"Nyonya Brata maaf, baru saja Tuan arlan pergi untuk melakukan meeting, anda bisa menuliskan pesan, biar saya yang nanti sampaikan," balas si reseption ramah.
"Meeting? Meeting dimana?" tanya Tania penasaran, plus takut jika Arlan sedang berdua dengan asistennya, rasa penasaran yang terbukti adanya.
"Maaf, Nyonya saya tidak tahu."
"Baiklah, sampaikan jika tunangannya datang berkunjung. Itu saja, terima kasih," jawab Tania dengan tangan mengepal kesal.
Kesal saat mengetahui jika ia tidak bisa bertemu tunangan tampannya, apalagi saat lagi-lagi sang tunangan pergi dengan si wanita penggoda itu.
"Baik Nyonya," balas si receptionis masih dengan senyum ramah, kemudian tersenyum sinis saat tamu itu pergi meninggalkannya.
"Rasakan, emang enak dikerjain," gumam si receptionis senang, namun menjadi pekikan kaget saat ada seseorang yang menepuk bahunya singkat.
Puk!
"Ah! Kamu ini, bikin kaget saja," semburnya kesal, tapi si penepuk malah asik terkekeh tanpa dosa.
"Kamu serius sekali, jadi tidak fokus, Raina," sahut si penepuk santai, kemudian meninggalkan seseorang , yang dipanggilnya dengan sebutan Raina.
"Ih! Tidak jelas," dumel Raina kesal, saat si penepuk meninggalkan ia sendiri setelah menepuk bahunya santai tanpa dosa.
"Dasar," singut Raina, kemudian mengirim pesan kepada seseorang yang mengutusnya.
Ia tidak sabar untuk menyaksikan sendiri kejadian demi kejadian, saat ia membantu temannya yang kesusahan, untuk membalas satu per satu dendam sepele temannya pula.
"Lets see,"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Sampai babai.